
cukup lama mereka berbicara di dalam
gudang itu, hingga bel tanda istirahat
telah selesai pun berbunyi.
dengan cepat alviandra meninggal kan
gudang sebelum ketahuan doni dan
teman wanita nya.
*kelas XII IPS 1*
"pasti cewek ini, orang yang tadi Doni
bicara kan dengan wanita itu"
batin alviandra, seraya menoleh ke
arah erlita yang duduk di sebelah nya.
sesaat setelah dia mengingat perkataan
terakhir doni, saat akan meninggal kan
erlita kemarin waktu di kelas nya.
tak lama kemudian pak didit memasuki
ruangan kelas itu, lalu memulai sebuah
pelajaran selanjut nya.
semua murid tampak pokus mengerjakan
soal yang pak didit berikan.
teng teng teng....
jam sekolah telah selesai, akhir nya
semua murid berkemas memasukan
buku pelajaran mereka ke tas dan
ransel masing masing.
"rin, temenin aku ke toilet dulu yuk,
aku kebelet nih." kata erlita.
"ayo." sahut karin.
mereka pun berjalan melewati koridor
sekolah. tibalah mereka di pintu
perbatasan antara toilet pria dan wanita.
namun saat erlita melihat doni yang
baru keluar dari toilet pria, erlita
memutar balik badan nya, dan malah
pergi ke arah parkiran sekolah.
" kenapa? kata nya kamu ke belet, kok
malah kesini?" tanya karin yang heran.
"eukh, gak jadi dech rin, makasih ya."
kata erlita, dia pun menghampiri sopir
pribadi yang menjemput nya.
"kenapa sikh tuh anak? aneh banget."
gumam karin. dia pun memasuki
mobil nya.
"Doni.." panggil alviandra.
"ada apa?" tanya doni datar.
"aku ingin bicara dengan mu."
kata alviandra dengan tatapan dingin nya.
"sekarang?" tanya doni.
"ya! ku tunggu kau di cafe tempat biasa
kita nongkrong." alviandra pun memasuki
mobil nya.
*cafe*
"ada apa?" tanya doni, setelah
menghampiri alviandra di cafe itu.
karna alviandra telah lebih dulu
sampai di sana.
"apa hubungan mu dengan erlita?"
tanya alviandra to the point.
seketika raut wajah doni pun berubah.
"maksud mu?" bukan nya menjawab,
doni malah balik bertanya.
"aku minta, kau jangan pernah
mengganggu nya lagi." tegas alviandra.
"kau salah paham, aku tidak pernah
mengganggu nya." bantah doni.
"jangan mengelak! dua kali aku melihat
mu bersama nya! dan yang terakhir, aku
melihat nya menangis, setelah kau
meninggal kan nya! sebenar nya apa
__ADS_1
yang ingin kau lakukan terhadap nya?"
"bro, aku tidak mengerti apa yang kamu
bicarakan." doni masih berusaha
mengelak nya.
alviandra mengepal kan tangan nya,
seraya menatap tajam ke arah doni
dengan tatapan dingin nya.
doni menelan ludah nya kasar.
"erlita adalah cinta pertama ku." kata
doni, setelah beberapa saat dia terdiam.
"aku telah berusaha untuk melupakan
nya, dan mencoba untuk menjalin cinta dengan wanita lain! tapi, hubungan ku
selalu kandas di tengah jalan." jelas doni.
"lalu, kenapa kau masih saja menggangu nya?" tanya alviandra datar.
"aku tidak bisa melupakan nya."
ucap doni lirih.
mendengar ucapan doni, alviandra
pun menghela nafas nya secara kasar.
"berbuat baik lah pada nya! jika memang
kau tulus mencintai nya, jangan pernah
kau berani untuk merusak masa
depan nya." alviandra pun pergi lebih
dulu dari cafe itu, seraya menepuk
punggung doni dua kali, sebagai bentuk
solidaritas nya. doni menatap ke pergian Alviandra.
*kediaman wijaya*
"bi, tolong buatin aku jus ya."
kata erlita yang lagi duduk santai
di ruang keluarga, sambil nonton tivi.
