
Narda sudah mulai membaik dan bisa bermain dengan Andrean. Meski saat ini Narda masih menggunakan selang oksigen tapi Narda sudah mulai bisa fokus saat diajak bicara.
"Huft aku sangat kaget..." Evan.
"Pasien itu benar benar dalam keadaan kritis ku rasa dia tidak akan bisa bertahan lagi" Rain.
"Benar... tapi Rain kita tetap masih harus berusaha menolongnya, oh iya tentang keputusan mu menikah dengan kak ku
Aku sangat berterima kasih... meski pun aku tau ini sulit untuk mu tapi jujur saja hanya ini satu satunya cara untuk membuat Narda membaik" Evan.
"Aku tidak tau harus bagaimana lagi karena kakak mu sudah gila" Rain.
Evan hanya tersenyum dan berjalan mendahului Rain. Evan kembali ke ruangannya sendiri untuk mandi dan ganti baju, sedangkan Rain dia langsung ke ruangan Narda.
"Narda bagaimana keadaan mu?" Rain.
"Mam- eh... kak aku baik baik saja" Narda hampir saja memanggil Rain dengan sebutan Mami.
Rain memeriksa Narda seperti biasanya tapi Saat Rain ingin kembali ke ruangannya Narda menahan tangan Rain.
"Ada apa Narda?... kau sudah membaik sayang, aku harus kembali ke ruangan ku lebih dulu dan ganti baju lalu kesini lagi" Rain.
Perlahan Narda melepaskan tangan Rain dan kembali bersandar pada Andrean. Narda tidak mengatakan apa apa dia tersenyum dan menatap Rain.
"Narda... apa ada yang ingin kau katakan pada ku?" ucap Rain dengan lembut sembari memegang tangan Narda.
Narda hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Narda tidak mengatakan apapun dia hanya menggelengkan kepalanya dan dengan wajah manisnya Narda terus tersenyum dan menatap Rain.
"Anak manis kau tidak mau mengatakan apapun hm?" Ucap Rain gemas pada Narda.
"Adek mau bilang apa sayang?" Andrean.
"Kak Ian... kakak dokter sangat cantik mirip mami, bahkan parfum dan warna rambutnya juga mirip mami" Narda.
"Apa aku benar benar secantik mami mu?..." Rain.
"Iya kak kau sangat mirip dengan mami... andai mami masih disini..." Narda.
Narda menunduk sedih dan meneteskan air mata. Rain memeluk Narda dan menghapus air mata Narda dengan lembut, Rain memang marah dengan tindakan Andrean yang semena mena tapi dirinya tetap tidak tega jika melihat Narda sedih.
__ADS_1
"Jangan menangis sayang, sudah ya anak pintar tidak boleh menangis" Rain.
Karina mengambil Narda dari pelukan Rain dan membawa Narda ke dalam pangkuannya. Karina menatap wajah Narda dengan tatapan sedih, Karina mengusap lembut wajah Narda mencium kening sang anak.
"Adek tidak boleh mengganggu kakak Rain ya... dia sedang lelah karena baru saja selesai melakukan pekerjaan berat sayang" Karina.
"Mama... adek hanya memeluk kakak dokter sebentar kok, adek tidak ganggu kakak dokter" Narda.
"Iya sayang anak baik, anak kuatnya mama... tapi sekarang sama mama dulu ya biar kakak dokternya bisa istirahat dulu" Karina.
"Iya mama..." Narda.
"Narda aku harus ke ruangan ku sebentar tapi nanti aku akan kesini lagi, jadi anak pintar dan minum obat mu tepat waktu ya" Rain.
"Iya kakak..." Narda.
Rain berpamitan pergi dan kembali ke ruangannya untuk mandi dan ganti baju. Setelah selesai Rain merenung sebentar dan memutuskan pulang untuk menemui orang tua angkatnya.
Narda melamun menatap kearah luar Jendela Narda hanya diam sambil memeluk boneka minion yang dibelikan Evan beberapa hari lalu. Jason sengaja menyelesaikan pekerjaan lebih awal agar bisa menemani Narda.
"adek papa sudah datang loh... adek tidak mau sapa papa?" Karina.
