AKU ANAK HARAM!

AKU ANAK HARAM!
JANGAN MENANGIS


__ADS_3

"iya mama maaf..." Narda berucap lirih sembari mengatur nafasnya yang masih sedikit sesak.


"Kakak dokter akan menikah dengan kak Ian?... tapi kalian akan tetap tinggal bersama kami kan?" Narda.


"Iya kami akan tetap tinggal dengan mu sayang, jangan khawatir ya.." Andrean.


"Kakak terimakasih..." Ucap Narda sembari memegang tangan Rain.


"Sama sama... sekarang kau harus lebih semangat untuk bisa sembuh" sahut Rain pada Narda.


"Eum aku ingin segera sembuh... aku ingin melihat kalian menikah, dan aku akan menjaga keponakan keponakan ku dengan baik" Narda.


"anak pintar..." Rain mengusap surai rambut Narda penuh kasih.


"Kakak ku akan menikahi wanita yang cantik dan baik, terimakasih tuhan" Ucap Narda dalam hati.


Perlahan Narda menutup matanya dan tertidur. Karina memegang kedua tangan Rain dan tersenyum, Karina mengusap wajah Rain dengan lembut.


"Terimakasih sudah menerima pernikahan ini... aku berjanji pada mu Rain aku akan menganggap mu seperti putri ku sendiri, dan selama kau menjadi menantu keluarga De Wilson aku berjanji kau tidak akan kekurangan apapun" Karina.


"Nyonya aku sangat berterima kasih atas kebaikan mu, tapi tolong beri tau dia untuk melepaskan kedua orang tua ku..." Rain.


"Andrean lepaskan mereka jika Narda tau apa yang kau lakukan dia akan marah" Karina.


"Aku akan lepaskan mereka setelah pernikahan selesai" Andrean.


"Kapan kalian akan menikah?" Evan.


"Besok" Sahut Andrean dengan santainya.


"Kau gila?! ini terlalu mendadak!" Kesal Rain pada Andrean dan berbicara agak keras.


"Kecilkan suara mu! jika Narda sampai bangun kau tidak menyangka apa yang akan aku lakukan!" Sahut Andrean dengan tatapan dingin dan suara datarnya.

__ADS_1


"Sudah jangan ribut... begini saja pernikahannya kita adakan minggu depan, dan kita akan mengadakan prosesi lamaran dan pertunangan juga" Karina.


"Semua rangkaian acara akan kita lakukan dirumah sakit agar Narda bisa menyaksikan semua acaranya" Jason.


"Aku setuju..." Evan.


Andrean membawa Rain untuk memilih baju pernikahan mereka bukannya senang Rain justru lebih banyak diam. Jujur saja Rain tidak mencintai Andrean karena sebenarnya Rain mencintai Arthur yang juga merupakan rekan kerjanya dirumah sakit keluarga De Wilson.


Rain pernah hampir menyatakan rasa cintanya pada Arthur tapi akhirnya Rain mengurungkan niatnya. Rain merasa ragu karena dia merasa tidak pantas untuk Arthur, setelah Arthur meninggal Rain sangat hancur dan menutup hatinya untuk semua pria.


Tapi sekarang dirinya harus menerima pernikahan paksa dengan Andrean. Meski pernikahan ini dilakukan demi Narda, tapi ini tetaplah sebuah pernikahan yang dilakukan atas dasar rasa terpaksa dan bukannya cinta.


Saat sampai dibutik ternama milik teman Karina, Rain mencoba beberapa gaun pernikahan. Namun ada satu gaun yang membuatnya tampak begitu cantik dan menawan, sebuah gaun putih dengan renda cantik didepannya dan sentuhan pernak pernik cantik dibagian atasnya.


Gaun itu tampak sederhana namun sangat indah apa lagi saat dipakai oleh Rain seorang gadis berdarah Amerika-Jepang. sungguh sebuah peraduan yang sempurna, Rain terlihat sangat cantik.


Saat Rain keluar dari ruang ganti dengan menggunakan gaun itu Andrean beranjak dari duduknya. Andrean sangat terpana dengan kecantikan Rain, Andrean menghampiri Rain untuk melihatnya lebih dekat.


