AKU Bukan DIA ( Kita Berbeda)

AKU Bukan DIA ( Kita Berbeda)
ep 33 tersesat


__ADS_3

kurang lebih satu jam sudah, mereka


melakukan perjalanan, hingga kini


mereka telah tiba di sebuah perbukitan


tempat mereka akan mendirikan tenda.


alvin dan teman teman nya terlihat


sangat gesit mendirikan sebuah tenda, hingga mereka yang lebih dulu selesai


di banding kan dengan yang lain. alvin


pun menghampiri erlita dan teman


teman sekelompok nya, yang terlihat


kesulitan mendirikan tenda mereka.


"sini ku bantu." kata alvin.


erlita pun tersenyum manis pada nya.


"vin, cari kayu bakar yuk." ajak jono.


"jangan ajak alvin dong! dia kan lagi


bantu kita diriin tenda, kamu ajak


alviandra aja, noh dia lagi duduk santai."


kata karin, seraya menoleh ke arah


alviandra dan teman teman nya.


"males akh." desis jono.


"males apa takut?" goda karin.


"dua dua nya, hahaha" Jono


mentertawa kan dirinya nya sendiri.


"ya sudah, sama aku aja jon! lagi pula


tenda nya udah hampir beres." kata alvin.


"yuk Jon." sambung nya, setelah


menyelesai kan tenda erlita dan teman


teman nya.


"makasih ya vin." kata erlita dan teman


teman nya serempak.


"sip." kata alvin seraya mengacung kan


jempol nya, dia dan jono, serta anak anak yang lain pun pergi ke hutan untuk


mencari kayu bakar, sementara para


siswi pergi ke sungai untuk mencuci


beras dan sayur sayuran, beserta ikan


dan daging ayam yang akan mereka


masak. pak didit, pak arga dan pak Ikmal (guru kelas XII IPS 2) selaku pembimbing


pelaksanaan camping terlihat sibuk


mempersiap kan sebuah peta buat


anak anak murid mereka, agar mereka


tidak tersesat selama berada di hutan.


tak lama kemudian alvin dan teman


teman nya datang dengan membawa


seikat kayu. tanpa menunggu lama


mereka langsung mengolah makanan


tersebut hingga matang, dan siap untuk


di makan. erlita menggelar tikar,


sementara yang lain nya mempersiap


kan makanan nya.


"sudah siap nih, rin tolong panggilin


pak didit, pak arga dan pak Ikmal dong."


kata erlita.


"biar aku aja." sahut suci.


guru guru pun datang, mereka pun


mulai menyantap makanan itu dengan


lahap. pak didit menoleh ke arah jam


tangan nya yang sudah menunjukan


pukul 16:04.


setelah makan, mereka semua


berkumpul. pak didit pun menjelas kan.


setiap warna bendera yang pak didit


tancap kan di depan tenda mereka, maka


warna bendera itu lah yang harus mereka


kumpul kan. pak didit mulai menancap


kan, satu persatu warna bendera di tenda


semua murid, yang jumlah nya sembilan tenda itu. karna setiap kelas menjadi


tiga kelompok.

__ADS_1


"apa ada yang ingin kalian tanyakan lagi?"


kata pak arga.


"tidak pak." serempak semua murid.


pak ikmal membagi kan peta lokasi


yang sudah di buat nya tadi bersama


pak didit dan pak arga.


"waktu kalian hanya satu jam!


waktu di mulai dari sekarang."


kata pak ikmal. semua murid pun


bergabung dengan kelompok nya


masing masing, lalu mulai mencari


bendera yang sudah guru terang kan.


"kalau lihat dari petunjuk lokasi nya,


bendera itu terletak di sebuah pohon


besar." kata karin.


"lah, di belakang mu itu kan pohon


besar." sahut suci.


"ayo cari." kata erlita, seraya bergegas


mengelilingi pohon itu, yang di ikuti


oleh teman teman nya yang lain.


"horee, aku dapat!" seru erlita.


"wah iya, berarti kita tinggal cari dua


bendera lagi." ucap teman teman


kelompok erlita yang lain.


"ya udah ayo, semangat." seru mereka.


sudah tiga puluh menit berlalu,


namun mereka masih belum juga


menemukan dua bendera lagi.