Jason melihat Narda yang tidak merespon ucapan Karina. Jason memberikan isyarat agar Karina pergi beristirahat saja, Karina mengangguk dan beranjak menuju kamar tamu yang ada diruangan Narda.
Jason duduk disamping Narda dan menggenggam tangan sang anak. Narda sedikit terkejut dan langsung menatap Jason.
"Adek maaf ya papa bikin kamu kaget" Jason.
"Papa sudah pulang? kapan?" Sahut Narda lirih dan bingung karena Jason tiba tiba ada disampingnya.
"Sudah dari tadi papa disini tapi adek tidak memperhatikan, adek terus melamun dan tidak mendengar kedatangan papa..." Jason.
"Maaf papa..." Sahut Narda sedih.
"Tidak apa apa sayang... adek sedang lihat apa nak?" Jason mengusap lembut kepala Narda dan menggenggam tangan sang anak.
"Di luar hujan pa..." Narda.
"Iya diluar sedang hujan..." Jason.
__ADS_1
"Papa adek teringat pada ibu tapi adek tidak mau kembali ke ibu" Narda.
"Lalu adek mau bagaimana?..." Jason.
Narda terdiam dan menggelengkan kepalanya Narda tidak bisa mengatakan apa apa karena dia sendiri bingung harus bagaimana. Narda hanya ingin tau apakah Amalia masih hidup atau sudah tiada.
"Adek sayang jangan memikirkan hal yang tidak perlu nak, sekarang adek hanya harus fokus dengan kesehatan adek..." Jason.
"Adek ingin menghabiskan waktu adek dengan kalian... adek tidak mau ada keributan ataupun korban lagi, adek sudah lelah pa..." Narda.
"Iya sayang... papa tau adek lelah karena itu papa janji, papa akan berusaha melindungi keluarga ini bagaimana pun caranya" Jason.
Andrean dan Evan kembali bersama Rain ke dalam ruangan Narda. Melihat kedatangan mereka Narda tersenyum, dia senang melihat Rain yang dia anggap sangat mirip dengan Viola.
Andrean menghampiri Narda dan mencium kening si bungsu, Evan juga melakukan hal yang sama bedanya Evan memberikan boneka sebagai hadiah untuk Narda.
"Kalian datang bersamaan sebenarnya dari mana?" Tanya Narda penasaran.
"Maaf ya sayang tadi kakak baru ingat kalau ada urusan yang belum selesai..." Evan.
"Urusan pekerjaan lagi, kan?" Tanya Narda pada Evan yang langsung membuat Evan terdiam tanpa kata.
"Adek jangan marah kak Evan mu jadi sibuk karena menggantikan aku" Andrean mendekati Narda dan memegang tangan sang adik.
"Adek sayang kakak punya kabar bahagia untuk adek" Andrean.
"Kabar apa kak?" Tanya Narda bingung.
"kakak dan dokter Rain akan menikah" Sahut Andrean dengan tersenyum.
"BENARKAH?!" Narda terkejut dan bahagia diwaktu yang bersamaan.
Sangkin senangnya Narda langsung duduk tanpa memikirkan luka bekas operasinya dan infus yang masih terpasang ditangannya. Narda tidak sengaja menarik tangannya yang di infus drngan sangat kencang bahkan membuat selang oksigennya terlepas.
Narda jadi kesakitan karena jarum infus ditangannya terlepas paksa gara gara tingkahnya sendiri, belum lagi dadanya yang kini terasa sangat nyeri, Rain yang melihat itu jadi panik dan langsung membaringkan Narda kembali.
"Narda bernafas pelan pelan, jangan banyak bergerak okay? Evan bantu aku hentikan darah ditangannya dan pasang infus baru" Rain.
Evan bergegas melakukan arahan dari Rain, Narda masih terlihat kesakitan tapi perlahan dia mulai tenang. Narda berkeringat dingin karena tadi menahan rasa sakit didada juga tangannya, Karina yang melihat itu langsung menghampiri sang anak dan mengusap keringat dikening Narda.
__ADS_1
"Adek sayang mama tau adek senang tapi jangan sampai menyakiti diri sendiri begini nak" Karina.