
Arthur melihat Narda yang begitu bahagia hanya bisa menangis dalam diam. Banyak pikiran yang berkecamuk didalam kepalanya, tapi saat ini dia ingin melupakan semua itu dan fokus pada Narda.
Arthur merasa tubuhnya semakin melemah, dia mengambil obat disaku celananya dan menelan dua butir obat itu. Sebenarnya sudah lama Arthur sakit tapi dia menyembunyikan itu dari keluarganya.
Narda terlihat sangat senang dengan pemandangan yang ia lihat saat ini. Narda berbalik dan menatap Arthur dengan wajah bahagia, Arthur tersenyum dan merentangkan tangannya Narda berjalan ke arah Arthur dan memeluknya.
"Kakak aku mau disini sebentar lagi" Narda.
"Kita akan disini selama yang kau inginkan" Sahut Arthur dan membiarkan Narda meletakan kepala dipangkuannya.
"Jika hidup ku bisa ditukar dengan kebahagiaan mu aku rela, karena satu satunya alasan aku bertahan hidup adalah untuk melihat kalian bertiga bahagia" Ucap Arthur dalam hati.
Evan memeriksa keadaan Andrean dimansion mereka juga sudah tau jika Narda ada dirumah kayu. Andrean menyuruh Evan untuk duduk disampingnya.
"Katakan pada ku apa kau benar benar menemui wanita itu?" Tanya Andrean tiba tiba.
"Iya kak..." Sahut Evan jujur.
"Apa kau masih mencintainya?" Andrean.
Evan tak menjawab dan malah memilih pergi dia tidak mau membahas lebih jauh tentang perasaannya pada Zaya. Andrean hanya bisa menghela nafas panjang karena jujur Andrean tidak mau Evan menjalin hubungan percintaan lagi dengan Zaya.
Andrean sangat ingat bagaimana dulu Evan dihina oleh orang tua Zaya bahkan Evan sampai hampir dibunuh oleh ayah Zaya. Jika saja hari itu Andrean terlambat satu detik saja mungkin nyawa Evan sudah tak bisa diselamatkan lagi.
"Kau masih terlalu polos adikku..." Gumama Andrean untuk Evan adik yang ia sayangi.
Keadaan Andrean sudah membaik dia sudah bisa bergerak dengan leluasa. Tapi tetap saja dirinya masih memerlukan perawatan medis yang cukup, Karina masuk ke dalam ruang medis membawakan makanan untuk Andrean.
"Nak makan dulu ya ini mama masak makanan kesukaan mu" Karina.
"Mama aku mau bicara ini tentang Evan" ucap Andrean serius.
Karina meletakan makanan itu diatas nakas dan duduk dikursi samping tempat tidur Andrean. Andrean mendudukan dirinya dibantu oleh Karina.
"Ada apa?" Tanya Karina.
"Mama aku merasa jika Evan masih mencintai Zaya, mama bukannya aku tidak mau melihat adikku bahagia tapi Evan tidak akan bahagia jika bersama wanita itu!
Aku tidak akan pernah lupa bagaimana wanita itu dulu membuat Evan berada dalam masalah besar! Evan hampir dibunuh oleh ayahnya untung saja aku datang tepat waktu" Andrean.
"iya nak mama mengerti maksud mu tapi ini adalah masalah hati, jika memang adik mu masih mencintainya maka biarkan saja...
__ADS_1
Selama mereka tidak menyakiti adik mu akan lebih baik jika kita tidak ikut campur dengan urusan hati mereka" Karina.
"Aku tidak peduli tentang urusan cinta mereka ma tapi jika sampai wanita itu membuat Evan dalam bahaya, aku akan menghabisinya" Andrean.
Diam diam Evan mendengar pembicaraan antara kakak dan mamanya. Evan bisa mengerti sudut pandang Andrean yang mengkhawatirkan dirinya dan sudut pandang Karina yang ingin Evan memilih sendiri jalan percintaannya.
Evan memilih kembali ke kamarnya dan merenung. Evan melihat layar ponselnya ada banyak pesan tak terbaca dari Zaya dan juga ada banyak panggilan tak terjawab.
Evan ingin menelpon balik Zaya tapi dia ragu belum lagi saat ini keadaan mansion masih kacau. Adiknya sakit, kakaknya juga sakit, Evan sangat tertekan dan dia tidak punya tempat untuk mengadu selain Jason.
Evan masuk ke ruang kerja Jason dan melihat sang papa yang sedang berteleponan. Jason yang melihat kehadiran Evan mematikan sambungan telponnya, Jason melihat mata Evan ada banyak beban dimata putra tengahnya itu.
"Kemarilah nak kau pasti sangat lelah..." Jason mendekati Evan dan merentangkan tangannya, Evan langsung memeluk Jason dan menangis.
