AKU ANAK HARAM!

AKU ANAK HARAM!
KACAU


__ADS_3

Narda terbangun setelah beberapa jam kemudian. Narda keluar dari ruang medis dan melihat sudah ada banyak tamu yang datang untuk berduka cita, Karina masih belum sanggup melihat jasad Arthur entah sudah berapa kali Karina pingsan.


Viola duduk mematung disamping peti jenazah sang anak. Hendery menangis didalam pelukan Evan, Andrean melamun dia terlihat sangan tertekan, Hans menghampiri Narda membantunya berjalan.


"Adek duduk dulu ya, aku ambilkan minum" Hans berpura pura tersenyum tapi matanya bengkak karena terlalu banyak menangis.


Narda tidak menjawab Hans dan berjalan ke arah peti Jenazah Arthur. Narda melihat Jasad Arthur sudah di rias dan telah berpakaian rapi siap untuk dimakamkan, Narda menangis dan memegang tangan Arthur yang telah dingin.


"Hiks hiks hiks apa apaan kau kak?! kau janji akan selalu menjaga ku selamanya tapi kenapa kau malah pergi dari ku?! Jahat! kau jahat kak!" Narda terisak tangis.


Viola merangkul Narda dan membawanya duduk. Viola dan Narda hanya bisa saling berpelukan dan menangis, tidak ada kata yang dapat terucap hati mereka hancur karena kepergian Arthur.


"Tuan muda mari saya bantu berganti baju kita akan segera berangkat ke pemakaman, karena jenazah tuan muda Arthur harus segera dimakam kan..." Eric.


"Eric tolong bantu dia... badannya sangat lemas" Viola mencoba tegar dihadapan Narda.


Eric membawa Narda untuk berganti baju sedangkan Viola beranjak dan mengusap wajah Arthur lembut.


"Anakku sayang... mami sudah ikhlas melepas mu pergi nak, istirahatlah dengan tenang terimakasih sudah terlahir ke dunia dan memberikan mami kesempatan untuk menjadi ibu dari putra terhebat seperti mu" Viola.


Karina berdiri disamping peti jenazah Arthur dibantu oleh Jason. Tubuh Karina sangat lemas, air matanya tidak mau berhenti menetes dan membasahi wajah cantiknya.


"Mama minta maaf... ini salah mama karena tidak bisa menjaga mu, hiks hiks anakku! anakku sayang" Karina mencium kening Arthur.


Saat Narda sudah siap dia membawa seikat bunga mawar biru. Narda meletakan bunga itu didalam peti jenazah Arthur, Narda menangis tanpa suara hatinya terlalu hancur.


"Kakak aku akan menggantikan mu menjaga mami dan papi, istirahatlah dengan tenang kakak..." Narda mengusap tangan Arthur pelan.


Narda, Evan, Andrean, dan Jason menutup peti jenazah Arthur. Air mata Narda menetes saat melihat wajah Arthur untuk terakhir kalinya.


Mereka memakamkan Arthur dipemakaman keluarga tempat dimana Jevan dan Miranda juga dimakamkan. Arthur dimakamkan disamping Miranda adik perempuan yang paling dia cintai, saat peti jenazah Arthur dimasukan ke dalam liang lahat Karina jatuh pingsan.

__ADS_1


Saat mereka semua sudah kembali dimansion dan para tamu sudah pulang tapi semuanya hanya diam. Hening dan hanya terdengar isakan tangis, Narda diam sembari memeluk foto Arthur.


"Mama..." Evan memegang tangan Karina yang tampak masih sangat bersedih. Andrean mendekati Hendery dan berlutut dihadapan Hendery.


"Papi maaf... ini semua salah ku andai saja aku tidak mengatakan kata kata biadab itu, kakak tidak akan marah dan dia pasti masih ada disini" Ucap Andrean menyesal.


Hendery hanya diam tatapan matanya kosong Evan mendekati Andrean dan langsung mencengkram kerah baju Andrean dan menariknya kasar. Evan menghajar Andrean habis habisan tapi Andrean tidak melawan.


"Bajingan! Kalau bukan karena mulut busuk mu itu kakak tidak akan pergi dengan marah dan dia tidak akan kecelakaan! Dasar Bajingan!" Evan sangat marah, Narda geram dengan kelakuan kedua kakaknya.


"BERHENTI!" Teriak Narda membuat Evan dan Andrean terkejut.


