AKU ANAK HARAM!

AKU ANAK HARAM!
KASIH SAYANG PAPA


__ADS_3

Arthur menarik tangan Hendery membawanya ke ruang kerja Arthur sendiri. Ada banyak hal yang ingin Arthur tanyakan pada Hendery saat ini, termasuk tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Narda saat dirinya tidak ada.


Tapi baru saja mereka memasuki ruangan Arthur tiba tiba Viola datang dan langsung menampar wajah Hendery saat itu juga.


"Aku sudah katakan pada mu jaga ucapan mu! Anak itu tidak tau apa apa Hendery! Tega sekali kau melukai hatinya seperti itu!" Ucap Viola marah.


"Sebenarnya apa yang terjadi?! kenapa Narda bisa sampai seperti ini?!" Arthur.


Belum sempat Hendery menjawab Jason datang dan menyeret tangan Hendery membawanya ke ruang keluarga di ikuti oleh yang lainnya. Jason sedang sangat marah saat ini bahkan dirinya sudah tidak perduli jika Hendery adalah kakaknya.


"APA YANG KAU LAKUKAN PADA ANAKKU! JAWAB!" Jason sangat marah.


Hendery menceritakan semua yang terjadi dia mengakui semua kesalahannya termasuk saat dia membentak Narda dan mengatainya dengan kata anak haram. Jason sangat marah dan meninju wajah Hendery sangat keras hingga hidung Hendery berdarah.


"Aku saja tidak pernah membentaknya! Aku selalu berusaha melindungi Narda karena aku tau anakku itu sangat sensitif!


Kenapa kau melakukan ini kak?! Jika anakku mengganggu mu katakan saja pada ku akan ku urus sendiri dia, tapi jangan lakukan ini padanya kak jangan hancurkan hati anakku!" Jason tidak bisa lagi mengendalikan dirinya.


Tidak ada satupun dari mereka yang berusaha menghentikan Jason. Bukan karena mereka memihak Jason tapi saat ini bicara pun percuma karena Jason tidak akan mau mendengarkan siapapun.


Karina masih berada dikamar Narda untuk menemani sang anak. Karina tidak tega jika harus meninggalkan Narda sendirian dikamar, tadi Evan sudah mengelap badan Narda dengan air hangat dan mengganti pakaian Narda dengan piyama.


Karina menggenggam erat tangan sang anak dan mengusapnya lembut. Karina menyesal tadi dirinya membiarkan Hendery membawa Narda, andai saja tadi Karina melindungi sang anak ini semua pasti tidak akan terjadi, itulah yang ada dipikiran Karina saat ini.


Narda terbangun dan dia melihat Karina ada disampingnya. Narda menatap Karina tanpa mengatakan apapun, tidak ada senyuman diwajah manis dan pucat itu yang ada kini hanyalah tatapan sendu dan mata yang berkaca kaca.


"Adek sayang sudah bangun?... adek mau susu?" Karina bertanya dengan lembut.


"Mama..." Narda berucap lirih.


"Iya sayang? adek perlu sesuatu sayang?" Karina.

__ADS_1


"Mama sayang adek?" Tanya Narda lirih.


"Tentu saja mama sayang sama adek, mama sangat menyayangi mu nak" Sahut Karina sembari mengeratkankan genggaman tangannya.


"Mama kenapa dada adek sakit? hiks hiks hiks mama sakit" Narda menangis sembari meremas dadanya sendiri.


Hati Narda terasa begitu sakit dadanya terasa sangat sesak. Air matanya jatuh begitu saja tangisnya pecah, Karina tidak bisa berkata apa apa dia membawa Narda ke dalam pelukannya.


Karina mengerti jika sakit yang dimaksud oleh Narda bukanlah sakit medis tapi perasaannya yang terluka dan itu sangatlah menyakitkan untuk Narda. Karina tidak bisa meminta sang anak untuk tenang karena dia sadar ini juga salahnya sendiri sudah mengizinkan Hendery membawa putranya begitu saja.


Karina memeluk erat Narda dan berulang kali Karina meminta maaf kepada sang anak. Tapi Narda tetap menangis dan semakin terisak, Narda sampai terbatuk dan beberapa kali muntah.


