
"Pa ada tamu yang mencari papa, berikan Narda pada ku" Andrean datang menghampiri Jason.
"Siapa?" Jason.
Andrean hanya diam dan menggelengkan kepalanya memberikan isyarat jika dirinya tidak bisa menyebutkan nama orang itu dihadapan Narda. Jason yang mengerti maksud Andrean pun mengangguk.
"Adek sama kakak dulu ya, papa ada tamu sebentar" Jason.
"Iya papa" Narda setuju dan berpindah ke gendongan Andrean.
Jason segera berlalu pergi untuk menemui tamu itu. Andrean membawa Narda berjalan jalan sedikit agar sang adik tidak bosan.
"Sinar matahari pagi sangat bagus untuk kesehatan adek" Andrean.
Jason berjalan ke ruang tamu dan ternyata Hendery juga sudah berada disana untuk menyambut tamu itu. Tamu yang dimaksud tidak lain adalah Edwin musuh Jason dan Hendery sekaligus anak dari Johan dari wanita selingkuhannya yang entah ke berapa.
"Wah sungguh kejutan yang menarik ada tamu tidak diundang yang datang ke mansion ku" Jason.
"Aku datang untuk menjemput ayah, aku tau dia masih hidup dan berada ditangan mu!" Edwin.
Jason menatap Hendery dan keduanya tersenyum. Jason kemudian duduk disamping Hendery, mereka sama sekali tidak menunjukkan jika baru saja terjadi perselisihan diantara mereka dihadapan Edwin.
"Patua itu memang ada ditangan kami tapi memangnya apa untungnya bagi kami memberikan patua itu pada mu?" Hendery.
"Hendery kau jangan keterlaluan aku lebih tua dari mu!" Edwin.
"Aku sama sekali tidak perduli Edwin! Kau datang kesini pasti punya tujuan lain selain membahas tentang patua itu!" Hendery.
"Aku tidak punya waktu untuk berbasa basi dengan mu Edwin, cepat katakan apa tujuan mu dan pergilah dari sini" Jason.
"Kalian berdua jangan kurang ajar biar bagaimana pun juga aku adalah kakak kalian!" Edwin marah.
"Jangan meninggikan suara mu pada adikku atau ku buat kau bisu selamanya! kau bukanlah kakak kami lagi pula kakak macam apa yang berusaha menghabisi adik adiknya sendiri?!" Hendery.
__ADS_1
"Aku datang untuk membicarakan tentang warisan! Erika sudah mati dan hanya kita bertiga anak ayah yang masih tersisa jadi tentu saja kita harus membicarakan tentang warisan ini" Edwin.
"Kami tidak tertarik dengan harta warisan patua itu karena harta yang kami miliki seratus kali lipat lebih banyak darinya, jika kau mau ambil saja tidak usah diskusi lagi" Jason.
"kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan silahkan pergi, kami masih punya banyak pekerjaan" Hendery.
Hendery dan Jason meninggalkan ruang tamu membiarkan Rega dan Leo mengurus tamu tak diundang itu. Edwin diusir oleh Rega dan Leo tentu saja Edwin pergi dengan marah.
"Aku akan pergi ke kantor" Ucap Hendery yang kemudian berlalu pergi.
Jason hanya diam dia tidak me jawab ucapan sang kakak. Jujur saja saat ini Jason masih kecewa dengan apa yang dilakukn oleh Hendery pada Narda, karena itulah Jason lebih memilih untuk diam.
Jason kembali ke halaman belakang dan melihat Narda yang sedang disuapi oleh Evan. Narda masih berada didalam gendongan Andrean dan Evan menyuapinya bubur dengan telaten dan hati hati agar sang adik tidak tersedak.
"Biarkan mereka berdua menjaga adiknya, kau juga harus istirahat..." Karina memegang tangan Jason.
"Baiklah... tapi jika nanti Narda menangis atau mencari ku, segera bangunkan aku dikamar" Sahut Jason sembari tersenyum.
setelah makan Narda dibawa kembali ke kamarnya oleh Andrean untuk mandi dan ganti baju. Karena Narda masih demam Andrean hanya mengelap tubuh Narda dengan air hangat dan mengganti bajunya dengan piyama lain.
"Kakak..." Narda.
"Iya?" Andrean.
