
kurang lebih satu jam sudah, mereka
melakukan perjalanan, hingga kini
mereka telah tiba di sebuah perbukitan
tempat mereka akan mendirikan tenda.
alvin dan teman teman nya terlihat
sangat gesit mendirikan sebuah tenda, hingga mereka yang lebih dulu selesai
di banding kan dengan yang lain. alvin
pun menghampiri erlita dan teman
teman sekelompok nya, yang terlihat
kesulitan mendirikan tenda mereka.
"sini ku bantu." kata alvin.
erlita pun tersenyum manis pada nya.
"vin, cari kayu bakar yuk." ajak jono.
"jangan ajak alvin dong! dia kan lagi
bantu kita diriin tenda, kamu ajak
alviandra aja, noh dia lagi duduk santai."
kata karin, seraya menoleh ke arah
alviandra dan teman teman nya.
"males akh." desis jono.
"males apa takut?" goda karin.
"dua dua nya, hahaha" Jono
mentertawa kan dirinya nya sendiri.
"ya sudah, sama aku aja jon! lagi pula
tenda nya udah hampir beres." kata alvin.
"yuk Jon." sambung nya, setelah
menyelesai kan tenda erlita dan teman
teman nya.
"makasih ya vin." kata erlita dan teman
teman nya serempak.
"sip." kata alvin seraya mengacung kan
jempol nya, dia dan jono, serta anak anak yang lain pun pergi ke hutan untuk
mencari kayu bakar, sementara para
siswi pergi ke sungai untuk mencuci
beras dan sayur sayuran, beserta ikan
dan daging ayam yang akan mereka
masak. pak didit, pak arga dan pak Ikmal (guru kelas XII IPS 2) selaku pembimbing
pelaksanaan camping terlihat sibuk
mempersiap kan sebuah peta buat
anak anak murid mereka, agar mereka
tidak tersesat selama berada di hutan.
tak lama kemudian alvin dan teman
teman nya datang dengan membawa
seikat kayu. tanpa menunggu lama
mereka langsung mengolah makanan
tersebut hingga matang, dan siap untuk
di makan. erlita menggelar tikar,
sementara yang lain nya mempersiap
kan makanan nya.
"sudah siap nih, rin tolong panggilin
pak didit, pak arga dan pak Ikmal dong."
kata erlita.
"biar aku aja." sahut suci.
guru guru pun datang, mereka pun
mulai menyantap makanan itu dengan
lahap. pak didit menoleh ke arah jam
tangan nya yang sudah menunjukan
pukul 16:04.
setelah makan, mereka semua
berkumpul. pak didit pun menjelas kan.
setiap warna bendera yang pak didit
tancap kan di depan tenda mereka, maka
warna bendera itu lah yang harus mereka
kumpul kan. pak didit mulai menancap
kan, satu persatu warna bendera di tenda
semua murid, yang jumlah nya sembilan tenda itu. karna setiap kelas menjadi
tiga kelompok.
__ADS_1
"apa ada yang ingin kalian tanyakan lagi?"
kata pak arga.
"tidak pak." serempak semua murid.
pak ikmal membagi kan peta lokasi
yang sudah di buat nya tadi bersama
pak didit dan pak arga.
"waktu kalian hanya satu jam!
waktu di mulai dari sekarang."
kata pak ikmal. semua murid pun
bergabung dengan kelompok nya
masing masing, lalu mulai mencari
bendera yang sudah guru terang kan.
"kalau lihat dari petunjuk lokasi nya,
bendera itu terletak di sebuah pohon
besar." kata karin.
"lah, di belakang mu itu kan pohon
besar." sahut suci.
"ayo cari." kata erlita, seraya bergegas
mengelilingi pohon itu, yang di ikuti
oleh teman teman nya yang lain.
"horee, aku dapat!" seru erlita.
"wah iya, berarti kita tinggal cari dua
bendera lagi." ucap teman teman
kelompok erlita yang lain.
"ya udah ayo, semangat." seru mereka.
sudah tiga puluh menit berlalu,
namun mereka masih belum juga
menemukan dua bendera lagi.
"yah gimana nih, kalau kita tidak bisa
menemukan dua bendera lagi,
kelompok kita bisa tereliminasi."
kata karin.