"Bisakah kalian berhenti bertengkar?! Aku mohon kak... hiks hiks kita baru saja kehilangan kak Arthur kenapa kalian malah memperburuk keadaan?!" Tangis Narda kembali terdengar.


Jason membawa Narda ke dalam pelukannya. Andrean dan Evan hanya diam dan kembali ke tempat duduk mereka masing masing.


Hari hari Narda menjadi kelam tidak ada senyuman ataupun tawa. Setiap hari yang dilalui Narda hanya dipenuhi oleh tangis dan kerinduan pada Arthur, Narda tidak mau disentuh oleh Andrean dia tidak membenci Andrean tapi dia masih belum bisa mengikhlaskan kepergian Arthur.


Hendery kehilangan jiwanya dia hancur setelah Arthur meninggal. Hendery sudah tidak bekerja dia benar benar kehilangan kewarasannya, Narda menghabiskan hari harinya untuk merawat Hendery.


Viola juga tidak membaik dia banyak melamun dan tidak pernah mau berbicara kepada siapapun lagi. keluarga De Wilson dan Die Errama diselimuti kabut kegelapan dan kesedihan setelah kematian Arthur.


Narda berada didalam kamar Arthur, lagi lagi Narda tenggelam didalam kesedihannya. Narda marah pada takdir dan dia sangat membenci hidupnya sendiri.


"Tuhan! Mana bahagia yang kau janjikan untukku?! Inikah takdir ku tuhan?! Jika memang ini takdir yang kau tuliskan untukku... aku tidak mau menerimanya tuhan!


TUHAN AKU MEMBENCI TAKDIR MU! AKU BENCI SEMUA INI TUHAN! Tuhan berikan bahagia ku! berikan bahagia untukku..." Narda.


Andrean mendengar jeritan dan teriakan Narda hatinya sakit melihat keluarganya yang begitu menderita. Andrean menghampiri Narda berniat untuk memeluk dan menenangkan sang adik.


"Kenapa kau disini?!" Narda.

__ADS_1


"adek maafkan kakak" Andrean.


"Keluar! Ini kamar kakakku! Pergi!" Narda mengusir Andrean dari dalam kamar Arthur.


"Adek..." Andrean menatap Narda dengan mata berkaca kaca.


"PERGI! KU BILANG PERGI! KELUAR!" Narda berteriak mengusir Andrean.


Evan yang juga melihat itu langsung memeluk Narda untuk menenangkannya. Narda menangis didalam pelukan Evan tubuhnya lemas tak berdaya, sungguh hati Narda hancur.


"Kakak hiks hiks suruh dia pergi kak hiks hiks aku mohon kak..." Narda memohon dengan menangis pilu pada Evan.


"Kak Andrean tolong pergi dulu kasihan Narda, dia sudah sangat lemah kak" Evan.


Andrean mengangguk dan memilih pergi dari sana. Andrean sendiri juga hancur dia tidak menyangka akan kehilangan Arthur secepat ini, dan Andrean harus melihat keluarganya kacau balau.


"Adek tenang sayang... sudah dia sudah pergi sayang" Evan.


"Kembalikan kakakku hiks hiks aku mohon... kembalikan kakakku..." Narda jatuh pingsan didalam pelukan Evan.


Evan memeluk Narda dengan kasih sayang hatinya sendiri hancur karena harus menyaksikan semua ini. Tapi Evan harus berusaha tegar untuk adiknya, Evan mencium kening Narda penuh kasih.


"Maafkan aku sayang... aku juga tidak bisa berbuat apa apa semua yang terjadi berada diluar kendali ku, maaf..." Evan.


Jason menemani Karina diruang medis dia memegang erat tangan sang istri. Karina menatap wajah Jason yang terlihat dipenuhi kabut kesedihan.


"Kau pasti sangat terluka..." Karina berucap lirih pada Jason.


"Kaulah yang lebih terluka dibandingkan aku..." Jason.


"Bagaimana aku tak terluka? anak yang aku cintai direnggut paksa oleh takdir dari pelukan ku... anak yang ku jaga dengan cinta dan kasih diambil dengan keadaan penuh luka" Karina meneteskan air mata, Jason menghapus air mata Karina lembut.

__ADS_1


"Jason... jika nanti aku tiada tolong jaga anak anak" Karina.


"Suht... jangan bicara sembarangan kita masih punya tiga anak mereka masih membutuhkan kita sayang" Jason.


__ADS_2