AKU ANAK HARAM!

AKU ANAK HARAM!
ETHAN AYAH TUNGGAL


__ADS_3

Karina membawa Aruna berjalan jalan disekitar mansion. Bayi kecil itu nampak tenang didalam gendongan Karina, Raina menghampiri Karina sembari menggendong William.


"Matanya sangat indah..." Raina.


"Dia sangat tampan... aku yakin kelak dia akan menjadi anak yang hebat" Karina.


William merasa cemburu pada Aruna karena baru saja Aruna datang dia sudah mendapatkan perhatian dari ibu dan neneknya. William yang berada dalam gendongan Raina memukul Aruna dengan botol dot, seketika Aruna menangis sangat kencang karena yang dipukul oleh William adalah bagian dada Aruna yang masih diperban.


"William apa yang kau lakukan!" Karina refleks membentak William.


"William tidak boleh seperti itu nak, dia adik mu dia anak paman Ethan" Raina.


William yang ditegur oleh sang ibu malah ikut menangis. Karina bergegas membawa Aruna ke ruang medis untuk menemui Evan.


"Evan! cepat periksa Aruna!" Karina panik.


"Ada apa ma?" Tanya Evan heran.


Aruna menngis sangat kencang wajahnya kini memerah dan bibirnya nampak pucat. Evan yang melihat itu tidak banyak bertanya lagi dan segera memeriksa Aruna.


"Luka didadanya masih baru, jahitannya juga belum kering. ma ada apa?! kenapa luka Aruna mengalami pendarahan lagi!" Evan panik dia menyuntik Aruna dengan obat bius dan mengganti jahitan di luka Aruna.


"William memukul Aruna dengan botol dot yang masih penuh..." Sahut Karina menyesal.


"Ma Aruna baik baik saja tapi jika Ethan tau tentang ini aku tidak tau apa yang akan terjadi, bisa bisa Ethan akan membawa Aruna pergi dari mansion" Evan.


Karina hanya diam dia menatap Aruna yang tidak sadarkan diri karena pengaruh obat. Sedangkan Raina dia membawa William pada Andrean dan memberitaunya apa yang baru saja terjadi.


"William... tidak boleh memukul adik mu seperti itu, dia anak yang baik dia masih kecil nak" Andrean.


"Andrean ku rasa Aruna tidak baik baik saja, tadi mama membawanya ke ruang medis dan aku memdengar jika luka Aruna kembali berdarah" Raina.


"Kita kesana sekarang aku harus memastikan keadaan Aruna" Andrean menggendong William dan menuju ke ruang medis.

__ADS_1


Karina menggendong Aruna keluar dari ruang medis dengan wajah penuh penyesalan. Dia tidak bisa membayangkan reaksi Ethan jika tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Mama... mama kenapa tidak bilang jika membawa Aruna? aku sangat panik aku khawatir Aruna kenapa kenapa ma" Ethan menghampiri Karina dan langsung mengambil Aruna dari gendongan Karina.


Ethan mencium Aruna dia merasa ada yang aneh dan menatap Karina dengan penuh tanda tanya.


"Ini bukan baju Aruna, dan bau ini? ini bau obat, mama apa yang sebenarnya terjadi?! Aruna kenapa?" Tanya Ethan khawatir.


"Aruna sayang? Aruna bangun nak, sayang ini papa ayo bangun Aruna jangan buat papa takut!" Ethan sangat takut karena Aruna tidak memberikan respon apapun.


"Ethan tenanglah Aruna baik baik saja, dia sedang dalam pengaruh obat dia akan bangun satu jam lagi" Evan.


"Nak... maaf mama lengah saat menjaga Aruna" Karina.


Ethan tidak bisa mengatakan apa apa dia sedang mati matian menahan emosinya. Ethan membawa Aruna kembali ke kamar dan duduk ditempat tidur, tidak lupa Ethan mengunci pintu kamarnya.


"Aruna bangun sayang... jangan buat papa takut, menangislah nak papa mohon Aruna bangun hiks hiks hiks Aruna..." Ethan menangis dan memeluk Aruna dengan hati hati.


Raina sangat menyesal dengan apa yang terjadi dia berusaha meminta maaf pada Ethan atas perbuatan William tapi Ethan tidak memberikan respon apapun dan lebih memilih diam, sembari menatap Aruna yang masih tidak sadarkan diri didalam gendongannya.


