
Narda mengurung dirinya dikamar selama berjam jam. Jason dan yang lainnya sudah berusaha membujuk Narda bergantian namun anak itu tetap saja tidak mau bicara apa lagi membuka pintunya.
Narda duduk dikarpet bulu kesayangannya dan bersandar ditempat tidur. Narda benar benar tidak bisa memikirkan apapun dia seakan sudah dikuasai oleh kesedihan dan ketakutannya, Narda hanya melamun dan menangis.
Narda berjalan ke arah meja riasnya Narda mengambil vas bunga kesayangannya yang ada diatas meja itu dan langsung melemparkan vas bunga itu ke kaca meja riasnya.
"Hancur..." Ucap Narda lirih sembari tersenyum dan meneteskan air mata diwaktu yang bersamaan.
Jason dan yang lainnya juga mendengar suara pecahan kaca itu dari luar. Jason dan Hendery saling beradu pandangan dan langsung mendobrak pintu itu, tapi usaha mereka sia sia karena pintu diseluruh mansion itu dibuat secara khusus untuk kuat dan tahan dari segala bentuk benturan bahkan anti peluru.
Arthur ingat kunci kamar Narda ada dikamarnya, Arthur bergegas untuk mengambil kunci cadangan dan membuka pintu kamar Narda. Mereka melihat Narda sedang duduk dimeja riasnya dengan keadaan kaca yang sudah hancur, Jason langsung menghampiri Narda dan menggendong Narda untuk menjauh dari pecahan pecahan kaca itu.
"Papa... aku merusak kacanya" Lirih Narda berucap pada Jason.
"Tidak apa apa sayang nanti maid akan membereskannya, nanti kita ganti kacanya dengan yang baru" Sahut Jason sembari mengeratkan pelukannya pada Narda.
Jason membawa Narda duduk ditempat tidurnya. Narda hanya diam dan tidak banyak bergerak.
"Papa tangannya..." Ucap Evan lirih.
Jason memeriksa tangan Narda dan melihat telapak tangan Narda yang masih menggenggam pecahan kaca. Narda menggenggam erat pecahan kaca itu hingga tangannya terluka dan darah menetes dari sela sela jari Narda.
Evan memberikan isyarat pada Jason untuk tidak memaksa Narda melepaskan pecahan kaca itu melainkan harus bicara perlahan dan lembut.
"Semuanya keluar dari sini biarkan aku dan Evan yang bicara dengan Narda" ucap Jason memberikan perintah, mereka setuju dan meninggalkan kamar Narda tapi mereka tidak menutup pintu kamar itu.
"adek... adek baik baik saja?" Evan duduk dikarpet dan memegang tangan Narda lembut.
Narda tetap diam saja dia tidak mengatakan apa apa. Narda hanya menatap Evan dengan tatapan kosong dan tersenyum, Evan mengusap wajah Narda dan menatap wajah Narda dengan tatapan berkaca kaca.
__ADS_1
"adek lepaskan... berikan pada kakak" Evan.
Narda tersenyum tapi air matanya tiba tiba menetes begitu saja. Narda justru semakin erat memegang pecahan kaca itu, Jason dan Evan sampai dibuat panik.
"Adek sayang jangan nak, jangan sayang jangan lakukan ini nak" Ucap Jason memeluk tubuh Narda erat.
"Apa yang adek rasakan sayang? adek kenapa?" Jason.
"Adek tidak tau pa... adek lelah, adek takut, adek sakit... hiks hiks hiks papa adek kenapa? adek mau lepas dari semua ini papa! Papa tolong adek! adek mau hidup pa hiks hiks adek mau hidup!" Narda menangis kencang tapi tubuhnya sangat lemas.
Evan memanfaatkan waktu itu untuk mengambil kaca yang ada ditangan Narda. Evan menyuruh maid mengambilkan kotak obat dan bergegas mengobati tangan Narda, setelah selesai Evan menyuntikan obat penenang pada Narda.
Narda tertidur karena pengaruh obat, Jason membaringkan Narda ke tempat tidur dan menyelimutinya. Jason menggenggam erat tangan Narda dan mencium kening sang anak.
