
Jason membawa Narda yang ada didalam gendongannya melewati semua anggota keluarga lainnya. Narda terlihat lemas dan pucat dia meletakan kepalanya dibahu Jason.
"Siapkan bubur dan air putih hangat" Jason memberikan perintah pada maid.
"Kau mau membawa dia kemana?" Karina bingung.
"Ke teras samping dia mau makan disana" Sahut Jason menjelaskan.
"Sayang boleh mama ikut menemani adek?" Tanya Karina sembari memegang kepala Narda lembut, Narda mengangguk tanda setuju.
Karina tersenyum lega karena Narda sudah mau makan. Karina memegang tiang infus Narda agar Jason bisa lebih leluasa menggendong sang anak.
Saat sampai diteras samping Jason duduk disofa dengan Narda dipangkuannya dan Karina disampingnya. Saat makanan datang Karina menyuapi Narda bubur itu perlahan lahan, Narda makan perlahan dan Karina dengan sabar menyuapi sang anak.
"Adek sayang habis makan adek mau apa? mau main atau mau mama temani baca buku cerita?" Karina.
Narda hanya diam dan menatap langit Karina menghela nafas panjang dan menatap sang anak sedih. Karina memegang tangan Narda lembut.
"Adek sayang makan dulu ya nak nanti baru lihat bintang lagi" Ucap Karina lembut.
Narda mengangguk dan melanjutkan makannya. Setelah selesai makan Narda minum air putih hangat yang diberikan oleh Karina, dan kembali fokus menatap bintang dilangit.
"Bintangnya banyak..." Cicit Narda membuat Jason dan Karina tersenyum.
Karina memegang tangan Narda, Karina merasa tangan Narda sangat dingin Karina menyuruh maid mengambilkan selimut. Saat selimut datang Jason memakaikan selimut itu pada Narda dan memeluk sang anak.
Udara semakin dingin Jason membawa Narda masuk dan menuju ke kamarnya. Evan sudah menyiapkan semua alat medis yang dibutuhkan untuk Narda begitu Jason masuk membawa Narda, Evan langsung memasangkan selang oksigen dan mengganti infus Narda.
"Adek bobok ya biar badannya enakan" Evan.
"Makasih kak..." Sahut Narda lirih.
Evan tersenyum dan mencium pipi Narda setelah menaikan selimut Narda Evan berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Jason dan Karina menemani Narda untuk malam ini mereka tidak mau meninggalkan sang anak sendiri dikamarnya.
Karina mengusap usap kepala Narda dengan lembut. Saat Narda sudah mulai mengantuk Narda mendekatkan dirinya pada Jason dan memeluk Jason.
__ADS_1
"tidur ya nak ini sudah malam sayang, besok kita jalan jalan kita beli boneka beruang besar yang adek mau" ucap Jason sembari menepuk nepuk pelan punggung Narda agar sang anak segera tertidur.
"Boneka apa?" Tanya Karina penasaran.
"Boneka beruang besar yang lucu seperti anak kita ini" Sahut Jason sembari tersenyum.
Narda tidak bisa tidur dengan nyenyak Narda terbangun setiap tiga puluh menit sekali karena merasa seperti ada yang membentaknya. Saat terbangun Narda akan langsung menangis ketakutan.
Jason dan Karina yang melihat itu jelas tidak tinggal diam. Setiap Narda terbangun dan menangis Jason sigap menggendong Narda dan menimang sang anak agar tenang.
Karina juga tidak tinggal diam dia melakukan banyak cara untuk menenangkan sang anak. Karina membuatkan susu untuk Narda dan memasukannya didalam botol dot kesayangan Narda.
"Adek sayang minum susu dulu ya nak jangan menangis lagi" Karina membujuk sang anak karena ini sudah ketiga kalinya sang anak terbangun
Karina menghubungi Andrean dan Evan untuk datang membantu menenangkan Narda. Andrean mengambil Narda dari gendongan Jason dan menimang sang adik dengan bergerak ke kanan dan ke kiri.
Perlahan isakan Narda sudah tidak lagi terdengar, Narda kembali tertidur didalam gendongan Andrean.
"Evan dia demam" Ucap Andrean dengan wajah panik.
Evan bergegas mengambil plaster penurun demam dan memasangkannya didahi Narda. Evan mengusap kepala Narda pelan dan mencium kening sang adik.
