
"Apa yang kau lakukan pada orang tua ku?!" Rain.
"Aku masih belum melakukan apapun tapi jika kau tetap menolak tawaran ku, maka aku bisa saja membunuh mereka!" Andrean.
"Ku beri kau waktu sampai besok pagi, jika sampai besok pagi kau belum memberikan ku jawaban aku akan memberikan mu peringatan dengan membunuh salah satu dari orang tua angkat mu. Jujur saja nona aku bukan orang yang sabar" Ucap Andrean yang kemudian berlalu pergi di ikuti oleh Leo.
Rain sangat syok dengan tindakan gila Andrean yang menyandra orang tuanya. Rain menelpon ayahnya dirumah dan benar saja sang ayah mengatakan jika ada banyak orang aneh berjaga disekeliling rumah mereka, orang orang itu mengaku jika mereka berjaga karena di suruh oleh Andrean De Wilson.
Andrean masuk ke dalam ruangan Narda dia terkejut melihat sang adik sudah bangun dan menggunakan selang oksigen. Andrean melemparkan jasnya sembarangan dan menghampiri Narda.
"Apa yang terjadi?!" Tanya Andrean panik.
"Setelah kau pergi tadi Narda terbangun dan muntah darah lalu dia sesak nafas" Jason.
"Evan apa yang sebenarnya terjadi?!" Andrean.
"Narda mengalami terlalu banyak tekanan kemungkinan besar karena dia mengingat kembali semua yang telah terjadi dan ditambah lagi dengan masalah dokter Rain...
Ada penyumbatan pembuluh darah di sekitar jantungnya dan itu yang membuatnya seperti ini, tapi jangan khawatir kak keadaan Narda masih bisa ditangani dengan bantuan alat medis sederhana dan obat obatan" Evan.
Narda hanya diam dia tidak punya cukup tenaga untuk mengatakan apapun tubuhnya sangat lemas. Narda menatap Andrean dan mengulurkan tangannya, Andrean menggenggam erat tangan Narda dan mengusap lembut surai rambut sang adik.
"Adek sayang kakak disini sayang, adek jangan khawatir ya semuanya akan baik baik saja sekarang adek harus istirahat biar cepat sembuh" Andrean.
"Kak..." Narda berucap lirih.
"Iya?" Andrean.
Narda tidak mengatakan apapun dia hanya menatap Andrean dengan tatapan penuh arti. Narda pun perlahan menutup matanya dan mulai tertidur karena masih dalam pengaruh obat, Andrean duduk dikursi yang ada disamping Narda dan masih menggenggam erat tangan sang adik.
"Sayang... kakak akan melakukan apapun untuk mu, bahkan sekalipun untuk itu aku harus membunuh maka aku juga tidak akan ragu untuk melakukannya" Ucap Andrean dalam hati.
Evan duduk disamping Karina dan menenangkan sang mama. Andrean melihat ada sisa noda darah bekas muntahan Narda dipipi manis sang adik, Andrean mengusap lembut pipi Narda untuk menghapus noda darah itu.
"Papa pikir akan lebih baik jika setelah Narda sembuh kita membawanya pindah, Mansion kita saat ini memiliki terlalu banyak kenangan yang bisa membuat Narda terus teringat pada masa masa sedihnya..." Jason.
"aku setuju dengan papa akan lebih baik jika kita tinggal dilingkungan baru, dengan begitu Narda juga bisa memulai hidupnya yang baru" Andrean.
"Lalu apa rencana kalian sekarang?" Karina.
__ADS_1
"Kita akan tinggal dimansion yang lain, Rega dan Eric kalian siapkan mansion kita yang ada didesa kita akan menempatinya" Jason.
"Baik tuan" Sahut Rega sigap.
Tidur Narda tidak nyenyak dia msih kesulitan bernafas meski sudah dibantu oksigen. Tubuh Narda juga demam tinggi dan dia mengigau Narda memanggil manggil Viola berulang kali.
Jason, Karina, Andrean, dan Evan tidak tidur mereka menjaga Narda karena khawatir pada si bungsu. Evan meningkatkan kadar oksigen Narda dan memeriksa detak jantung Narda setiap lima belas menit sekali.
"Mami..." Narda lagi lagi memanggil Viola didalam tidurnya.
Terlihat jelas Narda kesulitan bernafas dari pergerakan dadanya yang naik turun tak beraturan. Sesekali Narda juga akan merintih dan terbangun tapi setelah itu dia akan tidur lagi.
