
"Evan apa kita harus memanggil psikolog?" Arthur.
Evan hanya diam sejak Narda kecil Evan sangat tidak ingin Narda bertemu dengan Psikolog ataupun Psikiater. Evan hanya bisa menteskan air mata melihat Narda terbaring lemah dihadapannya.
"Aku yakin Narda belum memerlukannya" Sahut Evan singkat sembari membawa Narda ke dalam gendongannya.
"Kau mau membawanya kemana?" Arthur.
"Aku akan membawanya ke kamar Narda tidak suka aroma obat obatan" Sahut Evan sembari membawa Narda didalam gendongannya.
Evan terus berjalan membawa Narda didalam gendongannya menuju ke kamar sang adik. Andrean yang baru saja sampai dimansion melihat Evan menggendong Narda menuju kamarnya, Andrean ingin menghampiri Evan tapi Karina menahannya.
"Berikan dia waktu Evan sedang tidak bisa kita ajak bicara, dia hanya akan mendengarkan isi hatinya" Karina lirih berucap
Andrean mengangguk tanda mengerti saat Evan masuk ke kamar Narda, Jason masih berada disana. Evan mendekati Jason dan berdiri disampingnya sembari memeluk Narda yang masih berada digendongannya.
"Papa aku tidak mau Narda menyerah dengan masalah mentalnya" Evan.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Jason.
"Aku akan ke LA untuk belajar tentang penyembuhan mental dan terapi psikologis, aku membutuhkan waktu dua bulan pa" Evan menyampaikan tujuannya.
"Gunakan identitas baru agar tidak ada yang bisa melacak keberadaan mu, dan pastikan kau kembali secepatnya" Jason.
"Aku pasti akan segera kembali karena tujuan ku masih ada disini" Sahut Evan dengan penuh keyakinan.
Evan menatap Jason penuh arti perlahan Evan menyerahkan Narda ke dalam gendongan Jason.
__ADS_1
"Aku akan kembali ke dunia yang sudah aku tinggalkan, aku tidak peduli sekalipun itu akan menguak kembali luka lama ku karena yang terpenting bagi ku saat ini adalah Narda... aku bisa melakukan apapun demi Narda" Ucap Evan sembari memegang tangan sang adik, Jason tersenyum dan mengangguk.
"Kau memiliki tanggung jawab besar untuk adik mu, kembalilah secepatnya dan selama kau tidak ada kami akan menjaganya baik baik" Jason.
"Selama aku pergi tolong jangan biarkan Narda bertemu dengan psikolog ataupun psikiater... karena itu tidak akan membantu pa Narda takut pada orang asing aku khawatir itu justru akan memberikan trauma baru padanya" Evan.
"Baiklah papa janji" Sahut Jason meyakinkan hati Evan.
Evan menemui Karina dan yang lainnya untuk sekedar berpamitan karena Evan berangkat hari itu juga untuk menemui mantan dosennya yang merupakan seorang psikiater terkenal di LA. Evan dulu sangat dekat dengan dosennya itu namun karena suatu masalah yang tidak terduga mereka berselisih paham dan Evan hilang kontak dengan dosennya itu.
Setelah mencari informasi tentang sang dosen selama beberapa waktu akhirnya kini Evan tau alamat tempat tinggal dosennya saat ini. Dosen Evan itu adalah seorang wanita berdarah campuran Amerika-China, dia bernama Zaya.
Evan dan Zaya pernah menjalin hubungan asmara Keduanya pernah saling mencintai satu sama lain. Tapi orang tua Zaya tidak merestui sang anak menjalani hubungan dengan Evan yang dikenal sebagai anak seorang raja mafia.
Zaya dan Evan terpaksa harus mengakhiri hubungan cinta mereka dan Evan yang saat itu berkuliah difakultas psikologi memutuskan untuk berpindah ke fakultas kedokteran. Sudah bertahun tahun lamanya Evan dan Zaya tidak pernah saling berhubungan lagi bahkan untuk saling bertanya kabar mereka pun tak pernah lagi.
Kali ini Evan mencari Zaya untuk kembali mendalami ilmu psikologi demi menyembuhkan sang adik. Evan tau hanya Zaya satu satunya orang yang bisa ia percayai untuk masalah ini.
