
pagi ini cuaca begitu cerah.
erlita telah siap untuk pergi ke
sekolah. dia menuruni anak
tangga satu persatu kemudian
menghampiri mama dita dan
papa kevin yang sudah dari tadi
menunggu nya di meja makan.
" pagi ma, pagi pa." erlita menciumi
pipi mama dan papa nya secara
bergantian.
"pagi!" sahut kedua nya berbarengan.
"gimana sekolah mu?"
tanya papa kevin.
"baik kok pa." jawab erlita.
"papa berangkat dulu ya ma."
kata papa kevin, erlita pun
menyalami nya.
"lita kamu mau berangkat bareng
papa tidak?" tanya papa nya.
"enggak pa." sahut erlita.
"mama antar sampai depan ya
pa." kata mama dita seraya
membawa tas serta jas papa kevin.
setelah selesai makan, erlita
bergegas kekamar nya untuk
mengambil tas, jaket dan kunci
mobil nya. dia menaiki mobil,
kemudian melajukan nya
menuju sekolah.
beberapa menit kemudian dia
telah sampai di sekolah nya.
dan karin pun menghampiri nya
diparkiran.
"lita, ke kantin yuk?" seperti biasa
karin menyapa nya dan mengajak
nya untuk pergi ke kantin.
"aku simpan tas dulu ya." namun
saat erlita ingin melangkah kan
kaki nya, sebuah mobil sport
berwarna merah berhenti tepat
di samping mobil nya.
dan kini semua mata mengarah
pada mobil mewah itu.
semua siswa/siswi terkejut saat
melihat orang yang keluar dari
mobil itu.
laki laki itu berjalan melewati erlita
dan Karin, tanpa menoleh ke arah
mereka. semua mata tertuju pada
laki laki itu.
beberapa siswi bahkan histeris.
"alvin!"
"alvin!"
"alvin!" teriak beberapa siswi
memanggil nya. tentu saja,
dia tidak menoleh. karna nama
itu memang bukan nama nya.
dia berjalan menuju ruang kepala
sekolah.
" gila! songong banget tuh si alvin!
mentang mentang punya mobil
baru, kita di lewatin begitu aja,
tanpa menyapa." gerutu karin.
dari jauh erlita masih memandangi
kepergian laki laki itu, dengan
tatapan yang tidak bisa di artikan.
karna kesal dengan sikap alvin,
karin menarik tangan erlita
menuju kelas nya. dan tak lama
kemudian mobil alvin datang,
berbarengan dengan mobil rehan.
mereka pun turun dari mobil.
semua teman teman nya, menatap
heran kepada alvin.
"vin, aku merasa ada yang aneh!
kenapa semua orang menatap
__ADS_1
ke arah kita?" tanya rehan.
"udah cuekin aja!" ucap alvin datar.
"wah, jangan jangan di rehan habis
ketahuan nyolong ayam." celetuk jono.
"sembarangan aja kalau ngomong!"
bentak rehan, sambil menjitak kepala
jono.
"aww..." rintih jono menahan sakit.
waktu belajar sebentar lagi sudah
mau di mulai. semua murid sudah
duduk di bangku masing masing.
jono terlihat sibuk mengganggu
erlita dan Karin yang duduk tepat
di depan nya. bukan Jono nama
nya kalau tidak iseng menjahili
teman teman nya.
tak lama kemudian pak didit masuk.
" anak anak, hari ini kita kedatangan
teman baru!" ucap pak didit.
pak didit pun mempersilah kan
nya untuk masuk. dan betapa
terkejut nya seisi kelas ketika
melihat laki laki itu.
"salam kenal, nama ku alviandra!
senang bisa bertemu kalian, aku
harap kita semua bisa berteman
dengan baik!" kata alviandra, yang
tersenyum tipis.
"baik alviandra, kamu boleh duduk!"
kata pak didit.
alviandra pun memilah, bangku
mana yang dia rasa cocok untuk
nya. seketika dia menaruh tas
nya begitu saja di depan karin.
"maksud nya apa nih?" tanya karin.
"kamu pindah!" pinta alviandra.
"kenapa jadi aku yang harus pindah?
di belakang kan masih ada bangku
kosong!" tolak karin.
