
setelah pulang dari camping alvin
mengurung diri di kamar nya.
buku buku yang biasa nya tersusun
rapi, kali ini dia membiarkan buku itu
berserakan di lantai kamar nya.
"andai saja aku tidak mencintai mu
sedalam ini! rasa sakit nya juga mungkin
tidak akan seperti ini." batin alvin.
lalu meneguk minuman alkohol yang
ada di tangan nya, tanpa sadar dia telah menghabis kan dua botol minuman memabukan. alvin pun mengambil
figura Poto nya dengan erlita, lalu
membanting nya hingga pecah.
keesokan hari nya.
"pagi ma." sapa alvin, lalu menoleh
ke arah alviandra dengan tatapan yang
tidak bisa di artikan.
"kamu belum memakai seragam vin?"
tanya bu indri.
"hari ini aku udah ijin ma, tidak akan
masuk sekolah." jawab nya.
"kenapa nak, kamu sakit?" tanya bu indri
penuh perhatian, seraya memegang
kening alvin.
"tidak ma! aku hanya sedikit lelah."
sahut alvin. setelah selesai sarapan
dia pun menaiki tangga menuju kamar
nya, yang di ikuti oleh alviandra.
"tunggu." kata alviandra.
alvin pun menoleh, tanpa aba aba dia
langsung memukul sodara nya itu.
"sial! kenapa kau memukul ku?" tanya
alviandra, seraya memegangi bibir
nya yang sedikit berdarah.
"brengsek! apa yang sudah kau
laku kan terhadap erlita? bukan kah kau
tau kalau dia itu kekasih ku." bentak
alvin, yang terlihat penuh amarah.
"kau sudah salah paham! aku tidak melakukan apa apa kepada nya."
sahut alviandra membela diri.
"banyak bacot" alvin pun kembali
memukul alviandra. bu Dita yang
mendengar keributan diatas pun menghampiri mereka, lalu melerai nya. sebenar nya alviandra bisa saja
membalas pukulan alvin, namun dia
mengerti suasana hati alvin saat ini
sedang kacau.
"bersikap baik lah pada erlita! kasihan,
dia itu hanya korban." jelas alviandra,
sebelum dia pergi meninggal kan alvin.
alvin pun mencerna kembali, apa maksud
dari perkataan alviandra barusan.
di sekolah SMA HARAPAN BANGSA.
nampak beberapa mobil polisi terparkir
di halaman sekolah. setelah menerima
laporan dari mama dita, polisi langsung
bergerak cepat, lalu membekuk Doni
di sekolah nya.
alviandra pergi ke ruang BP sesuai apa
yang sudah pak didit waktu itu perintah
kan. namun karna erlita telah lebih dulu menjelas kan alasan kenapa alviandra berkelahi dengan doni, pak didit pun mengurung kan niat nya untuk
menghukum alviandra.
erlita, doni, dan alviandra kali ini jadi
topik perbincangan hangat di sekolah
__ADS_1
itu. ada yang merasa iba, dan ada juga
yang merasa puas, atas kejadian yang
tengah menimpa erlita.
"erlita.." panggil karin, dan langsung
memeluk hangat sahabat nya itu.
"kamu baik baik aja kan? kenapa kamu
gak bilang sama aku, kalau doni
melakukan pelecehan sama kamu."
kata karin.
"justru ini yang aku takutin! aku takut
satu sekolah pada heboh, kalau tau
kejadian yang udah menimpa ku ini,
aku malu." lirih erlita.
semua murid memandang sinis ke arah
erlita, lalu berbisik kepada teman teman
nya yang lain, menggunjingi erlita.
" asyik sekali yang main di gubuk berdua!
sudah di apain aja tuh sama si doni."
ketus santi meledek nya.
"hekh jaga ya bacot mu." sinis karin,
seraya memelintir kan tangan kiri santi.
"aww, sakit bego!" bentak santi.
"sekali lagi kamu bicara seperti itu pada
erlita, aku gak akan segan segan
mematah kan tangan mu ini." gertak
karin lalu melepas tangan santi.
