
Arthur memberikan Narda ke dalam gendongan Andrean. Setelah itu Arthur berpamitan untuk kembali ke kantor, setelahnya Narda terdiam didalam gendongan Andrean.
"Kak kapan aku boleh pulang sih? aku bosan kak" Narda merengek didalam gendongan Andrean.
Andrean tidak menjawab dan hanya menepuk nepuk punggung Narda. Setelah itu Andrean membawa Narda kembali ke kamarnya dan ternyata Karina sudah ada disana.
Karina membawakan makanan untuk Andrean dan cemilan untuk Narda. Karina membawa Narda ke dalam pelukannya, Narda sangat senang jika Karina datang karena dengan memeluk Karina hati Narda terasa hangat.
"Adek sayang tadi berjemurnya berapa menit?" Karina bertanya sembari mengusap punggung tangan Narda.
"Cuman lima belas menit ma..." Sahut Narda yang kini merubah posisi duduknya bersandar dibahu Karina.
Andrean makan diruang makan yang ada dikamar rawat inap Narda. Karina merangkul tubuh mungil Narda dan menatap wajah sang anak yang masih terlihat pucat meski tak sepucat sebelumnya.
Narda tersenyum dan memegang hidung Karina dengan jari telunjuknya yang mungil.
"Mama sangat cantik... hidung mama juga mancung, tapi adek tidak mirip mama" Ucap Narda kecewa, Karina terkekeh pelan dan mengusap pipi Narda lembut.
"Siapa bilang adek tidak mirip mama? adek mirip dengan mama kok... cara adek bicara, cara adek berjalan, dan makanan kesukaan kita semuanya sama" Sahut Karina dengan tersenyum lembut.
"Ma adek pengen pulang..." Cicit Narda lirih namun masih bisa terdengar oleh Karina.
"Adek harus sembuh dulu baru boleh pulang, mama tau adek pasti sangat bosan disini tapi sayang ini semua untuk kebaikan adek" Sahut Karina dengan lembut.
Karina membaringkan Narda ke tempat tidurnya dan memberikan seikat bunga mawar yang Karina bawa dari mansion. Narda sangat suka bunga dan Karina tau jika sang anak akan senang jika dibawakan bunga yang ia petik sendiri dari rumah kaca mansion mereka.
Narda mencium bunga itu dan meletakkannya divas bunga yang ada diatas nakas samping tempat tidurnya. Narda juga membawa setangkai bunga untuk diberikan pada Andrean.
"Untuk kakak" Ucap Narda sembari menyodorkan setangkai bunga mawar pada Andrean yang baru saja selesai makan.
"Untukku? kenapa?" Tanya Andrean bingung.
"Waktu adek masih kecil adek mengambil bunga dibalkon dan memberikannya pada kakak, hari ini adek mau memberikan bunga ini untuk hadiah lagi..." Sahut Narda dengan tersenyum lebar.
Andrean menerima bunga itu dan tersenyum Andrean sudah terbiasa dengan perubahan sikap dan mood Narda. Terkadang Andrean akan dibuat kesal dengan sikap menyebalkannya, tapi terkadang Andrean akan dibuat luluh dengan sikap manis dan manjanya.
__ADS_1
Bukan hanya Andrean tapi seluruh Anggota keluarga mereka juga mengalami hal yang sama. Si bungsu ini memang sedikit berbeda suasana hatinya bisa naik turun dengan cepat bahkan bisa mempengaruhi kesehatannya sendiri.
Narda kembali ke tempat tidurnya dan berbaring sembari menonton tv. Tak lama kemudian Evan datang bersama beberapa team medisnya.
"Kakak!" Narda beranjak dari tempat tidurnya dan langsung memeluk Evan.
"Ayo berbaring kau harus diperiksa" Evan tidak membalas pelukan Narda dan langsung menarik tangan Narda lalu menyuruhnya berbaring.
Narda hanya menurut seperti biasa Evan memeriksa Narda dengan hati hati dan teliti. Setelahnya Evan akan menyuntikan obat pada Narda dan itu adalah bagian yang paling dibenci oleh Narda.
Narda tidak suka disuntik karena setiap kali disuntik rasanya sangat menyakitkan untuk Narda. Belum lagi setelah disuntik kepala Narda akan jadi sangat sakit dan badannya lemas.
Evan menyuntikan obat pada Narda tanpa mengatakan apapun dan dengan raut wajah datar. Evan seakan menulikan pendengarannya saat Narda menjerit kesakitan.
Karina memeluk Narda untuk menenangkan sang anak. Setelah menyuntikan obat pada Narda Evan memaksa Narda meminum obatnya hingga membuat Narda tersedak dan hampir muntah, Karina yang melihat itu jadi kesal dan mendorong Evan menjauh dari Narda.
"EVAN! ada apa dengan mu?! ini adik mu sendiri! kenapa kau kasar sekali?!" Kesal Karina sembari menenangkan Narda yang masih nampak kesakitan.
"Ma aku tidak kasar tapi jika dia lambat meminum obatnya maka itu akan membuang waktu! aku masih ada urusan lain ma!" Sahut Evan agak membentak.
"K-kak... di-dingin!" Ucap Narda dengan susah payah berusaha berbicara, rasa sakit itu membuat Narda benar benar lemah.
