
Narda sedang duduk ditepi sungai dan melihat kupu kupu beterbangan kesana dan kemari. Tidak ada yang menemani Narda dia hanya sendirian karena dia tak ingin siapapun menggangu waktu tenangnya.
Viola dan beberapa pengawal pribadinya hanya mengawasi Narda dari jauh tak lama Karina datang bersama pengawal pribadinya. Saat Karina datang Viola langsung berpamitan untuk kembali ke mansion.
Mereka bergantian menjaga Narda karena Hendery dan Jason sedang dikantor. Karina duduk dikursi yang sudah disiapkan melihat Narda dari jarak yang cukup jauh.
Narda beranjak dan berjalan mengikuti seekor kupu kupu yang terbang dihadapannya. Senyuman Narda terlukis begitu indah membuat hati Karina sedikit lega.
Evan mengajak Zaya bertemu disebuah restoran. Arthur berada diruangan lain dan mengawasi mereka dari cctv tersembunyi, Arthur ingin tau apa yang sebenarnya direncanakan oleh Zaya.
Saat Zaya datang dia duduk disamping Evan, mereka berbincang biasa dan membahas tentang pekerjaan masing masing. Arthur masih terus mengawasi dengan teliti setiap pergerakan Zaya dianggap mencurigakan bagi Arthur.
"Zaya aku ingin bertanya... apa kau masih mencintai ku?" Evan.
"Aku masih mencintai mu, aku sangat mencintai mu" Zaya.
Evan terdiam dan memegang kedua tangan Zaya. Evan tersenyum dan menatap mata Zaya, perlahan Zaya mendekatkan wajahnya pada wajah Evan dekat dan semakin dekat.
Saat bibir mereka akan saling bersentuhan Evan memalingkan wajahnya dan melepaskan tangan Zaya. Evan menutup mata dan mengatur nafasnya.
"Evan ada apa? apa kau tidak mencintai ku?!" Zaya.
"Maaf Zaya... aku sudah tidak mencintai mu, ku kira aku masih mencintai mu tapi ternyata aku salah...
Sebaiknya kita akhiri saja semua ini aku tidak mau kau semakin terluka. Lupakan saja aku dan mulailah hidup mu yang baru aku yakin kau akan mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari pada aku" Sahut Evan sembari melepaskan tangan Zaya.
"Aku hanya mencintai mu! hanya kau Evan!" marah Zaya.
"maaf aku tidak bisa" Evan beranjak pergi tapi Zaya menarik tangan Evan dan memeluknya paksa, Zaya kemudian menyuntikan obat bius pada Evan.
Melihat itu Arthur dan semua anak buahnya bergegas menghampiri Evan dan Zaya. Ternyata Zaya tak sepolos yang Arthur kira dia juga menyiapkan semuanya dengan baik, Zaya membawa beberapa bawahannya untuk menculik Evan.
Beruntung Arthur bergerak cepat dia berhasil mengambil Evan yang sudah dimasukan ke dalam mobil. Perkelahian terjadi dan Arthur terkepung dia salah memperkirakan semuanya, ternyata Zaya berada satu langkah didepan mereka.
__ADS_1
"wah kakak ipar kau juga datang?" Ucap Zaya yang tiba tiba muncul.
"Wanita sialan! siapa yang sudi jadi kakak ipar mu ha?!" Arthur.
"Ayolah kak jangan marah aku hanya ingin membawa calon suami ku" Zaya berbicara dengan penuh percaya diri.
"Calon suami? siapa calon suami mu dasar betina?!" Arthur.
Arthur menatap Evan yang kini berada dipelukannya. Arthur yang awalnya berwajah datar kini menunjukan seringai yang mengerikan bahkan membuat Zaya takut.
"Zaya... sebaiknya kau pergi dari sini bersama anak buah mu itu selagi bisa" Arthur.
"Pergi?... aku tidak akan pergi tanpa Evan!" Sahut Zaya tegas.
Arthur menatap Zaya dengan tatapan penuh amarah. Arthur mencium kening Evan dan membaringkan sang adik dilantai, Arthur melihat satu persatu anak buah Zaya yang menodongkan pistol padanya.
"Arthur semua anak buah mu sudah mati kau pikir bisa melawan ku sendirian?!" Zaya.