"Papa..." Lirih Evan berucap didekat telinga Jason.
"Papa disini sayang, anakku sayang... menangislah kau pasti sangat lelah" Jason.
Jason membawa Evan untuk duduk disofa panjang yang ada diruangannya. Evan masih memeluk Jason dan menangis sungguh beban yang kini ada dipundak Evan sangatlah berat.
Dia baru saja tau fakta atas kematian adik perempuannya, Andrean kakaknya terluka parah, Narda adiknya kembali depresi karena trauma, dan kini dia malah kembali dibuat tertekan dengan urusan hatinya sendiri.
"Papa aku harus bagaimana pa? aku bingung!" Ucap Evan didalam pelukan Jason.
Jason melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Evan lembut. Jason menghapus air mata Evan dan mengecup kening sang anak.
"Jangan memaksakan nak... apa kau benar benar masih mencintai wanita itu?" Tnya Jason yang seakan mengerti isi hati Evan.
"Aku tidak tau pa..." Sahut Evan bimbang.
"maka kau harus mencari tau... Evan ada saat dimana kau harus memikirkan diri mu sendiri nak, temui wanita itu cari tau perasaan mu tentangnya.
Jika kau memang masih mencintainya maka papa siap menemani mu berjuang, ini semua tentang hati nak papa tidak mau kau terluka lebih dalam lagi" Jason.
"Tapi kakak tidak akan membiarkan aku menemui Zaya" Evan.
"Papa akan bicara dengannya, sekarang keputusan ada ditangan mu, bagaimana? kau akan pergi atau tidak?" Jason.
Evan mengangguk dan Jason tersenyum lalu memeluk Evan erat. Andrean baru saja minum obat dan Jason masuk ke dalam ruangan medis.
"Andrean papa mau bicara" Jason.
__ADS_1
Andrean menaruh gelas air minum yang dia pegang dan menatap Andrean penuh tanda tanya. Karina tau akan ada pembicaraan antara ayah dan anak jadi dia memilih keluar dari ruang medis memberikan waktu untuk Jason dan Andrean bicara berdua.
"Ada apa pa? apa ada masalah?" Andrean.
Jason duduk disamping Andrean dan memegang tangan sang anak. Jason tersenyum dan mengusap tangan Andrean.
"Tidak ada masalah nak tapi papa ingin bicara dengan mu ini tentang Evan..." Jason,
Andrean menarik nafas dalam.
"Papa mengizinkan dia menemui wanita itu?" Andrean.
"Iya..." Jason.
Andrean kesal dengan keputusan Jason karena dia khawatir Evan hanya akan dimanfaatkan oleh Zaya untuk membalaskan dendam. Lebih dari itu Andrean khawatir jika Evan dilukai lagi.
"Papa kau pasti masih ingat dengan kejadian beberapa tahun lalu kan?! Bagaimana jika wanita itu hanya menjebak Evan untuk balas dendam?! bagaimana jika wanita itu dan keluarganya hanya ingin menyakiti Evan?!" marah Andrean.
"Papa mengerti kekhawatiran mu nak tapi ini juga tentang masalah hati adik mu, apa kau tega membiarkan dia terjebak didalam perasaannya?" Jason.
Andrean terdiam dia membuang muka dan tak mau menatap Jason. Jason tersenyum dan memegang wajah Andrean lembut membawa sang anak untuk menatap dirinya.
"Papa janji meski papa mengizinkan dia menemui wanita itu papa akan tetap menjaganya, kau percaya pada papa kan?" Jason.
Andrean ingin melawan tapi dia tidak bisa melakukan itu karena yang bicara adalah Jason seseorang yang paling Andrean hormati dan seorang ayah yang sangat ia sayangi, Andrean tertunduk dan mengangguk.
"Sekarang istirahatlah sudah malam papa akan menemani mu" Jason.
"Aku ingin bertemu David" Sahut Andrean singkat sembari melepaskan tangan Jason.
Jason mengerti perasaan Andrean yang kecewa pada keputusannya. Jason mengangguk dan mengizinkan David orang kepercayaan Jason yang baru saja diperintahkan untuk menjadi tangan kanan Andrean.
"baiklah akan papa panggilkan, sekarang berbaringlah dulu" Jason.
"Aku bisa sendiri" Sahut Andrean dingin dan perlahan membaringkan dirinya sendiri.
"Kau marah pada papa?" Jason.
"Papa pergi saja aku mau bicara dengan David, kalau papa tidak mau panggilkan David ya sudah aku mau tidur saja" Sahut Andrean dingin.
Jason hanya tersenyum dia sudah terbiasa dengan sikap kekanak kanakan dari semua anak anaknya. Jason keluar dari ruang medis dan memanggil David yang sedang berada dilapangan latihan bela diri.
__ADS_1