AKU ANAK HARAM!

AKU ANAK HARAM!
PENYESALAN


__ADS_3

Hendery dan Jason sampai dimansion Edwin mereka langsung menyerang tanpa menunggu Karina. Karina juga datang bersama anak buahnya dan ikut menyerang, Edwin panik karena dia salah melakukan perkiraan.


Edwin mengira jika hanya Jason dan Hendery yang datang dengan seratus ribu anak buahnya. Tapi ternyata dia salah karena Hendery, Jason, dan Karina mereka datang dengan masing masing membawa tiga ratus ribu anak buahnya.


Karina menyerang dengan membabi buta dia membunuh semua musuh yang ada dihadapannya. Penyerangan dipimpin oleh Karina dan di menangkan dengan mudah karena pihak Edwin kalah jumlah, Karina menangkap Edwin dan menyeretnya ke hadapan Jason dan Hendery.


Karina mencabut pedangnya dan menodongkan pedang itu dileher Edwin.


"Apa yang kau lakukan pada Miranda? KATAKAN BEDEBAH!" Karina.


"Hahahah! Kalian pasti begitu terpukul dan bersedih karena kematian si cantik itu, tapi aku sangat puas aku sudah menikmati tubuh indahnya hahaha!" Edwin menertawakan penderitaan Karina dan keluarganya.


"Aku sengaja merusak mobil itu dan membuat kalian kecelakaan sebenarnya saat itu Miranda selamat! Tapi aku mengambil dia dari mobil dan menikmati tubuh indahnya lalu ku lemparkan dia ke jurang hahaha! Aku benci kalian! jika aku tidak bahagia maka kalian juga tidak boleh bahagia!


Istri dan anakku meninggalkan ku karena kalian! sekarang tidak akan aku biarkan kalian tenang! aku sudah membunuh Miranda dan Andrean! kalian pasti sangat sedih kan?!" Edwin tersenyum puas.


"Kau salah Edwin! Andrean tidak selemah yang kau kira dia selamat dan masih hidup" Sahut Hendery.


"Tidak mungkin! Aku sudah menusuknya berulang kali! Aku bahkan memukul kepalanya dengan balok kayu mana mungkin dia masih hidup?!" Ucap Edwin tak percaya.


"Anakku tidak selemah yang kau kira bajingan!" Jason menendang kepala Edwin hingga membuat Edwin tersungkur dilantai.


"Kakak... izinkan aku memenggal kepalanya untuk ku hadiahkan pada kak Viola" Ucap Karina kepada Hendery.


Hendery mengangguk dan memalingkan tubuhnya. Karina mencabut pedangnya dan langsung memenggal kepala Edwin.


"Kematian mu akan menjadi pembalasan yang paling setimpal untuk kematian putri kami, semoga jiwa mu tak tenang, dan semoga kau tidak akan terlahir kembali" Ucap Karina dengan menitikan air mata.


Hendery menangis sejadi jadinya kakinya lemas tak berdaya setelah mengetahui putri kecil yang ia cintai dan ia sayangi dibunuh dengan keji. Jason memeluk sang kakak dan menenangkannya, Jason sendiri juga sangat terpukul karena dia sudah menganggap Miranda seperti anaknya sendiri.

__ADS_1


Karina memasukan kepala Edwin ke dalam kotak kayu yang sudah ia siapkan dan menyuruh Eric untuk membakar tubuh Edwin. Jason memerintahkan Rega untuk meledakan mansion Edwin dan meratakannya dengan tanah.


"Miranda... maaf papi tidak bisa melindungi mu nak, tapi papi janji tidak akan ada yang bisa menyakiti keluarga kita lagi" Hendery.


Karina membawa kotak kayu berisi kepala Edwin ke hadapan Viola. Seluruh keluarga berkumpul dihalaman belakang mansion kecuali Andrean dan Narda, Karina membuka kotak kayu itu dihadapan Viola.


"Putri ku dinodai dan dibunuh oleh bajingan ini?!" Viola mengambil kotak kayu itu dan menyiramkan bensin ke atasnya Viola membakar kepala itu dan disaksikan oleh Arthur, Hendery, Jason, Karina, dan para tangan kanan mereka.


Arthur terduduk ditanah dia sangat menyesal karena hari itu dirinya menolak untuk mengotopsi Miranda. Hati Arthur hancur tangisannya terdengar memilukan hati, Jason memeluk Arthur untuk menenangkannya.


Namun apalah daya semua yang terjadi benar benar membuat Arthur hancur. Viola menangis dalam pelukan Hendery, senyuman manis Miranda muncul dibenak mereka membuat hati mereka semakin hancur.


Diruangan medis Narda menemani Andrean keduanya hanya saling diam. Tidak ada obrolan yang terjadi, bahkan Narda yang biasanya cerewet dan banyak tanya kini hanya diam tanpa mengucapkan satu patah kata pun.


