
"David ikuti Evan pastikan dia baik baik saja, jika hal yang tidak terduga terjadi segera tolong Evan dan hubungi aku...
Aku tidak mau adikku terluka, aku akan menghabisi siapapun yang berani menyakiti adikku" Andrean.
Evan lagi lagi menguping pembicaraan Andrean dan David. Evan tersenyum lalu pergi ke kamarnya dan memakai jam tangan hadiah dari Andrean, jam tangan itu memiliki alat pelacak yang Andrean pasang didalam jam tangan.
Evan sudah tau jika jam tangan itu dipasang alat pelacak. Evan sengaja memakai jam tangan itu agar jika hal yang tidak di inginkan terjadi dirinya masih bisa dilacak dan ditemukan.
Sebelum berangkat Evan ingin menemui Narda tapi ternyata Narda belum kembali ke rumah kayu dan masih ditepi sungai bersama Arthur. Terpaksalah Evan hanya berpamitan pada Viola dan Hendery.
"Jika terjadi sesuatu rusak saja gelang ini, gelang ini dibuat khusus untuk mengirimkan sinyal darurat saat dirusak..." Hendery.
"Tetap hati hati wanita itu berbahaya nak, mami tak ingin kau terluka... bawa ini" Viola memberikan belati kesayangannya pada Evan.
"Mami, papi kenapa kalian begitu khawatir mama, papa, dan kakak juga sangat khawatir... aku hanya pergi selama sehari saja besok aku sudah akan kembali mami..." Evan.
"jujur saja Evan mami lebih setuju dengan Andrean yang tidak mengizinkan mu pergi" Viola.
Arthur menggendong Narda ala koala karena sang adik ketiduran. Arthur membawa Narda kembali ke rumah kayu, dia melihat ada Evan disana.
Arthur segera menghampiri Evan karena dia melihat sang adik yang begitu rapi dan tidak memakai piyama seperti biasanya. Evan senang melihat Arthur dan Narda yang sudah kembali, hanya saja dia sedikit kecewa karena ternyata Narda sudah tidur.
"Dia sudah tidur..." Ucap Evan kecewa lalu mencium kening Narda.
"Kau mau kemana? ini sudah malam!" Tegur Arthur pada Evan.
"Kak aku akan ke LA untuk menemui Zaya, dan aku akan kembali ke mansion besok... aku hanya ingin meyakinkan hati ku sendiri apakah aku benar benar masih mencintainya atau tidak" Sahut Evan pada Arthur.
"Papa, mama, Andrean apa mereka setuju? mami papi apa kalian juga setuju?!" Tanya Arthur bingung.
"semuanya setuju tapi mereka memakaikan aku alat alat pelacak, bahkan kak Andrean mengirim orang untuk memata matai aku" Sahut Evan dengan nada manja. Arthur terdiam dan memberikan Narda ke gendongan Hendery.
"Baiklah aku akan mengizinkan mu pergi, tapi aku akan menemani mu" Sahut Arthur tegas.
__ADS_1
Evan melongon tak percaya dengan syarat yang diberikan oleh Arthur. Evan menatap Hendery dan Viola bergantian seakan meminta pembelaan, tapi Hendery dan Viola memilih pergi dan membawa Narda masuk ke dalam kamar.
Masalahnya Hendery, Viola, Jason, dan Karina tidak pernah bisa melawan Arthur dalam hal yang menyangkut adik adiknya. Arthur sangat tegas bahkan terbilang keras pada adik adiknya, dia sangat menjaga keamanan mereka karena trauma setelah kehilangan Jevan dan Miranda.
"Kak tapi-" Evan ingin menolak.
"Pergi dengan ku atau tidak usah pergi sama sekali! Jika kau berani melawan aku akan mengurung mu diruangn bawah tanah! Dengar Evan aku adalah putra tertua keluarga kita yang aku lakukan adalah untuk kebaikan kalian.
Kau punya pilihan pergi dengan ku atau tidak usah pergi. Kalau melawan kau akan dalam masalah besar!" Arthur sedikit meninggikan suaranya tapi dia tak membentak.
"Baiklah kak..." Sahut Evan pasrah.
"Baiklah apa?! bicara yang jelas pada ku dan jangan menunduk! tatap aku!" Ucap Arthur tegas, Evan menaikan dagunya dan menatap mata Arthur.
