
Jason sampai dikebun binatang, dia melihat Narda dari kejauhan. Narda sedang melihat seekor kera dari balik dinding kaca, tawa bahagia anak itu terlihat begitu cerah.
Karina membiarkan sang anak melihat kera itu dari dekat karena ada dinding kaca yang melindungi mereka. Narda tertawa saat kera itu melambaikan tangan mereka pada Narda, senyuman Karina terukir begitu jelas.
"Sayang mama rela melakukan apapun asalkan kau terus tersenyum seperti ini nak" Ucap Karina dalam hati.
"Mama kenapa kera itu punya tangan seperti kita?" Narda.
"Mama juga tidak tau... begini saja nanti adek tanyakan saja pertanyaan ini sama kakak Evan dan kakak Arthur" Sahut Karina sembari mengusap wajah sang anak.
Narda mengangguk lucu saat Narda berjalan sedikit menjauh dia melihat Jason ada disana. Saat melihat Jason disana Narda sangat bahagia, Narda berlari ke arah Jason.
Jason merentangkan tangannya membiarkan Narda masuk ke dalam pelukannya. Jason menangkap tubuh mungil Narda dan langsung menggendongnya.
"Kau senang?" Tanya Jason sembari mencubit pelan pipi Narda.
"Papa ada banyak binatang yang adek suka, apa harus adek tulis semua?" Narda bertanya dengan menatap Jason penuh harap.
"Tulis saja semuanya tidak apa apa" Sahut Jason sembari tersenyum.
"Bagaimana kau tau kami disini? bukannya aku tidak memberitahu mu?" Tanya Karina bingung.
"Tadi adek yang kasih tau papa, tadi adek telpon papa" Sahut Narda jujur.
Jason terkekeh dan mencium pipi gembul Narda. Karina dan Jason menggandeng tangan Narda membawa sang anak melihat kelinci kelinci lucu dan memberi kelinci itu makan ditemani oleh petugas kebun binatang.
"Mama, papa adek mau pelihara kelinci juga dimansion boleh ya?" Narda.
"Boleh saja" Jason.
"Yeay! makasih papa makasih mama" Narda bersorak gembira dan menciup pipi Jason dan Karina bergantian.
Narda bermain dengan kelinci kelinci itu sedangkan Karina dan Jason hanya berdiri tak jauh dari sang anak. Jason merangkul Karina mesra.
"Anak kita sangat manis" Karina.
"Seandainya hari itu aku tidak membawanya mungkin hari ini kita tidak akan merasakan kebahagiaan ini" Jason.
__ADS_1
"Dia adalah bintang hati kita, bintang yang menerangi gelapnya keluarga kita" Karina.
Jason mengecup bibir Karina sekilas dan tiba tiba mereka dikejutkan dengan tngisan Narda. Jason bergegas menghampiri sang anak ternyata Narda terjatuh dan kepalanya terbentur ujung runcing sisi kandang kelinci itu hingga berdarah.
"Narda! Sayang lihat papa jangan tutup mata mu sayang!" Jason panik bukan main karena Narda menangis tapi dengan mata tertutup.
Jason menggendong sang anak dan bergegas membawanya ke rumah sakit terdekat. Narda masih menangis tapi dia tidak mau membuka matanya, Karina juga sangat panik dan tidak mau melepaskan tangan sang anak.
Saat dirumah sakit Narda tiba tiba pingsan dan membuat Jason semakin panik. Narda segera dilarikan ke IGD, tidak memakan waktu lama dokter yang menangani Narda keluar dari ruangan dan menghampiri Jason.
"Dokter bagaimana keadaan anak saya? apa dia baik baik saja?" Jason.
"Tuan jangan khawatir anak anda baik baik saja, luka dikepalanya hanya luka kecil dan mendapatkan tiga jahitan saja... Anak anda sudah boleh pulang tidak diharuskan rawat inap" Dokter.
Jason dan Karina akhirnya bisa bernafas lega karena Narda baik baik saja. Karina dan Jason segera masuk ke dalam ruangan untuk melihat keadaan anak mereka, Narda sudah sadar tapi dia terlihat lemas Jason bergegas menggendong sang anak untuk segera dibawa pulang.
"Papa... adek tadi tidak jatuh tapi didorong orang" Ucap Narda sembari menyembunyikan wajahnya diceruk leher Jason.
Jason yang mendengar pengakuan sang anak langsung memberikan perintah pada anak buahnya untuk memeriksa cctv kebun binatang tadi dan mencari tau siapa yang berani mendorong Narda hingga membuat sang anak terluka.
