AKU ANAK HARAM!

AKU ANAK HARAM!
KERINDUAN.


__ADS_3

Narda menemui Viola dikamarnya untuk menatap rambut Viola dan menyuapinya. Viola hanya duduk dikursi meja riasnya tanpa mengatakan sepatah kata pun.


"Mami hari ini adek masak makanan kesukaan mama, adek buatkan sup jamur dan ayam panggang kesukaan mami..." Narda.


"Mami sudah cantik sekarang makan dulu ya, adek suapin..." Narda menyuapi Viola dengan lembut dan perlahan.


Viola memakan makanan itu dengan baik tapi Viola tetap tidak mengatakan apapun. Narda menyuapi Viola dengan hati yang sangat sedih, Narda meneteskan air mata karena tak tega melihat Viola seperti ini.


Viola menghapus air mata Narda dengan tangan dinginnya. Viola membuka laci meja riasnya dan memberikan sebuah kotak perhiasan untuk Narda.


"Mami ini apa?" Narda.


"Hadian ini mami siapkan untuk Miranda dulu, setelah Miranda tiada mami menyimpannya untuk istri Arthur nanti... sekarang Arthur juga sudah tiada sekarang simpanlah perhiasan ini nak


Berikan ini pada istri mu nanti, berikan sebagai hadiah pernikahan untuknya... Mami yakin nantinya kau akan menikah dengan wanita yang baik, jadilah suami yang baik dan bertanggung jawab nak" Viola menatap Narda dengan mata berkaca kaca, Narda memegang kedua tangan Viola dan meletakan kepalanya dipangkuan Viola.


"Mami harus kuat ya... adek akan menjaga mami dan juga papi" Narda.


Setelah selesai menyuapi Viola, Narda meninggalkan Viola seorang diri dikamarnya untuk menyimpan hadiah yang Viola berikan. Narda memeluk kotak perhiasan itu dan menangis didalam kamarnya.


Viola menyuruh maid untuk memanggil Luis saat Luis datang Viola memberikan Luis sebuah pedang. Pedang emas ini adalah pedang yang selalu menemani Viola didalam perjalanan hidupnya selama ini.


"Luis... aku telah menganggap mu sebagai adikku sendiri, aku menjaga mu dan mengajari mu banyak hal


Kau pernah berjanji akan membalas jasa ku selama ini. Sekarang aku akan meminta sesuatu pada mu" Viola.


"Apapun yang kau minta aku tidak akan menolaknya... nyonya" Luis.


"Luis... jaga Narda jadilah pelindungnya, jadilah guru untuknya, jangan biarkan dia sendirian meski hanya sesaat


Jangan pernah membiarkan Narda terluka, jadilah perisai untuk putra ku..." Viola.

__ADS_1


"Baik nyonya" sahut Luis dengan berlutut dihadapan Viola.


"Terimakasih sudah menjadi sahabat dan juga adikku selama ini, sekarang aku akan menemui Hendery...


Sudah saatnya kami menemui ketiga malaikat hati kami yang telah menunggu kami dialam keabadian" Viola.


Luis hanya bisa menangis dan menunduk Viola tersenyum dan meninggalkan kamarnya. Viola menuju ke ruang kerja Hendery dan ternyata Hendery sudah menunggunya. Viola dan Hendery saling tersenyum, dan Hendery memeluk Viola erat.


"Sudah lama menunggu?" Viola.


"Belum... aku baru saja menunggu mu disini, anak anak sudah menunggu kita" Hendery.


"Arthur, Miranda, dan Jevan pasti sudah merindukan kita..." Viola.


Hendery dan Viola bergandengan tangan menuju ke rumah kaca. Mereka melihat indahnya bunga bunga yang bermekaran, Viola dan Hendery duduk diayunan besi yang ada disana.


Hendery merangkul Viola dengan mesra dan mencium kening sang istri. Mereka kemudian meminum racun yang memang sudah mereka siapkan, mereka berdua memutuskan untuk mengakhiri hidupnya bersama.