"Iya kakak aku setuju pergi bersama mu, kakak jangan memarahi ku!" Sahut Evan kesal.
Arthur mengatur nafasnya untuk menenangkan pikiran dan meredakan emosinya. Arthur sempat emosi karena dia tau dulu Evan pernah hampir tewas gara gara orang tua Zaya, Arthur ingin marah pada semua orang karena mengizinkan Evan pergi tapi dia mengurungkan niatnya lagi pula Evan sudah setuju untuk pergi bersamanya.
"Ke mansion lebih dulu baru berangkat" Arthur.
Evan setuju dan mereka pergi ke mansion lebih dulu. Arthur masuk ke kamarnya dan bersiap Arthur membawa semua perlengkapan yang dia anggap diperlukan, Jason dan Karina melihat Arthur dengan tatapan pasrah.
Setelah selesai bersiap Arthur menarik tangan Evan ke hadapan Karina dan Jason yang sudah duduk diruang tamu.
"Papa, mama aku tidak mau mengatakan apapun tapi aku akan menemani Evan" Arthur.
"Kami sudah tau kau akan melakukannya Arthur karena itulah kami tidak melarangnya peegi tadi" sahut Karina sembari tersenyum.
Evan sangat kesal karena ternyata Jason dan Karina sudah tau hal ini akan terjadi. Jason dan Karina sudah tau Arthur pasti tidak akan membiarkan Evan pergi sendirian, jika saja Andrean tidak sakit pasti dia juga akan melakukan hal yang sama dengan Arthur.
"Arthur kau wakili papa dan papi untuk menjaga adik mu yang satu ini, masalah lain serahkan saja pada kami" Jason.
"Jadi kalian sudah tau kakak akan ikut?!" Tanya Evan kesal.
__ADS_1
"Tentu saja kami sudah tau nak... lagi pula mana mungkin kami berempat membiarkan mu pergi menemui bahaya sendirian, jika itu Andrean atau Arthur kami akan percaya jika pergi sendiri tapi ini kau Evan...
Kau masih terlalu polos nak, Andrean dan Arthur sudah benar mereka tidak ingin kau terluka." Sahut Karina dengan santainya.
"Papa sudah bilang papa akan membiarkan mu pergi tapi tidak akan membiarkan mu dalam bahaya" Jason.
"Pa kami berangkat" Arthur.
Narda terbangun karena Viola membangunkannya. Viola ingat Narda belum makan apapun sejak tadi, Viola tidak ingin Narda semakin lemah.
Narda duduk dimeja makan rumah kayu dan makan bersama Viola dan Hendery. mereka makan malam bersama Viola membuat makanan kesukaan Narda, dan dia juga menyiapkan cemilan yang dibuat dari sayur untuk Narda.
"Papi dimana kak Arthur?" Narda.
"Dia sedang mengantarkan Evan, mereka ada urusan pekerjaan sayang" Hendery.
"Mami, papi sungat ditengah hutan begitu indah disana juga ada banyak hewan dan serangga yang cantik... kalau semua serangga didunia ini secantik itu maka aku tidak perlu takut pada serangga" Ucap Narda gembira.
"haruskah kita membudidayakan serangga serangga cantik itu?" Viola.
"Itu ide bagus... oh iya mami tadi adek digigit serangga merah yang cantik tapi kata kak Arthur itu tidak berbahaya dan malah hal yang bagus" Narda.
"boleh mami lihat?" Viola.
Narda menunjukan luka bekas gigitan yang ada di punggung telapak tangannya. Luka itu tidak terlalu kecil karena masih bisa dilihat dengan jelas, Viola mencium punggung tangan Narda dan tersenyum.
"Kumbang cawan? gigitannya memang tidak berbahaya air liur kumbang cawan bisa menjadi penawar racun dan juga bisa menjadi obat untuk menghilangkan nyeri...
kakak mu benar sayang ini memang tidak berbahaya tapi tetap harus dibersihkan agar tidak ada infeksi" Viola.
"Eum tadi sudah dibersihkan oleh kakak, mami hutan kita ada banyak hewan dan serangga yang unik ada juga bunga bunga yang cantik... tapi kenapa baru sekarang aku boleh melihat semua itu?" Narda.
"Karena dulu kau masih terlalu kecil nak" Hendery.
__ADS_1