
Narda melepaskan tangan Jason darinya dan menatap Qinshan tajam. Narda tidak merasa takut sedikit pun dengan laki laki yang kini berada dihadapannya ini, Narda duduk dengan menyilangkan kakinya hal itu membuat Narda tampak anggun dan menawan.
Qinshan semakin penasaran dengan anak yang ada dihadapannya ini karena Narda begitu berani menatap balik dirinya dengan tajam. Qinshan beranjak dan ingin menghampiri Narda tapi dengan cepat Arthur, Andrean, dan Evan berdiri dihadapan sang adik melindunginya dari pandangan Qinshan.
Ketiga pemuda itu mengangkat senjata mereka pada Qinshan. Anak buah Qinshan juga mengangkat senjata mereka, Jason dan Hendery hanya tersenyum.
Narda beranjak dan menenangkan ketiga kakaknya, Narda juga menyuruh ketiga kakaknya menurunkan senjata mereka. Narda mendekati Qinshan dan mentap mata pria yang jauh lebih tinggi dari dirinya itu.
"Jangan bersikap tidak sopan ini mansion ku, jika kau bertindak kurang ajar aku tidak akan menjamin kau keluar dari mansion ini hidup hidup" Ucap Narda dengan tersenyum dingin.
Qinshan sempat heran karena anak sekecil Narda sudah berani mengancam dirinya. Tapi Qinshan hanya tersenyum dan berjalan mundur untuk kembali ke tempat duduknya.
Narda dan ketiga kakaknya juga kembali ke tempat duduk mereka. Jason tersenyum bangga dengan keberanian putra bungsunya.
"Qinshan aku dan kakak ku tidak tertarik lagi dengan dunia bawah, kami sudah memutuskan untuk berhenti" Jason.
"Kalian adalah raja mafia yang paling ditakuti dan kalian ingin pergi begitu saja? hei ku rasa kalian terlalu pengecut" Qinshan.
"Jaga mulut mu tuan sebelum kau menyesal" Andrean.
"Wah ku rasa anak anak mu harus diajari sopan santun Jason." Qinshan.
"Bukan anak anakku yang harus diajari sopan santun tapi kau yang harus belajar menjaga sikap mu ketika bertamu" Sahut Jason dingin.
"Kami tidak tertarik lagi dengan dunia bawah karena kami ingin melihat indahnya dunia luar, meski kami meninggalkan dunia mafia tapi kami akan selalu di ingat karena kami adalah legenda yang tidak akan terlupakan oleh dunia bawah" Hendery.
"Jika aku tidak bisa mengajak kalian bekerja sama dengan cara baik baik mungkin aku harus memaksa kalian" Qinshan.
"Memaksa?! Bagaimana cara mu akan memaksa kami? kau pikir akan semuda itu?" Jason.
Qinshan terlihat marah dan melemparkan sebuah kotak kayu kecil ke meja ruang tamu. Narda marah dengan tindakan tidak sopan Qinshan.
"Isinya adalah emas hitam yang berharga aku masih punya banyak, akan ku berikan semua pada kalian asalkan kalian mau bekerja sama dengan ku" Qinshan.
Narda berdiri dan mengambil kotak itu lalu melemparkan kotak itu ke arah Qinshan hingga mengenai dahi Qinshan sampai berdarah.
__ADS_1
"Aku sudah memperingatkan mu jaga sikap mu dihadapan ayah ku, tapi kau sangat keterlaluan! sekarang kau malah ingin menyuap ayah ku dengan benda murahan ini?!" Marah Narda.
Qinshan marah dan menodong Narda dengan pistol Jason dan Hendery naik pitam. Mereka beranjak di ikuti oleh ketiga putra tertua mereka, Jason menggenggam tangan Narda.
"BERANINYA KAU QINSHAN!" Bentak Jason marah.
"Kau berani menodongkan senjata mu pada anakku maka kau sudah mengibarkan bendera permusuhan pada kami" Hendery.
"Papa disini jangan takut nak" Jason memeluk Narda dan menatap Qinshan marah.
nyali Qinshan menciut dia sadar jika dirinya tidak akan menang jika melawan kedua kepala keluarga ini. Qinshan menurunkan senjatanya dan meminta maaf tapi nasi sudah menjadi bubur, Hendery dan Jason mengusir Qinshan secara tidak terhormat.