"Evan papa tau kau juga lelah dan tertekan dengan semua ini, tapi papa berharap kau bersabar dan tetap menjaga adik mu" Jason.
"Papa jangan khawatir aku baik baik saja" Evan.
"Tanpa ku sadari saat ini anakku yang dulu masih sangat kecil kini sudah dewasa, kau menjadi pria dewasa yang hebat dan tangguh...
Terimakasih Evan kau sudah bekerja keras dan bertahan sejauh ini nak" Jason.
"Papa aku bisa kuat karena ada diri mu disamping ku, kau sudah membuat ku menjadi tangguh..." Evan.
Jason memeluk erat Evan dan menyuruh Evan untuk segera tidur disamping Narda. Jason memegang tangan Evan hingga sang anak tertidur.
Setelah Evan dan Narda tidur Jason pergi ke ruangan medis disana ada Karina yang sedang menemani Andrean.
"Istirahatlah aku akan menemaninya" Jason.
__ADS_1
"Bagaimana dengan mu apa kau baik baik saja? Narda dan Evan bagaimana?" Karina.
"Aku baik baik saja, kita harus baik baik saja untuk anak anak" Jason memeluk Karina erat membiarkan sang istri menangis didalam pelukannya.
Karina memang seorang wanita yang tangguh tapi dia tetaplah seorang ibu. Hati ibu mana yang tidak hancur setelah semua hal buruk yang terjadi dan menimpa anak anaknya, Karina menangis melepaskan semua kesedihannya didalam pelukan Jason suami yang sangat ia cintai.
"Jangan menangis sayang... pergilah ke kamar Narda, Evan juga ada disana akan lebih baik jika kalian tidur dikamar yang sama
Evan membutuhkan kita untuk bisa menguatkannya. Evan juga lelah dan sedih kau pasti lebih mengerti dia dari pada aku" Jason.
"Eum... jaga Andrean dia masih demam tinggi" Karina.
Jason mengangguk setelah Karina pergi dari ruangan medis Jason duduk disamping Andrean. Jason menggenggam tangan Andrean dan mengusap tangan Andrean lembut.
Jason tetap terjaga dan mengecek suhu tubuh Andrean. Jason bernafas lega karena suhu tubuh Andrean sudah normal, tak lama Andrean terbangun dan menatap Jason.
"Papa ada apa?" Tanya Andrean lirih, Jason hanya tersenyum dan tetap menggenggam tangan Andrean.
"Tidak apa apa hanya saja papa baru menyadari sesuatu, ternyata anak papa sudah dewasa kau sudah begitu dewasa tapi kenapa dimata ku kau tetap anak anak?" Ucap Jason menggoda Andrean.
Andrean tertawa kecil tapi perutnya terasa nyeri dan sakit membuatnya tidak mau banyak bergerak. Jason yang melihat sang anak kesakitan jadi khawatir.
"Apa sangat sakit? papa akan panggilkan Arthur!" Jason beranjak tapi Andrean menahan tangan Jason.
"Tidak usah pa aku baik baik saja, tapi sepertinya aku tidak bisa banyak bergerak sementara waktu ini" Ucap Andrean tersenyum santai.
Jason menggenggam tangan Andrean dan mencium tangan sang anak. Jason tersenyum penuh kasih dan mengusap lembut pipi Andrean.
"Apa kau benar benar putra ku? putra kecil ku yang dulu menangis hanya karena sepotong kue coklat? putra kecil ku yang suka bermain katak dan berkata... papa aku bisa menangkapnya dan berlari ke arah ku dengan seekor katak ditangannya" Jason tersenyum dengan mata berkaca kaca menatap putra sulungnya yang kini telah dewasa.
__ADS_1
"Iya pa aku anak mu yang dulu sangat nakal dan sering membuat mu menangis karena selalu pulang dalam keadaan terluka, aku sudah dewasa dan aku masih menjadi putra kecil mu" Sahut Andrean membuat Jason benar benar menangis.
"Anak anak ku sudah dewasa dan si bungsu juga akan beranjak dewasa, apakah aku masih punya kesempatan melihat mereka menikah dan hidup bahagia?" ucap Jason dalam hati.