
Jason memanggil Andrean ke ruang kerjanya untuk berbicara empat mata dengan sang anak. Evan yang tau Arthur meninggalkan Mansion dalam keadaan marah bergegas menyusul sang kakak dengan menggunakan mobil pribadinya.
"Andrean begitukah cara mu berbicara dengan papi mu?!" Jason.
"Maaf pa..." Andrean.
"Dia itu papi mu Andrean! Dia selalu ada untuk mu, bahkan dia rela melakukan apapun untuk mu... kasih sayangnya pada mu sama besarnya dengan kasih sayang ku pada mu!
Saat kau terluka dia berjaga sepanjang malam untuk mu! Saat kau tidak pulang dia diam diam mencari mu, begitukah cara mu membalas kasih sayangnya?! dengan berkata jika dia orang asing?!" Marah Jason.
Andrean tertunduk pasrah dia tidak melawan ucapan Jason sama sekali. Andrean sangat menyesal dengan apa yang tadi ia katakan, ia ingat dengan jelas tatapan Hendery yang penuh dengan kekecewaan.
"Jika kau mencintai seseorang itu memang hak mu nak, tapi ingatlah kekasih mu akan jadi teman hidup mu tapi orang tua mu telah memberikan seumur hidupnya yang berharga untuk mu" Jason.
"Andrean apa kau ingat? beberapa tahun lalu kau marah karena aku melarang mu pergi ke China untuk mengurus bisnis, kau marah sampai tidak pulang dan minum hingga mabuk parah
Malam itu kak Hendery menjemput mu dan memeluk mu. Kau memukulnya berulang kali saat kau mabuk untuk melampiaskan amarah mu pada ku, dia terluka bahkan babak belur! tapi apa dia membalas mu?...
Apa dia memukul mu? apa dia menyakiti mu? apa dia membentak mu?! Tidak! Dia malah memeluk mu dan berkata... kau anakku marahlah, pukulah aku tapi pulang nak" Jason.
"Salah ku karena gagal mendidik mu Andrean... kasih sayang ku pada mu membutakan mata ku, hingga aku lupa mengajari mu cara menghormati orang tua" Jason.
Andrean hanya bisa menunduk merenungi apa yang telah ia katakan pada Hendery. Sedangkan Hendery sejak tadi hanya diam dan menatap kolam renang sembari meminum wine nya, sudah tiga botol wine diminum habis oleh Hendery.
Narda menatap Hendery dengan tatapan sedih. Narda sudah berulang kali mencoba menghentikan Hendery agar dia tidak terus minum tapi Hendery tetap acuh.
"Papi... sudah cukup minumnya ayo masuk pi disini dingin, papi bisa sakit nanti..." Narda.
__ADS_1
"Kau masuklah... tinggalkan saja orang asing ini sendirian" Sahut Hendery yang kini sudah dalam keadaan mabuk.
"Papi..." Narda beranjak dan memapah Hendery untuk masuk ke dalam Mansion.
Meski pun Hendery menolak tapi Narda tetap membawanya masuk dengan paksa. Hendery benar benar mabuk dan berjalan dengan sempoyongan, Hendery sebenarnya tidak toleran dengan alkohol dia mudah mabuk meski hanya minum sedikit berbeda dengan Jason yang meski sudah minum banyak tidak akan mabuk karena toleransinya pada alkohol sangat baik.
Saat Narda menuju ke kamar Hendery dia berpapasan dengan Andrean. Narda hanya diam dan fokus dengan Hendery yang mabuk parah.
"Biar aku bantu..." Andrean.
"Tidak usah! Dia papi ku akan ku urus sendiri dia... dulu dia menyayangi ku dan mengurus ku dengan kasih sayang, aku bisa melakukannya sendiri" Sahut Narda dingin dan berlalu pergi dengan memapah Hendery meski dengan kesulitan karena badan Narda yang kecil.
Andrean diam dan mematung dia tidak pernah melihat Narda semarah itu padanya. Andrean berlalu pergi ke kamarnya untuk merenungi semua perbuatannya.
