
erlita mendekati alvin. namun kehadirannya belum disadari alvin, karena alvin tampak serius memperhatikan wajah balita yang ada di pangkuannya.
"ekhmm..."
alvin terkejut lalu menoleh kearah sumber suara. "erlita."
"om gian tadi sudah pamit pulang."
alvin tertegun sejenak. "apa kamu ingin agar aku juga pulang?" tanyanya dengan suara pelan.
erlita diam saja, tak menjawab pertanyaan alvin.
"kalau di ijinkan, tolong biarkan aku untuk menggendong babby R lebih lama lagi. aku sangat menyayanginya." lirih alvin. ucapannya membuat erlita terharu hingga meneteskan air matanya.
"kalau kamu mau, kamu boleh datang kesini kapanpun kamu merindukannya. mulai sekarang aku tidak akan melarangmu untuk bertemu dengan babby R." ucap erlita.
"sungguh?" seketika raut wajah alvin yang tadinya muram kini berubah.
"ya, aku tidak boleh egois. karena walau bagaimana pun babby R itu adalah anak kandungmu. dan kamu juga berhak mencurahkan kasih sayangmu padanya." ucap erlita seraya menoleh kearah babby R. "babby R tampak nyaman berada di pangkuanmu. kalau dia sudah bisa bicara, aku yakin, kalau dia juga akan mengatakan hal yang sama."
alvin menatap lekat wajah erlita. "apa itu artinya kalau kamu sudah memaafkanku?"
erlita mengangguk kecil. "katakan pada alviandra juga, kalau aku juga telah memaafkannya." ucap erlita dengan pelan.
***
setelah mendapat ijin dari erlita, alvin pun hampir setiap hari berkunjung ke rumah orangtuanya, untuk menemui babby R. alvin turut andil membantu erlita untuk mengurus babby R.
hubungan persodaraan alvin dan alviandra pun sudah mulai membaik setelah beberapa bulan renggang. dan alviandra juga akan merelakan alvin dengan erlita seandainya mereka balikan lagi. alviandra memang telah jatuh cinta kepada erlita, tetapi dia tidak boleh egois. karena laki-laki yang selama ini dicintai erlita adalah alvin, bukan dirinya. begitupun dengan alvin yang begitu sangat mencintai erlita.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
beberapa tahun kemudian. hari-hari erlita yang kelam bak terselimuti awan hitam, kini seakan kembali terang akibat sinar matahari yang menyinari kehidupannya.
hari ini adalah hari ulang tahun rayen (babby R) yang ke 3. erlita menggelar pesta yang cukup meriah. beberapa anak-anak yang di undang sudah pada hadir, yang tentu saja di dampingi oleh para orangtuanya masing-masing.
tak lupa, semua teman-teman sepermainan rayen memberikannya sebuah kado yang berbeda-beda. ada yang memberinya mobil-mobilan, pesawat-pesawatan, sepatu, baju dan lain-lain. rayen juga mendapatkan hadiah yang harganya cukup mahal dari bu dita, pak kevin dan bu indri.
"rayen." alviandra jongkok menyeimbangi rayen lalu mengusap pucuk kepalanya. "selamat ulang tahun ya." ucapnya seraya memberikan sebuah kotak besar kepadanya.
"terima kasih uncle." ucap rayen dengan senyum manisnya. lalu mengambil kotak yang ada di tangan alviandra.
"hati-hati. ini lumayan berat." ucap alviandra.
"tidak apa-apa uncle, aku bisa membawanya, aku kan laki-laki yang kuat." ucap rayen, sehingga membuat orang-orang yang ada di sana tersenyum gemas melihat tingkahnya.
"rayen..." panggil alvin.
rayen menoleh. kemudian lari menghampiri alvin.
"apa kamu tidak ingin membuka kado dari papa?" tanya alvin.
"papa bawain aku kado juga?" tanyanya.
"tentu saja! kamu kan anak kesayangan papa." ucap alvin seraya mengelus kedua pipi rayen yang sedikit tembem, karena rayen memang doyan ngemil.
"nih, kamu boleh buka sekarang kadonya." ucap alvin. rayen antusias dan langsung membukanya.
"wow... bagus sekali, robotnya sangat besar dan bisa bergerak." seru rayen.
erlita tertawa melihat tingkah lucu rayen. "robotnya bahkan lebih besar dari pada badanmu." ucapnya terkekeh.
