
Narda duduk ditempat tidur rumah sakit seperti biasanya. Kali ini Narda hanya sendirian karena Karina sedang pergi untuk menebus obat, Jason dan Andrean masih bekerja dan Evan sedang ada jadwal operasi.
Sebenarnya Narda tidak benar benar sendiri ada Luis yang mengawasi Narda dari jauh. Narda hanya memainkan ponselnya mengirim pesan random pada Jason, Karina dan kedua kakaknya, meski Narda tau pesan itu tidak akan dibalas karena mereka sedang sibuk Narda tetap mengirimkannya.
"Huft... sangat membosankan Papi, mami aku bosan temani aku bermain" Ucap Narda didalam kesendiriannya.
"Kalau kau bosan boleh aku temani kau bermain?" Ucap seorang dokter mengagetkan Narda.
"Maaf membuat mu kaget aku datang untuk memeriksa infus dan juga tekanan darah mu... oh iya perkenalkan nama ku Rain" Ucap Dokter itu dengan tersenyum ramah.
"Dokter kau terlihat tidak asing apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Sahut Narda yang merasa tak asing dengan Dokter ini.
"Kau ingat? hahaha syukurlah iya kita pernah bertemu, hari itu kau memberi aku payung karena aku terjebak hujan dihalte bus didekat kantor De Wilson kau ingat?" Sahut Rain dengan gembira.
"Ah benar! iya aku ingat ternyata itu diri mu... wah aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi" Narda.
"Boleh aku memeriksa mu?" Rain.
"Tentu saja kak..." Narda.
"Eh? kau... memanggil ku kak?" Ucap Rain bingung.
"Eum iya... memangnya kakak tidak suka ya?" Narda.
"Tidak tidak bukan begitu... aku suka kau memanggil ku dengan sebutan itu hanya saja aku sedikit terkejut, ayo kita mulai pemeriksaannya ya" Rain memeriksa Narda dengan teliti dan hati hati.
"Kak aku ingin bertanya siapa yang memberikan aku jantung ini? dan kenapa dia melakukan itu?" Narda.
"Jujur saja aku tidak tau siapa yang memberikan jantungnya untuk mu, tapi yang pasti dia adalah orang baik yang ingin membuat mu hidup lebih lama dan melihat indahnya dunia" Rain.
"Kak kau sangat cantik mirip dengan mami ku, rambut mu dan juga senyuman mu... sangat mirip dengannya" Narda.
"Benarkah? kalau begitu kau harus segera sembuh untuk mami mu, dia pasti tidak ingin melihat mu sakit seperti ini" Rain.
__ADS_1
"Eum aku pasti akan segera sembuh..." Narda.
Karina masuk ke dalam kamar rawat Narda dengan sedikit tergesa gesa karena khawatir sang anak menangis karena bosan. Karina melihat Narda yang sedang diperiksa oleh Rain langsung menghampirinya.
"Adek maaf ya nak mama lama sayang tadi antriannya panjang sekali dan juga masih harus menunggu obatnya disiapkan, adek pasti bosan ya? maaf ya nak" Karina memegang tangan Narda dan mengusap surai rambut sang anak.
"Mama adek tidak apa apa... ma coba lihat kakak dokter sangat cantik kan, sangat mirip dengan mami" Narda berucap sembari menatap Rain.
"Dokter bagaimana keadaan Narda?" Karina.
"Narda sudah jauh lebih baik, sekarang kondisinya sudah stabil tapi masih perlu banyak istirahat dan tidak boleh banyak pikiran okay?" Rain.
"Okay kakak dokter" Narda.
Karina menatap nanar ke arah Narda sudah lama Karina tidak melihat Narda tertawa selepas ini.
"Dokter bisa kita bicara diluar?" Karina.
"Mama mau ajak kakak dokter kemana? Adek masih mau main dengan kakak dokter ma..." Narda kembali merengek.
Narda mengangguk lesu setelahnya Karina membawa Rain keluar dari ruangan Narda.
