AKU ANAK HARAM!

AKU ANAK HARAM!
BILA NANTI


__ADS_3

Setelah selesai memasak Narda menyuapi ketiga kakaknya. Narda menyuapi mereka dengan air mata yang tidak bisa berhenti menetes, melihat itu Andrean menarik tangan Narda membawa sang adik ke dalam pelukannya.


"maaf membuat mu menderita..." Andrean.


"Manusia tidak bisa selalu berharap pada manusia lain, salah ku berharap dengan membuat kalian tidak membunuh aku harap keluarga kita akan baik baik saja


Nyatanya tidak! Aku yang salah karena terlalu berharap pada manusia. Mulai sekarang aku akan belajar menerima bahwa aku adalah putra sang raja mafia...


Jangan khawatir kak aku akan menjadi bungsu yang kuat. Aku tidak akan lemah lagi" Sahut Narda sembari tersenyum dan melepaskan pelukan Andrean.


"Kami tau kau kuat dan kami akan selalu ada disamping mu" Arthur.


Viola sudah sampai dirumah keluarga Zaya tanpa pikir panjang penyerangan dilakukan. Pertarungan sengit tidak bisa dihindarkan, suara tembakan saling bersahutan Viola memegang pistol ditangan kirinya dan pedang ditangan kanannya.


Luis melindungi Viola dan menyerang dengan membabi buta. Jake ayah Zaya adalah terkejut karena yang memimpin penyerangan besar besaran itu adalah seorang wanita bertopeng kupu kupu.


Viola melihat Jake dan langsung menembak kaki Jake. Tanpa pikir panjang Zaya membawa Jake ke halaman belakang rumahnya, semua bawahan Jake sudah tewas dan tak tersisa satupun.


"Aku adalah ibu dari dua orang pemuda yang kau jebak direstoran, kau pasti ingat anakku Evan dan Arthur" Ucap Viola sembari menodongkan bagian tajam pedangnya di leher Jake.


"Mereka anak mu?! Tidak heran kalian adalah keluarga Mafia aku sudah membuat keputusan yang tepat dengan tidak membiarkan putri ku menikah dengan anak mu!" Sahut Jake tanpa ragu.


"Jika kau tidak menyukai anakku maka cukup kau katakan dengan jelas tanpa perlu melukai mereka!" Viola geram.


"Jika aku tidak membunuh Evan maka Zaya akan menolak perjodohan yang sudah ku buat dengan sahabat ku!" Jake.


"Bajingan! untuk perjodohan anak mu kau malah mau membunuh anakku! dasar bajingan!" Viola.


Luis datang menghampiri Viola dan memberikan kabar jika polisi akan segera datang dalam lima menit lagi. Jake tertawa penuh kemenangan karena dia mengira sudah berhasil menjebak Viola.

__ADS_1


Saat keadaan mulai tidak kondusif dan Jake sudah tau akan kalah telak dengan Viola dan pasukannya. Jake menekan bel darurat yang terhubung dengan kepolisian setempat. Tapi Viola hanya diam dan tersenyum hal seperti ini sudah sering terjadi.


"Kau kira dengan jebakan murahan mu ini aku akan takut? atau kalah?" Viola bertanya dengan nada mengejek.


"Polisi akan datang kalian pasti akan ditangkap! Jika kau tertangkap kau dan seluruh keluarga mu akan hancur! Hahah!" Jake.


"Kau salah! bukan kau yang menghancurkan ku tapi aku yang akan menghancurkan mu!" Sahut Viola dengan senyum penuh kemenangan.


Polisi datang dan mengepung rumah mewah itu. Viola keluar di ikuti dengan Luis yang membawa Jake dengan kasar ke hadapan pemimpin polisi itu.


"Luis jaga baik baik anjing itu..." Viola.


Polisi itu naik pitam dan menodongkan pistol pada Viola. Dengan tatapan penuh kemenangan Viola tersenyum dan membuka topengnya, saat polisi polisi itu melihat yang berdiri dihadapannya adalah Viola mereka langsung terkejut.


"Nyo-Nyonya?!" Ucap pemimpin polisi itu tergagap.


