
"Anak itu sangat mirip ayahnya begitu keras kepala!" Ucap Evan sembari mengobati luka Ethan.
"Aku sangat terkejut dia tega ingin membunuh anakku kak, padahal dia masih sangat kecil" Ethan.
"Kak Andrean sedang dalam perjalanan pulang, setelah dia sampai aku akan bicara padanya tentang ini
Ethan luka mu sudah selesai ditangani, jangan sampai kena air selama tiga hari. Dan hati hati dengan gerakan mu atau jahitannya akan lepas" Evan.
"iya kak" Ethan.
"Da da da... da da" Aruna yang polos dan tidak tau apa apa duduk dipangkuan Ethan sembari memainkan bonekanya.
"Sayang papa benar benar hampir kehilangan diri mu" Ucap Ethan dalam hati sembari membenahi rambut Aruna yang berantakan.
Saat Andrean datang dia langsung menghampiri William dan menghukumnya dengan mengurung William didalam kamar. Andrean tidak memperbolehkan siapapun masuk ke dalam kamar William kecuali dirinya sendiri.
"Raina bagaimana cara mu mendidik anak sehingga dia bisa jadi seperti ini?!" Marah Andrean.
"Maafkan aku..." Raina.
"Bagaimana keadaan Aruna?!" Jason membatalkan pertemuannya dan teman temannya setelah mendengar masalah Aruna dan William.
"Aruna baik baik saja pa karena aku datang tepat waktu" Ethan.
"Kau sendiri bagaimana nak?" Jason menghampiri Ethan dan memegang tangan sang anak.
"Hanya luka kecil pa tidak masalah untukku" Ethan.
"Da... pa... papa" Aruna yang berada didalam gendongan Ethan takut melihat wajah semua orang yang nampak tegang dan marah.
"Papa, mama... melihat keadaan ini akan lebih baik jika aku dan Aruna pindah ke mansion kami saja, William masih kecil dia masih perlu belajar tentang ikatan dan persaudaraan
Dan Aruna ku juga masih sangat kecil aku tidak bisa mempertaruhkan nyawanya pa. Aruna adalah hidup ku, jika dia terluka maka aku pun terluka
__ADS_1
Jika dia tiada maka aku juga akan tiada ku rasa lebih baik jika kami tidak disini. Melihat sikap William pada Aruna aku tidak bisa tinggal diam tapi aku juga tidak bisa menyakitinya Karena aku menyayangi keponakan ku itu" Ethan.
"Ethan aku akan menghukum William! aku akan mendisiplinkannya, tapi aku mohon jangan pergi" Andrean.
"Kakak... jangan terlalu keras padanya dia masih anak anak, aku tidak akan menyalahkan William sepenuhnya kak
Biar bagaimana pun aku dan Aruna hanyalah orang asing. Kami tidak berhak atas apapun disini tapi satu hal yang aku mohon pada mu kak, tolong jangan biarkan William melukai Aruna ku lagi" Ethan menatap Andrean dengan mata berkaca kaca.
Ethan memeluk Aruna dan berlalu pergi dari ruang keluarga. Luis dan Leo sudah siap membawa kedua tuan mereka menuju ke mansion Die Errama yang baru.
Karina menangis sejadi jadinya melihat anak dan cucu yang sangat ia cintai meninggalkan mansion. Jason masih mematung tidak percaya dengan apa yang terjadi, Andrean semakin marah pada William tapi Raina berusaha meredakan emosi suaminya.
"Aku akan pulang ke rumah kayu jika kalian membutuhkan ku silahkan hubungi aku, mansion ini sudah bukan rumah tapi neraka!" Evan berlalu pergi meninggalkan mansion saat itu juga.
"Karina... sudah jangan menangis ayo kita ke kamar" Jason.
"Jason lihat! ini semua hasil dari sikap mu yang memanjakan William! Lihat sekarang dia jadi seperti apa!...
Ethan teringat pada Hendery dan Viola perlahan kenangan indah kebersamaan mereka menghampiri Ethan. Dalam diamnya Ethan meneteskan air mata tapi dia tersenyum hambar tanpa arti.
