AKU Bukan DIA ( Kita Berbeda)

AKU Bukan DIA ( Kita Berbeda)
ep 42 amnesia disosiatif


__ADS_3

sekitar dua jam'an lebih, akhir nya


erlita tersadar, dan perlahan membuka


kedua mata nya. dia menatap ke langit


langit, dan menoleh ke sekeliling ruangan


itu, lalu mengunci pandangan nya pada


wanita yang ada di samping nya.


"aku di mana?" ucap erlita, dengan suara


yang masih terdengar lemas.


"kamu di rumah sakit sayang."


ucap mama dita antusias, seraya menggenggam lalu mengecup tangan


erlita. tampak jelas binar kebahagiaan


di mata mama dita, saat melihat anak


semata wayang nya telah berhasil


melewati masa sulit nya.


"ibu siapa?" tanya erlita.


deg... bak tersambar petir di siang bolong.


saat mama dita mendengar pertanyaan


yang di lontarkan erlita terhadap nya.


"ini mama nak." ucap lirih mama dita.


"mama? lalu aku siapa?" tanya nya lagi.


seketika tangis mama dita pun pecah.


"sebentar ya sayang, mama panggil kan dokter dulu, kamu jangan banyak gerak


dulu ya." ucap lembut mama dita, seraya


mengelus pipi erlita, lalu meninggal kan


nya.


selang beberapa menit mama dita pun


kembali dengan seorang dokter yang


menangani erlita. dokter segera


memeriksa kondisi erlita.


"gimana dok, ke adaan anak saya?"


tanya mama dita.


"mari bu, ikut ke ruangan saya."


ucap dokter, yang langsung di ikuti


oleh mama dita.


setelah berada di ruangan dokter, dokter


itu pun menjelas kan, alasan kenapa


erlita bisa kehilangan ingatan nya.


"anak ibu mengalami cedera otak,


hingga mengakibat kan dia amnesia!


dan itu terjadi, mungkin karna anak ibu mengalami benturan yang sangat keras


pada saat dia mengalami kecelakaan."


ucap dokter panjang lebar.


"apa anak saya bisa sembuh dok?"


tanya mama dita.


"amnesia yang di derita anak ibu


bisa saja bersifat sementara,


tetapi bisa juga bersifat permanen!


ibu bisa menunjukan beberapa poto


keluarga kepada anak ibu untuk


membantu proses penyembuhan nya."


ucap dokter itu.


"terima kasih dok, kalau begitu saya


permisi." kata mama dita, lalu bergegas kembali keruangan anak nya.


setelah menerima kabar dari mama dita.


papa kevin pun bergegas ke rumah sakit


untuk menemui anak dan istri nya.


papa kevin langsung menghampiri


erlita, lalu menciumi tangan nya.


"kamu sudah sadar nak." ucap lirih


papa kevin.


"dia siapa ma?" tanya erlita, seraya


menoleh ke arah mama nya, meminta


penjelasan.


"lita, apa yang terjadi sama kamu nak?"

__ADS_1


papa kevin, yang terkejut karna erlita


tidak mengenali nya.


"dia papa mu nak." jelas mama dita,


dengan mata yang berkaca kaca.


"ini papa nak, kamu gak ngenalin papa?"


papa kevin, masih terlihat syok.


"papa?" tanya erlita, dengan tatapan


kosong.


"papa duduk dulu ya, nanti mama


jelasin! sekarang, biarkan anak kita


untuk istirahat." ucap lembut mama dita.


papa kevin pun duduk dan bersandar


di sofa yang berada di ruang rawat nya


erlita.


"sayang, kamu istirahat ya, jangan


terlalu mikirin hal yang berat berat dulu,


nanti bisa mengganggu kesehatan mu."


ucap mama dita, lalu mengecup kening


anak nya. erlita pun mengangguk, lalu


memejam kan mata nya hingga dia


tertidur lelap.


setelah itu mama dita menghampiri


suami nya, lalu mencerita kan semua


nya bagai mana bisa erlita bisa lupa


siapa nama dan orang tua nya.


papa kevin hanya bisa menghela


nafas kasar, atas peristiwa yang sudah


menimpa anak kesayangan nya itu.


keesokan hari nya. karna hari ini hari


libur sekolah. alvin bergegas untuk


menjenguk erlita di rumah sakit.


waktu masih menunjukan pukul 08:04


alvin pun menuruni anak tangga, lalu


meja makan bersama alviandra.


