AKU ANAK HARAM!

AKU ANAK HARAM!
MENERIMA


__ADS_3

Narda tersadar ditengah malam dia melihat Karina yang masih memegang erat tangannya dan tertidur dengan posisi duduk disampingnya. Jason tertidur disofa dan Andrean tertidur dengan kepala dipangkuan Jason.


Evan juga tidur dengan kepala bersandar dibahu Jason. Jason terlihat sangat lelah begitu juga Karina, ingin rasanya Narda membangunkan mereka tapi dia tidak tega.


Narda memilih untuk kembali memejamkan matanya dan tidur. Karina merasakan gerakan tangan Narda dan langsung terbangun.


"Adek?... adek sayang sudah bangun nak?" Karina berucap lirih didekat telinga Narda agar sang anak tidak terkejut.


Narda membuka matanya dan menatap Karina dengan tatapan sayu. Narda masih sulit berbicara karena lemas, dan pusing Narda hanya mengedipkan matanya pelan.


"Adek sayang?... anak mama sayang kuat ya nak, kuat ya sayang" Karina mencium tangan Narda berulang kali dengan tatapan mata berkaca kaca.


"Ma..." Narda berucap lirih.


Karina menekan bel darurat untuk memanggil dokter. Jason terbangun saat mendengar Karina menangis, Andrean dan Evan juga ikut terbangun. Hans datang dengan tergesa gesa untuk memeriksa Narda.


"Tante jangan khawatir Narda baik baik saja, dia sudah dalam keadaan stabil sekarang" Hans.


"Pa...pa" Lirih Narda berucap memanggil Jason.


Dengan cepat Jason menggenggam tangan Narda dan mengusap kepala sang anak. Jason sangat lega karena sekarang Narda sudah bangun dan berhasil melewati masa kritisnya.


"Iya sayang anak papa... adek anak kuat, papa bangga sama adek" Jason.


"Kak Ian..." Narda menatap Andrean dengan mata sayu.


"kakak disini... adek kenapa sayang?" Andrean.


"Maaf kak... maafin adek" Narda menangis membuat mereka semua bingung terutama Andrean.


"Adek kenapa minta maaf sayang? adek tidak salah apa apa nak" Jason.


"Adek bertemu kak Arthur dalam mimpi... Dia bilang adek tidak boleh menyalahkan kak Ian, kak Arthur bilang dia tidak marah ataupun membenci kak Ian...

__ADS_1


Kak Arthur bilang dia akan tetap disisi kita bersama kita, disini..." Narda memegang dadanya sendiri.


Hans sangat terkejut karena tidak ada yang tau rahasia jika Arthur yang mendonorkan jantungnya untuk Narda. Yang tau rahasia ini hanya dirinya dan Arthur bahkan Evan juga tidak mengetahuinya.


"Arthur kau memberitau sendiri adik mu tentang ini?" Ucap Hans dalam hati.


Karina bergeser memberikan Andrean ruang untuk mendekat pada Narda. Andrean memegang erat tangan Narda mencium kening sang adik penuh kasih sayang.


"Adek sayang istirahat ya jangan menangis sayang, adek baru saja dioperasi kita bicara lagi besok ya" Andrean berusaha menenangkan Narda dan itu berhasil.


Narda tertidur dengan menggenggam erat tangan Andrean. Meski sedikit bingung tapi mereka memilih untuk tidak membahasnya lagi, Evan mendekati Andrean dan memegang pundak sang kakak.


"Kakak..." Evan.


Andrean melepaskan tangan Narda dan beranjak untuk memeluk Evan. Amarah dan kebencian dihati Evan mereda setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Narda, Evan memeluk Andrean erat dan menangis dalam pelukan sang kakak.


"Maafkan aku kak..." Evan.


"Aku tidak marah pada mu... kenapa harus minta maaf? kau benar mulut ku memang bejat, akulah yang seharusnya meminta maaf" Andrean.


Andrean memeluk Evan erat dia menyadari sang adik masih lemah. Andrean membawa Evan untuk didudukan disofa, perlahan Andrean membaringkan Evan disofa panjang dan menyuruhnya tidur.


"Istirahatlah kau masih sangat lemah kita bahas lagi masalah ini besok" Andrean.