"Dokter sebelumnya maaf jika Narda terus mengatakan jika kau mirip dengan maminya, mami yang dimaksud oleh Narda adalah mendiang kakak ipar ku yang baru saja meninggal dua minggu yang lalu...
Sekilas kau memang sangat mirip dengannya dan aku ingin meminta bantuan mu dokter" Karina memegang tangan Rain.
"saya turut berduka atas meninggalnya kakak ipar anda nyonya dan saya akan membantu sebisa saya, katakan apa yang harus saya bantu?" Rain.
"Narda terlihat begitu menyukai mu dia bisa tertawa lepas saat bersama mu, ku mohon jadilah dokter pribadi Narda...
aku akan membayar berapa pun biayanya asalkan kau mau membantu ku dan menjadi dokter pribadi Narda" Karina.
"Nyonya saya bersedia membantu anda tapi maaf saya tidak bisa menerima bayaran yang anda berikan..." Rain.
__ADS_1
"Kenapa? katakan saya berapa pun jumlahnya tidak masalah dokter" Karina merasa tak enak hati.
"Saya akan membantu untuk proses kesembuhan Narda tapi saya tidak mengharapkan bayaran lebih karena anggap saja ini sebagai balas budi saya atas kebaikan anda dimasa lalu...
Nyonya dulu saat terjadi insiden keracunan masal saya ingat sekali anda datang ke rumah sakit ini untuk memberikan bantuan berupa obat obatan, tabung oksigen, dan bahkan menyalurkan dokter dari rumah sakit lain kesini...
Nyonya diantara semua orang yang anda bantu saat itu ada salah satu adik angkat saya. Dia saat itu masih berusia dua tahun dan keracunan susu, karena bantuan anda adik saya bisa selamat dan kini dia diadopsi oleh keluarga yang baik..." Rain menjelaskannya dengan mata berkaca kaca.
Karina terkejut tapi dia juga sangat bersyukur karena tindaknya beberapa tahun lalu kini berbuah manis. Rain memegang kedua tangan Karina dan menangis.
"Nyonya kami adalah anak anak panti asuhan yang dibantu oleh keluarga De Wilson, kami bisa makan, sekolah, dan bekerja semuanya karena bantuan kalian
Bagaimana mungkin saya bisa menerima uang yang anda tawarkan pada saya? sedangkan hutang saya pada keluarga anda sudah tidak terhitung jumlahnya" Rain.
"Aku sungguh tidak bisa berkata kata lagi... aku hanya bisa berterima kasih pada tuhan karena kita dipertemukan diwaktu yang tepat saat ini" Karina.
"Nyonya nama ku Rain... mulai saat ini anda bisa memanggil ku dengan nama ku saja, mari nyonya Narda sudah menunggu kita" Rain merangkul Karina membawanya kembali ke kamar rawat Narda.
"Mama! kakak!" Narda.
"Adek sayang mulai sekarang dokter Rain akan jadi dokter pribadinya adek" Karina menggenggam tangan Narda erat.
"Benarkah? jadi adek bisa main sama kakak dokter kan ma?" Narda.
"Iya sayang boleh..." Karina.
"Narda keadaan mu memang sudah membaik tapi jangan terlalu banyak bergerak dulu, karena kau masih dalam masa pemulihan" Rain.
"Iya kak..." Narda.
Jason dan Andrean kembali ke rumah sakit lebih awal karena semua pekerjaan mereka sudah selesai. Mereka masuk ke dalam kamar Narda tapi baru saja masuk mereka dibuat bingung dengan Narda yang bermain puzzle dan boneka bersama Rain.
"Tidak adek itu salah yang ini yang benar" Rain.
__ADS_1
"Kakak yang salah lihat yang itu kakinya dua yang ini kakinya satu!" Narda bermain bersama Rain dan tertawa lepas.
Karina hanya mengawasi dari jauh dan menghapus air matanya sendiri. Bukan itu bukan air mata kesedihan melainkan air mata bahagia karena sekarang tawa ceria Narda telah kembali.