AKU ANAK HARAM!

AKU ANAK HARAM!
MENGADU


__ADS_3

Narda memegang tangan Jason dan mengarahkan tangan Jason untuk memegang wajahnya. Saat tangan Jason memegang wajah mungil Narda saat itu tangisnya pecah.


Narda pun tersenyum namun air matanya juga ikut menetes begitu saja tanpa diminta. Narda menghapus air mata Jason dengn tangan dinginnya.


"Papa jangan sedih... adek tau papa sangat sayang adek sejak pertama kali kita bertemu hingga saat ini kasih sayang papa tidak pernah berkurang sedikit pun untuk adek


Pa... aku bahagia sangat bahagia karena aku menjadi anak seorang Jason De Wilson. Papa ku adalah seorang pria kuat dan berhati hangat, papa membuat seorang anak malang yang sendirian kini dikelilingi oleh kasih sayang


Jangan sedih pa karena aku tidak akan menyerah... aku masih ingin melihat papa lebih lama lagi" Narda tidak bisa melanjutkan kata katanya karena terisak tangis.


Jason membawa Narda ke dalam pelukannya Jason tidak bisa mengatakan apapun lagi karena saat ini dia benar benar kacau. Narda menghapus air mata Jason lagi dan lagi.


"Papa jangan menangis..." Lirih Narda berucap didalam pelukan Jason.


Narda melepaskan pelukan Jason dan menghampiri Hendery. Saat Narda benar benar berada dihadapannya Hendery tidak mau menatap mata Narda karena jika dia menatap mata malaikat kecil itu maka air matanya pasti akan jatuh begitu saja.


"Papi?" Narda memegang tangan Hendery tapi Hendery masih tak mau menatap mata wajah Narda.


"Papi lihat adek... kalau papi mau nangis gak apa apa papi nangis aja dipelukan adek, adek tau kok papi itu orang yang kuat dan tegar


Tapi semua orang juga perlu bahu untuk bersandar dan perlu waktu untuk menangis... Bahu adek memang kecil dan adek gak sekuat yang lainnya


Tapi adek juga pengen dipeluk sama papi... Adek mau papi lega dan melepaskan semua beban dihati papi saat ini" Narda melepaskan tamgannya dari tangan Hendery.


Narda tersenyum lembut dengan air mata yang masih membasahi pipinya. Narda merentangkan kedua tangannya dihadapan Hendery, melihat itu tanpa aba aba Hendery memeluk erat tubuh mungil Narda dan menangis sekeras dan sekencang yang dia bisa.


Narda tersenyum dan menepuk nepuk punggung Hendery dengan tangan mungilnya. Narda merasa lega bisa melihat Hendery menangis dan melepaskan semua beban yang ada didalam hatinya.


"Maaf! Maaf!" Hendery terus mengulang kata kata yang sama.


"Semuanya sudah terjadi tapi bukan berarti semuanya berakhir... kita semua bisa memulai semuanya dari awal dan memperbaiki apa yang telah rusak" Narda.

__ADS_1


Hendery beranjak dan mengangkat tubuh mungil Narda ke dalam gendongannya. Hendery membaringkan Narda ditempat tidur rumah sakit yang telah disediakan.


"Papi akan mengakhiri semua masalah ini, papi berjanji akan selalu melindungi mu dan juga keluarga kita..." Ucap Hendery sembari mengecup lembut kedua tangan Narda.


"Terimakasih papi..." Sahut Narda lirih.


Hendery dan Jason meninggalkan rumah sakit mereka memutuskan untuk menutup semua jalur bisnis gelap yang selama ini mereka bangun hari itu juga. Hendery dan Jason memutuskan untuk fokus pada bisnis mereka yang lain.


Meskipun mereka telah meninggalkan dunia gelap keluarga De Wilson dan Die Errama tetap menjadi keluarga terkaya didunia. Bagaimana tidak Mereka memutuskan untuk fokus mengelola Restoran mereka yang memiliki 120 cabang diseluruh dunia, 140 cabang rumah sakit yang tersebar diseluruh dunia, 16 Hotel yang terletak di seluruh Amerika, Jepang, dan Indonesia, toko roti terkenal yang memiliki 10 cabang, dan jangan lupa jika keluarga mereka juga memiliki 10 Mall besar yang terletak diseluruh Amerika, belum lagi perusahaan perkapalan mereka yang memiliki 150 lebih Armada Kapal.


Jason dan Hendery mengubah nama perusahaan mereka menjadi 2D yaitu singkatan dari nama keluarga mereka yaitu De Wilson dan Die Errama. Meskipun mereka sudah tidak lagi bekerja dibawah dunia mafia yang gelap tetap saja mereka memiliki banyak musuh.


Musuh itu adalah para pesaing yang ingin menjatuhkan mereka dan beberpa musuh lain yang memiliki dendam lama pada mereka. Narda mendengar dari Rega jika Jason dan Hendery benar benar sudah meninggalkan dunia mafia.