Sejujurnya Evan sudah tidak memikirkan apapun tentang cinta semua yang ada dipikiran Evan saat ini hanyalah tentang Narda. Evan hanya ingin sang adik baik baik saja dan kembali ceria seperti sebelumnya.
Saat hari menjelang senja Narda terbangun dan tidak menemukan siapapun disekitarnya. Narda berjalan keluar kamar melewati para maid yang menunduk hormat kepadanya, Narda berjalan dengan tertatih karena kakinya masih sangat sakit.
Tatapan mata Narda kosong tapi didalam kepalanya seakan penuh. Setiap hujatan, cacian, bentakan, dan semua ingatan buruk masa kecilnya berkumpul menjadi satu memenuhi kepala Narda.
Narda berjalan ke arah kolam renang dan berdiri ditepi kolam. Matanya memandang lurus ke arah kolam renang, tak ada satu orang pun disana hanya ada Narda sendirian.
Narda tersenyum hambar dengan air mata dipipinya. Narda melangkah semakin dekat dengan kolam renang, Narda lagi lagi tersenyum dan tiba tiba melompat ke dalam kolam sedalam tiga meter itu.
__ADS_1
Narda sebenarnya bisa berenang tapi dia sengaja berdiam diri didasar kolam. Suatu kenangan manis muncul dibenak Narda kenangan indah saat dulu Jason mengajarinya berenang dan mereka tertawa bersama.
"Maaf papa... aku lelah aku sudah berusaha melupakan semua itu tapi nyatanya aku tidak bisa, aku ingin terus berjuang tapi aku terlalu lelah" Ucap Narda didalam hati.
Hendery melihat itu dan langsung menceburkan dirinya ke dalam kolam. Hendery bergegas membawa Narda naik ke permukaan, Hendery memberikan pertolongan pertama dan mengeluarkan air dari dalam tubuh Narda.
Narda terbatuk dan memuntahkan semua air yang masuk ke dalam dirinya. Setelah Narda sadar pandangannya tertuju pada Hendery yang memeluknya dengan erat sembari menangis kencang.
"Apa yang kau lakukan?! Narda apa yang kau lakukan nak?! Hiks hiks hiks Maaf! Papi mengaku salah tapi jangan berpikir untuk mengakhiri hidup mu nak" Hendery memeluk Narda erat dan menangis sejadi jadinya.
Leo asisten pribadi Hendery memanggil Jason dan yang lainnya. Mereka semua terkejut dan segera menghampiri Hendery dan Narda.
"Narda?!" Jason mengambil sang anak dari pelukan Hendery dan langsung memeriksa keadaan sang anak.
"Apa yang terjadi nak?" Tanya Jason khawatir melihat Narda yang lemas dan basah kuyup.
"Jason apa kau sudah gila?! kau tau keadaan mentalnya sedang tidak stabil dan kau malah membiarkan dia jalan jalan sendirian?!" Marah Hendery kepada adiknya.
"sayang adek tidak apa apakan?" Tanya Jason dengan lembut.
"Pa a-adek sesak" Narda kesulitan bernafas dan dengan cepat Jason membawa sang anak ke ruang medis.
Arthur langsung menangani Narda dan memasangkan selang oksigen untuk sang adik. Arthur mengatakan jika Narda harus tetap memakai selang oksigen itu hingga keadaannya membaik, Jason dan Karina semakin sedih mendengar itu.
"kita harus kuat untuk Narda... karena mulai saat ini kemana pun Narda pergi dan beraktivitas dia harus menggunakan selang oksigen, aku tidak tau sampai kapan tapi yang pasti ini semua akan berakhir saat Narda benar benar sembuh secara mental dan juga fisiknya" Ucap Arthur yang dijawab dengan isakan dan teriakan kekecewaan dari semua orang.
Narda mendengar semua itu sebenarnya Narda juga sedih tapi dia juga tidak bisa berbuat apa apa. Pikiran dan hatinya kacau balau hanya air mata yang bisa menggambarkan bertapa terluka hatinya saat ini.
__ADS_1