
hari ini pak gian mengumumkan
pengalihan jabatan nya kepada alvin.
tentu saja banyak orang yang tidak
setuju dengan keputusan nya
tersebut. pasalnya alvin di nilai
tidak memiliki pengalaman yang
cukup. bahkan alvin belum lulus
kuliah, jadi bagai mana bisa dia
menggantikan posisi papanya
sebagai CEO. keputusan pak gian
tentu saja menimbulkan pro dan
kontra di perusahaan Giantara.
namun karna pak gian adalah
pemegang sekaligus pemilik
perusahaan Giantara, mau tidak
mau mereka terpaksa menyetujui
keputusan pak gian.
"mereka benar pa? harus nya
papa tidak secepat itu mengambil
keputusan." lirih alvin.
"vin, papa ini sudah tidak muda
lagi! papa juga sudah sering sakit
sakitan, papa percaya kalau kamu
bisa papa andalkan." yakin pak gian.
"bagai mana bisa? yang dikatakan
mereka benar! aku bahkan belum
lulus kuliah." ucap alvin.
"kamu tenang aja vin! dengan
kepintaran mu itu kamu bisa
lulus lebih cepat dari pada teman
teman mu, papa percaya kepada mu."
ucap pak gian seraya menepuk
pundak anak nya.
walaupun usia alvin terbilang
masih sangat muda, tapi pak gian
mempercayakan perusahaan
sepenuh nya kepadanya ketimbang
kepada istri kesayangannya.
pak gian bahkan telah mengkonfirmasi
bahwa alviandra sebenarnya adalah
alvin, hingga alvin sudah tidak perlu
bersandiwara lagi selama di kantor
maupun di kampus nya.
kediaman Giantara...
"aku dengar papi telah memberikan
jabatan papi pada alvin, apa itu
benar?" tanya bu sonya.
"iya!" jawab pak gian singkat.
"kenapa papi tidak memberi
tahu mami terlebih dahulu?
selama ini papi menganggap
mami itu siapa?" ucap bu sonya
yang terlihat kesal.
"maafkan papi, papi rasa mami
gak perlu tahu dan gak ingin
tahu juga tentang ini." ucap pak gian.
"tetap saja mami merasa tersinggung
dengan keputusan yang udah papi
buat, harus nya papi minta pendapat
mami terlebih dahulu."
ucap bu sonya yang cemberut.
bu sonya kalau lagi marah
memang terlihat seperti anak kecil
yang minta dibelikan sesuatu
bila dihadapan pak gian.
"ya sudah! sekarang papi ingin
meminta pendapat mami!
kalung ini bagus gak?"
tanya pak gian seraya memasang
kan kalung tersebut di leher bu sonya.
tentu saja bu sonya sangat senang
mendapat hadiah dari suaminya.
"ini untuk mami pi?" tanya bu sonya.
__ADS_1
"iya mi! masa untuk alvin, alvin
kan laki laki." ucap pak gian merayu
istrinya.
"makasih ya pi." ucap bu sonya
dia pun memeluk pak gian.
"uhuk uhuk..." tiba tiba alvin masuk
dan berpura pura batuk saat
melihat kemesraan papa dan
ibu tiri nya.
"alvin kamu sudah pulang nak."
ucap pak gian.
"iya pa." sahut nya.
"sini sayang, duduk dekat mami."
pinta bu sonya.
namun alvin mengabaikan
permintaan bu sonya, dia malah
duduk di sofa samping dekat
papa nya.
"bagai mana tadi di kantor?"
tanya pak gian.
"lebih sulit dari pada yang aku
bayangkan pa." ucap alvin sekenanya.
"kamu tenang aja vin, papa tidak
sepenuh nya memberikan tanggung
jawab itu pada kamu, karna papi juga
akan terus memantau perkembangan
perusahaan kita, dan papa akan selalu
ada di belakang mu." ucap pak gian.
"iya pa." sahut alvin.
tak lama kemudian pak gian
menerima sebuah telpon, dia
pun meninggalkan alvin dan
bu sonya di ruang tengah.
"mau kemana vin?" tanya bu sonya
saat alvin ingin beranjak dari sofa.