"baik non, non mau sekalian bibi
ambilin cemilan gak?" tanya bi imah.
"gak usah bi." jawab erlita.
beberapa menit kemudian bi imah
tiba, dengan segelas minuman di
tangan nya.
minuman itu pada erlita.
"makasih ya bi." kata erlita.
"iya non." kata bi imah.
"mama ke mana bi?" tanya erlita.
"di halaman belakang non, lagi ngecek
tanaman kesayangan nya nyonya."
jawab bi imah.
"hmmm." gumam erlita.
bi imah kembali ke dapur untuk
menyelesai kan perkerjaan nya.
erlita menyender kan kepala nya di sofa.
dia teringat kembali akan perlakuan doni
yang mencium diri nya secara paksa.
tiba tiba suara bel rumah nya berbunyi.
erlita segera membuka nya.
"surprise...." seru karin dan suci secara
berbarengan.
"kalian! ayo masuk." erlita pun
mempersilah kan mereka duduk.
"kalian mau minum apa?" tanya erlita.
"tidak usah! sekarang cepat ganti baju
mu." kata karin.
"ganti baju? memang nya mau ke mana?"
tanya erlita.
"hang out...." seru kedua nya.
"kalian aja lakh, aku lagi males nih."
kata erlita.
"no, no, no! kamu gak boleh nolak!
sekarang cepat ganti baju mu."
ucap karin datar.
"hmmm, iya dech iya." erlita pun terpaksa
menuruti kemauan teman teman nya
untuk hang out bareng, meski pun
__ADS_1
sebenar nya dia sedang malas untuk
keluar rumah.
setelah meminta ijin ke pada mama nya,
erlita pun pergi bersama teman teman
nya, memasuki mobil karin.
sesampai nya di mall terbesar di kota itu.
mereka pun memasuki kawasan game
senter. mereka terlihat menikmati
keseruan saat memainan setiap game
yang ada di sana. dan yang paling lihai
dan pandai memain kan nya adalah karin.
"lita ayo main lagi." kata karin,
yang melihat erlita engos engosan,
seraya bertolak pinggang.
"aku cape! kalian aja." kata erlita,
yang mulai menyerah.
"guys, aku cari minum dulu ya."
kata erlita.
"iya, sekalian beliin kita juga ya."
kata karin.
"siap." kata erlita, yang mengacung
kan jempol nya.
erlita pun berjalan sendirian, namun
tiba tiba ada seseorang yang menarik
tangan nya.
"kamu!" kata erlita, yang terlihat tegang
saat melihat laki laki itu.
"tidak usah takut! aku hanya ingin
meminta maaf pada mu." kata doni.
"lepasin." ucap erlita datar, seraya
melepas pegangan doni.
"maaf." kata doni, namun erlita hanya
diam saja.
"apa kau mau memaaf kan ku?"
tanya doni, yang menatap dalam erlita.
"harus kah aku memaaf kan mu?
tindakan mu kemarin sungguh sangat
menyakiti ku." jelas erlita.
"aku tau aku salah! tapi aku sungguh
menyesali nya! kamu mau kan maaf'in
aku?" ucap doni, yang terlihat memelas.
"maaf don, aku sudah sangat kecewa
dengan perkataan mu kemarin! jadi
tolong, jangan pernah mengganggu ku
lagi." lirih erlita.
"apa kamu tidak ingin memaaf kan ku,
karna kemarin aku sudah mencium mu secara paksa?" ujar doni.
"apa?" karin dan suci, yang tiba tiba
nongol tepat di belakang erlita.
"lita, apa itu benar?" tanya karin,
menatap dalam kedua bola mata nya.
"ya, kemarin aku memang sudah
mencium nya." sahut doni.
"diam! aku tidak bertanya pada mu."
bentak karin.
"tolong jawab lit, apa itu benar?"
tanya karin lagi.
"maaf, aku harus pulang." erlita
pun pergi dari tempat itu, namun
karin dan suci mengejar nya.
"lita tunggu." teriak karin.
karin dan suci berhenti mengejar,
karna erlita sudah keburu naik taxi.
__ADS_1