"kamu bisa menekan tombol ini." ucap alvin seraya memencet tombol di belakang robot itu dan menunjukannya kepada rayen, sehingga menyala lah lampu kelap-kelip bahkan robot itu pun bersuara.
"wow, robotnya bisa bicara." seru rayen, dia terlihat sangat gembira.
"bilang apa sama papa?" ucap erlita.
"terima kasih papa." ucap rayen.
"terima kasih doang nih? kamu gak mau peluk papa gitu?" pinta alvin.
rayen pun memeluknya. "terima kasih papa."
__ADS_1
alvin mengusap lembut pucuk kepalanya, kemudian mencium keningnya.
rayen menoleh kepada erlita yang sedari tadi melihatnya. "mama tidak memberiku kado?" tanya rayen.
"maaf sayang, mama terlalu sibuk menyiapkan acara ulang tahunmu, jadi mama belum sempat membelikan kado untukmu. katakan apa maumu? nanti mama akan membelikannya." tanya erlita.
"mama jahat! mama tidak sayang sama aku." ucap rayen yang cemberut, seraya membelakangi erlita.
erlita dan alvin pun saling bertatapan. alvin jongkok menyeimbangi ketinggian antara dirinya dan rayen. "rayen, kamu tidak boleh bicara seperti itu, tentu saja mamamu sangat menyayangimu. sekarang katakan apa maumu?" alvin menatap dalam wajah polos anaknya.
"rayen ingin hadiah dari mama." ucap rayen, seraya berbalik kearah erlita lalu menatapnya.
erlita ikutan jongkok menyeimbangi ketinggiannya dengan rayen. "katakan apa maumu? mama pasti akan menurutinya." ucap erlita.
"apa mama akan menuruti semua permintaanku?" rayen meyakinkan.
"ya." erlita mengangguk.
"aku ingin mama bisa sama-sama terus dengan papa."
deg. ucapan rayen membuat erlita sedikit terkejut. "apa maksudmu sayang? bukannya mama dan papa memang selalu sama-sama ya." ujar erlita.
"aku ingin papa tinggal sama kita." pinta rayen.
"tidak bisa sayang." ucap erlita.
"kenapa?" tanyanya.
"mama dan papa bukanlah pasangan suami istri, jadi kita tidak bisa tinggal serumah." jelas erlita.
"aku mau mama dan papa menjadi suami istri. aku sayang mama dan papa! aku tidak mau jauh-jauh dari mama dan papa." ucap rayen, seraya memeluk kedua orangtuanya secara berbarengan.
"pa, aku boleh samperin teman-temanku tidak? aku ingin menunjukkan robot ini kepada mereka." tanyanya.
"ya." alvin mengangguk.
erlita dan alvin kembali bertatapan. erlita tampak sedikit canggung setelah mendengar pernyataan dari rayen, kalau dia ingin dirinya dan alvin bersama.
"hakh? gimana apanya?"
"soal keinginan rayen tadi?"
"emm, aku, aku..." ucapannya menggantung di tenggorokan, erlita bingung harus menjawab apa.
"aku harap apa yang aku rasakan, kamu juga dapat merasakannya." ucap alvin.
"apa maksudmu?"
"sama halnya seperti rayen. aku juga ingin kita hidup bersama, dan memulainya dari awal." ucap alvin.
erlita tertegun sejenak. tidak bisa di pungkiri kalau dia memang masih menyimpan perasaan yang besar untuk alvin. "aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sudah aku perbuat denganmu." ucapannya yang seketika membuat alvin terkejut. "aku tidak mau mengulanginya dari awal. aku mau langsung ke final." lanjutnya.
alvin tercengang mendengar ucapannya. "maksudmu?"
"aku tidak mau pacaran! aku ingin kita langsung menikah saja." ucap erlita. yang seketika membuat alvin tampak mengulum senyumannya.
"apa kamu serius?" alvin meyakinkan.
erlita mengangguk kecil sambil tersenyum.
seketika alvin langsung memeluknya dengan hangat. "terima kasih! aku berjanji, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, apapun alasannya." ucap alvin.
***
...seminggu kemudian....
"pa aku ingin melamar erlita, papa mau kan mengantarku untuk bicara kepada orangtuanya." pinta alvin.
"tidak bisa."
"kenapa? bukankah papa merestui hubunganku dengannya." tanya alvin.
