
Jason mendekati Narda dan memangku sang anak. Saat berada didalam pangkuan Jason Narda hanya tersenyum, Narda melepaskan cincin yang dia pakai dan memakaikan cincin itu pada Jason.
"Ini untuk papa... hadia dari adek" Narda.
"Benarkah? terimakasih sayang" Jason.
"Papa adek punya pesan... tolong papa sampaikan ke seseorang ya?" Narda.
"Pesan? untuk siapa? dan pesan apa?" Jason.
"Pesan untuk ibu... adek akan tulis pesannya dalam sebuah surat, tolong nanti berikan pada ibu" Narda.
"Adek tau kalau adek tidak akan bisa bertemu dengan ibu lagi, karena itu adek akan menulis pesan saja untuk ibu...
adek ingin ibu tau kalau adek selama ini hidup dengan baik. Adek selalu berdoa agar ibu bisa bahagia juga, adek tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk ibu
Tapi setidaknya adek harap adek bisa menyampaikan pesan ini dan menjadikan ini yang pertama dan terakhir kalinya" Narda.
Jason hanya diam dia tidak langsung menyetujui permintaan sang anak. Jason menatap Karina dan mendapatkan anggukan dari sang istri.
"Baiklah adek bisa tulis suratnya nanti akan papa sampaikan pada ibu adek" Jason.
Narda turun dari pangkuan Jason dan meminta buku pada Rega. Dengan tersenyum Rega memberikan alat tulis pada Narda lengkap dengan krayon dan spidol warna juga.
"Papa, mama maaf boleh adek sendirian sebentar? adek ingin menulis surat untuk ibu" Narda.
"Iya sayang boleh tapi jangan lama lama ya, mama dan papa akan menunggu diluar" Karina.
"Eum" Narda mengangguk dan tersenyum.
Narda benar benar sendirian didalam ruangan itu dia menuliskan surat untuk Amalia tidak lupa Narda juga membuatkan sebuah gambar sederhana untuk diselipkan didalam surat kecilnya. Saat menulis surat itu air mata Narda tak dapat ditahan lagi, dia tidak membenci Amalia.
Narda bahkan sangat berterima kasih karena Amalia telah melahirkan dirinya. Narda juga sangat menyayangi Amalia bahkan setelah semua yang terjadi.
Andrean dan Rain sudah selesai membeli perlengkapan pernikahan mereka. setelah selesai mereka memutuskan untuk kembali ke rumah sakit karena akan ada acara lamaran yang juga dilangsungkan dirumah sakit.
Andrean menyuruh Leo untuk menjemput orang tua Rain dirumah mereka. Tidak ada senyuman yang terukir diwajah cantik Rain hanya wajah sendu dan air mata kesedihan yang terlihat jelas sejak tadi.
__ADS_1
Andrean tidak begitu memedulikannya karena pikiran Andrean sendiri sedang mengudara memikirkan tentang Narda. Andrean melihat sang adik yang semakin hari semakin lemah, bahkan sang adik kini sering berbicara sembarangan.
belum lagi Andrean memikirkan Evan yang akhir akhir ini sering melamun. Entah apa yang Evan pikirkan tapi dirinya sering tidak fokus pada semua hal.
Saat sampai dirumah sakit Andrean melihat Evan yang sedang berada diruangannya. Andrean sengaja menghampiri Evan diruang kerjanya karena ruang kerja Evan satu arah menuju ke kamar rawat Narda.
"EVAN!" Andrean menarik tangan Evan yang hampir saja ketumpahan air panas.
Evan ingin membuat teh tapi dia melamun dan tidak sadar hampir menyiramkan air panas ke tangannya sendiri bukannya ke cangkir. Jika saja Andrean tidak datang tepat waktu Evan pasti sudah terluka.
"Evan..." Andrean memegang kedua tangan sang adik.
"kau baik baik saja? apa ada yang sakit?" Andrean.
"Ti-tidak kak aku baik baik saja..." Evan terlihat panik.
Andrean membawa Evan ke dalam pelukannya dan menenangkan sang adik. Andrean menyadari jika ada yang salah dengan Evan adiknya, karena itu Andrean ingin menemui Evan.
Rain melihat bagaimana Andrean begitu tulus menyayangi adik adiknya. Rain mendekati kakak beradik itu dan tersenyum.
"Evan apa yang tadi kau pikirkan? kau nampak sangat lelah" Rain.
"Aku tau kau khawatir pada Narda tapi bukan begini caranya, kau juga harus memikirkan keselamatan mu" Andrean melepaskan pelukannya dan mendudukan Evan disofa yang ada diruangan itu.