"Jika aku sampai melihat wajah mu lagi, aku akan menghabisi mu!" Jason.
Qinshan meninggalkan Mansion De Wilson dengan marah. Narda menatap Qinshan tajam.
"Aku tidak suka dia" Narda.
"Andaikan kau tau siapa sebenarnya dia, papa takut kau akan berubah nak" ucap Jason dalam hati.
"Papa kenapa?" Narda bertanya dengan suara lembutnya.
"Tidak apa apa nak kalian berempat pergi saja ke kamar masing masing dan istirahat" Jason.
Mereka pun menurut dan pergi ke kamarnya masing masing. Saat dikamar Narda masih teringat dengan wajah Qingshan, entah kenapa tapi Narda sangat membenci pria itu.
Narda berdiri dibalkon kamarnya dan menatap pemandangan langit yang indah. Sesaat Narda teringat pada masa kecilnya, dulu Narda akan berbaring dilantai balkon menatap langit sembari meminum susu didalam botol dot kesayangannya.
"Waktu berlalu dengan cepat sekarang aku sudah beranjak dewasa, tuhan memberikan aku hidup yang tak mudah tapi aku bertahan hidup dengan baik...
Terkadang aku bertanya kenapa aku hidup seperti ini? dan aku masih penasaran apa lagi yang sedang disiapkan tuhan untukku dimasa depan?" Narda.
Narda tersenyum dan duduk disofa yang ada dibalkon kamarnya. Dari atas balkon Narda melihat Luis yang sedang berlatih pedang, Luis adalah tangan kanan Viola yang sudah seperti keluarga untuk Viola.
"Paman Luis!" Narda berteriak dari atas balkon.
__ADS_1
Luis menghentikan kegiatannya dan melihat ke arah Narda. Luis menunduk hormat pada Narda, meski hubungan Narda dan Luis seperti paman dan keponakan tapi tentunya Luis tidak akan bisa lupa jika Narda adalah anak majikannya.
Narda tersenyum dan masuk kembali ke kamarnya. Narda berjalan keluar pintu kamar dan menghampiri Luis, Narda memang sangat dekat Luis bagi Narda Luis adalah orang yang sangat baik dan lembut.
"Paman kau tau dimana mama dan mami?" Tanya Narda penasaran.
"Mereka ada dimansion apakah kau tidak bertemu dengan mereka?" Luis.
"Tidak aku belum bertemu dengan mereka" Sahut Narda jujur.
"Baiklah nanti ku antar bertemu mereka" Luis.
"Terimakasih paman" Narda.
Luis hanya mengangguk dan tersenyum, saat Luis ingin kembali berlatih Narda memegang tangan Luis dan mengajaknya untuk duduk dikursi kayu yang ada disana. Narda menyuruh maid mengambilkan minum untuknya dan Luis.
"Paman apa kau punya impian?" Tanya Narda penasaran.
"Impian? eum... ku rasa aku tidak punya" Sahut Luis dengan cepat.
"Benarkah? paman benar benar tidak punya impian?" Narda.
"dulu aku punya impian namun tuhan sudah merenggut impian ku" Luis.
"Paman?" Narda.
"Dulu impian ku adalah hidup bahagia didesa bekerja menjadi petani dan hidup bersama anak dan istri ku...
Tapi semuanya hancur saat istri ku yang sedang hamil sembilan bulan dan akan segera melahirkan dibunuh oleh bajingan itu!
Aku putus asa dan hampir bunuh diri tapi Nyonya Viola datang menyelamatkan ku. Dia juga membantu ku untuk balas dendam pada bajingan itu, dan untuk membalas budi baiknya aku bekerja sebagai tangan kanannya
ku kira hidup ku adalah yang paling menyedihkan tapi saat aku melihat sendiri kehidupan nyonya Viola aku sadar penderitaan ku tidaklah seberapa jika dibandingkan dengannya" Luis.
"Apa yang sudah terjadi pada mami ku?" Tanya Narda sedih dan penasaran.
__ADS_1