
sekitar dua jam'an lebih, akhir nya
erlita tersadar, dan perlahan membuka
kedua mata nya. dia menatap ke langit
langit, dan menoleh ke sekeliling ruangan
itu, lalu mengunci pandangan nya pada
wanita yang ada di samping nya.
"aku di mana?" ucap erlita, dengan suara
yang masih terdengar lemas.
"kamu di rumah sakit sayang."
ucap mama dita antusias, seraya menggenggam lalu mengecup tangan
erlita. tampak jelas binar kebahagiaan
di mata mama dita, saat melihat anak
semata wayang nya telah berhasil
melewati masa sulit nya.
"ibu siapa?" tanya erlita.
deg... bak tersambar petir di siang bolong.
saat mama dita mendengar pertanyaan
yang di lontarkan erlita terhadap nya.
"ini mama nak." ucap lirih mama dita.
"mama? lalu aku siapa?" tanya nya lagi.
seketika tangis mama dita pun pecah.
"sebentar ya sayang, mama panggil kan dokter dulu, kamu jangan banyak gerak
dulu ya." ucap lembut mama dita, seraya
mengelus pipi erlita, lalu meninggal kan
nya.
selang beberapa menit mama dita pun
kembali dengan seorang dokter yang
menangani erlita. dokter segera
memeriksa kondisi erlita.
"gimana dok, ke adaan anak saya?"
tanya mama dita.
"mari bu, ikut ke ruangan saya."
ucap dokter, yang langsung di ikuti
oleh mama dita.
setelah berada di ruangan dokter, dokter
itu pun menjelas kan, alasan kenapa
erlita bisa kehilangan ingatan nya.
"anak ibu mengalami cedera otak,
hingga mengakibat kan dia amnesia!
dan itu terjadi, mungkin karna anak ibu mengalami benturan yang sangat keras
pada saat dia mengalami kecelakaan."
ucap dokter panjang lebar.
"apa anak saya bisa sembuh dok?"
tanya mama dita.
"amnesia yang di derita anak ibu
bisa saja bersifat sementara,
tetapi bisa juga bersifat permanen!
ibu bisa menunjukan beberapa poto
keluarga kepada anak ibu untuk
membantu proses penyembuhan nya."
ucap dokter itu.
"terima kasih dok, kalau begitu saya
permisi." kata mama dita, lalu bergegas kembali keruangan anak nya.
setelah menerima kabar dari mama dita.
papa kevin pun bergegas ke rumah sakit
untuk menemui anak dan istri nya.
papa kevin langsung menghampiri
erlita, lalu menciumi tangan nya.
"kamu sudah sadar nak." ucap lirih
papa kevin.
"dia siapa ma?" tanya erlita, seraya
menoleh ke arah mama nya, meminta
penjelasan.
"lita, apa yang terjadi sama kamu nak?"
__ADS_1
papa kevin, yang terkejut karna erlita
tidak mengenali nya.
"dia papa mu nak." jelas mama dita,
dengan mata yang berkaca kaca.
"ini papa nak, kamu gak ngenalin papa?"
papa kevin, masih terlihat syok.
"papa?" tanya erlita, dengan tatapan
kosong.
"papa duduk dulu ya, nanti mama
jelasin! sekarang, biarkan anak kita
untuk istirahat." ucap lembut mama dita.
papa kevin pun duduk dan bersandar
di sofa yang berada di ruang rawat nya
erlita.
"sayang, kamu istirahat ya, jangan
terlalu mikirin hal yang berat berat dulu,
nanti bisa mengganggu kesehatan mu."
ucap mama dita, lalu mengecup kening
anak nya. erlita pun mengangguk, lalu
memejam kan mata nya hingga dia
tertidur lelap.
setelah itu mama dita menghampiri
suami nya, lalu mencerita kan semua
nya bagai mana bisa erlita bisa lupa
siapa nama dan orang tua nya.
papa kevin hanya bisa menghela
nafas kasar, atas peristiwa yang sudah
menimpa anak kesayangan nya itu.
keesokan hari nya. karna hari ini hari
libur sekolah. alvin bergegas untuk
menjenguk erlita di rumah sakit.
waktu masih menunjukan pukul 08:04
alvin pun menuruni anak tangga, lalu
meja makan bersama alviandra.
