AKU ANAK HARAM!

AKU ANAK HARAM!
ARUNA HILANG


__ADS_3

"anak itu benar benar mirip Ethan bagaimana bisa? dulu saat Ethan masih kecil dia lebih bisa dibilang cantik dari pada tampan, lihatlah bayi ini juga sama" Evan.


Ethan melakukan video call dengan keluarganya menggunakan laptop. Ethan menunjukan wajah bayi mungilnya pada semua keluarganya, tangis haru Karina tiba tiba jatuh.


"Mama jangan menangis... anakku sangat tampan kan?" Ethan.


"Dia sangat tampan... sungguh dia sempurna" Karina.


"Semuanya aku belum punya nama untuk anakku, tapi aku ingin papa yang memberikan dia nama


Aku ingin kelak anak ini akan menjadi anak yang disayangi semua orang, menjadi sumber kebahagiaan untuk kita semua, dan menjadi bintang yang bersinar" Ethan.


"Dia sangat tampan dan dia akan menjadi cahaya terindah untuk keluarga kita, maka dia akan ku beri nama Aruna... Aruna Die Errama" Jason.


Ethan tersenyum dan mengangguk senyuman indah terlukis diwajah semua orang menyambut hadirnya bayi manis itu. Untuk pertama kali didalam hidupnya Ethan merasakan arti sesungguhnya dari memiliki.


Ethan memeluk dan mencium bayi yang ia gendong. Merasa tak nyaman dengan perlakuan sang papa yang mengusik tidurnya Aruna pun menangis kencang, mendengar tangisan Aruna untuk pertama kalinya Ethan tertawa bahagia.


"Dia menangis? anak hebat!" Ethan beranjak dari duduknya dan menimang sang anak.


Maid memberikan sebuah botol dot berisi susu pada Ethan. Dengan hati hati Ethan memberikan susu itu pada Aruna, senyuman Ethan terlihat jelas diwajahnya.


"Ethan duduklah saat memberikan dia susu lebih baik kau menggendongnya dengan posisi duduk agar dia tidak tersedak" Karina.


Ethan menuruti arahan Karina dia kembali duduk disofa sembari menggendong Aruna yang masih menikmati susunya. Setelah susu dalam botol dot itu habis Aruna kembali tertidur.


"Mama apa yang harus aku lakukan saat dia menangis?" Ethan.


"Kau harus mengecek popoknya, dan juga suhu tubuhnya... bersihkan dan ganti popoknya setiap empat jam sekali tapi jika dia poop maka langsung bersihkan dan ganti popoknya


Dan Ethan jangan memberikan makanan apapun padanya sebelum dia berusia enam bulan. Bayi itu sangat sensitif dia bisa saja sakit karena kesalahan kecil sekalipun" Karina.


"Iya ma aku mengerti" Ethan.

__ADS_1


"Ethan bawa dia pulang ke Mansion kami akan membantu mu menjaganya" Raina.


"Aku akan membawa dia pulang saat usianya sudah satu bulan kak, diusianya sekarang dia masih terlalu rentan" Ethan.


"Ethan benar bayi sekecil itu masih sangat rentan pada bakteri dan berbagai penyakit, jaga dia baik baik Ethan" Karina.


"Aku pasti akan menjaganya dengan baik ma, apa lagi dia adalah anakku satu satunya" Ethan.


"Ya sudah kau pasti lelah sekarang istirahatlah, lebih baik jika dia tidur satu kamar dengan mu nak" Jason.


"Iya pa... kalian juga istirahat tunggu kami pulang" Ethan.


Setelah sambungan video call ditutup Ethan menidurkan Aruna diranjang bayi yang terletak disamping tempat tidurnya. Ethan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Aruna.


Dalam tidurnya tangan kecil Aruna menggenggam jari telunjuk Ethan. Ethan hanya tersenyum dan membiarkan sang anak menggenggam tangannya.


Saat merasa Aruna sudah benar benar terlelap Ethan melepaskan tangan sang anak dan pergi tidur. Saat tengah malam Ethan dikejutkan dengan tangisan Aruna yang sangat kencang, Ethan bangun dan segera memberikan susu pada Aruna.


Aruna pun diam saat Ethan menggendongnya sembari memberikan susu dalam dot kecil itu pada Aruna. Perhatian Ethan teralih pada jendela kaca kamarnya, Ethan lupa mengunci jendela itu hingga angin yang bertiup masuk membuat kamar Ethan terasa sangat dingin.


"Aruna apa kau kedinginan? gara gara itu kau menangis?" Ucap Ethan sedikit panik.


