AKU ANAK HARAM!

AKU ANAK HARAM!
SURAT KECIL UNTUK ANDREAN.


__ADS_3

"Evan maaf untuk operasi Narda kali ini kau tidak bisa ikut membantu" Hans.


"Kenapa?!" Evan.


"Aku tau kau masih berkabung dan kau juga pasti masih terpukul atas kematian Arthur, paman Hendery, dan tante Viola... aku khawatir kau tidak bisa fokus saat operasi dan membuat kesalahan


Satu kesalahan kecil saja dalam operasi ini bisa membuat nyawa Narda terancam, tolong mengertilah, ini semua demi kebaikan Narda" Hans.


Evan mengangguk paham dan menyetujui saran dari Hans. Jason datang dan membawa Evan ke pelukannya, dia tau saat ini anak anaknya membutuhkan dirinya.


"Hans kami percaya pada mu" Jason.


"Aku akan melakukan yang terbaik paman" Sahut Hans yang kemudian masuk ke dalam ruang operasi.


Karina duduk dikursi tunggu rumah sakit yang disediakan disamping ruang operasi bersama Andrean dan Evan. Sedangkan Jason berlutut didepan pintu ruang operasi dan berdoa untuk keselamatan sang anak.


Selama ini Jason adalah orang yang tidak pernah mempercayai adanya tuhan. Tapi untuk pertama kalinya dia berdoa setulus ini memohon keselamatan untuk anak yang sangat ia cintai.


"Tuan Andrean... ini surat yang ditinggalkan nyonya Viola dan Tuan Hendery untuk anda" Ucap Luis memberikan sepucuk surat yang ditulis oleh Viola dan Hendery.


Andrean mengambil surat itu dengan tangan gemetar. Karina mengusap punggung Andrean untuk menguatkan sang anak, Evan juga melihat isi surat itu.


"Andrean putra ku... maaf mami dan papi mengambil jalan ini nak, bukan maksud kami ingin menghukum mu dengan pergi selamanya dari pelukan mu tapi kematian Arthur menghancurkan hati kami...


Nak kami tidak menyalahkan mu atas apa yang terjadi pada Arthur karena bagi kami itu adalah takdir. Andrean meski pun kau sering berkata kasar dan bahkan berbuat gegabah


Kami tau hati mu tulus mencintai keluarga kita... anak baik ku Andrean kami pamit jaga Narda dan keluarga mu dengan baik

__ADS_1


Kini kau adalah si sulung yang harus bisa bertanggung jawab untuk semua anggota keluarga terutama mama dan kedua adik mu. Salam sayang Viola and Hendery" Tulis Viola dan Hendery didalam surat itu.


Tangis Andrean pecah setelah membaca surat itu. Andrean beranjak dan berlutut dihadapan Karina memohon maaf atas semua yng terjadi, lagi lagi Andrean masih tetap menyalahkan dirinya sendiri atas segala hal buruk yang telah terjadi.


"Nak... mama tau kau merasa bersalah sayang, tapi semua ini tidak sepenuhnya salah mu semua yang terjadi adalah takdir...


Jangan selalu menyalahkan diri mu sendiri Andrean. Mama sudah cukup kehilangan sekarang mama hanya ingin ketiga anak mama baik baik saja" Karina memeluk Andrean dengan penuh kasih sayang.


Evan menunduk pasrah dengan air mata yang membasahi wajahnya. Ingin rasanya Evan marah tapi dia bingung kepada siapa dia harus marah, yang dikatakan Viola dan Hendery didalam surat itu memang benar tapi Evan masih berpikir seandainya saja malam itu Andrean tidak mengatakan kata kata kasar itu pada Hendery mungkin saja semua ini tidak akan terjadi.


Evan sangat pusing dia benar benar lelah dan sedih semuanya terasa menyakitkan dan juga membingungkan. Evan hanya bisa menangis tanpa bisa berbuat apa apa, perlahan semuanya menjadi gelap dan Evan pun pingsan.


Andrean langsung menahan tubuh Evan agar tidak jatuh ke lantai. Andrean memeluk tubuh Evan yang lemas dan menyuruh Luis memanggil dokter.


"Evan?! Evan bangun ku mohon Evan!" Andrean dan Karina sangat panik Jason yang mendengar keributan itupun menghampiri mereka.