"aku mau istirahat." jawab alvin.
alvin pun menaiki anak tangga
lalu masuk ke kamarnya untuk
kurang lebih selama dua puluh menit
alvin keluar dari kamar mandi.
dia menoleh kearah jam dinding
yang ada di kamarnya.
waktu telah menunjukkan pukul 22:01
karna lelah dia pun segera tidur.
namun saat tengah malam alvin
terbangun karna badannya terasa
berat dan terasa ada yang
menindihnya.
"apa yang kau lakukan?" tanya alvin
yang terkejut melihat bu sonya
sedang duduk di perutnya.
seketika bu sonya langsung menutup
mulut alvin dengan tangannya.
"ya, seperti apa yang kau lihat."
ucap bu sonya dengan tatapan
yang sangat menggoda seraya
mengelus pipi alvin.
"enyahlah dari hadapan ku."
pinta alvin yang masih bersikap
santai.
"kalau aku tidak mau, bagai mana?"
goda bu sonya yang tidak berhenti
meraba dada bidang alvin.
alvin mendorong tubuh bu sonya
agar tidak menindih nya. dia pun
beranjak dari tempat tidur.
"keluar! sebelum habis kesabaran
ku." pinta alvin.
"sudah kukatakan, kalau aku tidak
mau!" tolak bu sonya.
mendengar ucapan bu sonya
alvin membuka pintu kamarnya,
namun saat dia hendak keluar
__ADS_1
bu sonya memanggil nya.
"alvin..." bu sonya kemudian merobek
baju yang di kenakan nya.
alvin tercengang melihat ulah
ibu tirinya. sementara bu sonya
terus merobek baju yang dia
kenakan hingga kini terlihat
beberapa area sensitif nya.
alvin masih terdiam dan belum
menyadari rencana licik bu sonya.
dan tanpa sepengetahuan alvin,
diam diam bu sonya menelpon
pak gian, dan pak gian pun mengangkat
telpon nya.
"vin tolong jangan lakukan ini
sama mami, mami sayang sama
kamu, mami sudah menganggap
kamu sebagai anak kandung mami
sendiri." ucap bu sonya.
"kalau kamu memang benar
telah menganggap ku sebagai
anak mu, harus nya kau tidak
melakukan hal gila seperti ini."
ucap alvin.
karna takut rencana liciknya
ketahuan, bu sonya segera
menutup sambungan telponnya.
"maafkan aku vin, aku terpaksa
melakukan ini." ucap bu sonya
dia pun menarik tubuh alvin agar
menindih tubuh nya di ranjang.
"tolong... tolong..." teriak bu sonya.
"apa yang kau lakukan, lepaskan
aku." pinta alvin, namun bu sonya
tidak menghiraukan nya.
bruaaakkkkk....
tiba tiba pak gian masuk
ke kamar alvin dan betapa
terkejut nya dia saat melihat
pemandangan yang tidak biasa.
"papa..." alvin pun terkejut.
bu sonya langsung mendorong
tubuh sixpack alvin.
"papi tolong mami pi." ucap bu sonya
dia pun memeluk pak gian.
"brengsek! anak tidak tahu diri."
bentak pak gian seraya memukul
wajah alvin.
"tunggu pa! ini tidak seperti apa
yang papa lihat, tolong dengarkan
penjelasan ku dulu." alvin berusaha
membela diri, namun pak gian
terus memukulnya.
"sudah pi, sudah!" pinta bu sonya
yang tidak tega melihat alvin
terus di pukuli oleh suaminya.
"papa sudah memberi mu
kepercayaan sepenuh nya,
tapi apa yang kau lakukan
dibelakang papa." bentak pak gian.
"sudah cukup pi, mami rasa
alvin tidak sadar dengan yang
sudah dia lakukan." ucap bu sonya.
"ayo pi, mami akan menjelaskan
apa yang sebenarnya telah terjadi."
bujuk bu sonya seraya menarik
tangan pak gian agar mau
mengikuti nya.
setelah pak gian dan bu sonya
keluar dari kamarnya, alvin
menyandarkan tubuh nya di dinding.
"aakhhh..." rintih alvin yang menahan
sakit, saat memegangi bibirnya
__ADS_1
yang berdarah akibat beberapa
pukulan dari papanya.