Rain tidak menjawab dia membuang muka dan tidak mau menatap Andrean sedikit pun. Rain tau sebenarnya Andrean bukan orang jahat dan hanya ingin melakukan ini semua demi kesembuhan adiknya tapi Rain juga seorang wanita yang punya perasaan dan bukan berhati batu.


Rain menangis tanpa suara jujur saja gaun ini adalah gaun yang sangat Rain impikan untuk hari pernikahannya. Tapi yang ada didalam impian Rain adalah Arthur bukannya Andrean.


"Mama kapan acara lamarannya?" Narda.


"Hari ini..." Sahut Karina singkat karena sedang sibuk membuatkan susu untuk Narda.


"Kakak Andrean akan segera menikah, mama adek hebatkan sudah bisa bertahan sampai sekarang?" Narda.


Karina yang mendengar itu terdiam sejenak lalu menghampiri Narda dengan membawa segelas susu ditangannya. Karina meletakan susu itu diatas nakas lalu duduk disamping Narda dan menggenggam tangan sang anak.


"Iya adek hebat... sangat hebat mama bangga sama adek" sahut Karina dengan tersenyum.


"Ma nanti kalau kakak dokter sudah ada dikeluarga kita mama tidak akan kesepian lagi, mama akan ada teman untuk bicara, teman melukis, dan teman untuk menjahit..." Narda.

__ADS_1


"Iya..." Sahut Karina singkat sembari mengusap surai rambut Narda.


Narda menatap Karina yang kini duduk disampingnya dan mengusap wajah Karina dengan tangan dinginnya. Narda bisa merasakan kesedihan didalam hati Karina hanya dengan menatap matanya.


"Mama jangan sedih... mama nanti akan jadi nenek untuk anak anak kakak, adek bisa bayangin ramenya Mansion kita nanti...


ada banyak anak kecil yang berlarian kesana dan kemari, tertawa bersama dan menangis bersama...


rasanya ingin sekali bisa kembali ke masa lalu mengulang kembali masa kecil adek disaat keluarga kita masih lengkap. Tapi adek sadar ma itu semua tidak bisa, mama jika nanti adek sudah pergi mama jangan ikut adek


Mama harus jaga anak anak kakak untuk menggantikan adek... mama harus hidup dan menemani papa selamanya" Narda berucap dengan mata berkaca kaca.


Narda sendiri tidak tau kenapa dirinya mengucapkan semua itu. Mendengar itu Karina menangis dan mengusap wajah Narda dengan lembut, Karina tersenyum dan mencium pipi Narda.


"Adek mau kemana sayang?..." Karina.


"Mama sebenarnya adek capek... adek sudah tidak tahan sakit terus, tapi adek masih ingin lihat mama, papa, dan kakak bahagia sebelum adek pergi


Mama jangan kasih tau papa ya kalau adek ngomong gini... soalnya nanti papa bisa sedih, adek gak mau papa sedih mama juga jangan sedih" Narda menghapus air mata Karina dengan tangan dinginnya.


"Iya sayang... kalau adek sudah lelah dan sudah benar benar tidak kuat lagi, mama ikhlas nak...


Mama tau adek sudah berjuang selama ini dan adek sudah berusaha sebaik mungkin. Maaf mama sudah egois karena memaksa adek bertahan" Karina.


"adek akan berdoa sama tuhan supaya dikehidupan selanjutnya adek dilahirkan sebagai anak mama, supaya kita bisa bersama lebih lama...


Mama jangan menangis adek tidak akan pergi sekarang ma, karena adek maaih menunggu dijemput sama ibu cantik" Ucap Narda membuat hati Karina semakin merintih perih.


Karina memeluk Narda erat karena tidak mudah baginya berada didalam keadaan ini. Tapi Karina tidak mau egois dia tidak mau memaksa sang anak untuk terus bertahan hanya karena dirinya, Karina sadar setiap manusia pasti memiliki batas kemampuannya masing masing.


Jason dan Evan kembali dengan membawa makanan yang tadi mereka beli. Jason menghampiri Karina yang masih memeluk Narda.


"Dia sudah bangun? tapi kenapa susunya belum diminum?" Tanya Jason bingung saat melihat ada segelas susu yang masih utuh diatas nakas.

__ADS_1


__ADS_2