Narda membaringkan Hendery ditempat tidurnya Narda lalu melepaskan sepatu Hendery dan mengelap badan Hendery dengan handuk yang sudah dibasahi dengan air hangat. Narda juga mengganti kaus kaki Hendery dengan yang bersih, lalu menyelimuti Hendery dengan selimut tebal.
Narda mengusap wajah Hendery lembut dan mengecup kening Hendery dengan kasih sayang. Jika mengingat kejadian dimeja makan tadi Narda juga sakit hati, Hendery memang pernah melukai hati Narda tapi tidak sedikit pun terlintas dipikiran Narda untuk membalas perilaku Hendery.
Narda meninggalkan Hendery dan berjalan ke ruang tamu untuk mengambil ponselnya. Narda melihat Evan yang baru saja datang dengan keadaan lesu.
"Kak ada apa? mana kak Arthur?" Narda.
Evan hanya diam dia tidak mengatakan apapun. Evan malah memeluk Narda dan menangis, perasaan Narda jadi tidak enak.
"Kakak mana kak Arthur?! Dimana dia?!" Narda.
Narda melihat Rega, Leo, Eric, dan Luis masuk ke ruang tamu dengan membawa sebuah tandu medis dengan seseorang terbaring diatasnya dan telah ditutupi kain putih. Narda melepaskan pelukan Evan kasar dan menghampiri keempat orang itu.
__ADS_1
"Paman... siapa dia?" tanya Narda pada Luis.
Luis hanya diam air mata Luis menetes begitu saja. Narda ikut menangis perasaanya campur aduk, dia ingin tau siapa itu tapi dia takut untuk membuka kain putih dengan noda darah itu.
"Paman Luis... siapa dia? paman?..." Narda terus bertanya pada Luis.
Mereka meletakkan tandu itu ditengah ruang tamu. Narda memberanikan dirinya untuk mendekati tandu itu dan membuka kain penutupnya, jantung Narda seakan berhenti berdetak
Narda benar benar seakan tak percaya dengan matanya sendiri. Narda berteriak sangat keras dia memeluk jenazah pria yang ada dihadapannya kini, karena pria itu adalah Arthur kakak tertua yang sangat ia cintai.
"TIDAK! Tidak! kakak! Tidak hiks hiks ini tidak mungkin! Kakak bangun!" Narda histeris hatinya hancur semuanya nampak gelap untuk Narda.
Viola yang melihat Arthur berlumuran darah dan terbaring tak bernyawa memeluk jasad sang anak dan menangis. Andrean mematung dia terduduk lemas dilantai tidak ada yang bisa ia katakan, sedangkan Karina jatuh pingsan saat itu juga.
Jason memeluk Narda mencoba menenangkan sang anak padahal dirinya sendiri sangat hancur.
"Tidak anakku! Arthur ini mami nak sayang ku hiks hiks hiks anakku!" Viola menangis pilu hatinya hancur karena harus kehilangan anaknya lagi.
"Kakak... kak maaf hiks hiks maafkan aku kak, aku bersalah kak ku mohon bangun kak! kakak aku minta maaf!" Andrean menangis sembari memeluk kaki Arthur.
Narda melepaskan pelukan Jason dan mendekati Andrean. Narda sangat marah dia mendorong Andrean keras hingga membuat pelukan Andrean pada kaki Arthur terlepas.
"KAU JAHAT! Apa kau puas sekarang?! Kau kejam kak... hiks hiks hiks kenapa kau mengatakan itu?! Jika saja kau tidak mengatakannya kak Arthur tidak akan pergi dengan marah! dan ini tidak akan terjadi..." Narda sangat marah, dan juga sedih.
Hati Narda hancur dadanya jadi sakit dan sesak Narda terduduk dilantai sembari memegangi dadanya yang sakit. Narda jatuh pingsan disamping jasad Arthur, membuat semua orang semakin panik.
Evan bergegas membawa Narda ke ruangan medis untuk ditangani. Hans datang ke Mansion setelah Leo menelponnya dan dia melihat jasad sahabatnya dalam keadaan kaku dipelukan Viola.
__ADS_1
"Arthur?... Arthur kau kenapa? bodoh kau kenapa brengsek?! Bodoh kau kenapa dasar bajingan hiks hiks kenapa?!" Hans menangis sembari menatap ke arah jasad sahabatnya.