Rain masuk ke dalam ruangan Narda tanpa mengetuk pintu dan menghampiri Andrean yang sedang fokus pada Narda.
"Apa kau sudah punya jawaban?" Andrean bertanya dengan santainya.
"Aku bersedia... aku bersedia menikah dengan mu" sahut Rain dengan air mata dipipinya.
Andrean meletakan tangan Narda lembut ke dalam selimutnya dan membawa Rain agak menjauh dari Narda.
"Aku senang mendengar jawaban mu" Andrean.
"Aku tidak akan melepaskan mereka sebelum kita resmi menikah, karena aku tidak mau kau kabur! ah benar... jika kau berani kabur aku akan mengejar mu dan juga keluarga angkat mu bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun dan aku akan menghabisi kalian dengan tangan ku sendiri" Andrean.
Jason, Karina, dan Evan yang menyaksikan itu langsung mengerti apa yang terjadi. Karina menghampiri Rain dan menenangkannya.
"Anggap saja ini sebagai balas budi mu pada keluarga kami, kau menyelamatkan nyawa anak bungsu ku dengan menikahi anak sulung ku... aku janji pada mu Rain kau akan menjadi menantu yang dicintai didalam keluarga kami" Karina menghapus air mata Rain dengan lembut.
Narda terbangun lagi tapi kali ini dia menangis. Jason duduk ditepian tempat tidur Narda dan memangku sang anak.
"Adek sayang jangan menangis nanti nafasnya makin susah nak" Jason.
"Pa-papa..." Narda bicara dengan terbata bata.
"iya sayang papa disini nak, adek jangan menangis lagi nanti adek makin sakit..." Jason.
Rain yang tidak tega dengan keadaan Narda menghampirinya dan memegang tangan mungil Narda.
"Narda anak pintar... berhenti menangis sayang" Rain.
__ADS_1
Narda mengulurkan kedua tangannya pada Rain. Dengan senang hati Rain membawa Narda ke dalam pelukannya, Jason beranjak dari tempat tidur Narda.
"Ma-mami..." Bisik Narda ditelinga Rain.
Rain hanya diam dan sedikit tersenyum, Rain membaringkan Narda dan ikut berbaring disamping Narda. Rain mengusap kepala Narda dengan lembut, Narda tidur dengan nyenyak dengan menggenggam tangan Rain yang berbaring disampingnya.
Rain dan yang lainnya terjaga sepanjang malam itu. Saat pagi tiba Jason sudah bersiap untuk berangkat ke kantor bersama Andrean, sedangkan Rain harus ke IGD untuk menangani pasien darurat bersama Evan.
"Mama..." Narda memanggil Karina lirih.
Karina langsung menghampiri Narda dan memegang tangan sang anak. Narda memang sudah membaik tapi dia masih harus menggunakan selang oksigen untuk membantunya bernafas.
"Adek sayang kenapa nak? adek haus?" Karina.
"Mama adek bosan..." Narda.
Andrean menatap Narda dengan tatapan sedih. Setelah kehilangan banyak orang yang berharga didalam hidupnya Andrean kini menjadi lebih dewasa dan berusaha menjadi kakak yang baik untuk adik adiknya.
"Pa maaf apa boleh hari ini aku menemani Narda?" Andrean.
Jason tersenyum dan memegang pundak Andrean. Sebenarnya Jason bangga dan bahagia dengan perubahan sikap Andrean, tapi dirinya juga sadar jika Andrean kini sedang terluka.
"boleh nak... lagi pula pekerjaan hari ini tidak sebanyak kemarin, temani adik mu supaya mama kalian juga bisa istirahat" Jason.
"Iya pa" Andrean melepaskan jas yang dia pakai dan memegang tangan Narda.
"adek biarkan mama istirahat ya, sekarang adek sama kakak saja" Andrean.
Narda hanya mengangguk lemas, dengan kasih sayang Andrean membawa Narda ke dalam pangkuannya.
"Kak... adek lelah..." Narda.
"Iya kakak tau... sekarang adek istirahat ya kakak akan disini memeluk mu" Andrean mengusap lembut wajah Narda.
Narda memegang tangan Andrean yang ada diwajahnya. Tangan Narda begitu dingin dan wajahnya pucat.
"Kakak jangam bohong ya... Dulu kak Arthur juga bilang begitu tapi ternyata kak Arthur pergi..." Narda berucap lirih.
"iya kakak janji sayang..." Andrean.
__ADS_1