
"Nyonya Viola menikah dengan tuan Hendery bukan karena cinta melainkan karena perjodohan paksa yang dilakukan oleh orang tuanya, meskipun begitu Nyonya Viola tetap menjadi istri yang setia
Dia tidak pernah berniat mengkhianati tuan Hendery. Setelah menikah nyonya Viola menjadi wanita yang sangat dihormati, dia menjadi pusat perhatian dan harus mendatangi banyak acara acara penting
Dulu sebelum menikah nyonya Viola adalah seorang wanita sederhana yang pendiam. Dia tidak suka pergi ke pesta dia juga tidak punya banyak teman, satu satunya teman yang dimilikinya adalah aku...
Dia pernah jatuh cinta pada seorang pemuda desa yang sederhana tapi saat tuan besar tau itu tuan besar membunuh pemuda yang merupakan cinta pertama nyonya Viola. Hingga saat ini ku rasa nyonya Viola masih mencintai pemuda itu" Luis menceritakan masa lalu kelam Viola.
"Apa mami sudah tau pemuda itu dibunuh?" Narda.
"Sudah... itulah sebabnya nyonya mengabadikan kisah cinta tragisnya dengan memberikan nama anak Arthur pada anak sulungnya
Arthur adalah nama pemuda itu, aku kagum dengan tuan Hendery meskipun dia tau cerita ini dia tetap mencintai nyonya Viola dengan tulus" Luis.
"Jadi papi juga sudah tau?" Narda.
"Benar tuan Hendery sudah tau" Luis.
"Paman apakah ada kenangan dari pemuda itu yang masih tersisa? dan dimana makamnya?" Narda.
"Arthur adalah nama asli pemuda itu, dia dimakamkan dipelosok desa yang sangat jauh dan kenangan yang tersisa adalah topeng kupu kupu yang selalu dipakai oleh nyonya" Luis.
"Apa mami baik baik saja?..." gumam Narda lirih.
"Untuk itu kau bisa tanyakan sendiri padanya" Luis.
Luis mengantarkan Narda untuk menemui Viola dan Karina yang ternyata sedang berada diruangan karya. Ruang Karya dimansion ini menjadi tempat dimana Viola dan Karina menyimpan hasil Karya mereka, hasil karya mereka berupa lukisan, buku, baju buatan sendiri dan juga ukiran kayu.
Narda membawakan dua ikat bunga untuk dua wanita paling istimewa didalam hidupnya itu. Satu ikat bunga mawar merah untuk Karina dan satu ikat bunga lily untuk Viola, Narda tau bunga kesukaan kedua wanita cantik itu.
__ADS_1
"Mami, mama mulai hari ini kalian tidak perlu menyiapkan makanan lagi untuk urusan dpur serahkan saja semuanya pada ku" Narda. Karina dan Viola saling beradu pandangan karena bingung.
"Nak ada apa? kenapa kau tiba tiba ingin menangani dapur?" Tanya Karina bingung.
"semenjak aku kecil kalian berdua selalu sibuk untuk memasak dan memberikan aku yang terbaik sekarang aku sudah besar aku juga harus belajar untuk berbakti...
Mulai sekarang aku yang akan memasak untuk kalian... Mami, Mama anak kalian ini sudah bukan anak kecil lagi, sudah saatnya aku belajar dewasa" Narda.
Karina mengusap wajah Narda dengan mata berkaca kaca. Karina masih tidak rela Narda dewasa karena rasanya baru kemarin Narda minta susu dan tidur didalam gendongannya.
"Waktu berjalan terlalu cepat anak mama sudah besar, mama masih belum rela adek dewasa mama masih ingin memeluk adek dan membuatkan adek susu" Ucap Karina yang kemudian terisak tangis.
"Setiap anak adalah harta terindah bagi ibunya, nak kau adalah harta terindah bagi kami berdua... terimakasih sudah tumbuh dengan baik nak" Viola meneteskan air mata.