Ethan akhirnya menidurkan Aruna disampingnya. Dia tidak menidurkan Aruna ke ranjang bayi lagi, entah kenapa tapi Ethan merasa lebih nyaman jika Aruna ada disampingnya.


Saat pagi tiba Ethan sangat terkejut karena Aruna tidak ada disampingnya. Ethan yang panik langsung memanggil Leo dan juga Luis dengan berteriak.


"Tuan ada apa?!" Luis.


"Paman Aruna hilang! aku memeluknya saat tidur tadi malam tapi pagi ini Aruna sudah tidak ada disamping ku!" Ethan sangat khawatir pada anaknya mengingat dirinya memiliki banyak musuh.


"Tuan semalaman kami berjaga dan tidak ada yang masuk ke dalam kamar anda kecuali maid yang mengantarkan susu!" Leo juga ikut panik.


"Aruna! kau dimana nak?! Periksa cctv sekarang juga! Cari dimana anakku berada!

__ADS_1


Jika Aruna tidak ditemukan kalian semua akan berakhir mengerikan!" Ethan sangat marah dan juga panik.


Ethan sendiri berjalan kesana kemari seperti hilang akal. Bayi kecilnya yang baru berusia dua hari tiba tiba menghilang dari dalam pelukannya tentu saja Ethan panik.


"Tuan kami sudah memeriksa semua cctv di Villa ini dan kami melihat satu orang yang mencurigakan, dia adalah maid yang mengantar susu untuk tuan muda Aruna dan teh untuk anda" Leo.


Dalam rekaman cctv itu terlihat maid yang sama tiba tiba masuk ke dalam kamar Ethan saat Ethan tidur. Maid itu mengambil Aruna yang ada didalam pelukan Ethan dan membawa Aruna pergi dari kamar itu dengan memasukannya ke dalam keranjang makanan dan menutupinya dengan kain.


Ethan merasa sangat menyesal karena dirinya seakan gagal melindungi sang anak. Luis memberi tau Ethan jika teh yang Ethan minum ternyata mengandung obat bius.


"Aruna maafkan papa nak... Aruna papa akan menemukan mu" Ucap Ethan penuh sesal.


Tiba tiba ada surat dari orang misterius yang dikirimkan untuk Ethan. Awalnya Ethan tidak mau menerima surat itu karena dirinya masih sangat khawatir pada sang anak.


"Tuan surat ini ada hubungannya dengan penculikan tuan muda Aruna" Luis.


Ethan langsung mengambil surat itu dari tangan Luis. Ethan membaca surat itu dan seketika Amarahnya semakin memuncak.


"Jika kau mau anak mu selamat bawa uang dua juta dolar! dan temui aku digedung kosong pinggir kota sebelum pukul dua belas siang!" Tulis seseorang dalam surat itu.


"Siapkan mobil dan juga anak buah kita paman, aku akan menghabisi bajingan yang telah mengambil anakku!" Ethan kembali ke kamarnya dan bersiap.


Ethan bersama anak buahnya berangkat menuju gedung kosong pinggir kota tempat dimana penculik Aruna membawa bayi kecil itu bersamanya. Saat sampai disana Ethan langsung berlari menuju lantai teratas gedung itu karena dia melihat seorang pria paruh baya berdiri ditepi gedung tanpa pembatas sambil menggendong sesuatu.


Ethan dan Luia berjalan lebih dulu sedangkan Leo menyusun strategi penyerangan. Saat sampai disana Ethan melihat Pria paruh baya itu tersenyum padanya, tapi Ethan justru semakin ingin membunuh pria itu.


"Kau datang sangat cepat tuan muda... ah kau pasti mengkhawatirkan anak mu ini kan?" Pria itu menunjukan wajah Aruna yang sedang tertidur pada Ethan.


"Kenapa kau mengambil bayi ku?!" Ethan.


"Tuan muda Ethan Die Errama kau sudah membunuh anak ku, apa kau ingat?" Ucap pria itu dengan wajah marah.


"Banyak orang yang sudah ku bunuh mana mungkin aku ingat yang mana anak mu" Sahut Ethan dengan tersenyum dingin.

__ADS_1


"Kau masih bisa tersenyum? baiklah... tapi jika bayi ini ku habisi didepan mata mu mari kita lihat apakah kau masih bisa tersenyum!" Ucap pria paruh baya itu yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Ethan.


"Jika anakku terluka walau hanya seujung kuku saja... maka kepala mu adalah taruhannya!" Sahut Ethan dengan senyum menyeringai.


__ADS_2