"sebelum kamu menikahi erlita, papa ingin kamu membantu papa, agar papa bisa rujuk dengan mamamu." ucap pak gian.
__ADS_1
"papa serius?" alvin tampak senang.
"iya. papa ingin sekali kembali membina rumah tangga dengan mamamu. papa sadar, kalau mamamu itu terlalu berharga untuk papa sia-siakan. kamu mau kan bantu papa?"
"tentu saja pa."
seminggu kemudian pak gian dan bu indri pun melangsungkan pernikahan di masjid, yang hanya dihadiri oleh sodara dan beberapa teman terdekat. kata "Sah" pun telah terucap dari mulut para saksi yang hadir disana.
alvin menggenggam erat tangan erlita, dia tak mau melepaskannya walau sebentar saja. sementara alviandra tampak menggandeng seorang wanita cantik yang usianya masih terlihat belasan tahun.
"nah sekarang, siapa yang ingin menyusul papa ke meja ijab kabul?" tanya pak gian terkekeh.
"aku..." jawab alvin dan alviandra secara bersamaan.
"aku dulu. aku itu kakakmu, mana bisa kamu melangkahiku." desus alvin.
"jangan sombong! kita itu hanya beda lima menit saja, umur kita sama." ujar alviandra.
"sayang..." wanita itu tampak mencubit tangan alviandra yang di gandengnya.
"aww... sakit sayang." pekik alviandra kepada pacarnya.
"ya habisnya kamu ngeselin. aku kan masih sekolah, mana bisa menikah denganmu. atau jangan-jangan kamu sudah berniat untuk menikah dengan wanita lain, iya kan? ayo ngaku." ucap gadis itu.
"ya enggak lah sayang. hanya kamu satu-satunya gadis yang aku cintai."
erlita tersenyum melihat tingkah keduanya. dia senang karena akhirnya alviandra sudah bisa move-on darinya.
"pak penghulu tolong nikahkan mama dan papa saya." teriak rayen kepada penghulu yang baru saja menikahkan oma dan opanya.
"tidak bisa dek, menikah tidak bisa secepat itu. mama dan papa adek harus terlebih dulu mempersiapkan surat-surat dan syarat-syarat sebelum melangsungkan pernikahan." ucap penghulu.
rayen menghampiri alvin. "papa cepat persiapkan syarat-syaratnya pa." pinta rayen.
semua yang ada disana pun tertawa geli, melihat tingkah lucu bocah yang baru berusia tiga tahun itu.
***
hari yang di tunggu-tunggu pun kini telah tiba. hari ini adalah hari di mana erlita dan alvin akan melangsungkan pernikahan. setelah sah menjadi sepasang suami istri. alvin langsung memboyong erlita dan rayen untuk tinggal bersamanya di rumah pribadinya.
malam hari.
"sayang ini sudah malam, sekarang kamu tidur di kamarmu ya?" ucap erlita kepada rayen.
"rayen mau bobo disini." rengeknya.
"rayen kenapa?" tanya alvin yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan badannya.
"rayen lagi rewel, dia gak mau tidur di kamarnya." ucap erlita.
alvin menggendong tubuh mungil rayen lalu mendudukannya di tepi ranjang. "rayen pengen punya adek gak?" tanya alvin. erlita tampak mengernyitkan dahinya mendengar ucapan alvin.
"pengen pa." ucapnya pelan.
"kalau rayen pengen punya adek, rayen harus belajar mandiri untuk tidur sendiri." ucap alvin.
"memangnya kenapa pa?"
"rayen kan calon kakak, rayen harus bisa menjadi anak yang pemberani, untuk mencontohi adik-adik rayen nanti." bujuk alvin. akhirnya rayen pun menuruti ucapan papanya, dia pergi ke kamarnya bersama babby yang menjaganya.
"kenapa kita tidak membiarkan rayen tidur disini saja malam ini?" tanya erlita.
"tidak bisa! kamu dengarkan kalau tadi rayen bilang ingin punya adik."
"tidak. itu kamu yang menawarkannya."
"tapi jawaban rayen mau kan."
erlita tersenyum melihat sikap suaminya yang terlihat sedikit kekanak-kanakan.
"jadi, apa kamu sudah siap?" tanya alvin.
erlita mengulum senyumannya lalu kemudian mengangguk.
__ADS_1