AKU ANAK HARAM!

AKU ANAK HARAM!
HANCUR


__ADS_3

Keadaan Narda terus menurun membuat Hans dan Arthur semakin khawatir. Detak jantung Narda semakin melemah bahkan nafasnya kini ikut melemah.


"Narda! Adek sayang harus kuat sayang kakak disini! ini kakak sayang hiks hiks Narda jangan tinggalkan kakak sayang kau bilang kau rindu kakak kan?!


Ayo sayang berjuanglah kakak ada disini sayang kakak disamping mu!" Arthur menggengam erat tangan Narda dan menangis.


Alat pendeteksi jantung Narda menunjukkan jika detak jantung Narda semakin melemah. Seakan mendengar ucapan dan tangisan Arthur air mata Narda menetes dari mata Narda yang masih tertutup di iringi dengan suara alat pendeteksi jantung yang kini menunjukkan satu garis lurus.


Hans masih berusaha dengan melakukan cara terakhir. Hans menggunakan alat pacu jantung pada tubuh mungil Narda namun hasilnya tetap nihil.


"Tolong catat... waktu kematiannya senin pukul 17.56 Narda De Wilson telah meninggal dunia" Ucap Hans dengan berat hati.


"TIDAK! Narda bangun sayang! Sayang bangun! Kau bilang akan menunggu ku! Narda tidak!" Arthur membawa tubuh Narda yang telah tak bernyawa ke dalam pelukannya hatinya hancur kini semuanya nampak tak berarti bagi Arthur.


Hans keluar dari ruangan dan mengabarkan berita kematian Narda pada anggota keluarga De Wilson dan Die Errama yang lainnya. Karina dan Viola jatuh pingsan sedangkan Jason dan Hendery seakan lumpuh hanya isak tangis dan teriakan kesedihan yang terdengar.


Evan baru saja keluar dari ruang operasi dia merasa bersalah karena tadi sudah bersikap kasar pada Narda. Evan turun ke mini market yang ada digedung rumah sakit mereka dan membelikan Narda sebuah boneka doraemon yang lucu.


Evan ingat beberapa hari lalu Narda meminta boneka doraemon padanya setelah menonton kartun itu ditv. Tapi karena Evan terlalu sibuk dia tidak sempat menuruti kemauan adiknya itu.


Saat Evan sampai dikamar Narda tapi disana kosong dan hanya ada Kiko boneka kesayangan Narda sejak kecil. Evan berjalan menyusuri koridor rumah sakit dan dia bertemu dengan Hans.


"Oh Hans kau tau Narda dimana?" Tanya Evan.


"Evan..." Hans hanya bisa tertunduk pasrah.


"Ada apa? kau kenapa?" Tanya Evan bingung.


Hans tidak bisa mengatakan apa apa sebenarnya tadi dia juga sedang mencari Evan. Hans menarik tangan Evan membawanya ke depan ruangan tempat Narda berada, Evan bingung melihat semua orang yang menangis.


Andrean yang melihat kedatangan Evan langsung menghampiri Evan dan menghajarnya habis habisan. Dengan berderai air mata dan sesak didadanya Andrean tak lagi mampu menahan emosinya.


Hans dan beberapa petugas rumah sakit sampai dibuat kewalahan tapi akhirnya berhasil memisahkan Andrean dan Evan. Hans membantu Evan untuk berdiri.

__ADS_1


"KAU BAJINGAN EVAN! KAU BEJAT!" Andrean masih terus berteriak memaki Evan.


"ada apa sebenarnya aku tidak mengerti!" Kesal Evan.


"Evan apa kau sadar obat yang tadi kau berikan pada Narda adalah obat dengan dosis yang salah!" Sahut Hans yang juga ikut kesal.


Evan terdiam dia berusaha mengingat ingat kembali Evan sangat ingat jika obat yang dia berikan pada Narda adalah obat yang benar. Lagi pula meskipun Evan sangat sibuk dia tidak akan ceroboh dengan salah mengambil obat untuk adiknya sendiri.


"Tidak mungkin Hans aku sudah memeriksanya itu obat yang benar!" Sahut Evan membela diri.


"Berakhir... semua sudah berakhir Hahaha untuk siapa semua ini?! BODOH! Untuk siapa semua ini?!" Jason benar benar hancur dia seakan kehilangan akal sehatnya. Evan semakin bingung dengan semua yang terjadi.


"Evan... Narda mengalami over dosis karena obat yang kau berikan, tadi keadaannya sempat kritis tapi sekarang..." Hans tidak sanggup melanjutkan kata katanya.


"Hans?! Hans ada apa dengan adikku?! HANS KATAKAN!" Evan ikut emosi.


"Maaf Evan tapi Narda sudah meninggal" Hans.


*Deg


"Kakak akan menemani mu sayang... kau tidak akan sendirian, kita akan tetap bersama malaikat kecil ku" Arthur tersenyum dengan berderai air mata sembari membelai wajah Narda yang berada dipangkuannya.


Evan yang melihat itu tak bisa berkata kata dia menghampiri Arthur dan berusaha mengobati tangan Arthur. Tapi dengan cepat Arthur menolak dan mendorong tubuh Evan dengan keras hingga Evan terjatuh.