"ma, aku pergi dulu ya." ucap alvin,
sembari meraih tangan bu indri untuk
cium tangan.
"mau kemana vin? pagi pagi begini."
tanya bu indri, seraya mengolesi dua
potong roti dengan slai strawberry, lalu memberikan nya pada alviandra.
"aku mau jenguk teman ma."
kata alvin.
"teman kamu yang kecelakaan itu? apa keadaan nya masih belum membaik?
mama curiga, jangan jangan kalian
punya hubungan yang lebih dari sekedar
teman ya?" goda bu indri, yang
memborong pertanyaan.
"teman? kenapa alvin hanya mengakui
erlita sebagai teman nya?" batin alviandra.
mendengar ucapan bu indri, alvin pun
terlihat malu malu. alvin tidak mengakui
erlita sebagai pacar nya, bukan karna
bu indri melarang nya untuk berpacaran,
bukan juga karna bu indri tidak merestui
hubungan nya dengan erlita. karna bu
indri sama sekali memang belum
mengenal erlita. tapi karna alvin merasa
setiap alvin mengakui punya kekasih,
bu indri selalu meminta alvin untuk
mengenal kan nya.
"gak ma, orang kita cuma teman!
ya udah, aku pamit ya ma."
pungkas alvin, yang segera pergi untuk menghindari pertanyaan dari bu indri.
"alvin, alvin! mama itu juga pernah muda,
__ADS_1
dan gak gampang bisa kamu bohongi."
gumam bu indri, yang tersenyum tipis.
"lalu, bagai mana dengan anak mama
yang satu ini? apa kamu juga sudah
memiliki pacar?" tanya bu indri, yang
spontan membuat alviandra langsung
tersedak makanan di mulut nya.
bu indri segera memberi nya air putih.
"pelan pelan dong sayang kalo makan."
desus bu indri.
alviandra pun beranjak dari meja makan,
setelah dia menyantap potongan roti
terakhir di piring nya.
"alviandra, kamu belum jawab
pertanyaan mama?" kata bu indri.
"lain kali aja, jawab nya." sahut alviandra.
di rumah sakit, alviandra telah antusias
saat mendengar kabar baik dari suster,
kalau erlita telah melewati masa koma
nya. dia pun segera menemui erlita
di ruangan nya. alvin langsung membuka
pintu lalu menghampiri erlita.
namun, pada saat alvin ingin
menggenggam tangan erlita, dengan
segera erlita menepis nya.
"apa kamu masih marah?" tanya alvin,
yang menatap dalam kedua bola mata
erlita.
"kamu siapa? ngapain kamu di sini?"
tanya erlita, dengan raut wajah yang
terlihat sedikit ketakutan.
seketika alvin mengernyit kan kening
nya.
"lita, maksud kamu apa ya? tolong
jangan bercanda." desus alvin, yang
tampak kebingungan.
"mending sekarang kamu keluar
dari sini! kalau gak aku bakal teriak."
ancam erlita, yang membuat Alvin
tampak semakin kebingungan.
selang beberapa waktu kemudian
mama dita memasuki ruangan anak nya.
"alvin, sejak kapan kamu di sini?"
tanya mama dita.
"belum lama kok tante." sahut alvin,
tanpa sedikit pun mengalih kan
pandangan nya terhadap erlita.
erlita juga tampak memandang ke arah
alvin dengan tatapan sinis.
"siapa dia ma? tolong suruh dia pergi."
ucap lirih erlita.
mama dita pun menatap ke arah alvin.
alvin tampak terpukul, karna erlita
tidak mengenali nya, dan mengusir nya.
"baik, kalau kamu memang ingin aku
pergi, aku akan pergi! karna melihat mu
seperti ini aja aku sudah sangat senang."
lirih alvin, lalu menyalami mama dita
untuk berpamitan. mama dita ternyata
mengekori alvin dari belakang. dan saat
di koridor mama dita pun memanggil
alvin, lalu memberi nya pengertian.
serta menjelas kan kenapa erlita tidak
bisa mengenali alvin, bahkan erlita
__ADS_1
lupa siapa dirinya dan juga orang tua nya.