Tidak ada yang bisa dimuntahkan oleh Narda karena dia belum makan atau minum sama sekali. Tapi itu justru semakin menyakitkan perut Narda terasa kencang dan sakit.


Karina yang panik karena sang anak kesakitan menyuruh maid untuk memanggil Evan.


"Tuan Evan! Tuan muda Narda kesakitan!" Ucap salah seorang maid dengan panik.


Setelah Narda diberi obat dia sudah membaik tapi saat mereka membujuk Narda untuk makan dan minum anak itu langsung menolak. Padahal Narda harus makan atau setidaknya minum susu agar lambungnya tidak terluka.


"Papa mana?..." Lirih Narda bertanya.


"Papa ada diluar adek mau bertemu papa?" Sahut Arthur lembut.


Narda hanya mengangguk pelan Evan keluar dari kamar Narda dan langsung menghampiri Jason.


"Asam lambung Narda naik dan dia juga kekurangan cairan, ku harap semua orang bisa bersikap lebih lembut padanya bujuk dia untuk makan dan minum kalau tidak lambungnya bisa terluka" Ucap Evan menjelaskan keadaan Narda.


"Narda mau bertemu dengan papa... sebaiknya kita semua memberikan Narda waktu agar dia tenang, jangan memaksanya lagi" Ucap Arthur yang baru saja keluar dari kamar Narda.


Jason membanting vas bunga yang ada disampingnya dihadapan Hendery dan masuk ke dalam kamar Narda. Jason memasang senyum palsunya dihadapan Narda.

__ADS_1


"Papa..." Lirih Narda berucap sembari mengulurkan tangannya, Jason memegang tangan Narda dan membawa sang anak ke dalam pangkuannya.


"adek sayang sekarang sudah waktunya adek makan, kalau adek tidak makan nanti adek sakit" Jason membujuk sang anak dengan lembut.


Narda hanya diam dia tidak menanggapi ucapan Jason. Narda hanya menatap Jason dengan tatapan penuh arti.


"Kalau aku tidak mau makan apa papa juga akan membentak ku?" Tanya Narda sembari menatap mata Jason, Jason terdiam sejenak kemudian membenarkan rambut Narda yang sedikit berantakan.


"Papa tidak akan membentak mu nak semarah apapun papa, papa tidak akan pernah menyakiti hati mu" Sahut Jason dengan mata berkaca kaca.


Narda menatap Jason dengan seksama perlahan tangan mungil Narda memegang wajah Jason. Narda tersenyum tapi air matanya menetes membasahi wajahnya yang masih pucat.


"Papa aku disini karena aku percaya pada papa... aku percaya papa akan menyayangi ku, jika suatu hari nanti papa bosan dengan ku dan sudah tidak menyayangi ku


Tolong jangan sakiti hati ku pa... papa bisa membunuh ku saja langsung, aku sudah lelah pa" Narda.


"Adek sayang jangan bicara seperti itu nak, kau adalah anak ku... selamanya papa akan menyayangi mu, jika kau tiada maka papa juga akan tiada!" Jason memeluk Narda erat.


Narda tersenyum tipis dan melepaskan pelukan Jason. Narda meletakan kepalanya didada Jason seperti biasanya, Jason mengusap usap punggung Narda dengan lembut.


Setiap tarikan nafas Narda terdengar begitu berat. Narda sebelumnya memang memiliki asma tapi sudah lama penyakit masa kecil Narda itu tidak kambuh, baru kali ini penyakit itu kembali datang menyerang tubuh mungil dan lemah yang kini berada dipangkuan Jason ini.


"Adek makan ya nak biar adek ada tenaga" Jason.


"iya..." Sahut Narda lirih.


Jason sangat senang sang anak mau makan setelah hampir satu jam dibujuk. Tapi Narda mengajukan satu syarat yang harus dipenuhi baru dia mau makan.


"papa akan kabulkan apa saja yang adek mau, asalkan adek mau makan" Jason.


"temani adek makan diayunan teras samping, papa" Sahut Narda lirih.

__ADS_1


Jason mengangguk setuju, Jason menggendong Narda dengan satu tangan dan tangan yang lainnya digunakan Jason untuk membawa tiang infus Narda.


__ADS_2