AKU ANAK HARAM!

AKU ANAK HARAM!
BERMAIN


__ADS_3

Narda sedang bermain salju dihalaman belakang mansion ditemani oleh beberapa maid. Narda membuat boneka salju dan membuat istana mainan dari salju yang ia bentuk sendiri.


Karina hanya memperhatikan sang anak dari jauh. Karina sedang sibuk berdiskusi dengan Evan mengenai bisnis restoran mereka dan uji coba menu baru yang akan segera diluncurkan dalam waktu dekat.


"Adek jangan jauh jauh mainnya" Karina sedikit berteriak agar suaranya bisa didengar oleh Narda.


"Iya mama" Sahut Narda yang masih fokus dengan mainannya.


"Tuan muda jangan dimasukan ke dalam mulut nanti anda sakit perut" Tegur seorang maid pada Narda.


Narda hanya mengangguk dan cemberut sebenarnya Narda sangat penasaran dengan rasa salju yang baru turun dari langit. entah kenapa bocah manis ini bisa sampai kepikiran mencicipi salju itu, tapi yang pasti bukan Narda namanya kalau tidak bandel.


Narda diam diam mengambil salju yang ada didaun dan memakannya. Beruntungnya tidak ada maid yang melihat itu.


"Rasanya hambar masih lebih enak es cream" Ucap Narda dalam hati.


Narda masih sibuk bermain sampai lupa waktu. Hendery datang dan langsung membawa Narda ke dalam gendongannya, Narda berontak karena dia masih belum puas bermain tapi Narda sudah berada disana selama dua jam lebih Karina sudah membujuk Narda agar masuk ke dalam mansion dan makan siang tapi anak itu tetap asik bermain.


Hendery yang melihat itu langsung menghampiri Narda dan menggendongnya. Tidak masalah untuk Hendery jika Narda sedikit berontak dan merengek yang penting dia berhasil membawanya masuk ke dalam mansion.


"Papi! Adek masih mau main papi! Papi turunin adek hiks hiks papi adek mau main huwa..." Berakhir sudah, Narda tau jika berontak pun tak ada gunanya karena Hendery jauh lebih besar darinya dan kekuatan Hendery juga tidak main main kuatnya.


Hendery menggendong Narda hanya dengan satu tangan dan tangan lainnya dipakai untuk memegang ipad. Tapi meski begitu Narda tetap tidak bisa melawan kekuatan papinya itu, jadi satu satunya cara terakhir Narda adalah menangis.


"Hendery kau ini apa apaan?! lihat dia menangis sampai wajahnya memerah begini!" Tegur Viola pada suaminya.


"Ma-mami! hiks hiks mami tolongin hiks hiks papi nakal hiks hiks" Narda mengulurkan tangannya pada Viola berharap Viola akan mengambilnya dari gendongan Hendery.


"Viola kau diam dulu aku harus memarahinya, apa kau tau? dia bermain diluar selama dua jam lebih diluar sangat berangin dan salju sudah mulai turun kalau dibiarkan nanti dia bisa sakit!" Hendery terlihat marah dan membuat Narda takut.


"Tapi-" Belum sempat Viola menyelesaikan ucapannya Hendery sudah membawa Narda berlalu pergi.


Narda masih yerus menangis karena dia tau jika Hendery sudah marah maka Jason pun tidak akan bisa menyelamatkannya dari hukuman yang Hendery berikan. Narda pernah dihukum tidak boleh makan es krim selama satu bulan oleh Hendery karena nakal dan tidak mau minum obat.


Hendery membawa Narda ke ruang kerja pribadinya. Hendery menurunkan Narda menyuruhnya berdiri dan tidak boleh bergerak sedikit pun dari tempatnya, Hendery duduk dikursi meja kerjanya.

__ADS_1


"Narda" Hendery memanggil nama si bungsu dengan singkat.


Narda sangat menganal Hendery jika Hendery sudah memanggil namanya dan bukan memanggil dengan sebutan Adek maka sudah jelas jika Hendery sedang marah. Narda hanya bisa menunduk dan menghapus air matanya sendiri.


Narda sangat takut jika Hendery marah seperti ini karena dia takut Hendery akan memukulnya. Hendery memang tidak pernah memukul Narda namun trauma masa kecil Narda membuatnya berpikiran negatif setiap kali Hendery atau yang lain memarahinya.


"Narda papi sedang memanggil mu! jawab papi!" Hendery mulai meninggikan suaranya.


