
Narda terkejut saat mendapatkan kabar jika Evan diracun oleh wanita yang menjadi cinta pertama Evan. Sebelumnya Evan pernah bercerita tentang Zaya pada Narda, sekarang Narda dan semua anggota keluarganya sedang menuju ke rumah rahasia untuk melihat keadaan Evan.
Arthur sudah selesai membuat penawar racun untuk Evan. Arthur menyuntikan penawar racun itu pada Evan, reaksi tubuh Evan cukup buruk karena dia kejang dan muntah.
Arthur sempat panik tapi dia bisa menangani situasi ini dengan baik. Saat semua orang sampai dirumah rahasia Arthur menyambut mereka, Jason sangat khawatir terlebih saat dia melihat dia melihat Arthur dalam keadaan terluka.
Saat baku tembak terjadi bahu kiri Arthur tertembak tapi dia masih bisa menahan rasa sakitnya dan menggendong Evan. Arthur bahkan tidak memperdulikan keselamatannya sendiri dia menggunakan inti sel darah putihnya untuk membuat obat penawar racun untuk Evan.
Viola langsung memeluk Arthur berbeda dengan Narda ada amarah dimata anak polos itu. Narda tidak mengatakan apapun tapi amarah jelas terlihat diwajah dan matanya.
"Adek" Arthur ingin memegang wajah Narda tapi Narda menghindarinya.
"Kenapa? Kenapa saat kita berbuat baik kita semakin disakiti?!" Marah Narda.
"Kau sudah tau?" Arthur.
"Kami menceritakan semuanya pada Narda, dia berhak tau alasan kenapa kedua kakaknya terluka" Jason.
"adek tidak semua orang itu jahat sayang" Arthur.
"Tapi mereka jahat! mereka melukai kalian! Aku benci orang luar mereka semua jahat!" Narda.
Arthur dan yang lainnya terdiam, mereka tidak bisa mengatakan apapun. Yang dikatakan Narda memang tidak sepenuhnya benar namun juga tidak sepenuhnya salah.
"Jika semua orang menganggap kita musuh lebih baik tidak usah jadi orang baik sekalian!" Ucap Narda yang kemudian berlalu pergi.
"Dia pasti sangat kecewa" Jason.
"Semoga saja dia tidak akan melukai dirinya sendiri lagi" Karina.
Narda masuk ke kamar Evan diantarkan oleh David. Narda melihat evan yang masih terbaring lemah dan belum sadarkan diri, Narda menatap Evan dengan hati yang sedih.
__ADS_1
"Ketiga kakak ku terluka... aku harus bagaimana?" Gumam Narda dalam hati.
Saat ini Narda sangat bingung dia tidak harus berbuat apa. Narda hanya bisa duduk disamping Evan dan menggenggam tangan Evan dengan berharap sang kakak akan segera bangun.
Andrean yang masih duduk dikursi roda terlihat sangat marah. Saat ini mereka semua sedang berkumpul diruang keluarga tapi mereka semua hanya diam, tidak ada yang bersuara satupun.
"Papa hancurkan mereka" Narda yang baru datang tiba tiba mengejutkan semua orang.
"Adek apa maksudnya sayang?" Tanya Karina bingung.
"Aku sudah tidak perduli dengan kemanusiaan! mereka menganggap keluarga kita seperti hewan buruan, mereka mencoba membunuh kak Arthur dan kak Evan... aku sudah tidak perduli pada apapun!
Kalian lakukan saja sesuka kalian aku benar benar membenci orang orang itu. Jika sifat kasihan ku mereka salah gunakan maka aku juga bisa bersifat sebagai orang jahat" Ucap Narda membuat semua orang beranjak dari duduknya kecuali Andrean yang memang masih sakit.
"Apa kau yakin dengan kata kata mu nak?" Jason.
"Putra keluarga De Wilson dan Die Errama tidak pernah menyalahi ucapan mereka" Narda berlalu pergi meninggalkan ruang keluarga.
"Aku akan berangkat dan memenggal kepala bajingan itu" Viola. Karina mendekati Viola dan memegang pundak kakak iparnya itu.