"yah gimana nih, kalau kita tidak bisa


menemukan dua bendera lagi,


kelompok kita bisa tereliminasi."


kata karin.


"apa sebaik nya kita berpencar saja?"


usul salah satu dari mereka.


sudah menjelas kan, kalau tiap


kelompok gak boleh ada yang terpisah."


jelas erlita.


"aku setuju, dengan apa yang di bilang


erlita, kalau di antara kita itu tidak boleh


ada yang berpencar." kata suci.


"tapi aku gak mau kalah." bentak salah


satu dari kelompok nya erlita.


"gak usah nge gas gitu bisa gak sikh."


ketus erlita.


"iya! lagi pula, siapa juga yang mau


kalah." sinis karin.


"ya udah, kita ambil suara, yang setuju


kita harus berpencar angkat tangan nya."


kata salah satu dari mereka. dan


mereka pun satu persatu mengangkat


tangan nya. kecuali erlita, karin dan suci.


"sudah jelas kan?" kata salah satu dari


mereka, menatap sinis pada erlita.


gadis itu pun mengambil tanda panah


berwarna merah di ransel nya.


"okey, nanti kita bertemu lagi di sini!"


ke tujuh gadis itu pun membagi dua


bagian, tiga di antara nya pergi ke


sebelah timur, sedang kan ke empat


dari mereka pergi ke arah utara.


"rese banget sikh itu anak." gerutu karin,


seraya menatap kepergian mereka,


hingga pandangan itu lenyap.


"ya udah yuk, waktu kita tinggal dua


puluh menit lagi, karna tadi kita


kelamaan debat sama mereka."

__ADS_1


kata erlita. mereka pun pergi ke arah


barat.


"tunggu guys!" kata erlita.


"kenapa lita?" tanya karin.


"kalian sadar gak sikh? kalau dari


tadi kita hanya mutar mutar di tempat


ini." ucap erlita datar.


karin dan suci pun menatap ke


sekeliling. dan apa yang di katakan


erlita memang benar.


"duh gimana nih? hari udah mulai


gelap, kita harus cepat cepat ke tenda


kumpul bersama anak anak yang lain."


kata suci, yang terlihat cemas.


"mau cepat cepat ke tenda gimana?


emang nya kamu tau jalan menuju


tenda?" tanya karin yang mulai resah.


sementara di tempat didirikan nya


tenda, semua guru dan murid tampak


terlihat cemas, karna sudah lebih dari


satu jam kelompok erlita belum ada


yang kembali.


"gimana nih pak? apa gak sebaik nya


kitacari sekarang saja mereka." kata alvin,


yang mulai mencemas kan erlita.


"kita tunggu sebentar lagi." ucap pak arga.


"kesempatan untuk aku! erlita pasti


akan bersimpati pada ku, kalau tau


aku mencemas kan nya." batin doni,


dia pun mengendap agar guru dan


murid yang lain tidak melihat nya


meninggal kan tenda. dia tidak tau


kalau alviandra selalu mengawasi


gerak gerik nya. alviandra pun


membuntuti nya dari belakang.


tak lama kemudian empat gadis dari


kelompok erlita muncul.


"kenapa kalian cuma berempat? yang


lain nya mana?" tanya pa didit, menatap


heran ke arah mereka.


"memang nya yang lain belum pada


ke sini pak?" bukan nya menjawab


pertanyaan pak didit, salah satu dari


mereka malah balik bertanya.


"kenapa kamu bertanya pada bapak?


bukan kah tadi mereka bersama kamu."


ketus pak didit.


"maaf pak, tadi kita berpencar."


kata salah satu nya.


"bukan kah tadi sudah di jelas kan!


apa pun yang terjadi, kalian tidak


boleh berpisah." tegas pak didit.


"maaf pak." kata mereka.


pak didit membuang nafas nya kasar.


kemudian datang lah ke tiga gadis


yang berkelompok dengan erlita.


pak didit kembali mengintrogasi mereka.


namun di antara mereka juga tidak ada


yang tau di mana ke beradaan erlita,


karin dan suci. alvin menghela nafas


kasar, dia sudah tidak bisa menunggu


lagi, dia pun meminta ijin untuk


mencari erlita dan teman teman nya.


"alvin... tunggu sebentar lagi." teriak


pak arga, namun alvin tampak tidak


menghirau kan guru nya itu.

__ADS_1


__ADS_2