"Paman Luis..." Ethan.
"Iya tuan?" Luis.
"aku ingin ke mansion lama keluarga Die Errama" Ethan.
"Tuan mansion itu sudah belasan tahun kosong, disana sangat berdebu dan kotor karena tidak dirawat semenjak tuan Hendery dan nyonya Viola pindah ke Mansion keluarga De Wilson
Mansion itu sengaja dikosongkan untuk mengecoh musuh, dulu ada beberapa maid dan penjaga disana tapi mereka sudah mati terbunuh" Luis.
"Begitu rupanya... Papi, Mami, kak Arthur aku rindu kalian" Ethan berucap lirih.
"Pa pa... pa pa" Aruna meletakan kepalanya didada Ethan tangan mungilnya memeluk Ethan erat.
__ADS_1
Tiga jam perjalanan mereka tempuh hingga akhirnya mereka sampai di Mansion baru Die Errama. Semua kepala penjaga dan kepala pelayan menyambut kedatangan Ethan dan Aruna.
"Selamat datang tuan" Ucap Hanna kepala pelayan mansion Die Errama sekaligus salah satu orang kepercayaan Ethan.
"suruh semua bawahan kalian kembali bekerja aku akan membawa Aruna istirahat" Ucap Ethan dingin.
Leo, Luis dan Hanna adalah pimpinan tertinggi dari pasukan Die Errama. Para maid dimansion itu wajib bisa bela diri dan menembak mereka berada dibawah kendali Hanna, Leo adalah pemimpin pasukan bersenjata yang jumlahnya jutaan orang sebagian dari mereka juga ditugaskan menjaga keamanan mansion Die Errama, sedangkan Luis adalah pemimpin pasukan bayangan dan para penembak jitu yang jumlahnya tidak bisa dihitung karena mereka sangat jarang muncul dipermukaan tapi begitu mereka menyerang maka tidak akan ada musuh yang tersisa.
Aruna tidur dalam dekapan Ethan, sedangkan Ethan sendiri masih terjaga. Dia tidak bisa mengatakan apapun pada siapapun, Ethan hanya ingin diam memeluk putra kecilnya dan istirahat.
"tuan Ethan pasti sangat terpukul" Leo.
"Keputusan kita menjaga tuan muda Aruna dari jauh saat dia berada dimansion De Wilson, adalah keputusan bodoh! harusnya kita tidak melakukan rencana gila itu" Luis.
"Kita melakukannya karena berjaga jaga jika musuh dari luar datang dan menyerang tapi nyatanya musuh dari dalam lah yang menyerang tuan muda kita" Leo.
"Anak itu masih berusia tiga tahun tapi sudah punya pikiran untuk membunuh, aku khawatir jika dia menjadi pewaris keluarga De Wilson maka kelak akan terjadi perang saudara Antara tuan muda keluarga Die Errama dan juga tuan muda keluarga De Wilson" Hanna.
"Jika itu sampai terjadi maka perpecahan tak akan bisa dihindari, kedua keluarga yang awalnya bersaudara akan menjadi musuh" Luis.
Jason terlihat sedang melamun menatap keluar jendela kaca sembari memegang boneka kesukaan Aruna. Saat Ethan membawa Aruna meninggalkan mansion dia tidak membawa barang apapun kecuali dompet dan ponselnya.
"Kakek masih ingin bermain dengan mu nak, Aruna maaf kakek bersalah pada mu" Jason.
"Kakek... aku minta maaf kek" William menghampiri Jason.
Jason tidak menjawab dia berlalu pergi begitu saja bahkan tanpa melihat William sedikit pun. William menunduk sedih dan berlari pada Raina lalu memeluk sang mama.
Andrean berusaha menghubungi Ethan tapi Ethan tak menjawab telpon Andrean karena sedang tidur. Andrean merasa gagal menjadi seorang ayah dan marah pada dirinya sendiri.
Andrean menghancurkan botol wine yang ada disampingnya hingga membuat Raina takut membawa William mendekati Andrean.
"Sayang ayo kita ke kamar saja ya nak" Raina menggendong William dan membawanya pergi dari sana.
__ADS_1