Jason masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Jasad kakak dan kakak iparnya terbaring didalam ruang keluarga, Narda terduduk lemas disamping jenazah Hendery.


Narda memeluk jasad Hendery dan menangis sekeras kerasnya. Karina yang juga ada disana memeluk tubuh Viola yang telah tak bernyawa bagi Karina, Viola adalah seorang kakak, sahabat, dan juga tempatnya bersandar.


Evan dan Andrean tidak bisa berkata kata bahkan Jason jatuh pingsan dan Hans yang menanganinya. Baru beberapa hari lalu Arthur tiada hari ini Viola dan Hendery juga tiada mereka benar benar hancur dibuatnya.


"Papi... Mami... hiks hiks hiks kenapa? Kenapa?!" Narda memeluk Hendery dengan penuh kasih.


"Aku akan merias sendiri mami, dan papi..." Ucap Narda menguatkan dirinya sendiri.


Benar saja Narda merias sendiri Viola dan Hendery dibantu oleh Karina. Narda menata rambut Viola untuk terakhir kalinya dengan berderai air mata, Narda tidak bisa berhenti menangis.


"Mami ku sangat cantik... hiks hiks mami pasti merindukan kak Miranda kan? sekarang mami sudah bisa menemuinya...

__ADS_1


Mami adek titip salam untuk kak Miranda, Kak Arthur, dan Kak Jevan... sampaikan pada mereka adek baik baik saja dan adek sudah ikhlas" Narda.


Narda merias Viola dan Hendery dengan berderai air mata. Narda menaruh bunga lily dan bunga mawar biru didalam peti jenazah Viola dan Hendery.


"Kakak aku titip Jevan pada kalian... jaga dia kak katakan padanya aku sangat merindukannya kak" Ucap Karina lirih.


Setelah selesai merias Hendery dan Viola, Narda membawa Karina keluar dari ruangan dan menghampiri Jason. Evan dan Andrean sama sama diam mereka hanya melamun, Narda mendekati kedua kakaknya dan memeluk mereka erat.


Evan dan Andrean menangis keras didalam pelukan Narda. Narda pun sama dia juga menangis dan hatinya sangat terluka dengan semua yang terjadi.


"Aku salah! maaf hiks hiks maaf! maaf mami maaf papi hiks hiks kak Arthur maaf!" Andrean merasa sangat bersalah dan selalu menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah terjadi.


"Semua sudah terjadi kak... aku ingin sekali marah dan membenci mu tapi aku tidak bisa hiks hiks aku tidak bisa" Narda.


Hendery dan Viola dimakamkan dalam satu liang lahat. tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menatap sedih pada dua peti jenazah yang kini ditimbun tanah dalam satu liang lahat.


Narda merasa sesak dan sakit pada dadanya dan akhirnya Narda pingsan dipemakaman. Evan langsung memeriksa keadaan Narda, denyut nadi Narda sangat lemah bahkan nafasnya sudah tidak beraturan.


Evan dan Hans bergegas membawa Narda ke rumah sakit di ikuti oleh yang lainnya. Jason sangat khawatir dia takut kehilangan lagi, Narda dilarikan ke IGD.


Evan dan Hans yang masih berduka menangani Narda dibantu oleh team dokter lainnya.


"Evan kita harus menemui paman Jason dan yang lainnya, keadaan Narda benar benar sudah sangat lemah kita harus melakukan operasi" Hans.


Evan terlihat sangat frustrasi dan meninju tembok hingga tangannya terluka. Hans hanya bisa menunduk pasrah, Hans keluar dari IGD mendahului Evan yang masih frustrasi.


"Paman..." Hans.


"Hans bagaimana keadaan Narda? dia baik baik saja kan?!" Jason.


"paman... keadaan Narda sangat lemah dia harus mendapatkan transfusi jantung, tapi jangan khawatir paman kami sudah memiliki donor jantung untuk Narda

__ADS_1


Paman dan tante istirahat saja dulu didekat sini ada hotel milik keluarga ku biar aku suruh supir mengantarkan kalian kesana, Andrean kau juga" Hans.


__ADS_2