"Orang itu sedang menjemput mautnya sendiri!" Gumam Karina dalam hati.
Saat sampai dimansion Hendery dan yang lainnya sangat terkejut karena melihat Narda pulang dalam keadaan terluka karena sebelumnya mereka tidak diberitau apapun oleh Jason dan Karina.
"Papa ada apa ini?! kenapa dia terluka?!" Tanya Arthur bingung.
"Dia terjatuh saat bermain dikebun binatamg dan terluka" Sahut Jason mencoba menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
"Papa bohong kak... adek tidak jatuh tapi adek didorong orang" Sahut Narda mengadu pada Arthur.
"Papa!..." Arthur.
"Maaf papa hanya tidak ingin kalian bertiga khawatir apa lagi kalian baru saja menyelesaikan tugas berat dan harus istirahat" Sahut Jason mengakui kesalahannya.
"Aku akan kabari Andrean tentang ini, dia juga harus tau jika Narda terluka" Sahut Arthur sembari mengambil Narda dari gendongan Jason.
Arthur membawa Narda ke dalam gendongannya dan menuju ruang medis. Arthur memeriksa keadaan Narda ditemani oleh Evan, untungnya tidak ada yang serius dengan keadaan Narda karena jika tidak Arthur pasti akan mengamuk.
__ADS_1
"adek masih sakit?" Tanya Evan khawatir sembari mengusap lembut wajah Narda.
"Masih kak... kepala adek sakit sekali" Sahut Narda dengan nada suara manja.
"Tidak apa apa lukanya sudah diobati dengan baik adek akan segera sembuh, sekarang adek hanya harus banyak istirahat dan minum obat tepat waktu" Evan tersenyum dan mencium pipi Narda.
"Evan malam ini aku akan melanjutkan penelitian dilab dan mungkin akan menginap juga disana, kau jaga Narda hati hati lukanya masih baru jangan sampai terkena air" Arthur.
"Iya kak aku juga tau kalau lukanya masih baru, dan kak apa menurut mu ada yang aneh dengan bunga mawar biru itu?" Evan.
"kita akan segera tau setelah hasil penelitiannya keluar, malam ini fokus mu hanya untuk Narda tidak boleh terbagi" Arthur.
"iya kak aku mengerti" Sahut Evan sembari tersenyum.
Evan membawa Narda ke kamarnya lalu mengelap tubuh Narda dengan air bangat dan mengganti baju Narda dengan piyama lucu kesukaan Narda. Setelah selesai Evan membiarkan sang adik duduk didalam pangkuannya.
"Kakak..." Narda.
"Iya ada apa dek?" Evan.
"Kak kenapa adek pendek? kalian begitu tinggi tapi kenapa adek pendek? bahkan adek jauh lebih pendek dari pada mama" Ucap Narda dengan tatapan mata sayu.
"Itu karena faktor genetik sayang, jaringan sel setiap orang berbeda sehingga pertumbuhannya juga berbeda beda adek masih kecil masih lima belas tahun nanti kalau adek sudah dewasa pasti akan bertambah tinggi
Sekarang adek masih masa pertumbuhan nanti perlahan lahan adek akan tumbuh dewasa dan jadi semakin tinggi, semakin pintar, semakin tampan, dan semakin kuat" Sahut Evan sembari mengusap usap punggung kecil Narda.
"Kak kalau nanti adek sudah dewasa adek harus jadi apa? apa adek akan terlibat dengan bisnis keluarga kita juga? apa adek harus bertarung dengan musuh juga seperti kalian?" Narda bertanya dengan polosnya sembari memainkan kancing piyama evan
"Kakak juga tidak tau sayang... tapi selama aku masih hidup aku tidak akan membiarkan mu terluka, kami semua akan berjuang melindungi mu" Evan.
"Setiap malam adek terbangun dan duduk dibalkon... adek selalu berpikir apa kita bisa hidup seperti orang biasa?
Dulu waktu adek masih kecil adek sering lihat kehidupan orang orang didesa, mereka terlihat bahagia dan hidup sederhana" Narda.
"Apa adek tidak bahagia bersama kami?" Tanya Evan yang membuat Narda langsung menatapnya.
"Adek bahagia sangat bahagia karena memiliki kalian keluarga yang sangat menyayangi adek, tapi kadang adek takut... adek takut kehilangan kalian" Narda.
__ADS_1