"Kali ini ku serahkan pada mu" Karina tersenyum dengan senyuman penuh arti sembari memberikan sebuah pedang pada Viola.
"aku tidak suka memakai pedang putih mu, tapi kali ini aku akan menggunakannya untuk memenggal kepala bajingan itu" Viola.
"Saat dua dewi kematian saling bertukar pedang aku tidak yakin hanya akan ada satu korban" Jason menunjukkan senyum smirknya.
Viola berangkat dengan Luis dibelakangnya, dia berangkat untuk menyerang kediaman ayah Zaya. Kali ini Viola tidak hanya akan menghabisi ayah Zaya tapi seluruh keluarga Zaya akan menjadi incaran Viola.
Viola dikenal sebagai topeng kematian karena setiap kali dia melakukan penyerangan dia akan menggunakan topeng kupu kupu. Sebenarnya Viola menggunakan topeng itu karena tidak mau ada noda darah yang mengenai wajah cantiknya, didunia mafia Viola adalah salah satu yang paling ditakuti.
Karina juga tidak kalah dari Viola tapi sedikit berbeda dengan Viola jika Karina dia tidak suka memakai topeng. Karina selalu ingin musuh mengingat wajahnya dan sebelum dia memenggal kepala musuh dia akan membuat musuh itu menatap wajahnya selama satu menit agar mereka mengingat wajah Karina hingga dikehidupan selanjutnya.
__ADS_1
Karina lebih dikenal sebagai pedang kematian karena dia bisa mengalahkan puluhan orang berpistol menggunakan pedangnya. Tapi jangan salah meski Karina dan Viola adalah ahli pedang tapi mereka juga penembak yang handal.
Kini Narda sudah tidak perduli dengan kata kasihan. Hati Narda seakan sudah membeku dia menyaksikan sendiri ketiga kakaknya terluka didepan matanya, Narda sangat marah sehingga amarah itu membuatnya kuat.
Narda tidak ingin menjadi lemah dia meminum obat-obatannya. Narda juga menjaga ketiga kakaknya yang terluka, melihat perubahan Narda tentu saja mereka khawatir karena ini pertama kalinya Narda semarah ini.
"Kalian bertiga istirahatlah aku akan siapkan makanan untuk kalian" Narda.
"adek sini dulu kami mau bicara" Evan yang sudah sadarkan diri terkejut saat Arthur menceritakan semuanya.
Narda menghampiri Evan dan memegamg tangan sang kakak. Evan menghela nafas panjang dan mengusap wajah Narda lembut.
"Adek sayang jangan marah kami baik baik saja" Evan.
"Baik baik saja?! apanya yang baik baik saja?! kalian bertiga hampir terbunuh!" marah Narda.
"Dengar kak aku tidak mau kehilangan kalian... aku sudah cukup kehilangan, aku sudah cukup menderita! Aku ingin hidup bersama kalian selamanya...
bahkan Jika untuk itu aku harus menjadi orang jahat dan tidak berpersaan aku pun rela. Kalian benar tidak semua orang jahat tapi keputusan ku juga tidak salah, karena nyatanya tak semua orang itu baik" Sahut Narda yang kemudian berlalu pergi.
Ketiga pemuda itu menatap punggung adik mereka yang pergi melalui pintu dengan mata berkaca kaca.
"Dunia membuatnya kecewa..." Evan.
"Takdir mempermainkan hidupnya, tidak salah jika dia marah tapi ku harap dia akan baik baik saja" Arthur.
"Aku khawatir ini akan melukai hatinya" Andrean.
Narda memasak didapur tapi sesekali dia akan menghapus air matanya sendiri. Narda marah tapi dia juga bingung kenapa harus dirinya? dan kenapa harus keluarganya? kenapa harus mereka yang hidup dijalan yang sulit ini?.
Narda membuat sup ayam dan memasak nasi. Dia juga membuat makanan lainnya, saat ada maid yang ingin membantunya Narda akan langsung marah dan menyuruh mereka pergi.
__ADS_1
Jason dan Karina memperhatikan Narda dari jauh. Mereka tidak tega melihat putra bungsu mereka seperti ini tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa apa, karena pada akhirnya Narda harus bisa menerima kenyataan jika dirinya adalah putra seorang Mafia.