
suara langkah kaki seseorang itu
berhenti di depan pintu ruang
kerja alvin. tak lama kemudian
pintu terbuka.
"anya." ucap alvin.
"pak alvin! bu sonya! emm...
maaf pak saya tidak tahu
kalau bapak belum pulang."
ucap anya yang terkejut.
"kau mau apa kesini? ini kan
sudah malam, kenapa kau masih
keluyuran di kantor, aku curiga!
apa kau ingin mencuri?"
ucap bu sonya menuduhnya.
"ti tidak bu! saya hanya ingin
mencari dompet saya yang
ketinggalan." ucap anya
membela diri.
"ini kesempatan aku untuk
melarikan diri dari bu sonya."
batin alvin.
"jadi dompet yang warna pink
itu punya kamu?" ucap alvin
seraya mengedipkan mata
kanan nya kepada anya.
"dikh pak alvin apaan sikh, kok
genit gitu, pake ngedipin aku segala."
batin anya yang terlihat salah
tingkah, dan belum sadar dengan
maksud alvin.
"dompet mu tidak ada disini!
sudah sana keluar, ganggu aja."
ketus bu sonya.
"ganggu? memang nya mereka
sedang apa?" batin anya pun
bertanya tanya seraya menoleh
ke arah bu sonya dan alvin
secara bergantian.
"anya ikut aku! dompet mu
ada padaku." ucap alvin.
"tunggu vin! kau mau kemana?"
tanya bu sonya seraya memegang
tangan alvin.
anya tampak terkejut melihat
sikap bu sonya kepada alvin.
namun dia berusaha menepis
prasangka yang ada di kepalanya.
"aku harus mengembalikan dompet
yang tadi aku temui kepada pemilik
nya." ucap alvin tengah berbohong.
"tunggu sebentar! memang nya
dompet mu yang hilang itu warna
apa?" tanya bu sonya seraya
menoleh kearah anya.
"sebenarnya dompet yang sedang
aku cari warna hitam!" batin anya.
"kenapa diam? apa kau memang
sedang berpura pura? ku rasa ada
dua kemungkinan kenapa malam
ini kau bisa ada disini! pertama,
kau ingin mencuri dokumen penting
di perusahaan ini! dan kedua, kau
tahu kan kalau malam ini alvin
kerja lembur maka nya kau kesini
untuk merayu nya." ucap bu sonya
panjang lebar.
"tidak bu! mana berani saya
melakukan kedua nya! dompet
saya benar benar hilang!"
ucap anya melakukan pembelaan.
"kalau begitu cari saja kalau
memang ada! kalau tidak, cepat
pergi dari sini." bentak bu sonya.
"seperti nya saya tidak perlu
mencari nya! karna tadi pak
alvin kan sudah bilang, kalau
pak alvin telah menemukan nya."
jawab anya berbohong.
__ADS_1
"baguslah anya mengerti maksudku."
batin alvin.
"tadi bapak bilang kalau dompet
saya ada pada bapak kan? bisa
tolong kembalikan? soalnya saya
harus segera pulang." ucap anya
tengah memainkan sandiwara nya.
"ya sudah! ikut aku." ucap alvin.
anya pun mengekori nya dari
belakang.
alvin dan anya memasuki lift
menuju lantai paling bawah.
anya memandangi wajah alvin
yang tampak sedikit pucat.
"apa bapak sakit?" tanya anya
memberanikan diri.
"tidak!" jawab alvin.
"wajah bapak tampak pucat, apa
bapak ingin pergi ke dokter?
kalau mau saya bisa mengantar
bapak." anya menawarkan diri.
"tidak perlu! itu hanya akan
mempermalukan diri saya
sendiri." ucap alvin.
"maksud bapak?" tanya nya.
"sudah lupakan saja! inti nya
terima kasih karna malam ini
kau telah menyelamatkan ku."
ucap alvin.
"pak, apa saya boleh bertanya?"
ucap anya dengan berhati hati.
"apa?" tanya alvin.
"apa dompet berwarna pink itu
hanya alasan bapak untuk
melarikan diri dari bu sonya?"
tanya nya.
"ya." singkat alvin.
"sebenarnya apa yang bu sonya
lakukan malam malam begini
di kantor bapak?" tanya nya lagi.
akan ku potong gaji mu bulan ini."
tegas alvin mengancam nya.
