
Jason membawa Narda didalam gendongannya dan mereka berhenti didepan rumah kayu itu. Narda tersenyum saat melihat rumah itu dan turun dari gendongan Jason.
Rumah itu bernuansa kayu dengan jendela kaca yang juga menggunakan desain kayu. Memang tidak begitu besar hanya ada dua lantai dan banyak bunga diteras rumah itu, ada ayunan diteras rumah, dan ada banyak kelinci disekitar sana.
"Sangat indah..." Ucap Narda lirih tapi masih bisa didengar oleh Jason.
Jason memeluk Narda dari belakang dan membiarkan sang anak bersandar padanya. Narda menatap rumah itu dengan mata berkaca kaca itu adalah rumah impian Narda ketika dia masih kecil, saat kecil Narda menggambar rumah impiannya dan memberikan gambar itu pada Jason.
"Papa terimakasih..." Narda.
"Sama sama nak... ini adalah hadiah kecil yang papa berikan pada mu, papa akan berikan segalanya pada mu nak asalkan diri mu bahagia papa rela melakukan apapun" Jason. Narda terdiam dan membalikan tubuhnya untuk menatap mata Jason.
"adek mau masuk?" Jason.
Narda mengangguk dan Jason membawanya masuk ke dalam rumah kayu itu. Disana ada banyak foto Narda mulai dari foto masa kecil Narda hingga foto Narda saat ini, ada banyak boneka dan buku kesukaan Narda.
Jason membiarkan Narda untuk melihat ke sekeliling. Narda melihat foto keluarga mereka dan mengusap foto itu dengan penuh kasih sayang, Narda melihat difoto itu ada dirinya yang masih berusia delapan tahun.
Narda menangis dan memeluk foto itu Jason mendekati Narda dan memeluk sang anak. Jason tidak tau apa yang dirasakan sang anak tapi yang dia tau saat ini Narda memerlukan dirinya.
"menangislah jika itu bisa membuat mu lega nak, papa sangat menyayangi mu nak papa akan menjadi tempat mu bersandar dan selalu disamping mu...
Jangan pernah berpikir untuk menyerah nak karena kami disini untuk mu sayang. Narda De Wilson adalah bintang kesayangan keluarga De Wilson" Jason.
"Dan permata hati yang menerangi keluarga Die Errama" Ucap Viola yang tiba tiba ada disana bersama Hendery.
"Jason bisa berikan kami waktu untuk bersama dengan Narda?" Viola.
Jason menatap Narda dan Narda mengangguk memberikan izin untuk Jason pergi dan meninggalkan dirinya bersama Viola dan Hendery.
"Aku titip Narda" Jason.
Hendery membawa Jason untuk keluar dari rumah kayu sedangkan Viola memeluk Narda erat.
"Jason aku menemukannya" Hendery.
__ADS_1
"Kak masalah ini serahkan pada ku" Jason.
"Hati hati" Hendery.
Viola membawa Narda untuk ke dalam kamar rumah kayu itu. Viola mengganti perban ditangan Narda dan mengobati luka Narda.
"Mami... apa mami baik baik saja?" Tanya Narda lirih, Viola tersenyum dan mengusap wajah Narda lembut.
"Bagaimana dengan mu? Apa kau baik baik saja nak?" Viola.
Narda menggelengkan kepalanya Narda benar benar merasa tidak baik baik saja. Narda menangis dan tidak bisa berkata kata lagi, Narda merasa semua didalam hidupnya sangat kacau.
Viola membawa Narda ke dalam pelukannya dan mengusap lembut kepala Narda. Viola merasakan jika tubuh Narda begitu dingin dan lemas, Viola menyuruh Narda berbaring ditempat tidur dan mengusap lembut kepala Narda.
"Mami apa aku bisa membuat semuanya baik baik saja?" Narda.
"mami tidak tau nak.. tapi yang mami tau semuanya akan baik baik saja jika diri mu ada disamping kami" Viola.
Viola besenandung untuk Narda perlahan Narda tertidur karena kelelahan. Arthur datang dan memeriksa keadaan Narda, Arthur memasangkan infus untuk Narda.
"Aku khawatir dia tidak akan bisa bertahan jika terus terusan menolak minum obat" Arthur.
