AKU ANAK HARAM!

AKU ANAK HARAM!
TRAUMA


__ADS_3

Narda sedang berada diruang tv bersama Karina disampingnya. Narda duduk disofa panjang ruang tv dan bersandar dibahu Karina tidak ada satu patah katapun yang diucapkan oleh Narda.


Bahkan sejak tadi Karina sudah berusaha mengajak sang anak bicara tapi tetap saja Narda hanya diam. Karina membacakan buku cerita kesukaan Narda beberapa kali, Karina juga berulang kali bertanya pada Narda tapi anak itu hanya diam dengan tatapan kosongnya sembari memainkan telinga boneka kelinci yang ia beri nama Memo itu.


"Adek tadi mama buatin adek kue coklat kesukaan adek, adek mau coba?" Karina mencoba untuk terus terlihat gembira dihadapan Narda.


"Oh iya ini mama bacain lagi ya halaman cerita kesukaan adek" Karina masih berusaha mengajak sang anak bicara meski Narda hanya diam.


"Pada zaman dahulu ada seorang pangeran tampan yang sangat baik dan rupawan namun dia sangat kesepian, pangeran itu menemui penyihir tua dipinggiran istana dan..." Karina tak sanggup lagi menahan air matanya.


Biasanya Narda akan sangat senang ketika Karina membaca cerita ini. Setiap kali Karina membacakan cerita ini Narda biasanya akan banyak berkomentar kenapa begini? kenapa begitu? tapi saat ini Narda hanya diam seakan tak mendengar apa yang Karina katakan.


"Dan sang pangeran bertanya pada penyihir- ba-bagimana caranya agar tidak kesepian lagi?" Karina masih terus melanjutkan membaca buku itu meski tak ada sedikit pun respon dari Narda, Karina mengganti buku yang ia baca dengan buku baru.


Karina menghapus air matanya sendiri dan merangkul Narda. Membawa sang anak ke dalam pangkuannya, Karina menunjukan gambar gambar yang ada dibuku baru itu pada Narda.


Buku itu adalah buku bergambar hewan dan lengkap dengan nama namanya. Buku itu adalah buku baru yang belum pernah dibaca oleh Narda.


"ini buku baru adek... adek inget gak? adek beli buku ini sama mama waktu kita dimall, lihat ini tuh isinya gambar hewan dan ada namanya juga nih... ini gajah, ini harimau sumatera, yang in- yang ini macan tutul" Karina sudah berusaha menahan diri untuk tidak menangis tapi dia tidak bisa.


Ibu mana yang tak hancur melihat anak yang sangat dicintainya berada diposisi Narda saat ini. Narda sama sekali tidak merespon Karina padahal biasanya Narda sangat bersemangat saat melihat gambar gambar hewan dan tumbuhan, Narda biasanya akan bertanya ini dan itu tapi saat ini dia hanya diam tak mengatakan sepatah kata pun.

__ADS_1


"adek tau gak? kalau ternyata lumba lumba itu hewan mamalia loh mereka melahirkan dan bukannya bertelur" Karina tetap berusaha mengajak Narda berkomunikasi.


Narda tetap diam dan menatap buku yang dipegang Karina dengan tatapan kosong. Andrean melihat semua yang terjadi dan langsung menghampiri ibu dan adiknya, Andrean duduk dikarpet bulu dan memegang tangan Narda.


Tapi Narda yang terkejut langsung menarik tangannya. Saat ini Narda begitu sensitif dengan semua hal, Narda tidak suka jika disentuh secara tiba tiba karena dia ingat bagaimana dulu dia sering dipukul tanpa alasan dengan tiba tiba oleh Amalia ibu kandungnya sendiri.


"ah iya maaf maaf... adek sayang boleh kakak pegang tangan adek?" Tanya Andrean lembut.


Narda menatap Andrean sebentar dengan penuh tanda tanya kemudian mengangguk. Andrean memegang tangan Narda erat dan mengecup punggung tangan Narda sebagai tanda kasih sayangnya.