Narda memeluk kedua ibunya dengan kasih sayang. Narda meminta Karina dan Viola duduk disofa panjang yang ada diruangan itu, Narda menyuruh maid untuk mengambilkan beberapa barang.
"Aku ingin menata rambut mami..." Ucap Narda sembari mengambil sisir dari salah satu maid.
Narda menyisir rambut Viola dengan lembut dan penuh kasih. Air mata Viola dan Karina tak bisa ditahan karena ini adalah pertama kalinya mereka diperlakukan semanis ini oleh sang anak.
"Mami ku sungguh cantik... aku akan mengepang rambut mami" Narda.
Narda teringat dulu Viola sering memandikan Narda dan menata rambutnya. Air mata Narda jatuh saat melihat rambut Viola yang rontok dan beruban. Setelah selesai menata rambut Viola Narda memeluk Viola dari belakang.
"Mami jangan dulu menua biarkan adek dewasa lebih dulu, jangan dulu pergi mami biarkan adek berbakti dan memberikan mami kasih sayang adek" Narda.
"Waktu terus berjalan nak mami akan semakin menua... kalau pun mami pergi lebih dulu adek haru ikhlas karena mami akan selalu menjaga adek dimana pun mami berada" Viola.
"Tidak mami tidak boleh bicara begitu, mami tidak boleh pergi sebelum aku!" Narda semakin erat memeluk Viola.
__ADS_1
Narda melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah maid. Narda mengambil ember besar berisi air hangat yang dibawa oleh maid, Narda meletakan ember itu disamping kaki Karina. Perlahan Narda memasukan kaki Karina satu persatu ke ember itu.
"Nak apa yang kau lakukan?" Karina.
"Di indonesia setiap anak yang ingin berbakti pada ibunya akan menata rambut ibunya dan mencuci kaki mereka, aku sudah menata rambut mami sekarang aku akan mencuci kaki mama..." Narda.
Mendengar itu Karina dan Viola tak bisa berkata kata mereka hanya bisa menangis. Bahagia sangat bahagia dan terharu itulah yang keduanya rasakan.
Narda mencuci kaki Karina perlahan dan penuh kelembutan lalu mengeringkannya dengan handuk hati Narda terenyuh saat mengetahui telapak kaki Karina begitu kasar, Narda ingat bagaimana dulu Karina selalu menggendongnya bahkan sering lupa menggunakan alas kaki jika dirinya tiba tiba menangis dan minta gendong. setelah selesai Narda tersenyum dan menghapus air mata Karina.
"Mama jangan menangis... mama harus bahagia aku sudah besar dan aku baik baik saja, aku janji akan membuat mama dan mami bahagia...
Mungkin aku tidak sebijaksana kak Arthur, aku tidak sekuat kak Andrean, dan aku tidak sepintar kak Evan tapi aku adalah Narda anak kesayangan mama dan juga mami" Narda.
"Mama yakin adek akan tumbuh menjadi pemuda yang baik, kelak kau akan sehebat ketiga kakak mu atau bahkan melampaui mereka kami yakin itu nak" Karina.
"Kak sepertinya kita bahas masalah ini nanti saja, biarkan mereka berdua istirahat Narda benar mereka butuh bersantai" Jason.
"Benar ayo kita ke sungai dan memancing itu pasti menyenangkan, sudah lama kita tidak pergi memancing" Hendery.
"Itu bukan ide yang buruk ayo berangkat!" Jason.
Jason dan Hendery pergi memancing ke sungai yang ada didekat rumah kayu. Mereka bersantai sembari menikmati kopinya.
"Mama dan mami hari ini mau makan apa? aku akan masakan" Narda.
"Apa saja asalkan kau yang memasak mama akan memakannya" Karina.
"Mami ingin makan sup jamur buatan mu, apa kau ingat saat kau berusia sepuluh tahun itu adalah makanan pertama yang kau masak" Viola.
__ADS_1
"Baiklah aku akan membuatkan sup jamur spesial, rendang, dan makanan lainnya... kalian bersantai saja jangan khawatir ya" Narda beranjak pergi dengan tersenyum.