Andrean bergegas mengangkat tubuh Evan ke ruang IGD yang tak jauh dari ruangan operasi Narda. Evan langsung diperiksa dan ditangani saat itu juga, Jason yang melihat Andrean dan Karina panik berusaha untuk tetap terlihat tenang dan memeluk Andrean dan Karina untuk menenangkan mereka.


"Papa maaf... maaf pa! hiks hiks" Andrean.


"Suht... sudah nak sudah tidak apa apa ini bukan salah mu, sudah cukup jangan menyalahkan diri mu sendiri Andrean" Jason. Dokter keluar dari ruangan Evan dan langsung menghampiri mereka.


"Dokter bagaimana keadaan Evan?" Karina.


"Dia hanya kelelahan dan perlu banyak istirahat, akan lebih baik jika pihak keluarga menjaga emosi Evan untuk tetap stabil" Dokter.


"Kami mengerti dokter... terimakasih" Karina.

__ADS_1


Hans menangani Narda dengan sangat hati hati dan penuh ketelitian. Sesekali Hans meneteskan air mata Hans yang juga merupakan sahabat Evan dan Arthur melihat sendiri bagaimana Narda tumbuh.


Narda dan Hans menjalin hubungan layaknya saudara. Meski kadang Hans jarang datang ke mansion tapi dia selalu menanyakan kabar Narda pada Evan atau Arthur.


"Narda kau harus tetap hidup tidak perlu berpura pura baik baik saja, jadilah Narda kecil yang dulu dan bahagialah selalu" Ucap Hans dalam hati.


Operasi Narda berjalan dengan lancar dan setelah keadaan Narda benar benar stabil Hans keluar dari ruang operasi. saat baru membuka pintu ruang operasi Hans melihat Jason yang sedang berlutut didepan ruang operasi menyatukan kedua tangannya dan berdoa.


Hans meneteskan air mata dan memeluk Jason saat itu juga. Hans membuat Jason terkejut dan juga bingung, Jason melepaskan pelukan Hans dan menatapnya.


"Ada apa Hans? apakah Narda baik baik saja? ada apa?" Jason sangat khawatir.


"Paman tenang saja Narda baik baik saja paman... paman aku rasa setelah Narda sembuh akan lebih baik jika kalian pindah, mungkin dengan kalian tinggal di lingkungan yang baru kalian bisa melupakan semua kesedihan ini" Hans.


Jason mengangguk dan melepaskan pelukan Hans. Jason sangat berterima kasih pada Hans karena sudah memimpin operasi Narda dan sudah melakukan yang terbaik untuk sang anak.


Narda dipindahkan ke ruang rawat inap, Karina memegang erat tangan Narda. Keadaan Narda saat ini memang sudah jauh lebih baik.


Tahun lalu Narda pingsan tiba tiba saat sedang bermain didepan Mansion. Saat itu Evan dan Arthur memeriksa Narda dan mengetahui jika Narda mengalami kerusakan jantung. Mencari pendonor jantung yang cocok untuk Narda tidaklah mudah, Arthur dan Evan terus berusaha untuk menemukan donor jantung untuk Narda.


Hingga saat kecelakaan malam itu terjadi sebelum Arthur meninggal dia mengirimkan pesan suara pada Hans.


"Hans... aku akan se-segera berakhir, tolong berikan jantung ku untuk Narda" Ucap Arthur didalam pesan suaranya.


Hans pun mengabulkan permintaan terakhir Arthur dengan memberikan jantung Arthur untuk Narda. Setelah operasi selesai Hans pergi ke makam Arthur dengan membawakan seikat bunga dan juga foto Narda.


"Bodoh! Aku datang... adik mu baik baik saja, dia sudah dioperasi dan keadaanya sekarang stabil aku terpaksa mengoperasinya sendiri

__ADS_1


Evan masih sangat berduka karena kehilangan kalian. Evan sakit dan Narda juga sakit, aku sendiri masih belum bisa menerima kepergian mu


Kita sudah berjanji untuk pergi ke panti jompo bersama dan menikmati kue kacang bersama... Kau bodoh Arthur hiks hiks hiks" Hans menangis memeluk makam Arthur sahabatnya.


__ADS_2