Andrean menyelimuti Narda menggunakan selimut tebal dan memeluknya. Evan sempat melihat ke arah Narda sekilas hatinya sebenarnya juga tak tega ingin sekali Evan memeluk Narda namun dia tidak bisa.
Evan harus pergi lagi untuk melakukan operasi lainnya. Narda menatap punggung Evan yang berlalu pergi begitu saja.
"K-kakak... Evan" Lirih Narda berucap dengan terbata bata.
Narda sangat merindukan Evan memang setiap hari mereka bertemu tapi Evan sudah berubah. Bagi Narda kakaknya sudah bukan seperti kakaknya yang dulu lagi, Evan sekarang sibuk dengan semua pekerjaannya dirumah sakit dan juga dikantor.
Evan bahkan sudah hampir tidak pernah memeluk Narda lagi. Bahkan untuk sekedar berbicara dengan Narda, Evan sudah tak pernah.
Alasan kenapa Narda ingin sekali pulang adalah karena dia merasa jika dirinya adalah beban untuk Evan jika terus berada dirumah sakit. Narda ingin membantu Evan sekalipun hanya dengan membereskan kamar Evan atau setidaknya membuatkan makanan kesukaan Evan.
"Evan sudah gila!" Kesal Karina sembari menutup pintu kamar Narda kasar.
__ADS_1
"Kak Evan kenapa berubah? apa kau sudah bosan dengan ku?" Tanya Narda didalam hati.
Narda pun menutup matanya Andrean mengira jika Narda tertidur tapi sebenarnya Narda pingsan. Saat ada darah yang keluar dari hidung Narda seketika Andrean dan Karina panik Andrean menekan bel darurat berkali kali.
Saat ini Evan sudah berada diruangan operasi dan tidak tau sama sekali tentang masalah itu. Dokter lain datang bersama beberapa perawat untuk menangani Narda, salah seorang perawat menyuruh Andrean dan Karina keluar dari kamar Narda agar mereka bisa lebih fokus dalam menangani Narda.
Evan sangat fokus dengan operasinya dia bahkan tidak tau jika saat ini adiknya sendiri berada diambang kematian. Dokter keluar dari kamar Narda dan mengatakan jika saat ini kondisi Narda kritis.
Dokter memindahkan Narda ke ruangan perawatan intensif dengan berbagai peralatan yang jauh lebih lengkap. Karina dan Andrean segera mengabari anggota keluarga yang lainnya.
Jason, Hendery, dan Arthur yang saat itu berada diruang rapat langsung bergegas ke rumah sakit dan membatalkan semua jadwal mereka. Jason sangat gelisah dia tak bisa bersabar selama diperjalanan dia terus saja marah marah pada Rega yang sedang menyupir karena menganggap Rega lambat saat membawa mobil.
Rega tak begitu menghiraukan omelan Jason karena dia tau saat ini Jason sedang panik dan cemas. Saat sampai dirumah sakit mereka bertiga sudah melihat Karina yang menangis didalam pelukan Andrean.
"kenapa bisa sampai seperti ini?! bukannya tadi Narda baik baik saja?!" Tanya Arthur pada Andrean.
"Kak sebaiknya kau tanyakan saja pada dokter saat ini aku bahkan tidak memiliki tenaga untuk berdiri..." Sahut Andrean yang benar benar lemas saat mendengar sang adik kritis.
Dokter keluar dari ruangan Narda dan langsung dihampiri oleh Arthur. Dokter itu ternyata teman lama Arthur yaitu dokter Hans, mereka berteman sejak msih Sma dulu.
"Hans anak yang kau tangani itu adikku! bagaimana keadaannya?! tadi adikku baik baik saja dia bahkan sudah bisa bermain tapi kenapa tiba tiba kritis?!" Arthur terus bertanya tanpa memberikan kesempatan untuk Hans menjawab.
"Arthur tenanglah atur dulu nafas mu kita bicarakan baik baik..." Sahut Hans menenangkan Arthur.
"Adik mu sebenarnya memang sudah memabaik dan seharusnya dia sudah boleh pulang besok, tapi untuk masalah ini aku benar benar minta maaf karena harus mengatakannya" Sahut Hans sembari melepaskan kaca matanya.
"Ada apa?! ANAKKU KENAPA?!" Jason tak bisa menahan emosinya lagi.
"Narda kritis karena dosis obat yang diberikan padanya salah... aku sudah menyuruh anak buah ku mengecek cctv dan laporan pengambilan obat untuk Narda hari ini
Ternyata masalahnya adalah Evan menyuntikan dosis obat yang salah pada Narda hingga menyebabkan Narda over dosis dan kritis...
Hal lain yang harus aku sampaikan adalah aku harap kau bisa membantu ku. Jika hanya aku sendirian ku rasa ini akan sulit, Arthur aku tau kau adalah dokter yang hebat kembalilah dan selamatkan adik mu" Hans mengatakan semuanya.
Jason sangat marah hingga memukul dinding rumah sakit berulang kali sampai membuat tangannya terluka. Karina menghentikan Jason dan menenangkannya.
__ADS_1
Arthur setuju dan bergegas membantu Hans untuk menangani Narda sedangkan Andrean dia bersiap untuk menghajar Evan. Andrean sangat marah karena keteledoran Evan saat ini adik mereka berada dalam bahaya.