Arthur hanya tersenyum Arthur menarik gelang yang ia pakai hingga putus. Gelang itu adalah gelang pemberian Hendery yang akan mengirimkan sinyal darurat saat dihancurkan.
Arthur tersenyum menyeringai dan tiba tiba suara tembakan terdengar. satu persatu anak buah Zaya tewas tertembak, David datang tempat waktu dia segera menghampiri Arthur dan membungkuk hormat.
"Maaf tuan saya terlambat" David.
"David aku mengirim sinyal darurat paman Leo akan segera datang, pastikan anak buah mu membereskan semua ini sebelum dia datang atau masalah ini akan semakin melebar" Arthur.
"Baik tuan..." David.
Arthur berbalik dan ingin menggendong Evan untuk membawanya meninggalkan tempat itu. Tapi tiba tiba Zaya memberikan tembakan peringatan dengan menembak atap restoran.
"ARTHUR DIE ERRAMA! jika kau membunuh ku maka adik mu itu juga akan mati!" Zaya.
Arthur langsung menembak tangan Zaya dan mendekatinya. Arthur melemparkan pistol Zaya sembarang dan mencekik wanita itu.
__ADS_1
"Apa maksud mu?!" Arthur.
"Ahk! Ak-aku!" Zaya kesulitan berbicara karena Arthur mencekiknya.
Arthur melepaskan tangannya dari leher Zaya dan mencabut belati beracun miliknya. Arthur menodongkan ujung belati itu dileher Zaya membuat wanita ketakutan setengah mati.
"Kau pasti sudah tau jika pedang dan belati milik keluarga kami itu sangat beracun, jadi katakan dengan benar apa maksud mu sebenarnya?!" Ucap Arthur dengan tatapan mematikan.
"A-aku meracuninya!" Sahut Zaya ragu, dan pengakuan Zaya membuat Arthur sangat terkejut.
"Apa maksudnya?! kapan kau meracuni adikku?!" Arthur.
"Air yang dia minum itu beracun! ayah ku memberikan racun itu padanya, pelayan yang tadi mengantarkan minuman dia adalah ayah ku" Sahut Zaya membuat Arthur semakin marah.
Pelayan tadi memang sedikit aneh dia memakai masker dan pakaiannya terbilang sangat rapi. Arthur memang sempat curiga pada pelayan itu tapi dia acuh karena lebih fokus pada rencananya untuk melindungi Evan dari Zaya.
"Katakan pada ku dimana penawara racunnya!" Arthur.
"Aku tidak tau! aku tidak tau!" Zaya berkata jujur.
"David bawa wanita ini sebagai tahanan, kita pergi dari sini!" Arthur memberikan perintah.
Tidak lama Leo datang bersama anak buahnya Arthur mengangkat tubuh Evan dan menggendongnya. Arthur membawa Evan ke rumah rahasia mereka yang terletak tidak jauh dari sana, tidak lupa Arthur juga memerintahkan David untuk membawa sisa air yang tadi diminum oleh Evan untuk memeriksa lebih lanjut jenis racun apa yang terminum oleh sang adik.
Arthur memeriksa darah Evan lebih dulu hatinya sakit dan menyesal karena sudah lengah dan membuat sang adik dalam bahaya. Arthur merasa gagal dan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Evan.
Arthur memeriksa racun itu dan kemudian dia menyadari jika itu adalah jenis racun yang langka. Racun itu hanya memiliki satu penawar yaitu inti darah manusia, Arthur terdiam dan memeluk Evan erat.
"Kakak..." Evan berbicara lirih seluruh tubuhnya terasa sangat sakit.
"Kak sakit..." Evan benar benar kesakitan seluruh tulangnya seperti dipatahkan pada waktu bersamaan, dan jantungnya seperti sedang diremas dan ditusuk tusuk.
"Evan kakak akan menyelamatkan mu... kau akan baik baik saja aku janji" Sahut Arthur pada sang adik.
__ADS_1
Arthur menghela nafas berat dan menelpon Viola. Arthur menyuruh semua keluarganya berkumpul dirumah rahasia mereka secepatnya, Arthur membelai rambut Evan dengan penuh kasih sayang.
"Adikku sayang kau akan tetap hidup maaf kakak yang salah karena lengah, bertahanlah Evan" Arthur.