Hal itu membuat Narda bahagia dan semakin semangat menjalani pengobatannya. Narda yang awalnya malas minum obat kini jadi semangat bahkan dia makan dengan lahap dan tidak malas malasan saat disuruh berjemur dibawah matahari pagi oleh Evan.


Narda ingin memulai hidup baru bersama keluarganya. Dia tau semuanya telah berubah dan mungkin akan ada banyak hal baru yang membuatnya bahagia atau mungkin juga sedih dan dalam bahaya.


Tapi Narda tidak mau terlalu memikirkan itu bagi Narda yang terpenting saat ini dia harus sembuh dan pulang. Narda sedang duduk dibawah sinar matahari pagi ditaman belakang rumah sakit, dia jelas tidak sendirian ada Andrean bersamanya.


"Kak sudah beberapa hari ini adek dirumah sakit tapi adek bingung kapan adek boleh pulang?" Tanya Narda penuh harap.


Andrean mencubit hidung Narda gemas tentu saja itu membuat Narda kesal dan berakhir mengigit tangan Andrean. Andrean refleks berteriak karena gigitan Narda memang menyakitkan.


"Aduh adek kok kakak digigit sih?!" Kesal Andrean sembari mengusap usap bekas gigitan Narda ditangannya.


"Abis kakak nyebelin suka narik narik hidung adek! nanti kalau hidung adek copot gimana coba?!" Sahut Narda balik marah pada Andrean.


Mendengar itu Andrean langsung tertawa keras karena gemas dengan tingkah imut sang adik. Bukannya berhenti menjaili sang adik Andrean malah semakin berulah dengan mencium seluruh wajah Narda membuat anak manis itu kegelian dan akhirnya kabur.


Narda berlari menjauh dari Andrean tapi baru beberapa meter Narda berlari tubuh mungilnya ditahan dan langsung digendong oleh seseorang. Narda sempat berontak tapi saat dia menyadari jika yang menggendongnya adalah Arthur seketika Narda diam dan jadi anteng.

__ADS_1


Arthur memang terlihat tampan dan ramah tapi saat Arthur marah dia akan berubah menjadi monster mengerikan dimata Narda.


"Siapa suruh lari larian?!" Tanya Arthur dengan nada bicara sedikit tinggi.


Arthur kesal karena Narda berlarian saat baru saja membaik. Beberapa hari lalu Narda sempat drop hingga membuatnya harus mendapatkan penanganan darurat karena jatuh dikamar mandi ruang rawat inapnya.


"Adek lari dari kak Ian habisnya adek di jailin terus sama kak Ian, hidung adek ditarik tarik nanti kalau copot gimana? adek gak punya hidung lagi dong!


Terus adek juga dicium cium sama kak Ian kumis kak Ian gak dicukur jadi nusuk nusuk dimuka adek! kan geli!" Ucap Narda mengadu pada Arthur.


"Tetap saja tidak boleh berlari seperti itu, bagaimana jika kau jatuh lagi dan terluka seperti beberapa hari lalu?" Arthur mulai merendahkan nada bicaranya karena khawatir membuat adik kecilnya ini takut.


"Kok kak Arthur cuman marahin adek sih? kan yang salah kak Ian!" Kesal Narda dengan mata yang sudah berkaca kaca bersiap untuk menangis.


Arthur membawa Narda yang masih didalam gendongannya mendekati Andrean. Saat Arthur berdiri dihadapannya nyali Andrean seketika menciut.


"Kau mengosongkan jadwal mu hari ini?" Tanya Arthur pada Andrean.


"iya kak" sahut Andrean lirih.


"Mengosongkan jadwal dengan mengalihkan semua jadwal rapat mu kepada ku?!" Tegas Arthur bertanya.


"Hehehe i-iya kak" Sahut Andrean dengan nyalinya yang menciut.


"Sudah membuatku benar benar kesal sekarang masih berani jahil pada adik sendiri?! dasar anak nakal!" Arthur menjewer telinga Andrean membuatnya meringis kesakitan dan meminta Arthur untuk melepaskannya.


Narda yang melihat Andrean tersiksa karena dijewer oleh Arthur malah tertawa nyaring. Hatinya sangat puas melihat Andrean si jail dihukum oleh kakak tertua mereka, Arthur melepaskan tangannya dari telinga Andrean.


"Jaga Narda baik baik jangan biarkan dia berlarian seperti tadi, aku datang hanya untuk memastikan keadaannya saja...


Aku masih ada rapat dan harus segera kembali ke kantor" Arthur ingin memberikan Narda ke gendongan Andrean tapi Narda menolak dan malah memeluk erat leher Arthur.

__ADS_1


"kakak baru datang masa sudah mau pergi lagi?! kakak tidak kangen sama adek?" Tanya Narda dengan masih memeluk leher Arthur erat.


"kakak kangen sekali sama adek tapi sayang kakak harus membantu papa dan papi, adek tunggu kakak ya nanti setelah semua urusan pekerjaan kakak selesai kakak akan menemui adek lagi" Sahut Arthur sembari mengusap punggung kecil Narda.


__ADS_2