
Arthur terus mengikuti jejak darah ditanah perasaan Arthur sangat campur aduk karena dia mengkhawatirkan sang adik. Saat Arthur memasuki gudang tua dia sangat terkejut karena melihat Andrean terikat disebuah kursi besi dengan keadaan sudah berlumuran darah dan pisau masih menancap diperut sebelah kirinya.
Arthur langsung menghampiri Andrean dan melepaskan ikatan tali yang mengikat sang adik. Arthur memeluk Andrean dengan perasaan marah dan khawatir.
"Ka-kak... ini jebakan hiks hiks Adik ki-kita!" Ucap Andrean berbisik pada Arthur.
"Siapa?! Siapa yang melakukan ini?!" Arthur.
Andrean tak menjawab dia memberikan sebuah kalung pada Arthur. Kalung itu adalah kalung yang sama persis dengan milik Narda, Arthur mengambil kalung itu dan terkejut karena kalung itu hanya keluarga mereka yang memilikinya.
Andrean pingsan karena Andrean kehilangan banyak darah dan terluka cukup parah. Arthur sangat marah dia mengangkat tubuh Andrean dan membawanya keluar dari gudang tua itu.
"Hancurkan! HANCURKAN SELURUH TEMPAT INI RATAKAN DENGAN TANAH!" Arthur berteriak memberikan perintah.
Arthur mendatangkan seribu lebih anak buahnya dan menyuruh mereka menghancurkan tempat itu. Arthur mengobati luka luka Andrean perasaannya campur aduk karena Andrean semakin melemah.
"Kau harus bertahan... aku mohon bertahanlah" Arthur menggenggam erat tangan Andrean.
Hendery datang ditempat itu tapi semuanya sudah rata dengan tanah. Hendery sangat marah saat melihat keadaan Andrean, saat itu Hendery langsung memeluk Andrean dan mengusap wajah Andrean yang penuh darah.
"Papi ini" Arthur memberikan sebuah jam tangan yang tadi ia temukan dibawah kursi tempat tadi Andrean terikat.
"EDWIN BAJINGAN!" Teriak Andrean mengagetkan Jason yang baru saja datang.
"Andrean?! Ada apa ini?! Nak bangun sayang ada apa dengan mu nak?!" Jason sangat panik.
"Andrean dijebak! Papa, papi bawa Andrean ke rumah sakit... aku akan menghabisi patua tengik itu" Arthur.
"Tidak! Adik mu membutuhkan mu, untuk bajingan itu serahkan saja pada kami" Hendery.
Arthur mengangguk dia bergegas membawa Andrean ke rumah sakit. Rega menyumpir sedangkan Arthur duduk dibelakang sembari memangku kepala Andrean.
"Aku akan menghabisi mereka semua yang sudah berani melukai mu! bertahan lah aku disini" Arthur.
Andrean membuka matanya seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. Andrean melihat Arthur yang menangis sembari menggenggam tangannya.
"Kak..." Andrean.
"Jangan banyak bicara itu bisa menguras tenaga mu" Arthur.
__ADS_1
"Kakak... aku dijebak mereka ingin aku mati" Andrean.
"Kak mereka membawa Narda..." Ucap Andrean dengan mata berkaca kaca.
"Bodoh! Kenapa kau sangat gegabah?! Narda baik baik saja dia ada dimansion! mereka membohongi mu bodoh!" Marah Arthur pada sang adik.
Andrean tidak bisa berpikiran jernih dia sangat lemah dan akhirnya pingsan lagi. Mereka sampai dirumah sakit Arthur menangani Andrean dengan bantuan Hans, harus diakui Andrean sangat kuat dengan keadaan luka separah itu dia masih bisa bertahan selama berjam jam tanpa penanganan medis.
Andrean harus dilarikan ke ruang operasi darurat karena luka dibagian perutnya cukup parah. Karina dan Viola yng mendapatkan kabar itu dari Rega sangat cemas, terutama Narda yang sudah sejak tadi menangis sembari memeluk foto Andrean.
Saat operasi selesai Arthur terduduk lemas dilantai. Tangan Arthur bergetar hebat dia ingat bagaimana dulu Miranda dan Jevan meninggal didepan matanya, dia bersyukur hal itu tak terjadi pada Andrean.
"Arthur kau harus kuat" Hans.
"Hans... siapkan ambulans Andrean harus dibawa ke ruang medis dimansion kami, disini terlalu berbahaya untuk adikku" Sahut Arthur yang masih kesulitan mengatur nafasnya.
"Baiklah tapi sekarang kau harus tenang lebih dulu, aku tidak akan bisa membiarkan mu pergi ke mansion dengan keadaan begini" Hans.
Andrean dibawa pulang ke mansion dengan ambulans tidak lupa Arthur membawa perlengkapan medis untuk Andrean. Selama diambulans Arthur menggengam erat tangan Andrean.
"Terimakasih sudah bertahan, kau sangat kuat... maaf aku tidak melindungi mu, aku bersalah karena kurang mengawasi mu
Saat mereka sampai dimansion team medis sudah siap memindahkan Andrean ke ruang medis. Evan bergegas membawa Andrean ke ruang medis dan memakaikan peralatan bantu untuk Andrean.