Andrean membaringkan Narda kembali dan menyelimuti sang adik. Andrean mengusap pelan pipi gembul sang adik dan menciumnya pelan.
"Tidur yang nyenyak sayang, papa ada disini nak" Jason.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Bagaimana kita bisa memperbaiki semua ini?" Tanya Evan yang sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, Evan duduk dikarpet bulu kesayangan Narda dengan bersandar ditempat tidur.
"Takdir memang tidak adil... kenapa harus anak ku? kenapa selalu anak anakku?" Karina.
"Menangis sudah tidak ada gunanya lagi saat ini kita harus fokus pada kesembuhan Narda, aku tidak mau kehilangan anak lagi" Jason.
Narda kembali terbangun dan langsung menangis. Kali ini Jason dengan sigap menggendong Narda dan menenangkan sang anak, Narda terus menangis bukan karena kesakitan tapi Narda menangis karena ketakutan.
Jason menggendong Narda dengan selimut yang masih membungkus tubuh mungil Narda, hingga hanya menyisakan bagian wajah dan tangannya saja. Evan berulang kali mengecek bagian tangan Narda yang di infus khawatir jika infus Narda terlepas.
__ADS_1
Narda sudah berhenti menangis tapi masih berada digendongan Jason. Narda hanya diam dan sesekali terisak.
"Papa kenapa papa dan mama sayang adek?" Tanya Narda lirih.
Jason tersenyum dan duduk disofa membawa Narda ke dalam pangkuannya. Jason membenarkan selimut Narda agar sang anak tetap hangat.
"Tidak ada alasan untuk itu sayang... papa dan mama menyayangi mu karena itu adalah kamu, karena Narda adalah anak papa dan mama" Sahut Jason sembari mengelus pipi manis Narda.
Karina mendekat dan langsung mencium pipi Narda. Karina duduk disamping Jason dan membelai rambut Narda lembut.
"Mama dan papa tidak perlu alasan untuk menyayangi mu nak, karena dirimu adalah buah hati mama dan papa" Karina.
Narda tersenyum tipis dan berkedip lucu membuat Jason dan Karina gemas. Evan dan Andrean tidak mau ketinggalan mereka juga mendekati sang adik.
"Kakak..." Narda memanggil kedua kakaknya.
Evan dan Andrean duduk dikarpet bulu dan memegang tangan Narda lembut. Andrean mencium tangan Narda dan mengusapnya dengan kasih sayang.
"Adek sayang yang kuat ya... adek harus sembuh, nanti kalau adek sudah sembuh kita ke pantai melihat matahari terbenam dan menghitung bintang bersama" Andrean.
"Kakak juga janji mulai sekarang kakak akan selalu meluangkan waktu untuk adek, kakak tidak akan mengabaikan mu lagi" Evan.
Narda tersenyum mendengar ucapan kedua kakaknya. Ada rasa bahagia dihati Narda yang akhirnya bisa sedikit menutupi kesedihannya, Narda mulai menutup matanya dan tertidur kembali.
Kali ini Jason membiarkan sang anak tidur dipangkuannya. Jason tidak menidurkan Narda ditempat tidur karena khawatir sang anak akan terbangun lagi.
Hingga pagi menjelang Jason dan yang lainnya tetap terjaga. Mereka tidak tidur sama sekali demi menjaga si bungsu, pagi ini Narda masih demam tapi keadaannya tidak seburuk tadi malam.
Jason membawa Narda yang baru saja bangun untuk berjemur dibawah matahari pagi. Hal ini sudah menjadi kebiasaan Narda untuk berjemur dengan ditemani oleh Jason, dulu Narda pernah terkena penyakit kuning dan semenjak itu dia diwajibkan berjemur setiap pagi.
Salju sudah tidak turun lagi matahari mulai bersinar terang tanda musim semi akan segera datang. Musim semi adalah musim yang sangat disukai oleh Narda karena dia bisa melihat bunga bermekaran dan kupu kupu cantik beterbangan.
"Adek sayang minum susu dulu nak" Karina datang dengan membawa segelas susu.
Narda meminum susu itu perlahan lahan karena dia takut muntah jika langsung menghabiskan susu itu sekaligus. Karina mengelap mulut Narda dengan sapu tangannya.
__ADS_1
"adek mau sarapan apa? biar mam buatkan sayang" Karina.
"Bubur manis..." Sahut Narda lirih.