"kalian jangan ribut, kaya anak SD aja
rebutan bangku." pak didit menegur.
"ya udah rin, biar aku aja yang
pindah ke belakang." erlita hendak
bangkit dari tempat duduk nya,
namun alviandra mencengkram
tangan nya. namun dengan segera
erlita menepis nya.
mereka pun saling bertatapan.
" karin kamu bisa pindah kebangku
belakang, karna kita akan memulai
pelajaran." kata pak didit.
mau tidak mau karin pun menuruti
perintah pak didit.
"rese banget tu cowok, tapi kok
bisa ya? wajah nya tu mirip
banget sama alvin." batin karin
yang menahan amarah.
alviandra pun duduk bersampingan
dengan erlita. sesekali erlita menoleh
ke arah alviandra dan mengamati
wajah nya. namun alviandra ternyata
menyadari, kalau erlita tengah memperhatikan nya.
" jangan melihat ku seperti itu!
karna cewek seperti mu bukan
tipe ku." ucap alviandra datar,
dan sekilas menoleh ke arah erlita
dengan tatapan tajam nya.
erlita yang mendengar ucapan
alviandra pun tertunduk tanpa
komentar apapun. namun dalam
hati erlita dia bertanya, kenapa
wajah alviandra bisa semirip itu
dengan alvin.
"apa cowok yang waktu
itu aku temui dia? bukan alvin."
batin nya.
__ADS_1
teng teng teng.
"baik pelajaran pertama sudah
berakhir, kalian boleh istirahat."
kata pak didit seraya beranjak
dari kursi nya.
erlita menghampiri karin.
"rin, anterin aku ke kelas alvin
dong." pinta erlita.
"tumben, biasa nya juga kamu
sengaja menghindari dia." kata karin.
"gak usah bawel deh, ya udah
kalau gak mau aku bisa sendiri"
sentak erlita. dia pun bergegas
untuk menemui alvin.
"iya bentar, ngambekan amat si."
karin pun membereskan buku
pelajaran nya terlebih dahulu.
saat berada di depan kelas alvin,
erlita memandangi nya dari balik
pintu. ternyata rehan mengetahui
keberadaan erlita yang lagi
mematung di depan kelas nya.
"lita tuh." kata rehan pada alvin.
alvin pun menoleh ke arah erlita,
lalu menghampiri nya.
namun erlita hanya mematung,
dan diam membisu.
" kenapa?" alvin mengusap lembut
pucuk kepala erlita.
seketika dia langsung memeluk
erat alvin, alvin membalas pelukan
nya.
alvin mengajak erlita untuk duduk
di bangku nya. disana ada rehan
dan juga jono. tak lama karin pun
datang menghampiri nya.
"lita kamu nangis? apa yang udah
cowok nyebelin itu lakuin sama
kamu?" tanya karin penuh prasangka.
"cowok nyebelin?" tanya alvin.
"itu vin anak baru yang udah aku
ceritain tadi, yang wajah nya tu
persis banget mirip sama kamu."
jono membantu menjelaskan.
"soal anak baru itu, aku rasa aku
pernah bertemu dengan dia
sebelum nya." sahut erlita.
"hah serius? dimana?" tanya jono.
"di restoran tempat paforit ku."
jelas erlita.
"apa ini ada hubungan nya, dengan
sikap kamu yang akhir akhir ini
berubah sama aku?" tanya alvin.
erlita pun mengangguk.
"berarti kamu mengira, kalau anak
baru itu alvin?" rehan mulai angkat
suara.
lagi lagi erlita hanya mengangguk.
"kalau hanya karna mirip, kenapa
kemarin kemarin kamu sebegitu
marah nya sama aku, sampai kamu
menghindari aku?" tanya alvin.
"waktu itu aku memeluk nya, karna
aku kira dia itu kamu." lirih erlita
seraya menatap alvin.
"lalu?" tanya alvin dalam hati nya
dia cemburu.
"tapi dia malah mendorong ku."
jelas erlita.
"seharus nya tu cowok gak sekasar
itu sama kamu." kata alvin.
" ya udah lah vin, yang penting
sekarang aku udah tau kalau
cowok yang aku temui waktu
itu bukan kamu." ucap erlita
lalu tersenyum pada alvin.
__ADS_1