AKU ANAK HARAM!

AKU ANAK HARAM!
TERSENYUM


__ADS_3

Evan berhasil menemukan alamat apartemen tempat Zaya tinggal. Evan juga dengan sengaja membeli unit apartemen dilantai yang sama dengan Zaya agar lebih mudah untuk berkomunikasi dengannya.


Evan menekan bel pintu apartemen Zaya dan benar saja ternyata Zaya memang sedang tidak ada jadwal mengajar. Zaya terkejut karena saat dirinya membuka pintu yang berdiri dihadapannya adalah Evan, sosok pria yang masih ia cintai hingga saat ini.


"Evan? kau sedang apa disini" tanya Zaya bingung.


"Maaf mengganggu mu tapi aku disini untuk meminta bantuan mu, aku tidak akan membahas tentang hubungan kita... aku hanya datang untuk meminta mu mengajari ku tentang materi terapi psikologi untuk menyembuhkan trauma" Evan.


"Masuklah kita bicara didalam saja" sahut Zaya mempersilahkan Evan masuk.


Zaya dan Evan duduk diruang tamu dan mereka hanya bisa saling menatap. Zaya masih mencintai Evan namun Evan sudah tidak memiliki rasa itu lagi.


"Tadi kau bilang kau datang untuk belajar terapi untuk menyembuhkan trauma? kenapa?" Zaya bertanya untuk membuka pembicaraan.


"Aku ingin menyembuhkan adikku, dia memiliki trauma yang sangat dalam dengan masa lalunya dan itu membuatnya tersiksa" Evan.


"Tapi Evan bukannya adik mu sudah meninggal?" Ucap Zaya bingung.


"Memang benar adikku Jevan sudah lama meninggal, tapi keluarga kami mengadopsi anak lain... namanya Narda dan dia adalah adikku yang sekarang sedang berjuang melawan trauma masa kecilnya" Sahut Evan dengan raut wajah sedih.


"Ada begitu banyak dokter dan ahli terapi psikologi yang bisa kau temui, tapi kenapa kau mencari ku?" Zaya.


"Karena hanya kau yang bisa aku percayai... Kau tentu tau keluarga kami memiliki banyak musuh dan aku takut jika aku salah memilih orang untuk belajar itu tidak akan berakhir baik


Bisa saja orang itu memanfaatkan ku dan menggali informasi tentang keluarga kami. Bahkan hal terburuk yang aku takutkan adalah orang itu menjadikan adikku alat untuk menghancurkan keluarga kami" Sahut Evan menjelaskan.


"Aku mengerti, pasti tidak mudah menjadi diri mu karena kau harus berjuang untuk adik mu" Sahut Zaya mengerti.


"Apa kau bisa membantu ku? aku akan membayar jasa mu jika perlu, aku hanya ingin kau mengajari ku tentang terapi yang kau gunakan untuk menangani pasien mu

__ADS_1


Karena yang aku tau semua pasien mu selalu bisa sembuh dalam waktu singkat, metode terapi ini juga tidak pernah kau sebutkan saat dulu mengajar dikelas ku" Evan.


"Baiklah aku akan mengajari mu tentang metode rahasia ini, dan kau tidak perlu membayar anggap saja ini hadiah dari teman lama yang sudah lama tidak bertemu" Zaya.


Evan mengangguk setuju malam itu berlalu dengan Evan dan Zaya yang mengobrol ringan. Setelah itu Evan kembali ke apartemennya untuk istirahat, karena dia sudah sangat lelah.


Narda terbangun dan ia melihat Karina dan Jason tidur disampingnya. Karina memegang tangan Narda dan Jason memeluk Narda, awalnya Narda ingin melepaskan tangan Jason yang melingkar diperutnya karena Narda mau ke kamar mandi tapi Jason malah semakin erat memeluknya.


Karina yang seakan sadar Narda bergerak juga semakin erat menggenggam tangan sang anak. Narda menghela nafas pasrah dirinya jadi benar benar sulit bergerak.


"Mama, sama papa kenapa sih? adek mau ke toilet aja jadi susah" gumam Narda dalam hati.