Andrean mengambil cangkir baru dan membuatkan teh untuk Evan. saat membuatkan teh Andrean tidak sengaja melihat satu botol obat berisi obat penenang dan satu botol obat anti depresan dengan nama Evan tertulis disana.
Andrean mengambi kedua botol obat itu dan duduk disamping Evan.
"ini teh mu... jangan terlalu banyak mengonsumsi gula tidak bagus untuk kesehatan" Andrean.
"Kak kenapa kalian disini? bukannya acara lamaran akan segera dimulai?" Evan.
"Evan aku ingin bertanya pada mu... sejak kapan kau meminum obat obatan ini?" Tanya Andrean sembari meletakan dua obat yang sudah pasti milik Evan itu diatas meja yang ada didepan mereka.
Evan terdiam sebenarnya dia ingin menyembunyikan masalah ini dari Andrean dan yang lainnya tapi ternyata dia gagal.
"Maaf kak..." Evan menunduk.
__ADS_1
Rain mengambil botol obat itu dan memeriksanya. Rain terkejut karena Evan meminum obat dengan dosis yang sangat tinggi.
"Evan dosis kedua obat ini sangat tinggi kenapa kau meminumnya? kau tau kan efek samping obat ini bisa menyebabkan kerusakan ginjal dan jantung?" Rain.
Andrean sangat ingin memarahi Evan karena sudah membahayakan dirinya sendiri dengan meminum obat obat itu. Tapi Andrean berusaha untuk tidak melakukannya, karena semenjak Arthur tiada Andrean telah berjanji pada dirinya sendiri dia akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak membentak ataupun memukul adik adiknya.
"Evan... jawab pertanyaan kakak ipar mu" Andrean.
"Maaf kak..." Evan.
"Kakak ipar mu bertanya Evan, dia tidak menyuruh mu minta maaf tapi dia bertanya" Andrean.
Rain melihat Evan yang tertunduk sedih dan Andrean yang terlihat sangat khawatir. Rain beranjak dan mengambil sebuah kertas kosong kemudian duduk kembali.
"Evan lihat aku... Evan manusia itu seperti kertas kita memiliki dua sisi, manusia terkadang akan menunjukan satu sisi saja kemudian menyembunyikan sisi lainnya
Dengar Evan kakak mu berjuang untuk kalian, seperti yang kau katakan pada ku dia memang gila... tapi dia gila adalah untuk keluarganya...
Satu sisi disimpan, dan sisi lain ditunjukan adalah hal yang wajar. Tapi setiap sisi manusia pasti memiliki titik lemahnya sendiri, Evan depresi mu juga memiliki titik lemah
Dan tugas bukanlah semakin merusak diri mu sendiri dengan obat obatan ini tapi tugas mu adalah menemukan titik lemah depresi mu dan menyerang titik lemah itu hingga depresi mu hancur dan kau bisa bebas" Rain.
"Tapi aku tidak bisa... kau bisa mengatakannya dengan mudah karena kau bukan aku! Aku melihat bagaimana mobil kakakku menabrak tebing dan hancur!
Aku melihat kakak ku sekarat didalam pelukan ku! Kak Arthur meninggal didalam pelukan ku!
Papi dan mami meninggal karena bunuh diri! Kau tidak akan bisa tau bagaimana sakitnya kehilangan tiga orang yang kau cintai diwaktu yang hampir bersamaan!" Evan marah hingga beranjak dari duduknya.
"Aku tidak tau... aku memang tidak tau rasa sakit mu Evan, tapi aku tau menjadi diri mu tidaklah mudah...
Tapi apa kau ingin menyerah begitu saja? apa kau ingin membunuh diri mu sendiri secara perlahan?!" Rain.
Evan terdiam dia tidak menjawab pertanyaan Rain. Rain beranjak dan mengambil sebuah gunting medis yang ada diruangan Evan.
"Ambil ini! Jika kau memang ingin menyerah dan menjadi pengecut ambil ini dan akhiri saja hidup mu!
Aku ingin melihat bagaimana putra keluarga De Wilson bunuh diri karena takdir yang tak adil pada hidupnya!" Rain.
__ADS_1
Evan menatap gunting itu dengan ragu perlahan Evan ingin mengambil gunting medis itu. Namun Andrean mendahului Evan dan mengambil gunting itu.
"Kau ingin mati kan? ayo kita akhiri ini bersama, ayo kita mati bersama" Andrean.