"Adek... adek tau hari ini kakak berhasil menahan diri untuk tidak minum wine, seharian ini kakak gak ada minum wine sedikit pun... semua itu kakak lakukan demi adek" Ucap Andrean mencoba menarik perhatian Narda.


Memang benar dulu Narda selalu melarang Andrean untuk minum wine. Tapi meski begitu biasanya Andrean akan tetap minum wine diam diam tanpa sepengetahuan Narda, tapi hari ini Andrean benar benar tidak meminum wine meski dirinya sedang sangat stres memikirkan keadaan sang adik.


"Adek ini kakak sayang, kakak tidak akan menyakiti adek" Ucap Andrean dengan tatapan mata berkaca kaca.


"Adek nakal... Adek bikin kakak Ian marah! Maaf! Maaf!" Narda kembali mengenang memori lama yang membuatnya ketakutan, Narda kembali histeris dan memukul mukul kepalanya sendiri, Karina dan Andrean memegang tangan Narda mencoba untuk menghentikannya.


"Adek sayang cukup sayang, sudah nak cukup sayang" Karina memeluk Narda erat.


"Adek cukup sayang sudah nak, adek sayang anak pintarnya mama jangan pukul pukul kepalanya lagi nanti sakit sayang" Ucap Karina sembari memeluk dan menenangkan sang anak.

__ADS_1


Andrean tak sanggup melihat keadaan Narda dan memilih untuk pergi menjauh. Hati Andrean hancur melihat adik yang sangat ia sayangi kini begitu berbeda dari sebelumnya.


Andrean pergi bar pribadi yang ada dimansion mereka. Andrean mengambil satu botol wine secara acak dan langsung meminum wine itu dari botolnya.


"ARGH!" Andrean berteriak dan melemparkan botol wine itu ke dinding.


Andrean adalah pria berhati batu yang hampir tidak pernah menangis selama hidupnya tapi saat ini Andrean sedang menangis hatinya benar benar hancur melihat adik yang paling ia cintai tersiksa dengan trauma masa lalunya.


Narda sudah mulai tenang didalam pelukan Karina. Perlahan Narda yang kelelahan mulai tertidur didalam pelukan Karina, dalam heningnya malam Karina mengusap kepala sang anak penuh kasih sayang.


Karina kembali mengingat masa lalu dimana dulu dia menggendong Narda keliling mansion untuk pertama kalinya. Karina masih sangat ingat wajah manis Narda yang begitu menyukai mansion mereka, Karina melepaskan pelukannya perlahan dan menatap wajah Narda yang telah tertidur pulas didalam pangkuannya.


"Nak... apa yang harus mama lakukan agar adek bisa tersenyum lagi? mama harus bagaimana agar adek mau bicara lagi? mama harus bagaimana agar adek kembali ceria sayang? jawab mama nak..." Karina seakan sudah putus asa.


Karina membenahi rambut Narda dan membenarkan posisi selang oksigen Narda. Hatinya benar benar sakit melihat anaknya seperti ini, seandainya bisa Karina lebih memilih dirinya saja yang menderita asalkan Narda bisa bahagia.


Jason menghampiri Karina dan menggendong Narda yang sudah tertidur pulas dipangkuan Karina. Jason menghapus air mata Karina dengan penuh cinta, Jason mengerti saat ini sang istri sedang bersedih mengenai keadaan putra bungsu mereka.


"Jangan menangis sayang anak kita akan baik baik saja, percayalah semuanya akan baik baik saja" Jason.


"Andaikan saja bisa aku ingin menggantikan posisinya, aku rela menderita asalkan anak kita bahagia... Melihat Narda seperti ini aku tak sanggup Jason" sahut Karina dengan air mata yang sejak tadi sudah membasahi wajah cantiknya.

__ADS_1


"Jangan menangis dihadapan anak kita, kita harus kuat untuk anak anak kita... saat ini Narda hanya membutuhkan dukungan dan kasih sayang kita" Jason berusaha menguatkan istrinya.


__ADS_2