AKU ANAK HARAM!

AKU ANAK HARAM!
BERHENTI


__ADS_3

"Adek dengar dulu penjelasan kami nak, kami bisa menjelaskan semuanya" Karina merangkul Narda berusaha menenangkannya.


"Siapa sebenarnya kalian?... hiks hiks hiks kenapa demi uang harus membunuh?!" Narda lemas dan terduduk dilantai.


Jason tak sanggup lagi berkata kata Jason berjongkok dan membawa Narda ke dalam pelukannya. Untuk pertama kalinya Jason hancur hatinya hancur melihat anak yang sangat ia sayangi seperti ini.


"Maaf... papa memang bukan orang baik, papa orang jahat tapi cinta papa untuk adek tulus" Jason berucap lirih pada Narda.


"Mama juga minta maaf... maaf karena selama ini mama berbohong sama adek, tapi itu semua kami lakukan karena kami sayang adek" Karina.


Narda melepaskan pelukan Jason dan berdiri ditengah ruangan. Evan kini sudah berada diruang keluarga karena dijemput oleh Rega, Narda mengambil pisau buah yang terletak dimangkuk buah yang ada diatas meja.


Narda mengarahkan ujung pisau itu ke lehernya sendiri seketika semua orang panik. mereka berusaha membujuk Narda untuk melepaskan pisau itu dan Narda hanya tersenyum hambar.


"Adek jangan lakukan itu! Kami akan lakukan apapun yang adek mau tapi tolong jangan lakukan itu!" Jason panik.


"Narda! Apa yang kau lakukan?! kau sudah janji kita! kau bilang akan selalu bersama ku apa kau lupa?!" Andrean.


Karina lemas tak berdaya Karina bahkan hampir jatuh pingsan melihat Narda bertindak senekat ini. Arthur ingin mendekati Narda tapi Narda semakin mendekatkan ujung pisau itu ke lehernya sendiri.


"Nak sayang jangan nak mama mohon sayang" Karina memohon dengan berderai air mata.


"Adek tolong jangan lakukan ini sayang, kami tau kami salah kami minta maaf! Adek sini pisaunya kasih ke mami ya nak" Viola adalah wanita yang tangguh namun kini dia hanya seorang ibu yang lemah melihat anaknya berada diujung maut.


"Aku akan melepaskan pisau ini... tapi kalian harus berjanji pada ku" Narda.

__ADS_1


"Katakan! Papa rela melakukan apa saja asalkan adek berhenti menyakiti diri sendiri!" Jason.


"Berjanjilah... kalian semua tidak akan membunuh lagi apapun alasannya kalian tidak boleh membunuh lagi, aku tidak mau ada orang lain yang kehilangan keluarganya lagi... Aku mohon" Narda berucap dengan terisak tangis mereka semua terdiam dan saling melemparkan pandangan.


Narda tidak tinggal diam dia menekan ujung pisau itu ke lehernya sendiri hingga lehernya terluka. Jason yang melihat itu bergegas mendekati Narda dan menahan tangan sang anak agar berhenti.


"KAMI JANJI! kami tidak akan membunuh lagi sekarang berhenti... papa mohon" Jason.


Hendery bergerak dengan cepat mengambil pisau itu dari tangan Narda dan melemparkannya sembarang. Narda langsung lemas dan hampir jatuh tapi Jason sigap menangkap tubuh mungil sang anak.


"Maafkan kami nak... tapi ku mohon jangan lakukan hal seperti ini, jika terjadi sesuatu pada mu maka kami tidak akan bisa hidup lagi" Jason.


"Aku sayang papa... aku sayang kalian semua, ku mohon jangan membunuh lagi sekalipun itu demi aku" Lirih Narda berucap sembari menahan rasa sakit dikepalanya.


"Baiklah kami janji" Hendery menggenggam tangan dingin Narda.


"Adek pengen dipeluk pa..." Narda berucap dengan suara sangat lirih tapi masih bisa terdengar oleh Jason.


Jason langsung memeluk Narda sangat erat perlahan Narda mulai kehilangan kesadarannya. Jason yang menyadari hal itu hanya bisa menangis, dia terus menyalahkan dirinya sendiri.


