
ke esokan hari nya di sekolah.
alvin menghampiri erlita.
lalu mengajak nya untuk pergi ke
kantin, yang di susul oleh karin.
"alviandra belum ke sini?"
tanya erlita.
"kaya nya belum! tumben kamu
nanyain dia." sahut alvin.
"kamu jangan cemburu dulu! ini
itu soal tugas...." ucapan erlita pun
menggantung karna alvin memotong
pembicaraan nya.
"siapa yang cemburu?" tanya alvin.
"lokh emang nya kamu gak cemburu,
kalau misal kan aku dekat sama laki
laki lain?" tanya erlita.
" yang pasti nya si bukan sama
alviandra juga! masa aku cemburu
pada dia, dia itu kan sodara ku."
ucap alvin datar.
"betul juga sikh!" erlita membenarkan
ucapan nya alvin.
"terus, bagai mana dengan tugas nya
yang harus di kumpul kan hari ini?"
karin pun menyela.
"nah, itu yang lagi aku pikirin! mana
itu anak dari tadi belum nongol lagi."
sahut erlita, yang tampak gelisah.
"ya udah kita tunggu dia di kelas aja
yuk?" kata karin dan sontak
membuat erlita dan alvin menatap
satu sama lain mendengar ucapan nya.
karin pun seakan mengetahui apa
yang ada di dalam pikiran teman
teman nya itu pun mencoba untuk
melurus kan nya.
"jangan salah paham dulu! aku cuma
kasihan aja kalau pak didit sampai menghukum alviandra, bagai mana
pun juga dia itu kan sodara nya
alvin"." jelas karin panjang lebar.
"hmmm." gumam erlita.
"ya udah yuk!" karin menarik tangan
erlita menuju kelas mereka.
bruuggggkk....
di dalam kelas karin menabrak alviandra.
"so sorry ndra, aku gak sengaja."
ucap karin yang terbata bata.
namun alviandra hanya diam saja,
tidak menggubris ucapan karin.
alviandra pun duduk di bangku nya.
erlita dan karin masih berdiri mematung
di hadapan alviandra, hingga membuat
alviandra menatap tajam ke arah mereka
secara bergantian.
melihat sorotan mata alviandra, erlita
dan karin pun seakan mengerti, mereka
pun duduk di bangku masing masing.
erlita mengambil buku di tas nya, lalu
memberikan nya pada Alviandra.
"nih buku tugas kemarin, aku sama
yang lain udah pada ngerjain! tinggal
kamu yang belum." erlita memecah keheningan di antara mereka.
"bukan kah seharus nya kita
mengerjakan ini bersama sama!"
alviandra yang menatap tajam erlita.
"aku tau! tapi kemarin aku sudah
__ADS_1
mencoba untuk menghubungi mu
berkali kali." ucap erlita.
tiba lakh pak didit di kelas itu, dan
meminta semua murid untuk
mengumpul kan tugas tugas nya
di meja guru. satu persatu murid
menaruh buku mereka di meja
pak didit, tak terkecuali erlita.
"okey! apa semua nya sudah
mengumpulkan buku tugas nya?"
tanya pak didit, pada seluruh siswa.
alviandra mengangkat tangan nya.
"maaf pak, saya belum mengerja kan
nya." ucap alviandra.
pak didit pun membuang nafas kasar.
"ya sudah, kamu lari keliling lapangan
dua puluh kali! dan jangan masuk
kelas sebelum bel istirahat berbunyi."
tegas pak didit.
dengan berat hati alviandra pun
menerima hukuman yang pak didit
berikan ke pada nya.
di lapangan.
dua puluh putaran sudah alviandra
mengelilingi lapangan itu. karna lelah
dia pun duduk tanpa beralas kan kursi.
alviandra menatap sekeliling. hembusan
angin sepoy sepoy se akan meniupi
keringat alviandra yang ber cucuran.
tatapan nya pun terkunci, tat kala dia
melihat seorang gadis berjalan
menghampiri nya.