"ma maaf pak! saya tidak akan
bertanya lagi." ucap anya yang
sedikit gelagapan.
tak lama kemudian ponsel
alvin berdering, alvin melihat
nama pemanggil di layar ponselnya.
ternyata telpon dari bu sonya
alvin pun mengabaikan nya.
"sikap bu sonya ke pak alvin
kok aneh banget ya? tapi bodo
amat akh, bukan urusan ku juga."
batin anya seraya enggan
memalingkan pandangan nya
terhadap alvin.
anya mengamati wajah tampan
atasannya secara seksama, dan
seketika pandangan nya terkunci
di leher alvin yang merah seperti
seseorang yang sedang habis
bercinta, serta kerah baju yang
tampak seperti warna lipstik.
"oh tidak!" karna refleks spontan
anya mengeluarkan suara nya
sehingga membuat alvin terkejut.
"kenapa?" tanya alvin.
"emm... tidak apa apa pak."
anya mengelak nya.
"mampus dekh, pikiran ku
sekarang melayang layang
di udara! apa mungkin tadi
pak alvin dan bu sonya sedang..."
batin anya.
alvin keluar dari lift dan melihat
anya masih terbengong di dalamnya.
"apa kau tidak ingin pulang?
oya, soal dompet mu yang hilang
__ADS_1
besok aku akan membantu mu
mencari nya! sekarang kau pulang
dan beristirahat lah di rumah."
ucap alvin sebelum pergi
meninggalkan anya.
***************************
makin lama perut erlita semakin
membesar, sehingga beberapa
pakaian kesayangan nya mulai
tidak muat lagi di badan nya.
erlita tampak kecewa dengan
perubahan bentuk tubuhnya,
sementara alviandra tampa
sepengetahuan erlita sedang
tampak serius memperhatikan nya.
"pantas saja alvin enggan untuk
menyentuh ku, aku sadar diri
dengan perubahan ku sekarang."
batin erlita.
"vin, apa besok kamu bisa
mengantar aku untuk pergi ke mall?
tanya erlita.
"untuk apa?" tanya nya.
"kamu lihat deh, beberapa pakaian
dalam ku sudah tidak bisa ku pakai
lagi, dan beberapa baju kesayangan
ku juga sudah tidak muat." ucap erlita.
"baiklah, besok aku akan mengantar
mu." ucap alviandra.
erlita menghampiri alviandra
yang sedang menyenderkan
tubuh nya di ranjang seraya
memainkan ponsel nya.
"vin, coba deh kamu elus perut
ku?" ucap erlita seraya mengarahkan
tangan alviandra agar menyentuh
perutnya.
"gimana? apa kamu bisa ngerasain
sesuatu?" tanya erlita.
"ya! aku merasakan nya."
ucap alviandra seraya tersenyum.
"kamu dengar gak, apa yang calon
bayi kita katakan?" tanya erlita.
"tidak! memang nya apa yang dia
katakan?" alviandra balik bertanya.
"calon bayi kita ingin mendengar
kamu menyanyikan lagu untuk ku."
ucap erlita.
"tapi aku tidak bisa bernyanyi."
ucap alviandra.
"jangan berbohong! aku tau
kalau suara mu itu bagus."
ucap erlita.
"aku tidak bisa menyanyikan mu."
tolak alviandra.
"ayolah vin, aku ingin sekali kamu
menyanyikan ku lagu tentang rindu,
aku suka banget sama lagu itu."
pinta erlita.
akhirnya mau tidak mau terpaksa
alviandra mau menyanyikan lagu
itu.
"suara nya kok beda ya? apa ini
hanya perasaan ku saja! bahkan
lirik nya kok jadi ngaco gitu ya?
apa alvin lupa sama lirik lagu nya?"
batin erlita bertanya tanya saat
ada kejanggalan.
karna malam sudah semakin larut,
alviandra meminta erlita untuk
segera tidur. setelah erlita terlelap
alviandra memandangi wajah
cantiknya lalu kemudian mencium
kening nya.
"hingga sampai detik ini, aku belum
bisa mengetahui bagai mana kabar
alvin! apakah dia akan kembali atau
tidak?" batin alviandra.
__ADS_1