
Alviandra duduk termenung ditepi
ranjang. erlita yang menyadari
kegelisahan suaminya mencoba
untuk menghibur nya.
"kamu kenapa?" tanya erlita seraya
memeluk nya dari belakang.
"tidak apa apa!" jawabnya dengan lirih.
"jangan berbohong! aku tahu ada
sesuatu yang sedang kamu
khawatirkan." ucap erlita.
"aku ingin bertanya satu hal
kepada mu?" ucap alviandra
seraya memutar badannya
memandang ke wajah erlita.
"apa?" tanya erlita.
"Apa kau bahagia?" tanya nya.
"Tentu saja! kenapa kamu bertanya seperti itu?"
jawab erlita.
"Aku hanya ingin mendengarnya secara
langsung dari mulut mu." ucap alviandra.
Erlita memeluknya semakin erat,
Berusaha menghilangkan kekhawatiran
yang di alami oleh suaminya.
erlita mengunci pandangan alviandra,
lalu kemudian mencium bibirnya.
alviandra membalas ciuman nya.
alviandra merebahkan tubuh erlita
diranjang. lalu kembali mencium nya.
tangannya mulai menjalar, meraba
setiap area sensitif erlita.
alviandra membuka kaos yang dia
kenakan, lalu membuka kancing baju
erlita satu persatu.
karna merasa malu erlita menutupi
dengan kedua tangannya. tapi
alviandra menyingkirkan tangan
itu agar tidak menghalangi
pemandangan indah nya.
"sebelumnya aku pernah melakukan
ini dengan alvin! kenapa sekarang aku
merasa malu." batin erlita.
alviandra melucuti semua pakaian yang
dikenakan erlita, hingga kini dia hanya
bertelanjang bulat. diapun melepaskan
semua pakaiannya.
hasrat keduanya kali ini tidak terpendamkan
lagi. alviandra memasukan senjatanya
kedalam goa kenikmatan yang
dimiliki istrinya.
tibalah mereka di puncak kenikmatan.
alviandra memeluk erat erlita. ini
adalah malam pertama nya setelah
lima bulan dia menikahi erlita.
*keesokan pagi*
erlita memasuki kamar mandi
dengan bermalas malasan.
dia memandang wajahnya dicermin
yang ada di kamar mandi.
tak lama kemudian alviandra
masuk lalu memeluknya dari
belakang.
__ADS_1
"keluar lakh, aku mau mandi." ucap erlita.
"aku juga mau mandi." alviandra seakan
tidak mau mengalah.
"tapi aku lebih dulu." ucap erlita.
"kenapa kita gak mandi sama sama saja?"
ucap alviandra lalu tersenyum.
"ikh apaan sikh" erlita tampak malu malu.
"aku serius!" alviandra meyakinkan.
"aku malu!" ucap erlita seraya mengulum
senyuman nya.
"kenapa harus malu, bukankah semalam
kita telah melakukan nya." ucap alviandra.
"tetap saja aku malu." jawab erlita yang
tampak malu malu kucing.
tanpa aba aba alviandra langsung
mengangkat tubuh erlita yang sedang
hamil besar dan memasukan nya
ke bathtub.
"alvin...apa yang kamu lakukan?" ucap erlita
yang sudah basah kuyup.
alviandra membuka semua pakaiannya
dan ikut masuk ke bathtub tersebut.
"tolong gosokin punggung ku?"
pinta alviandra.
mau tidak mau erlita menuruti permintaan
alviandra. erlita menggosok punggungnya.
seketika erlita terdiam saat melihat
tanda di punggung suaminya itu.
"kamu punya tanda?" tanya erlita.
"iya, sejak aku lahir tanda ini memang
sudah ada." jawab alviandra dengan jujur.
"sejak lahir?" tanya nya meyakinkan.
erlita langsung beranjak lalu mengambil
handuk untuk menutupi tubuhnya.
"kamu kenapa?" tanya alviandra saat
melihat ekspresi erlita yang tiba tiba
berubah.
"aku akan mengenakan pakaian ku"
ucap erlita lalu keluar dari kamar mandi.
dia duduk di tepi ranjang. samar samar
mengingat kembali kejadian waktu
pertama kali alvin merenggut kesucian nya.
"alvin memiliki tanda itu sejak lahir?
kenapa dulu aku tidak melihat nya?"
batin erlita kini bertanya tanya.
tentu saja erlita tidak melihat tanda
apapun, saat pertama kali orang yang
dia cintai merenggut kesuciannya.
karna yang sekarang hidup dengan nya
adalah alviandra bukan lah alvin.
tak lama kemudian alviandra keluar dari
kamar mandi lalu duduk di sampingnya.
"apa yang kamu pikirkan?"
hanya dengan melihat ekspresi wajah
erlita saja, sepertinya alviandra tau
kalau erlita sedang memikirkan sesuatu.
"tidak apa apa! aku hanya lelah."
jawabnya berbohong.
alviandra mengusap pucuk kepala erlita.
erlita memandang nya dengan tatapan kosong.
"siapa kamu sebenarnya? apa kamu benar
__ADS_1
benar alvin? lelaki yang sangat aku cintai."
batinnya.
erlita baru tersadar, kalau ada dua
kejanggalan. pertama, laki laki yang
ada di hadapannya itu tidak bisa
menyanyikan lagu kesukaan mereka.
dan kedua, tanda yang ada dipunggung nya
membuat erlita kini meragukannya.
tok tok tok....
bu dita datang untuk mengajak erlita
dan alviandra sarapan bersama.
seperti biasa erlita melayani suami
nya dengan baik. namun saat erlita
ingin menuangkan sup kepiring nya
alviandra, dia kurang pokus sehingga
membuat pakaian alviandra kena
tumpahan air sup itu. bu dita meminta
alviandra untuk mengganti pakaian nya,
yang di ikuti oleh erlita.
"aku minta maaf, aku gak sengaja."
lirih erlita.
"tidak apa apa! aku tahu kau sedang melamun."
sahut alviandra.
"sini aku bantu." erlita melepas pakaian
yang dikenakan alviandra. lalu
menggantinya dengan pakaian baru.
mereka pun kembali ke meja makan.
"loh papa mana ma?" tanya erlita.
"papa pergi kekantor polisi." jawabnya.
"ngapain?" tanya erlita lagi.
"untuk melaporkan teman kampus
kamu, yang sering jahatin kamu."
sahut mama dita.
"johan?" tanya erlita.
"ya! siapa lagi." ucap nya.
"aku berangkat kerja dulu ya."
alviandra menyalami tangan bu dita
dan mencium kening erlita sebelum
pergi.
erlita kembali ke kamar nya.
dia mencari beberapa poto untuk
memancing suaminya, dan menepis
keraguan terhadap nya.
"album poto ini akan menjelaskan
siapa kamu sebenarnya." batin nya.
"lita...turun sayang! ini ada teman
teman kamu." teriak bu dita.
erlita menuruni anak tangga satu persatu
dengan sangat berhati hati. dia sadar kalau
dia tengah berbadan dua dan sebentar
lagi janin yang ada di dalam kandungan nya
akan segera lahir.
"halo bumil, aku senang karna kamu
tinggal di rumah ini lagi, dengan begitu
jarak rumah kita dekat lagi." ucap karin.
"iya." erlita tersenyum.
"gak kerasa ya, sebentar lagi kita akan
menjadi tante." ucap suci.
"jadi kalian kapan akan menyusul?"
goda erlita.
"doain aja! mudah mudahan tahun depan."
__ADS_1
ucap suci.
"aamin..." serentak kedua nya.