
Dokter mengatakan jika Narda kelelahan dan tekanan gula darahnya sangat rendah. Setelah dokter pergi semua anggota keluarga menemani Narda dikamarnya, Karina dan Viola menggenggam tangan Narda erat.
Setelah dua jam berlalu Narda bangun dia melihat semua anggota keluarganya menatap dirinya dengan tatapan khawatir. Narda tersenyum dan mendudukan dirinya dibantu oleh Karina dan Viola.
"Sayang adek gimana perasaannya sayang? masih ada yang sakit?" Karina.
"Sudah lebih baik ma..." Sahut Narda lirih.
"Adek maaf" Ucap Evan menyesal.
"Aku tidak mau membahasnya lagi kak... aku ingin melupakan semuanya, dan memulai semua dari awal..." Narda.
Evan mengangguk paham, semua orang merasa lega karena Narda baik baik saja. Sesuai janji mereka pada Narda mereka berusaha untuk tidak membunuh kecuali dalam keadaan yang benat benar terpaksa.
Hari hari dijalani oleh Narda seperti biasanya. Narda benar benar ingin memulai semuanya dari awal seperti dulu saat dia tidak tau apa apa, keadaan Narda juga sudah lebih baik dari sebelumnya tapi rencana kepulangan Narda ke Indonesia harus dibatalkan lebih dulu.
"Adek" Andrean baru saja pulang dari kantor dan langsung menghampiri Narda yang sedang berdiri disamping kolam ikan.
"kau sedang apa? disini sangat dingin" Andrean melepaskan jas yang ia pakai dan memakaikannya pada Narda.
"ikannya ada yang mati kak" Sahut Narda sembari menunjukan ikannya yang sudah mati dan dimasukan ke dalam ember.
"Mati? kenapa?" Andrean yang tidak mengerti apapun tentang ikan hanya bisa menatap bingung.
"Tidak tau" Sahut Narda sedih dengan wajah cemberut, Andrean hanya tersenyum kecil lalu membawa Narda ke dalam pelukannya.
"sayang ini musim dingin salju juga turun dengan lebat mungkin saja ikannya mati karena kedinginan, nanti kita beli ikan lagi okay?" Andrean.
"Kak... tadi aku diperiksa lagi sama kak Evan" Ucap Narda lirih sembari meletakan kepalanya didada Andrean.
"Lalu bagaimana hasilnya?" Andrean ingin memastikan.
"Gula darah ku masih sangat rendah... katanya kalau sampai beberapa hari ke depan aku tidak membaik aku harus dirawat dirumah sakit" Sahut Narda sembari memainkan kancing baju Andrean.
__ADS_1
"Tidak apa apa sayang... kau pasti akan baik baik saja, Narda De Wilson adalah anak yang sangat kuat dan hebat" Andrean.
Narda tersenyum dan mengangguk pelan. Andrean merangkul Narda membawanya masuk ke dalam mansion karena salju turun semakin lebat.
Narda mengajak Andrean duduk diruang tv untuk menemaninya menonton kartun kesukaannya. Sebenarnya Narda ingin ke lab untuk menemui Arthur dan Evan tapi dia mengurungkan niatnya karena dilarang oleh Andrean.
Narda beranjak dan mengambil air putih hangat untuk Andrean. Narda memang sering melakukan itu mengambilkan minum atau cemilan untuk kakak kakaknya.
"Adek duduk saja sayang, adek tidak usah melakukan ini kan ada maid" Andrean sedikkit kesal.
"tidak apa apa kak lagian seharian ini adek cuman diam saja, adek bosan" Sahut Narda dengan nada manja.
Andrean terkekeh dan mencubit pipi Narda gemas. Narda mengambil buku pelajarannya dan meminta Andrean mengajarinya mengerjakan tugas.
Narda terlihat lebih ceria dari pada beberapa hari lalu. Tapi setelah kejadian itu Karina meminta maid untuk tidak meletakan pisau disembarang tempat.
"Adek" Jason datang dan langsung menghampiri Narda.
Jason baru saja pulang dari kantor dengan membawa buah buahan kesukaan Narda. Jason menggendong Narda ala ibu koala dan mencium pipi sang anak berulang kali.