"i- hiks i-iya papi hiks hiks" Narda berusaha menjawab meski masih terisak tangis.


"Berhenti menangis dan lihat papi!" Hendery.


Narda mengangkat kepalanya menatap Hendery meski dirinya takut tapi dia berusaha untuk membuat Hendery tidak semakin marah.


"Kau tau kenapa papi membawa mu kesini? dan kenapa papi marah?!" Tanya Hendery serius.


Narda hanya bisa mengangguk pasrah, dengan air mata yang masih terus mengalir. Narda sadar dengan kesalahannya tapi dia juga takut berada diposisi ini.


"Jawab papi!" Hendery.


"Katakan! apa kesalahan yang sudah kau lakukan!" Perintah Hendery untuk memastikan.


"A-adek tidak mau makan hiks hiks hiks" Narda.


"Apa lagi?!" Hendery.


"Bermain salju hiks hiks sangat lama hiks" Narda.


"Apa lagi?!" Hendery.


"Su-sudah papi cuma itu hiks hiks" Narda masih bergetar ketakutan.


"Narda apa kami mengajarkan mu cara berbohong?!" marah Hendery.


"Maaf papi hiks hiks uhuk! adek tadi hiks makan salju huwa hiks hiks" Tangis Narda semakin kencang.

__ADS_1


"NARDA!" Hendery tanpa sadar membentak Narda sangat keras.


"Papi?..." Lirih narda berucap.


"APA JASON MEMUNGUT MU DARI TEMPAT SAMPAH SAMPAI KAU SULIT SEKALI DIATUR?! DASAR ANAK HARAM!" Hendery tanpa sengaja mengucapkan kata kata kasar yang sangat melukai hati Narda.


Narda langsung berhenti menangis dan terduduk lemas dilantai. Hendery yang melihat itu jadi bingung, saat Hendery ingin membantu Narda berdiri Narda menepis tangan Hendery dan memeluk lututnya sendiri.


"Hiks hiks hiks maaf hiks maaf! Maaf!" Narda sangat ketakutan semua bayangan masa kecilnya yang kelam muncul tiba tiba memenuhi otaknya.


Narda ingat bagaimana dia dibentak, dipukuli, dikurung, bahkan diikat oleh Amalia ibu kandungnya sendiri. Narda sangat ingat dulu Amalia sering membentaknya lalu memukuli dirinya.


Hendery bingung dan panik karena Narda tidak mau disentuh dan hanya mengucapkan satu kata yaitu kata maaf.


"maaf! hiks hiks maaf! jangan pukul hiks hiks jangan pukul hiks" Narda terus menangis ketakutan.


"Narda? adek ini papi!" Hendery mencoba menyadarkan Narda tapi anak itu malah beranjak dan berlari.


Narda berlari sembari terus berteriak mengucapkan kata maaf. Hendery mengejar Narda karena khawatir, kaki mungil Narda terus berlari tidak tentu arah Karina yang melihat itu berusaha menghentikan Narda dengan langsung memeluknya.


"Maaf hiks hiks maaf! jangan pukul sakit!" Gumam Narda berulang kali.


"Adek sayang ini mama nak, adek lihat mama! Adek!" Karina berusaha menyadarkan sang anak.


Narda akhirnya bisa sedikit tenang tapi badannya langsung demam dan lemas. Narda tidak mau makan ataupun minum Narda hanya melamun dan terus bergumam tak karuan menyebutkan kata maaf.


Jason yang mendengar berita tentang keadaan sang anak langsung meninggalkan kantor dan kembali ke mansion.


"Maaf... maaf hiks hiks maaf" Narda terus bergumam.


"Adek ini kakak sayang sini sama kakak ya" Evan berusaha membujuk Narda tapi lagi lagi Narda menolak.


Narda tidak mau bertemu siapapun dan dia tidak mau disentuh siapapun. Narda duduk disudut kamarnya sembari memeluk dirinya sendiri.


"Bagaimana ini bisa terjadi?!" Tanya Jason yang baru saja sampai dimansion.

__ADS_1


Hendery mendekati Jason dan mengakui semua yang terjadi. mendengar itu Jason sangat marah dan mengamuk pada Hendery, Jason sangat tau keadaan mental Narda tidak sekuat anak anak lain itulah alasan kenapa Jason sendiri selalu berhati hati saat berbicara dengan sang anak.


__ADS_2