AKU ANAK HARAM!

AKU ANAK HARAM!
KENYATAAN


__ADS_3

Narda berjalan dengan cepat ke kamarnya Karina dan Viola melihat itu dan langsung menghentikan Narda. Mereka berdua bingung dan bertanya apa yang terjadi karena Narda hanya menangis tanpa menjelaskan apapun.


Narda menceritakan apa yang dia dengar dari Jason. Mengetahui itu Karina dan Viola hanya bisa menenangkan Narda, Evan melihat mama dan maminya yang sedang kerepotan menenangkan adik bungsunya.


"Adek sini" Evan menarik tangan Narda dan menyuruh Narda naik ke punggungnya.


Narda menurut dan Evan menggendong Narda dipunggungnya. Evan mengajak Narda berjalan jalan dihutan belakang mansion hutan itu masih berada dalam pagar dan dijaga ketat oleh anak buah Die Errama dan anak buah De Wilson.


"Adek masih sedih?" Evan.


"Eum..." Sahut Narda sembari mengeratkan pegangannya dileher Evan.


"Apa yang membuat adek sedih?" Evan.


"Adek sedih karena rumah kita dibakar kak... rumah itu adalah rumah dimana semua kenangan indah kita pertama kali tercipta...


Dirumah itu untuk pertama kalinya adek minum susu buatan papa, untuk pertama kalinya adek dipeluk sama papa, tempat pertama kita bertemu...


tempat pertama adek dipeluk sama mama dan tempat dimana adek menjadi anggota keluarga De Wilson" Sahut Narda sedih.


"Rumah itu memang menyimpan banyak sekali kenangan indah bukan hanya untuk mu tapi juga untuk kami, awalnya kakak juga marah dan sedih karena rumah itu dirusak oleh mereka yang tidak bertanggung jawab


Tapi satu hal yang membuat kakak akhirnya tenang dan tidak marah lagi, kau tau apa itu?" Evan terus berjalan menyusuri hutan dengan Narda digendongannya.


"apa itu?" Tanya Narda bingung.


"Rumah itu memang menyimpan kenangan tapi sumber kebahagiaan yang sebenarnya ada disini bersama ku... memang benar aku kehilangan banyak kenangan indah tapi aku tidak kehilangan hal terindah ku..." Evan menurunkan Narda dan menatap wajah sang adik.


"kakak tidak marah lagi pada penduduk desa yang sudah membakar rumah kita?" Narda bertanya dengan suara lirih.


Evan tersenyum dan menatap sang adik dengan lembut. Evan memegang kepala Narda dan menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Kakak diam bukan berarti kakak tidak marah tapi amarah itu sudah padam, penduduk desa membakar rumah kita karena mereka marah kami mengadopsi mu...


Tapi kami tidak masalah dengan itu karena sebesar apapun amarah mereka itu tidak akan merubah sedikit pun rasa sayang kami pada mu.


Adek benar kenangan yang sudah hilang tidak bisa dikembalikan tapi kita bisa membuat kenangan baru, kan? selama ini kami selalu menutupi banyak hal dari mu...


Kakak tau kau juga punya banyak pertanyaan, bahkan mungkin kecurigaan pada kami. Tapi apapun itu dengarlah satu hal ini kau adalah Narda De Wilson dan itu tak akan pernah berubah.


Aku tidak akan meminta mu berhenti mencurigai kami. Tapi kau harus tau Narda bahkan saat seluruh dunia membenci mu kami akan selalu melindungi mu dan menjadi rumah tempat mu pulang" Evan.


"Kak... kenapa cuman adek?! kenapa cuman adek yang selalu gak tau apa apa?! kenapa cuman adek yang selalu dibohongi?! Jawab kak!" Narda mencoba meluapkan semua isi hatinya.


"Karena kami takut... kami takut kau terluka, saat kau tau semua kenyataan itu kami takut kau memilih pergi dan tidak mau menerima kami lagi" Sahut Evan dengan meneteskan air mata namun senyuman masih menghiasi bibir manisnya.


"seburuk itukah?" Narda bingung.


"Apa kau ingin tau kebenarannya?" Sahut Evan balik bertanya yang mendapat anggukan dari Narda tanda setuju.