"ayo lit." karin pun menarik tangan erlita
menuju kelas nya.
alviandra baru saja datang, lalu
kemudian duduk di bangku nya.
"muka mu kenapa?" tanya erlita,
saat menoleh ke arah nya.
tanpa berbicara lagi, erlita pun
kembali menundukan pandangan nya.
"aiissssh laki laki ini memang sulit
untuk di mengerti." batin erlita.
pak didit memasuki ruang mengajar
nya, lalu memulai pelajaran geografi.
tidak terasa, jam istirahat telah berbunyi.
semua para siswa/siswi berhamburan
keluar kelas.
"ke kantin yuk lit?" ajak karin.
"malas akh rin." desus erlita.
"loh kok malas?" tanya karin.
"aku malas ketemu sama anak anak
yang lain, kalau aku pergi ke kantin."
sahut erlita. karin pun terdiam sesaat.
dia mengerti kenapa erlita tidak ingin
bertemu dengan murid yang lain.
"emang nya kamu tidak ingin bertemu
dengan alvin gitu?" suci menggoda nya.
"alvin gak masuk." sela karin.
"loh kenapa?" tanya erlita.
"gak tau!" kata karin, seraya mengangkat
kedua pundak nya ke atas.
"kamu tau dari mana? kalau alvin gak
masuk." tanya suci.
"dari bebeb ku lakh." sahut karin.
"ciyee, ciyee, yang udah punya bebeb
nih." goda suci.
"ya iya lah, emang nya kamu, jomblo
terus." ledek karin.
__ADS_1
"sialan! mentang mentang udah punya
cowok." desis suci.
*dikantin*
seperti biasa alviandra kumpul bersama
teman teman nya.
"ndra, aku punya informasi baru buat
mu." kata veri.
"informasi apa?" tanya nya.
"si elang udah balik ke jakarta." sahut veri.
alviandra pun menganggukan kepala nya.
"kamu tidak bersungguh sungguh kan
menantang elang, dan mempertaruh kan
mobil kesayangan mu itu." ucap sam.
"aku tidak pernah bermain main dengan
ucapan ku." desus alviandra.
"memang nya apa yang kau ingin kan
dari elang? hingga kau rela mempertaruh
kan mobil mu." tanya veri.
"kekuasaan." jawab nya.
prookk proookk proookkk
seketika teman teman alviandra bertepuk
tangan.
"kita suka sama ambisi mu itu." kata sam.
"oke! pulang sekolah nanti, kita temui
laki laki yang bernama elang itu."
pungkas nya.
setelah kepergian teman teman nya,
erlita duduk menyendiri di bangku nya,
seraya mencoret coret buku kosong
di hadapan nya.
tak lama kemudian jono masuk kelas,
pada saat jono ingin duduk di bangku
nya, dia menoleh ke arah erlita.
jono pun menghampiri nya.
"sendirian aja, kemana teman mu yang
lain?" tanya jono, seraya duduk di bangku
kosong sebelah erlita.
"kantin." jawab nya singkat.
"kamu lagi berantem ya sama alvin?"
tanya jono.
"kepo dekh! sudah sana pergi."
erlita mendorong jono, agar menjauh
dari nya.
"issh, galak amat si!" decah jono.
erlita kembali mencoret coret buku
di hadapan nya, dan jono tampak
memperhati kan nya.
"lita, waktu di gubuk kamu belum
sempat di apa apain kan sama Doni?"
tanya jono dengan polos nya.
lita menatap tajam jono dengan sinis nya.
"jangan kaya gitu ngapa lit, liatin nya!
sereem tau." kata jono.
"pergi gak?" teriak erlita.
"iya, iya! aku pergi." jono pun kembali
ke bangku nya.
lima belas menit kemudian, karin dan
suci datang dengan membawa beberapa
cemilan di kantong kresek nya. karin
memberikan makanan dan minuman
pesanan erlita, lalu mereka menyantap
nya bersama sama.
__ADS_1