"papi dimana?" Tanya Narda membuat Andrean dan Evan saling beradu pandangan.
"Papi sedang dikantor sayang, adek mau bertemu papi?" Evan.
Narda menunduk dan memeluk boneka yang dia pegang. Narda memang merindukan Hendery tapi ketakutan dihatinya lebih kuat membuat Narda ragu untuk mengatakannya.
"Adek sayang kenapa? adek tidak apa apakan?" Evan menangkup wajah Narda lembut.
"Kak adek capek... adek mau tidur" Sahut Narda lirih.
__ADS_1
Andrean meletakan sisir yang dia pegang dan membaringkan Narda ditempat tidurnya. Perlahan Narda mulai menutup matanya dan tertidur, Arthur baru saja kembali dari lab dan masuk ke kamar Narda.
"Tidur lagi?" Arthur.
"Iya kak... Dia masih dalam pengaruh obat dan tadi malam dia kurang tidur jadi dia kelelahan" Sahut Evan.
"Kalian istirahatlah aku akan menjaganya, kalian berdua juga terlihat sangat lelah" Arthur.
Andrean dan Evan setuju dan pergi ke kamar mereka masing masing untuk istirahat. Arthur menemani Narda dikamarnya, Arthur memegang tangan Narda dan mengusapnya pelan.
Narda tiba tiba terbangun dan melihat Arthur yang berada disampingnya. Narda menatap Arthur dengan tatapan penuh arti.
"kenapa adek melihat kakak seperti itu? adek mau bicara?" Arthur bertanya dengan lembut.
"Kakak... sebenarnya kak Miranda itu siapa? Dia selalu datang ke mimpi adek dan bilang kalau adek tidak boleh ikut dengannya" Sahut Narda lirih, Arthur tersenyum lalu mengecup kening Narda dengan sayang.
"Miranda adalah adik perempuan kami... papi mengadopsi Miranda tepat satu tahun setelah papa mengadopsi Jevan, tapi hari itu beberapa tahun setelah kami mengadopsi Miranda kami mendengar berita tentang kematian Jevan dan bergegas menuju kesini untuk menghadiri ucapacara pemakaman Jevan
Tapi saat diperjalanan mobil kami mengalami kecelakaan. Miranda terlempar keluar dari mobil dan jatuh ke dalam jurang, dia meninggal diusia lima belas tahun... adik perempuan kami yang sangat cantik" Sahut Arthur menceritakan tentang Miranda.
"Kak Miranda bilang dia sangat merindukan kalian semua, kak Miranda juga bilang kalau papi sedang lelah dan perlu istirahat" Narda menceritakan apa yang dikatakan Miranda didalam mimpinya.
"Kita bicarakan itu nanti saat semua orang berkumpul diruang keluarga, sekarang adek tidur dulu ya" Arthur.
Hendery sangat pusing karena pekerjaannya yang menumpuk. Belum lagi Hendery tidak bisa fokus karena selalu memikirkan Narda, Hendery merasa sangat bersalah para Narda tapi dia tidak punya cukup keberanian untuk meminta maaf pada Narda.
Hendery menatap foto foto kebersamaannya dengan Narda. Hendery sangat merindukan Narda yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri, Hendery mengingat kembali saat saat dimana dirinya menemani Narda bermain dan belajar.
Hendery memutuskan untuk meninggalkan kantor dan pulang lebih awal untuk menemui Narda. Hendery juga membelikan boneka kelinci lucu untuk Narada, Saat Hendery datang dia melihat Narda sedang bermain dihalaman depan mansion.
Hendery turun dari mobil dan menghampiri Narda yang sedang sibuk bermain. Dengan ragu Hendery mendekati Narda dan Narda hanya menatap Hendery dengan tatapan kosong.
Hendery memberikan boneka kelinci yang dia bawa pada Narda sebagai hadiah. Narda tidak mengambil boneka itu dan malah mundur beberapa langkah menjauhi Hendery dengan raut wajah ketakutan.
__ADS_1
"adek sayang ini boneka buat adek... adek jangan takut papi sudah tidak marah lagi sayang" Hendery berusaha membujuk Narda, tapi Narda malah lari masuk ke dalam mansion dan langsung memeluk Jason yang baru saja keluar dari toilet.
"ada apa sayang? adek kenapa?" Tanya Jason bingung.