"Hahaha papa geli" Narda tertawa keras saat kumis tipis Jason mengenai wajahnya.
"Papa membawakan mu semua buah buahan yang kau suka" Jason.
"Papa adek kangen" Narda selalu bersikap manja pada Jason dan ini bukanlah yang pertama kalinya.
"Papa juga kangen adek" Sahut Jason sembari memeluk Narda.
Jason membawa Narda untuk bermain diayunan yang ada diteras samping Mansion. Jason mendorong pelan Ayunan Narda, Narda menikmati setiap momen kebersamaannya dengan Jason karena akhir akhir ini Jason terlalu sibuk dan mereka hanya memiliki sedikit waktu untuk bersama.
"Papa" Narda menghentikan ayunannya dan menatap Jason.
"Iya?" sahut Jason lembut.
__ADS_1
"Adek punya satu impian..." Narda.
"Benarkah? impian apa itu coba katakan sama papa" Sahut Jason dengan sangat berantusias mendengarkan anak bungsunya ini.
"Adek ingin pergi ke pantai bersama semua anggota keluarga kita, melihat matahari terbenam dan juga menghitung bintang saat malam...
Adek pernah baca satu buku katanya kalau kita bisa menghitung bintang sampai dihitungan yang ke seribu maka doa dan harapan kita akan dikabulkan" Sahut Narda dengan tersenyum lebar.
"Adek mau pergi ke pantai untuk menghitung bintang? memangnya adek punya permohonan apa? adek mau mainan? atau mau uang jajan tambahan? bilang saja sama papa akan papa kasih apa saja untuk adek.
Tidak usah sampai percaya mitos seperti itu sayang. Karena yang ada nanti adek capek dan kalau harapannya adek tidak terkabul nanti adek malah kecewa" Sahut Jason sembari membawa Narda ke gendongannya.
"Tidak papa bukan itu! Adek punya permohonan yang cuma tuhan yang bisa mengabulkan, adek tidak mau mainan juga tidak mau uang... lagi pula keinginan adek itu tidak selalu tentang uang papa" Narda meletakan kepalanya dibahu Jason.
Jason menghela nafas panjang dan tersenyum. Jason mengusap lembut kepala Narda dan mencium pipi sang anak.
"Ya sudah kalau itu memang yang adek mau tapi kita ke pantainya nanti ya setelah semua urusan papa dan anggota keluarga yang lainnya selesai
Dan yang terpenting adalah setelah keadaan adek kembali sehat. Ingat kata kak Evan adek masih harus banyak istirahat dan tidak boleh sampak kelelahan, okay?" Sahut Jason mencoba menjelaskan dengan selembut mungkin.
Narda mengangguk paham tak lama angin berembus membuat Narda kedinginan. Narda sampai terbatuk karena sangking dinginnya, Jason membawa sang anak masuk karena khawatir Narda masuk angin.
"Pa kenapa anginnya kencang sekali? apa akan ada badai salju lagi?" Tanya Narda penasaran.
"Mungkin saja begitu nak tapi tidak apa apa kita aman dan akan tetap hangat didalam mansion" Sahut Jason sembari mendudukan Narda dipangkuannya.
Narda hanya mengangguk dan kembali meletakan kepalanya didada bidang Jason. Setiap kali Narda meletakan kepalanya didada Jason hal yang paling disukai oleh Narda adalah dia dapat mendengar detak jantung Jason.
"Papa adek bisa dengar detak jantung papa..." ucap Narda membuat Jason tersenyum lebar sungguh anak bungsu keluarga De Wilson ini sangatlah menggemaskan.
Karina melihat pemandangan indah ayah dan anak itu dari jauh. Karina sangat bersyukur karena Narda hadir didalam hidup mereka dan menjadi bintang penerang dalam gelapnya kehidupan mereka sebelumnya.
"Terimakasih karena telah hadir didalam kehidupan kami Narda, hadir mu adalah kebahagiaan terbesar yang dianugerahkan tuhan untuk mama, papa dan kami semua nak" Ucap Karina didalam hati sembari menatap suami dan anak bungsunya itu.
__ADS_1