Air mata Narda dan Andrean sama sama tidak dapat ditahan. Andrean ingat dulu dirinya pernah membawa Miranda bermain dan menaiki sepeda berkeliling di taman mansion mereka, Andrean ingat dia pernah berjanji akan membawa Miranda bersepeda dijalan pedesaan.


Namun hari itu yang datang ke mansion bukanlah Miranda namun hanya jasadnya saja. Hati Andrean sangat sakit jika teringat saat saat itu, dimana dia memeluk tubuh dingin adik perempuan yang sangat ia cintai.


Narda beranjak dari duduknya dan berdiri didepan pintu kaca yang mengarah langsung ke balkon. Narda duduk dilantai dan menangis sekencang kencangnya, dia ingat Miranda selalu hadir didalam mimpinya, memeluk dan membacakan cerita untuknya.


Narda selalu mengira jika kematian Miranda adalah kecelakaan tapi saat Narda tau kematian Miranda adalah sebuah pembunuhan yang direncanakan hatinya ikut hancur. Lagi lagi Narda hanya bisa menangisi takdir hidupnya.


"Kenapa? kenapa harus kami yang kehilangan? kenapa harus aku tuhan?! Apa aku memang pembawa sial?" Ucap Narda didalam hati.


Malam semakin larut Narda masih terduduk dilantai menatap gelapnya langit malam yang berawan tanpa bintang. Narda hanya diam namun kepalanya sejak tadi sudah sangat sakit, ada banyak pikiran yang berkecamuk didalam kepala Narda membuatnya sangat tertekan.


Narda hanya bisa duduk dan menyandarkan kepalanya dipintu kaca. Andrean sejak tadi sudah memanggil Narda tapi anak itu hanya diam, Andrean ingin menghampiri Narda dan memeluknya tapi dia tidak bisa karena seluruh badannya masih sangat sakit dan dia juga lemas.


"Nenek... apa aku memang pembawa sial? aku harus bagaimana agar semua penderitaan ini berakhir? tolong siapapun katakan pada ku" Ucap Narda didalam hati.

__ADS_1


"Adek jangan duduk disana nanti kau kedinginan" Ucap Andrean berusaha membangunkan Narda dari lamunannya.


Narda hanya diam dan tatapan matanya kosong. Narda tanpa sadar mulai menusuk tangannnya sendiri menggunakan ujung liontin kalung yang ia pakai bekali kali hingga membuat tangannya terluka.


Andrean yang melihat itu berusaha menyadarkan Narda dengan memanggilnya berulang kali tapi Narda tetap melakukan itu. Untungnya Jason datang untuk memeriksa keadaan Andrean dan melihat kejadian itu.


Jason langsung menahan tangan Narda dan berusaha menyadarkan Narda dari lamunannya. Jason mengguncang guncangkan tubuh Narda berulang kali dan terus memanggil nama sang anak.


"Adek! Adek sayang ini Papa nak! Apa yang kau lakukan sayang?!" Jason.


"Papa maaf semuanya gara gara aku, seharusnya aku tidak pernah dilahirkan pa mereka benar Pa


Anak yang terlahir dari perbuatan dosa hanya akan membawa kesialan. Papa aku mau pulang saja ke ibu, akan lebih baik jika aku dikurung digudang atau dibakar hidup hidup


Agar semua ini berakhir pa... Agar kalian tidak usah terluka lagi" Ucap Narda dengan menatap mata Jason.


"Kau anak papa! kau bukan anak bajingan itu kau anakku!" Jason.


"Akan lebih baik jika aku tidak pernah terlahir ke dunia ini, jika saja aku tidak pernah lahir ke dunia mungkin ibu sudah menikah dengan pria yang dia cintai dan punya keluarga impiannya


Mungkim jika aku tidak terlahir ke dunia kak Ian tidak perlu terluka separah ini, mungkin juga jika aku tidak pernah lahir ke dunia... Aku tidak perlu mendengar tentang kematian tragis kak Miranda" Ucap Narda dengan suara yang terdengar semakin lirih.


"Nak ini bukan salah mu, ini bukan kesalahan mu sayang" Jason membawa Narda ke dalam pelukannya.


"Adek ini bukan salah mu, justru karena diri mu aku masih bisa bertahan sampai sekarang" Andrean ingin beranjak dan menghampiri Narda tapi luka bekas operasinya masih belum kering dan sangat menyakitkan untuknya.


Narda melepaskan pelukan Jason dan beranjak pergi. Jason berusaha menghentikan Narda tapi Narda melepaskan tangan Jason darinya.


Narda masuk ke dalam kamarnya sendiri dan langsung mengunci pintu kamar itu. Sejak kecil Narda tidak pernah membiarkan pintu itu terkunci karena dia takut sendirian dan dia tak suka keheningan.

__ADS_1


"Narda sayang buka pintunya nak, adek jangan seperti ini sayang papa mohon buka pintunya nak" Jason.


__ADS_2