"MENJAUH! Kau jahat Evan! Kau membunuhnya! kau bilang kau akan selalu melindunginya tapi mana?! mana buktinya kau membunuh adik kita...


Seumur hidup ini aku sudah menderita karena kematian Jevan dan Miranda... Kini aku tidak sanggup jika harus kehilangan lagi biarlah kali ini aku juga ikut pergi, menemani mereka didalam keabadian" Ucap Arthur sembari memeluk erat tubuh Narda.


Hans yang melihat itu membawa team medis yang lainnya mereka berusaha memisahkan Arthur dan Narda dengan paksa. Hans terpaksa menyuntikan obat penenang pada Arthur dan langsung menanganinya karena Arthur sudah kehilangan banyak darah.


seorang perawat memberikan Jenazah Narda kepada Evan. Dengan hati yang hancur Evan menggendong jasad adik yang paling dia cintai dan memeluknya sangat erat, hidup Evan seakan telah berakhir.


Evan menatap wajah pucat sang adik dan mencium keningnya. Air mata Evan seakan tak bisa berhenti hatinya sungguh sangat sakit.

__ADS_1


"Maaf! Maaf... ini semua salah ku" Lirih Evan berucap didalam hatinya.


Dialam bawah sadar Narda saat ini Narda merasa seperti sedang bermimpi tapi begitu nyata. Narda berada disebuah tempat yang sangat indah diatas bukit dengan ilalang dan rerumputan hijau yang indah, ada banyak burung yang beterbangan dan ada banyak kupu kupu indah.


Narda melihat ada banyak anak seumuran dirinya sedang berlain lari larian dan ada juga yang sedang duduk sambil bermain rumput. Narda sangat. menyukai tempat itu selain indah disana juga membuatnya nyaman.


Seorang anak perempuan menarik tangan Narda membawanga bermain bersama. Anak perempuan itu seumuran dengan Narda mereka bermain kejar kejaran dan memanjat pohon apel bersama.


Tiba tiba seorang wanita cantik datang menyuruh mereka untuk turun dari pohon apel itu. Saat ingin turun ternyata Narda tidak bisa turun karena takut, akhirnya Narda menangis tapi wanita cantik itu dengan sabar membantu Narda untuk turun dan membawa Narda untuk duduk dipangkuannya.


"Mira lain kali jangan ajak adik adik mu untuk memanjat pohon lagi, sudah berapa kali ibu katakan hm?" Ucap wanita cantik itu pada teman perempuan yang baru Narda temui tadi ternyata nama gadis itu adalah Mira.


"Ibu tangannya sangat hangat... kenapa dia ada disini?" Tanya Mira pada wanita cantik yang ia panggil ibu.


"Dia akan berada disini untuk sementara waktu, karena ibu akan mengembalikannya ke tempat yng seharusnya nanti" Sahut wanita itu sembari membelai wajah Narda lembut.


"Adek dimana? adek kangen mama dan papa" Narda berucap lirih.


"Narda... kau tidak seharusnya disini nak belum saatnya kau disini, masa depan mu masih panjang... kau harus tumbuh dewasa dan menjadi bintang kehidupan untuk keluarga mu" Ucap wanita itu sembari mengambil satu buah apel dari keranjang buah yang ia bawa.


"Tadi adek kesakitan terus gelap waktu adek bangun adek udah disini... tapi disini indah bu" Narda berucap dengan tersenyum.


"Narda sayang tetaplah menjadi anak baik kelak ibu akan menjemput mu jika sudah waktunya, tapi itu bukan sekarang nak..." Ucap wanita itu dengan suara indahnya.


Saat ini dimansion keluarga De Wilson suasana duka begitu melekat. Jenazah Narda berada didalam peti jenazah lengkap dengan jas putih indah dan Kiko boneka kesayangannya.


Karina terus mentap wajah sang anak yang kini pucat pasi. Hati ibu mana yang tak hancur melihat anak yang ia cintai terbaring tak bernyawa didepan matanya, Viola ingin menguatkan Karina tapi saat ini dia sendiri tak bisa apa apa.


Viola lemas tak berdaya terduduk disamping peti jenazah Narda. Entah sudah berapa kali Viola pingsan hatinya menjerit perih setiap kali teringat bagaimana Narda memeluknya dan makan kue buatannya dengan lahap.


"Adek sayang... buah hati mama dan papa kenapa adek pergi secepat ini sayang? adek kenapa meninggalkan mama?" Karina hanya bisa menangis pilu hatinya hancur hidupnya seakan kosong dan hampa.


Jason? Entahlah dia bukan hanya hancur tapi juga hampir gila. Jason duduk terdiam didalam kamar Narda memeluk foto sang anak dan menangis tanpa henti.

__ADS_1


Evan diam diam menyelidiki kasus kematian adiknya karena Evan yakin jika ini ada hubungannya dengan salah satu musuh mereka. Evan sangat ingat dia memeriksa obat itu berkali kali sebelum menyuntikannya pada Narda.


"Narda makanlah apelnya sayang, setelah itu ibu akan mengantarkan mu pulang..." Ucap wanita cantik yang memanggil dirinya dengan sebutan ibu itu.


__ADS_2