"Baiklah... Kakak akan menceritakan semuanya pada mu, Narda... keluarga kita adalah keluarga mafia papa, papi, kak Andrean, kak Arthur dan aku kami adalah mafia...


Kami bergerak didunia gelap penyelundupan senjata, bahkan perdagangan ilegal. Kami juga sudah sering kali membunuh musuh musuh yang berusaha untuk menghancurkan bisnis ini.


Bisa dibilang keluarga kita adalah keluarga Mafia terbesar didunia. Kau pasti bingung kenapa mansion kita ada diatas bukit dan ditengah hutan, itu karena bukit ini adalah tempat yang menjadi pusat segalanya...


Kau selama ini pasti mengira jika aku adalah seorang dokter hebat yang menyelamatkan banyak nyawa dan berjuang untuk menyembuhkan orang lain. Itu memang tidak salah tapi dibalik itu semua aku tetaplah seorang mafia tangan ku berlumuran darah


Aku bahkan tidak tau berapa banyak orang yang sudah aku bunuh. Tapi hadir mu membuat ku berubah... tidak! bukan hanya aku tapi kami semua berubah...


Semenjak kehadiran mu kami yang dulunya hanya sibuk dengan bekerja mencari uang dan kekuasaan, perlahan kami mulai mencintai mu. Kami belajar arti cinta dan keluarga...


Kami berjuang agar bisa melindungi mu dari semua hal. Kami ingin melihat mu bahagia dengan jalan yang kau pilih, tanpa harus mengikuti jejak kami" Evan memegang kedua tangan Narda.

__ADS_1


"Kami ingin tangan ini terus bersih... kami ingin kau hidup dengan baik karena kau adalah hidup kami, Narda kau adalah segalanya untuk kami!" Evan tak bisa menahan tangisnya.


Narda terdiam dia mematung tak ada satu patah katapun yang sanggup ia ucapkan. Narda hanya bisa menangis tanpa suara ada perasaan sedih, takut, dan juga kecewa didalam hatinya tapi Narda juga sangat menyayangi keluarganya.


Evan berlutut dihadapan Narda dan memegang erat tangan sang adik. Namun Narda melepaskan tangan Evan dan berlari kembali ke mansion sembari berderai air mata.


Evan ingin mengejar namun kakinya terasa lemas bahkan untuk berdiri pun dirinya sudah tidak sanggup. Narda terus berlari bahkan dia sempat jatuh beberapa kali karena tidak berhati hati, pelipis Narda terluka dan berdarah.


Begitu sampai dimansion Narda langsung masuk ke ruang keluarga dan menatap semua orang yang ada disana. Semua orang kaget dan juga khawatir karena Narda datang dengan nafas terengah engah, baju yang robek dan kepala yang terluka.


"adek kenapa sayang?" Karina.


"JANGAN MENDEKAT!" Narda melarang Karina mendekati dirinya hal itu tentu saja membuat semua orang bingung.


"adek kenapa sayang? ini mama nak adek kenapa?" Karina semakin khawatir.


Narda tidak menjawab perlahan kaki kecil itu melangkah mendekati Jason. Narda menatap wajah Jason dengan mata yang sudah berlinang air mata, saat Jason ingin menghapus air mata Narda, dengan kasar Narda menepis tangan Jason.


"Kenapa?" Tanya Narda singkat membuat Jason semakin bingung.


"Narda?" Jason.


"Kenapa kau berbohong? Kenapa kalian semua berbohong?!" Narda saat ini sangat marah.


"Apa maksud mu nak? kapan papa berbohong pada mu?" Jason.


"Begitu besar kepercayaan yang aku berikan pada kalian, bahkan aku mencintai kalian semua melebihi hidup ku sendiri... Tapi kalian membohongi ku" Narda.


"Narda ada apa ini?" Andrean ingin memegang pundak Narda tapi Narda menghindar.


"Berapa banyak? Berapa banyak orang tidak bersalah yang sudah kalian bunuh?!" Ucapan Narda membuat semua orang terdiam bahkan Hendery pun ikut mematung seketika.

__ADS_1


__ADS_2