"nih! kamu pasti haus." kata erlita
seraya menyodor kan minuman dingin
namun bukan nya menerima nya,
alviandra malah menepis minuman
itu hingga tumpah.
"kamu kenapa sikh? padahal selama
ini aku udah berusaha berbuat baik
sama kamu." bentak erlita.
alviandra bangkit dari duduk nya.
"gak usah so so'an cari muka di
hadapan ku! aku tau, kau berbuat
baik pada ku hanya ingin mencuri
simpati nya Alvin." ucap alviandra.
"ternyata bukan sifat kamu aja ya,
yang ngeselin! tapi pikiran mu juga
picik." bantah erlita.
"se tidak nya, aku bukan orang yang
munafik seperti mu!" kata alviandra.
yang membuat erlita harus menahan
amarah nya setelah mendengar ucapan
alviandra.
"hai kak alviandra." santi yang tiba tiba
datang. namun bukan nya membalas
sapaan santi, alviandra malah pergi
meninggal kan mereka.
"kamu ngapain deketin alviandra?
kamu kan sudah punya Alvin."
kata santi, yang sudah mulai blak
blakan menyebut nama mereka.
"urusan mu apa? toh kamu sendiri
bukan siapa siapa nya alviandra kan."
sinis erlita, yang membuat santi
terdiam membisu.
"saran aku sikh, mending kamu gak
__ADS_1
usah terlalu berharap ke pada
alviandra! karna aku tau betul alviandra
itu orang yang seperti apa." desus erlita.
"heukh, so banget si kamu! tapi aku
akan buktiin sama kamu, kalau
aku pasti bakal dapatin alviandra."
kata santi penuh percaya diri.
"okey! selamat bermimpi." erlita
pun pergi meninggalkan Santi di
lapangangan itu sendiri.
di kantin.
karin sedang asyik menikmati makanan
nya, datang lakh erlita yang kemudian
duduk di samping nya.
"kamu ke mana aja? aku cariin dari tadi
juga." kata karin, sambil mengunyah
makanan yang ada di dalam mulut nya.
"kamu lihat alvin gak?" bukan nya
menjawab pertanyaan karin, erlita
malah balik bertanya.
"lakh itu yang di pojokan kantin siapa?"
kata karin, yang masih pokus dengan
makanan nya.
seketika erlita menoyor karin pelan,
dengan telunjuk tangan nya.
"alviandra bego." desis erlita.
"hehehe.... " karin cengengesan.
"ekh mau ke mana?" tanya karin,
karna melihat erlita yang bangkit
dari tempat duduk nya.
"mau cari alvin." sahut erlita.
beberapa menit setelah erlita pergi
alvin datang lalu menghampiri karin.
"erlita mana rin?" tanya alvin.
"tadi dia nyariin kamu!" sahut karin.
"terus sekarang dia ke mana?"
tanya alvin lagi.
"mungkin ke perpus." sahut karin,
sambil memasukan makanan terakhir
ke dalam mulut nya.
"vin, aku duluan ya." sambung karin,
setelah menghabis kan makanan nya.
setelah karin pergi, alvin terlihat
celingak celinguk mencari dimana
keberadaan jono dan rehan, mata nya
pun terkunci saat alvin melihat
alviandra yang terlihat mulai akrab
dengan doni, yang tak lain adalah
orang yang dulu sering mencari gara
gara ke pada alviandra.
"mau numpang duduk aja, atau
sekalian mau pesan makanan?"
tanya mang uje yang membuyar kan
lamunan alvin.
"mang uje, ngagetin aja." sahut alvin.
karna kantin gak begitu rame, mang
uje pun duduk bersebelahan dengan
alvin. sekilas mang uje menoleh
ke arah alviandra.
"gak usah heran, kalau sodara mu
sekarang terlihat lebih akrab dengan
doni! mungkin saja doni mulai sadar
kalau alviandra lebih kuat dari nya."
kata mang uje, yang se akan tau apa
yang ada di dalam pikiran nya alvin.
mang uje memang sering melihat pertengkaran alviandra dan doni.
__ADS_1