Narda akhirnya memilih untuk tidur lagi dan menahan buang air kecilnya. Saat pagi Karina bangun paling awal dan langsung mencium kening Narda.


"Selamat pagi malaikat hatinya mama, semoga hari ini keadaan adek membaik ya sayang" Karina membelai kepala Narda dan menciumnya.


Jason juga masih tertidur pulas seakan tak terjadi apa apa. Karina beranjak dan tertawa dia membangunkan Jason dan menunjukan jika putra mereka mengompol jadilah mereka berdua tertawa bersama.


"Bagaimana ini? hahahah dia lucu sekali lihat dia bahkan tidak merasa terganggu hahaha" Jason tidak bisa menahan tawanya.


"Cepat gendongan dia aku akan bereskan semua ini hahaha astaga bayi besar ku sayang" Karina.


Jason dan Karina berusaha menahan tawa mereka agar Narda tidak menangis saat dibangunkan. Jason menggendong Narda yang masih tertidur dan Karina membereskan semua kekacauan itu.


Narda sama sekali tidak merasa terganggu dia malah semakin nyenyak tertidur didalam gendongan Jason. Karina membereskan tempat tidur sambil terus tertawa berbeda dengan Jason yang harus menahan tawa agar sang anak tidak terbangun.


Narda kemudian terbangun karena Jason membawanya ke balkon dan sinar matahari menyilaukan matanya. Narda mengeratkan pelukannya pada Jason menyembunyikan wajahnya diceruk leher Jason.


"Sayang ayo mandi dulu ya, papa akan memandikan mu ya?" Jason.

__ADS_1


Narda hanya mengangguk pelan Jason langsung membawa sang anak ke kamar mandi dan memandikannya. keadaan Narda sedikit membaik dia tidak terlihat murung seperti kemarin tapi tetap saja Narda tak mau bicara dan hanya diam saat diajak bicara.


Setelah mandi Jason memakaikan minyak telon dan bedak ditubuh Narda baru memakaikan baju piyama pada sang anak. Karina sudbah selesai membereskan tempat tidur dan memeluk Narda yang sudah bersih dan wangi.


"anak mama sudah wangi sekarang waktunya sarapan, ayo kita sarapan dulu ya nak" Karina.


Narda hanya mengangguk dan Jason segera menggendong Narda menuju ruang makan. Seperti biasa Narda duduk ditengah tengah antara Jason dan Karina, yang spesial untuk hari ini adalah Andrean yang memasak sarapan.


Andrean mengambilkan makanan untuk Narda. Saat Karina ingin menyuapi Narda, Narda menolak dan menatap Andrean.


"adek makan dulu ya sayang?" Karina.


"Andrean... dia ingin kau menyuapinya" Ucap Jason yang mengerti isi hati Narda.


Andrean sangat senang dia langsung mengambil Narda untuk duduk dipangkuannya dan mulai menyuapi Narda. Andrean senang sang adik tidak takut lagi padanya.


"Adek ini nasi goreng kesukaan adek kan? kakak masak sendiri loh" ucap Andrean menyombongkan diri.


Narda tersenyum membuat semua orang tercengang karena sudah beberapa hari ini mereka sama sekali tidak melihat Narda tersenyum. Karina dan Jason seakan tak percaya melihat Narda kembali tersenyum.


"Adek sayang adek senyum? adek happy?" Tanya Karina yang mendapatkan anggukan kecil dari Narda.


Jason langsung beranjak dan mencium kening Narda. Hatinya sangat bahagia karena sang anak kini sudah mulai bisa merespon apa yang mereka katakan.


Andrean memeluk Narda sangking bahagianya mereka sampai meneteskan air mata. Setelah sarapan selesai Andrean membawa Narda untuk jalan jalan disekitar mansion, Narda duduk dikursi roda dengan selang oksigen yang masih terpasang dihidungnya.


Andrean yang mendorong kursi roda Narda dari belakang dengan tabung oksigen kecil Narda juga berada dibagian belakang kursi roda mereka berjalan menyusuri hutan kecil yang ada didalam lingkungan mansion.


"Adek lihat ada jamur" Andrean membawa Narda melihat jamur itu dari dekat.

__ADS_1


__ADS_2