"Kalian akan menangkap ku? kalian lupa siapa aku?" Viola.


Viola memasang lagi topeng kesayangannya dan membawa Jake masuk ke rumahnya. Viola tanpa pikir panjang langsung memenggal kepala Jake dan memasukannya ke dalam kotak kayu.


Narda menatap dirinya dicermin, Narda hanya diam dan merenung. Jason yang melihat sang anak melamun menghampiri Narda dan memeluk sang anak dari belakang.


"Apa yang kau pikirkan nak?" Jason.


"Papa bisakah kita terus bersama?" Tanya Narda dengan tatapan lurus ke arah cermin.


"Kita akan terus bersama selamanya nak, papa janji akan selalu disamping mu nak" Jason.


Narda tersenyum dan memegang tangan Jason yang masih memeluknya dari belakang. Narda mengeluarkan sebuah gelang dari dalam tas kecilnya yang ada diatas meja, Narda berbalik dan melepaskan tangan Jason.

__ADS_1


Narda memasangkan gelang itu ditangan Jason. Narda tersenyum dan menatap tangan Jason, dia melihat ada beberapa bekas luka ditangan Jason


Narda memegang tangan Jason dan menyentuh bekas luka itu. Narda menghembuskan nafas kasar dan menutup matanya untuk menenangkan diri.


"Apa sakit?" Tanya Narda lirih.


"Tidak... tidak sakit ini hanya luka kecil sayang" Sahut Jason lembut, Narda tidak bisa berkata kata lagi dia hanya bisa terdiam.


"Nak papa sayang pada mu... jika kau sedih papa akan sedih, jika kau sakit papa juga akan sakit, jika kau bahagia papa juga akan bahagia nak


Jangan terlalu keras dengan diri mu sendiri sayang. kau berhak menentukan pilihan hidup mu, karena hidup mu adalah milik mu..." Jason.


"Jika hidup ku adalah milikku maka biarkan aku menjadi bagian dari kalian, beritau aku semua yang tidak aku tau, ajari aku apa yang belum kalian ajarkan pada ku, bantu aku agar aku hidup dengan kenyataan bukan kebohongan" Narda menatap mata Jason dengan tersenyum lembut.


Jason menangkup wajah Narda lembut dan mencium kening putra kecilnya. Jason tidak berharap sang anak akan merasakan hal ini, Jason selalu berharap Narda akan selalu jauh dari dunia gelap yang ia arungi.


"Perlahan kau akan mempelajari semuanya nak, papa ada disini kau tidak perlu takut karena sesulit apapun jalan yang akan kau temui nanti kita akan melalui jalan itu bersama" Jason.


"Aku percaya pada mu pa sesulit apapun masa depan dan segelap apapun jalan didepan sana aku pasti bisa melaluinya karena aku memilik mu" Narda.


Narda berlalu pergi dan meninggalkan Jason sendiri. Narda pergi ke kamar Arthur dan melihat sang kakak yang sudah tidur pulas, Narda tersenyum lalu menyelimuti Arthur.


Narda duduk disamping Arthur dan mencium kening sang kakak. Narda menggenggam tangan Arthur dan berdiam diri disana.


"Kakak aku sangat khawatir pada mu... saat aku mendengar kabar jika kalian terluka hal pertama yang aku pikirkan adalah apakah aku akan kehilangan lagi?


Aku sering kali membuat mu sedih dan khawatir. Sejak aku kecil entah berapa kali aku sudah membuat mu menangis, maaf karena aku menjadi adik yang nakal dan sering membuat mu marah


Apa kau tau kak aku selalu takut untuk mengatakan ini pada mu... Sebenarnya aku punya ketakutan didalam hati ku, jika kelak kau menemukan pasangan hidup mu tolong jangan lupakan aku.

__ADS_1


Aku tidak melarang mu untuk jatuh cinta tapi kau adalah kakak tertua kami. Jika kelak kau menikah maka hati kami akan patah, karena kami kehilangan sadaran ternyaman yang selalu ada untuk kami" Ucap Narda dengan derai air mata.


__ADS_2