"apa sebaik nya kita berpencar saja?"
usul salah satu dari mereka.
sudah menjelas kan, kalau tiap
kelompok gak boleh ada yang terpisah."
jelas erlita.
"aku setuju, dengan apa yang di bilang
erlita, kalau di antara kita itu tidak boleh
ada yang berpencar." kata suci.
"tapi aku gak mau kalah." bentak salah
satu dari kelompok nya erlita.
"gak usah nge gas gitu bisa gak sikh."
ketus erlita.
"iya! lagi pula, siapa juga yang mau
kalah." sinis karin.
"ya udah, kita ambil suara, yang setuju
kita harus berpencar angkat tangan nya."
kata salah satu dari mereka. dan
mereka pun satu persatu mengangkat
tangan nya. kecuali erlita, karin dan suci.
"sudah jelas kan?" kata salah satu dari
mereka, menatap sinis pada erlita.
gadis itu pun mengambil tanda panah
berwarna merah di ransel nya.
"okey, nanti kita bertemu lagi di sini!"
ke tujuh gadis itu pun membagi dua
bagian, tiga di antara nya pergi ke
sebelah timur, sedang kan ke empat
dari mereka pergi ke arah utara.
"rese banget sikh itu anak." gerutu karin,
seraya menatap kepergian mereka,
hingga pandangan itu lenyap.
"ya udah yuk, waktu kita tinggal dua
puluh menit lagi, karna tadi kita
kelamaan debat sama mereka."
__ADS_1
kata erlita. mereka pun pergi ke arah
barat.
"tunggu guys!" kata erlita.
"kenapa lita?" tanya karin.
"kalian sadar gak sikh? kalau dari
tadi kita hanya mutar mutar di tempat
ini." ucap erlita datar.
karin dan suci pun menatap ke
sekeliling. dan apa yang di katakan
erlita memang benar.
"duh gimana nih? hari udah mulai
gelap, kita harus cepat cepat ke tenda
kumpul bersama anak anak yang lain."
kata suci, yang terlihat cemas.
"mau cepat cepat ke tenda gimana?
emang nya kamu tau jalan menuju
tenda?" tanya karin yang mulai resah.
sementara di tempat didirikan nya
tenda, semua guru dan murid tampak
terlihat cemas, karna sudah lebih dari
satu jam kelompok erlita belum ada
yang kembali.
"gimana nih pak? apa gak sebaik nya
kitacari sekarang saja mereka." kata alvin,
yang mulai mencemas kan erlita.
"kita tunggu sebentar lagi." ucap pak arga.
"kesempatan untuk aku! erlita pasti
akan bersimpati pada ku, kalau tau
aku mencemas kan nya." batin doni,
dia pun mengendap agar guru dan
murid yang lain tidak melihat nya
meninggal kan tenda. dia tidak tau
kalau alviandra selalu mengawasi
gerak gerik nya. alviandra pun
membuntuti nya dari belakang.
tak lama kemudian empat gadis dari
kelompok erlita muncul.
"kenapa kalian cuma berempat? yang
lain nya mana?" tanya pa didit, menatap
heran ke arah mereka.
"memang nya yang lain belum pada
ke sini pak?" bukan nya menjawab
pertanyaan pak didit, salah satu dari
mereka malah balik bertanya.
"kenapa kamu bertanya pada bapak?
bukan kah tadi mereka bersama kamu."
ketus pak didit.
"maaf pak, tadi kita berpencar."
kata salah satu nya.
"bukan kah tadi sudah di jelas kan!
apa pun yang terjadi, kalian tidak
boleh berpisah." tegas pak didit.
"maaf pak." kata mereka.
pak didit membuang nafas nya kasar.
kemudian datang lah ke tiga gadis
yang berkelompok dengan erlita.
pak didit kembali mengintrogasi mereka.
namun di antara mereka juga tidak ada
yang tau di mana ke beradaan erlita,
karin dan suci. alvin menghela nafas
kasar, dia sudah tidak bisa menunggu
lagi, dia pun meminta ijin untuk
mencari erlita dan teman teman nya.
"alvin... tunggu sebentar lagi." teriak
pak arga, namun alvin tampak tidak
menghirau kan guru nya itu.
__ADS_1