Viola menunduk pasrah ingin rasanya dia menolak kenyataan ini tapi apalah daya dia tak bisa. Berat, menyakitkan, dan tak bisa diterima itulah yang kini Viola rasakan.
"Semuanya sudah ku beritau... Mami jangan beratkan langkahnya dengan air mata, jika dia lelah jangan paksa dia untuk bertahan" Ucap Arthur dengan meneteskan air mata.
"Kenapa? kenapa setiap anak bungsu keluarga ini selalu berakhir menyedihkan? kenapa mereka tiada sebelum dewasa?" Viola.
Narda membuka matanya dan menatap Viola, perlahan tangan dingin Narda menghapus air mata Viola.
"Mami jangan sedih... adek masih disini, adek memang lelah tapi adek msih ingin hidup mami" Narda.
"Adek yang kuat ya sayang, mami akan selalu disini untuk mu" Viola.
Narda menatap Viola sedih tapi kepalanya terlalu pusing untuk bangun dan memeluk Viola. Viola menahan Narda dan menyuruhnya untuk tetap berbaring, Narda akhirnya kembali tidur.
__ADS_1
Hendery dan Viola menemani Narda dirumah kayu itu. Saat Narda bangun hari sudah sore dia melihat Hendery sedang sibuk membaca buku, sedangkan Viola tidak ada didalam kamarnya.
"Papi..." Hendery yang mendengar suara Narda langsung menghampirinya.
"ada apa sayang?" Hendery.
"Mami dimana?" Narda.
"Dia sedang didapur membuatkan mu makanan, kau pasti bosan ayo papi akan mengajak mu melihat pemandangan sore" Hendery menggendong Narda.
Hendery memangku Narda dan duduk dikursi kayu yang ada diteras rumah kayu. Narda merasa lebih tenang karena suasana dirumah kayu sangat sejuk dan indah.
Arthur datang membawakan seikat bunga mawar biru untuk Narda. Dengan senang hati Narda menerima bunga itu dan tersenyum manis, Arthur menyuruh Narda naik ke atas panggungnya.
Narda beranjak dan naik ke atas punggung Arthur. Arthur mengajak Narda berjalan jalan dengan menggendongnya, mereka masuk ke dalam hutan.
"Kau tau sayang dihutan ini ada tempat yang sangat indah saat malam tiba, disana ada kunang kunang dan kumbang berwarna merah yang cantik" Arthur.
"Kenapa kalian tidak memberitau ku sejak dulu?" Narda.
"karena kami tidak ingin kau kesana sendirian" Arthur.
Narda hanya tersenyum, Arthur mengajak Narda ke tepi sungai tempat Narda duduk bersama moli sebelumnya. Arthur menurunkan Narda membawanya ke dekat pohon yang ada ditepi sungai, Arthur menunjukan kumbang kecil yang sangat cantik pada Narda.
Kumbang itu berwarna merah menyala dalam kegelapan mereka terlihat seperti lampu lampu kecil dan mengeluarkan aroma wangi. Kumbang kumbang kecil itu tidak beracun justru mereka bisa jadi obat penawar racun.
"Mereka sangat cantik..." Ucap Narda lirih.
"Kau akan melihat yang jauh lebih cantik sebentar lagi" sahut Arthur sembari merangkul Narda.
Benar saja saat matahari terbenam kunang kunang disana mulai bermunculan. kunang kunang itu terlihat sangat indah, jauh lebih indah dari pada kunang kunang biasanya mereka bersinar sangat terang dan cahayanya berwarna kuning keemasan.
Kunang kunang itu sangat banyak dan membuat keadaan disekitar sungai terlihat sangat terang seperti ada banyak lampu. Hal yang lebih menakjubkan adalah sungai dihadapan mereka juga terlihat bercahaya.
Narda terkagum kagum dengan semua keindahan yang dia lihat. Dia berjalan sedikit jauh dari Arthur karena mengikuti kunang kunang itu.
__ADS_1
Arthur hanya memperhatikan Narda dari jarak sedikit jauh. Arthur tersenyum tapi tiba tiba Arthur merasa sakit dibagian dadanya, Arthur duduk dan menyembunyikan rasa sakitnya dari sang adik.