Dokter datang dan langsung memeriksa Narda dikamarnya. Evan memang seorang dokter tapi saat ini dia tidak bisa memeriksa Narda karena dirinya sendiri juga sangat terpuruk, Evan menyesal karena telah memberitau Narda semuanya.


Evan mengakui jika dirinya telah memberi tau Narda tentang fakta latar belakang keluarga mereka. Mendengar itu Andrean marah besar dia mencekik Evan hingga membuat Evan kesulitan bernafas.


Untungnya Arthur memisahkan mereka berdua. Arthur yang juga sedang dalam keadaan kalut dan khawatir menampar kedua adiknya saat itu juga.

__ADS_1


"Apa kalian tidak bisa mengerti situasi?! Saat ini semuanya sedang kacau dan kalian malah memperkeruh suasana!" Marah Arthur pada kedua adiknya.


"Ini semua terjadi karena salahnya kak! Jika saja Evan tidak memberitau Narda maka semuanya akan baik baik saja kau memang bodoh Evan!" Andrean tak bisa mengontrol emosinya.


"Kau tidak bisa sepenuhnya menyalahkan ku kak! Sejak awal kita semua bersalah karena kita menyembunyikan fakta ini dari Narda, kita sudah sepakat akan memberitau dia cepat atau lambat!" Evan.


"Tapi tidak sekarang Evan! Tidak sekarang! Keadaan Narda baru saja membaik dan mentalnya belum siap menerima kenyataan ini" Viola ikut angkat bicara.


"Mami aku tidak bisa berbohong lebih lama lagi... aku tidak bisa terus melawan hati nurani ku untuk jujur padanya, kita semua menyayangi Narda tapi kita semua membohonginya...


Dia berhak tau kebenaran tentang kita karena dia juga anggota keluarga kita!" Evan.


"Yang dilakukan Evan memang tidak sepenuhnya salah tapi yang harus menjadi fokus kita saat ini adalah kondisi kesehatan Narda! dan apa yang harus kita katakan padanya nanti" Sahut Karina mencoba menengahi perdebatan yang terjadi.


"Kita hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya akan diputuskan oleh Narda sendiri, yang terpenting adalah dia harus baik baik saja...


Dan kau Evan! Kau memang benar kita sudah terlalu lama membohongi Narda tapi kenapa kau harus memberitaunya disaat yang sangat tidak tepat?!


Kita bisa memberitaunya saat mentalnya sudah siap tapi kenapa kau tidak bisa sabar untuk itu?! Aku tau kau gelisah dan mengkhawatirkan tentang reaksi Narda saat dia tau kebenarannya


Tapi langkah yang kau ambil terlalu gegabah dan lihat apa yang terjadi! Jika tadi Narda sampai nekat dan mengakhiri hidupnya sendiri apa yang akan kau lakukan?!" Ucap Jason panjang lebar membuat Evan hanya bisa menunduk dan menyesali perbuatannya.


"Aku minta maaf... kalian benar aku terlalu gegabah dan tidak memikirkan akibat jangka panjangnya, ini salah ku tapi aku sama sekali tidak menyangka jika Narda akan berbuat sejauh itu... Aku benar benar minta maaf..." Ucap Evan menyesal.


Karina mendekati Evan dan membawa sang anak ke dalam pelukannya. Karina sangat mengenal anaknya yang satu ini, Evan memang sulit jika diminta berbohong karena Evan memang memiliki kepribadian yang jujur dan lembut tapi juga tegas dan disiplin.

__ADS_1


"Maaf ma aku sudah membuat Narda sakit... ini semua salah ku ma jika saja aku bisa sedikit lebih bersabar semua ini tidak akan terjadi... maaf ma" Ucap Evan menyesal dan mengeratkan pelukannya pada Karina.


"Mama tau kau tidak berniat menyakiti adik mu nak, tapi semuanya sudah terjadi menyesal pun sudah terlambat.... berhenti menangis dan renungi kembali tindakan mu" Sahut Karina lembut.


__ADS_2