Evan sangat mengkhawatirkan sang kakak tapi setelah memeriksa ulang keadaan Andrean dia bisa bernafas lega. Berbeda dengan Narda yang langsung syok melihat keadaan Andrean seperti itu.
Narda syok dia tidak mau bicara dan hanya terisak tangis. Karina menemani Andrean diruang medis bersama Arthur, dan Evan sedangkan Narda dia bersama Viola.
"Arthur siapa pelakunya?" Tanya Karina marah.
"Edwin" Sahut Arthur singkat.
"Bajingan!" Karina benar benar marah.
Narda memaksa ingin bertemu dengan Andrean akhirnya Viola mengizinkannya. Narda duduk dikursi samping Andrean dan memegang tangan sang kakak.
"Kakak hiks hiks hiks kakak bangun... adek disini kakak bangun jangan tinggalkan adek kak" Narda menggenggam erat tangan Andrean.
"sayang jangan khawatir kakak mu akan baik baik saja, dia kuat selama ini dia selalu bisa bertahan... jangan khawatir" Ucap Karina berusaha menenangkan Narda padahal dirinya sendiri juga khawatir.
__ADS_1
Narda tidak mau mendengarkam Karina dan tetap menangis sembari memegang tangan Andrean. Perlahan Andrean membuka matanya dia melihat ke sekeliling ada Karina, Arthur, Narda, dan juga Evan disisinya.
"Kakak? kak kau bisa mendengar ku?" Evan.
"Kau berisik..." Sahut Andrean membuat semua orang tersenyum lega.
Narda langsung memeluk Andrean dan menangis lega. Andrean juga tersenyum karena ternyata adik yang sangat ia sayangi baik baik saja.
"Mama... mereka menjebak ku" Ucap Andrean pada Karina.
Karina mengangguk paham dan menggenggam tangan Andrean. Karina mengusap kepala sang anak penuh kasih sayang, Karina mencium kening Andrean berkali kali dia sangat bersyukur sang anak baik baik saja.
"Katakan pada mama apa yang sebenarnya terjadi nak?" Karina.
"Mama patua bajingan itu menghadang mobil ku saat aku dalam perjalanan pulang, dia mengatakan jika dia berhasil menculik Narda...
Tadinya aku tidak mau percaya tapi dia memiliki kalung yang sama persis dengan kalung Narda. Aku sangat panik dan dengan gegabah aku mau menyerahkan diri ku padanya, aku tidak bisa berpikir tenang...
Aku melihat kalung itu berlumuran darah satu satunya yang aku pikirkan adalah keselamatan adik ku. Akhirnya aku ikut dengannya dan dia mengikat ku dikursi besi dalam gudang, dia memukul kepala ku dan menusuk ku beberapa kali
Hal yang paling aku ingat dia berbisik pada ku jika dia sudah menghabisi adikku... Aku lemas dan tidak memiliki tenaga untuk berontak, dia juga melemparkan kalung itu pada ku" Sahut Andrean menceritakan semuanya.
"Andrean itu memang kalung yang terbuat dari emas hitam dan berlian biru, yang hanya dimiliki keluarga kita namun itu bukan milik Narda...
Itu adalah kalung milik Miranda... Edwin adalah dalang dibalik kecelakaan papi, mami, dan Miranda...
Dia adalah penyebab kematian adik kita Miranda" Sahut Arthur dengan suara lirih karena dia sudah sangat lelah dankehabisan banyak tenaga.
Mendengar itu air mata Karina jatuh begitu saja Karina beranjak pergi mengambil pistol dan juga pedang beracun miliknya. Narda terdiam tak percaya dengan apa yang dia dengar, sebelumnya Narda mengira jika kematian Miranda adalah kecelakaan namun ternyata itu sebuah pembunuhan.
"PERKETAT PENJAGAAN MANSION JAGA TUAN MUDA! Aku akan memenggal kepala bajingan yang telah membunuh putri tunggal keluarga ini" Karina.
"Karina... bunuh dia untukku, untuk putri kita" Viola menatap Karina dari ujung tangga.
Karina menghampiri Viola dan memeluk sang kakak ipar. Mereka mengetahui fakta itu dari Arthur yang tadi menemukan kalung itu didekat Andrean, Arthur melihat dibelakang liontin kalung itu terukir nama Miranda.
Saat itulah Arthur mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dia langsung memberitahu hal itu pada keluarganya yang lain, Jason dan Hendery membawa ratusan ribu anak buahnya untuk menghancurkan mansion Edwin.
"Miranda adalah putri keluarga ini, kematiannya tak akan tenang sebelum aku memenggal kepala bajingan itu... jaga anak anak kita akan ku bawakan kepala bajingan itu ke hadapan mu kak" Karina.
__ADS_1
Karina bersiap dan membawa senjata kesayangannya dan menyusul suami serta kakak iparnya. Hati Karina benar benar diselimuti amarah, dia teringat pada senyum manis Miranda putri kecil mereka yang sangat cantik dan polos.