Evan tidak menjawab tapi dia menuruti kata kata Andrean. Evan tertidur disofa panjang itu dan Andrean mengusap lembut surai rambut Evan.


"Kak Arthur aku mengambil tanggung jawab mu untuk menjadi anak tertua keluarga kita, aku berjanji kak mulai detik ini aku tidak akan membiarkan satupun keluarga kita terluka lagi" Ucap Andrean dalam hati.


Saat pagi tiba Narda tersenyum entah mimpi apa yang ia alami saat diruang operasi malam tadi tapi kini Narda benar benar kembali sebagai Narda. Narda kecil yang manja dan ceria, Narda menyimpan sejuta luka itu didalam lubuk hati terdalamnya.


"Adek..." Andrean.


"Kak Ian..." Narda memeluk Andrean erat.

__ADS_1


"Sayang... kesayangan kakak, cintanya kakak sekarang kita mulai semuanya dari awal ya sayang" Andrean.


Narda mengangguk didalam pelukan Andrean dan menyembunyikan wajahnya diceruk leher Andrean. Dengan penuh kasih sayang Andrean mencium kening Narda.


Evan masih sedikit lemah tapi dia baik baik saja. Karina juga sudah mulai bisa menerima semua yang terjadi, Karina memakai kalung Arthur untuk selalu mengingat kehadiran putra sulung mereka.


"Kita mulai hidup kita dari awal lagi dan kita bangun kembali kenangan indah bersama sama" Jason.


"Mama yakin kita akan melewati semua ini dengan baik, memang ini semua sulit tapi bukan berarti kita tidak bisa kan? kalian bertiga adalah kekuatan mama dan papa...


Kita berjuang seperti dulu seperti saat pertama kali Andrean menangis setelah lahir ke dunia, seperti saat dulu Evan belajar melangkah ke dunia untuk pertama kalinya, dan seperti saat dulu kita bertemu Narda untuk pertama kalinya...


kita mulai semuanya dari awal benar benar dari awal" Karina.


Narda mengangguk dan tersenyum dengan air mata yang menetes membasahi wajah manisnya. Karina mencium kening Narda penuh kasih sayang.


Beberapa hari berlalu Jason sudah mulai bekerja seperti biasa dibantu oleh Andrean. Untuk bisnis yang ditinggalkan oleh Hendery dan Arthur mau tidak mau Jason dan Andrean juga harus mengelolanya lagi.


Evan kini hanya fokus pada rumah sakit dan restoran milik keluarga mereka yang memiliki banyak cabang di Amerika dan seluruh dunia. Sedangkan Karina dia hanya fokus pada Narda, dirinya memilih menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk suami dan anak anaknya.


"Mama jam berapa papa dan kak Ian pulang?" Narda.


"Mungkin sore nanti... sudah adek tidak usah pikirkan itu, sekarang adek makan saja yang benar habiskan semuanya lalu minum obat" Karina menyuapi Narda dengan penuh kesabaran karena Narda sangat sulit disuruh makan.


Untuk membujuk Narda makan biasanya Karina harus menelpon Jason dan Andrean lebih dulu. Setelah mendengar suara Jason dan Andrean baru Narda mau makan.


"Adek lihat kakak membawakan mu mainan..." Evan datang dengan membawa boneka minion lucu.


Baru saja masuk ke kamar rawat inap Narda, Evan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Karina. Masalahnya adalah Narda akan semakin sulit makan jika diberi mainan.


"Evan... adik mu belum makan apapun sejak tadi, mama sudah membujuknya setengah mati dan kau malah membawakannya mainan?!" Kesal Karina ppada sang anak.


"Mama adek mau bonekanya mau bonekanya mama, mau boneka!" Rengek Narda dengan mengoyang goyangkan tangan dan kakinya membuatnya semakin menggemaskan.

__ADS_1


"Adek adek sudah jangan gitu nak nanti infusnya lepas lagi" Karina berusaha menghentikan anak bungsunya ini.


"Iya iya ini bonekanya sekarang diam, sudah sudah diam ya" Evan memberikan boneka itu pada Narda dan seketika itu juga Narda diam.


__ADS_2