"ma, aku pergi dulu ya." ucap alvin,


sembari meraih tangan bu indri untuk


cium tangan.


"mau kemana vin? pagi pagi begini."


tanya bu indri, seraya mengolesi dua


potong roti dengan slai strawberry, lalu memberikan nya pada alviandra.


"aku mau jenguk teman ma."


kata alvin.


"teman kamu yang kecelakaan itu? apa keadaan nya masih belum membaik?


mama curiga, jangan jangan kalian


punya hubungan yang lebih dari sekedar


teman ya?" goda bu indri, yang


memborong pertanyaan.


"teman? kenapa alvin hanya mengakui


erlita sebagai teman nya?" batin alviandra.


mendengar ucapan bu indri, alvin pun


terlihat malu malu. alvin tidak mengakui


erlita sebagai pacar nya, bukan karna


bu indri melarang nya untuk berpacaran,


bukan juga karna bu indri tidak merestui


hubungan nya dengan erlita. karna bu


indri sama sekali memang belum


mengenal erlita. tapi karna alvin merasa


setiap alvin mengakui punya kekasih,


bu indri selalu meminta alvin untuk


mengenal kan nya.


"gak ma, orang kita cuma teman!


ya udah, aku pamit ya ma."


pungkas alvin, yang segera pergi untuk menghindari pertanyaan dari bu indri.


"alvin, alvin! mama itu juga pernah muda,

__ADS_1


dan gak gampang bisa kamu bohongi."


gumam bu indri, yang tersenyum tipis.


"lalu, bagai mana dengan anak mama


yang satu ini? apa kamu juga sudah


memiliki pacar?" tanya bu indri, yang


spontan membuat alviandra langsung


tersedak makanan di mulut nya.


bu indri segera memberi nya air putih.


"pelan pelan dong sayang kalo makan."


desus bu indri.


alviandra pun beranjak dari meja makan,


setelah dia menyantap potongan roti


terakhir di piring nya.


"alviandra, kamu belum jawab


pertanyaan mama?" kata bu indri.


"lain kali aja, jawab nya." sahut alviandra.


di rumah sakit, alviandra telah antusias


saat mendengar kabar baik dari suster,


kalau erlita telah melewati masa koma


nya. dia pun segera menemui erlita


di ruangan nya. alvin langsung membuka


pintu lalu menghampiri erlita.


namun, pada saat alvin ingin


menggenggam tangan erlita, dengan


segera erlita menepis nya.


"apa kamu masih marah?" tanya alvin,


yang menatap dalam kedua bola mata


erlita.


"kamu siapa? ngapain kamu di sini?"


tanya erlita, dengan raut wajah yang


terlihat sedikit ketakutan.


seketika alvin mengernyit kan kening


nya.


"lita, maksud kamu apa ya? tolong


jangan bercanda." desus alvin, yang


tampak kebingungan.


"mending sekarang kamu keluar


dari sini! kalau gak aku bakal teriak."


ancam erlita, yang membuat Alvin


tampak semakin kebingungan.


selang beberapa waktu kemudian


mama dita memasuki ruangan anak nya.


"alvin, sejak kapan kamu di sini?"


tanya mama dita.


"belum lama kok tante." sahut alvin,


tanpa sedikit pun mengalih kan


pandangan nya terhadap erlita.


erlita juga tampak memandang ke arah


alvin dengan tatapan sinis.


"siapa dia ma? tolong suruh dia pergi."


ucap lirih erlita.


mama dita pun menatap ke arah alvin.


alvin tampak terpukul, karna erlita


tidak mengenali nya, dan mengusir nya.


"baik, kalau kamu memang ingin aku


pergi, aku akan pergi! karna melihat mu


seperti ini aja aku sudah sangat senang."


lirih alvin, lalu menyalami mama dita


untuk berpamitan. mama dita ternyata


mengekori alvin dari belakang. dan saat


di koridor mama dita pun memanggil


alvin, lalu memberi nya pengertian.


serta menjelas kan kenapa erlita tidak


bisa mengenali alvin, bahkan erlita

__ADS_1


lupa siapa dirinya dan juga orang tua nya.


__ADS_2