"Kalian pergi saja nanti aku akan keluar setelah Aruna bangun" Sahut Ethan dari dalam kamarnya.


Aruna tiba tiba bangun dan menangis kencang. Ethan sangat lega setelah mendengar suara tangisan Aruna, Ethan membuatkan susu untuk Aruna dan menimang sang anak.


Setelah minum susu Aruna kembali menangis dia masih kesakitan karena luka didadanya. Ethan terus menimang Aruna dengan penuh kasih sayang, setelah Aruna tidur Ethan membawanya keluar dari kamar.


Ethan menuju ke ruang keluarga dengan menggendong Aruna dan membawa botol dot berisi susu untuk Aruna. Saat Ethan memasuki ruang keluarga Karina tersenyum lega.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Ethan.


"Luka didada Aruna kembali terbuka dan berdarah karena itu aku membiusnya untuk memperbaiki jahitan lukanya" Evan.


"Kenapa? luka Aruna memang masih baru karena itu aku selalu berhati hati saat menggendongnya" Ethan.

__ADS_1


"Ini bukan salah mama... itu terjadi karena William tiba tiba memukul Aruna dengan botol dot" Raina.


"Ethan jangan marah nak namanya juga anak anak pertengkaran antar saudara itu hal yang wajar" Jason.


"Baiklah... ku harap ini tidak akan terulang lagi" Ethan.


"Terimakasih Ethan..." Karina.


Ethan hanya mengangguk dan menatap Aruna. Ethan merasa jika ada sesuatu yang akan terjadi pada putra kecilnya, Evan memegang pundak Ethan dan mengusapnya lembut.


Hari hari berlalu dan tidak terasa kini Aruna sudah berusia satu tahun. Aruna menjadi anak yang sangat imut dan lucu, dia sangat mirip dengan Ethan bahkan senyuman Aruna benar benar sangat mirip dengan Ethan.


Ethan jarang ke kantor karena harus merawat dan menjaga Aruna, sekalipun dia ke kantor dia akan membawa Aruna bersamanya. Ethan berperan sebagai ayah sekaligua ibu untuk Aruna, anak yang sangat dia cintai.


Ethan mendudukan Aruna dikarpet bulu yang empuk dan meminta Raina menjagakan Aruna sebentar karena Ethan ingin ke kamar mandi. Raina setuju sembari mengerjakan rajutannya Raina menjaga Aruna yang ada dihadapannya.


William semakin tidak suka pada Aruna karena dirinya merasa Aruna telah mengambil perhatian semua orang disekitarnya. William iri pada Aruna karena Ethan selalu ada untuk Aruna berbeda dengan Andrean yang selalu sibuk bekerja dan tidak memiliki waktu sama sekali bersama William.


"Mama... cucu" William memegang tangan Raina.


"Mama buatkan dulu ya... jaga adeknya jangan ditinggal sendirian" Raina.


William mengangguk dan duduk disofa sambil menatap Aruna. Aruna berbaring dikarpet bulu itu sembari memainkan boneka kesukaannya, William beranjak dari duduknya dan mengambil gunting yang ada dikeranjang bahan rajut milik Raina.


"JANGAN!" Ethan berteriak sekencang kencangnya.


William ingin menusuk Aruna dengan gunting itu beruntung Ethan datang tepat waktu dan melindungi Aruna. Ethan memeluk Aruna sehingga gunting itu menancap dibahu Ethan.


Aruna menangis karena terkejut, darah dipunggung Ethan menetes pada Aruna. membuat anak berusia satu tahun itu menangis semakin kencang.


"Ada apa ini?!" Raina yang baru datang dengan membawa segelas susu ditangannya bingung melihat kekacauan itu.


Ethan menggendong Aruna dan mencabut gunting yang masih menancap dipunggungnya sendiri. Ethan memeriksa Aruna dan dia sangat bersyukur sang anak baik baik saja.

__ADS_1


"Kakak aku meminta mu menjaga Aruna sebentar tapi kau malah meninggalkannya, dan semua kekacauan ini tanyakan saja pada anak mu!" Ethan berlalu pergi dengan keadaan punggung terluka dan Aruna yang menangis didalam gendongannya.


__ADS_2