
lima bulan kemudian. erlita telah nyaman dengan statusnya sebagai seorang singgel mom. dia merawat dan membesarkan babby R seorang diri. meskipun alvin beberapa kali datang dengan alasan ingin menemui babby R, erlita tidak pernah mengijinkannya.
"lita, mama tidak pernah mengajarimu menjadi sosok yang pendendam." ucap bu dita.
"aku tidak dendam ma, aku hanya benci dengan laki-laki pengecut seperti dia."
"tapi, walau bagaimana pun juga, alvin itu adalah ayah kandung babby R. kamu tidak bisa memisahkan mereka."
"aku tidak perduli!"
tok tok tok.
"masuk."
"maaf non, di luar ada yang ingin bertemu dengan non." ucap bi imah.
"siapa bi? kalau alvin, bilang saja kalau aku tidak ada." ketus erlita.
"iya non, tapi den alvin kali ini tidak datang sendiri, melainkan bersama papanya."
"papanya?"
"iya non."
"ya sudah sayang, mending sekarang kamu pergi temui mereka." ucap bu dita.
"mama temani aku ya?" pinta erlita.
bu dita mengangguk kecil. "iya sayang."
erlita dan bu Gita segera menghampiri pak gian dan juga alvin. dia pun menyalami punggung tangan kanan pak gian dengan penuh rasa hormat.
"jadi ini yang namanya erlita?" tanya pak gian meyakinkan.
erlita mengangguk. "iya om."
"pantas saja, alvin begitu sangat mencintaimu. ternyata kamu memang benar-benar cantik! bahkan lebih cantik dari pada apa yang om bayangkan."
__ADS_1
erlita dan bu dita sekilas saling menatap.
"terima kasih. om terlalu memuji." ucap erlita dengan senyum yang dibuat-buat.
"apa yang telah terjadi diantara kalian, alvin sudah memberi tahu om semuanya. dan maaf, karena om baru bisa ke Indonesia dan menemuimu sekarang." ucap pak gian.
"aku tahu kalau pak gian itu orang yang sangat sibuk. suatu kehormatan bagi kami saat pak gian mau berkunjung kesini." ucap pak kevin terkekeh.
"pak kevin bisa saja." ucap pak gian yang juga ikutan terkekeh. "aku ingin sekali melihat cucuku. apa aku bisa menemuinya?"
"tentu saja! cucuku tentunya cucumu juga." ucap pak kevin. "lita, kamu bawa babby R kemari ya." pinta pak kevin.
"iya pa."
beberapa menit kemudian erlita datang dengan menggendong babby R.
"sini, opa pengen gendong cucu opa." ucap pak gian seraya meminta erlita untuk memberikan babby R kepadanya. "cucu opa sudah besar. maafkan opa, karena opa baru bisa menemui kalian sekarang." ucap pak gian kepada babby R yang masih berusia tujuh bulanan itu dan tentunya belum bisa bicara.
"tidak apa-apa opa." ucap erlita terkekeh, seraya mengecilkan nada suaranya layaknya seorang anak kecil.
alvin terdiam menatap keakraban antara papanya dan erlita yang layaknya seperti seseorang yang sudah saling mengenal lama, padahal mereka baru pertama kali bertemu.
"om, tante, apa aku boleh membawa babby R untuk sekedar berkeliling di halaman?" tanya alvin.
"tidak boleh!" sentak erlita. "kamu tidak boleh membawanya kemana-mana."
mereka kini saling menatap satu sama lain, melihat sikap erlita kepada alvin.
"sayang..." bu dita memegangi pundak erlita, lalu mengelusnya seakan meminta pengertiannya.
"baiklah! kamu boleh membawa babby R keluar, tapi jangan jauh-jauh." ucap erlita dengan nada bicara yang sedikit ketus.
"kalau begitu, kita tinggal dulu ya pak." ucap pak kevin, seraya mengajak bu dita untuk meninggalkan erlita dan pak gian berdua.
pak gian hanya mengangguk kemudian tersenyum.
"om tahu, tidak mudah bagimu untuk bisa menerima semuanya. tapi kamu juga harus tahu, kalau alvin juga sangat terpukul saat dia mengetahui kalau orang yang selama ini dicintainya telah menikah dengan laki-laki lain, bahkan sodara kandungnya sendiri."
__ADS_1
erlita tampak tertegun mendengar ucapan pak gian.
"kalau saja kamu tahu, kalau selama ini alvin sangat merindukanmu. dia bahkan tak henti-hentinya membicarakan tentang mu, dan berencana untuk segera melamarmu setelah kepulangannya."
"percuma! semuanya bagiku sudah sangat terlambat." lirih erlita.
"tidak ada kata terlambat dalam cinta! alvin masih sangat mencintaimu dan berharap bisa memilikimu. om yakin kalau kamu juga demikian."
"tidak. om salah! rasa cintaku telah aku kubur dalam-dalam bersama besarnya rasa kekecewaanku terhadapnya."
"kamu berhak marah dan kecewa. tapi ingat, kenyataan tidak bisa merubah segalanya. karena faktanya, alvin itu adalah ayah biologis dari babby R. dan kamu tidak bisa menyangkalnya."
"ambil ini." pak gian memberikan sebuah kotak berwarna merah yang berisi kalung berlian yang sangat indah dan terukir dengan huruf A dan E.
"apa ini?" tanya erlita.
"kamu buka saja."
erlita langsung membukanya. "indah sekali." gumamnya.
"alvin memesannya khusus untukmu. dia bahkan tidak berani untuk memberikannya secara langsung kepadamu, karena alvin yakin kalau kamu pasti akan menolaknya. om mohon, tolong terima kalung itu. dan om akan menjelaskan semuanya, kenapa saat itu kalian bisa kehilangan kontak dan tidak bisa saling bertukar kabar." ucap pak gian. dia pun menjelaskan secara rinci bagaimana kehidupan yang dijalani alvin selama dia tinggal di LA. pak gian juga menceritakan soal rencananya untuk menjodohkan alvin dengan seorang wanita cantik bernama margaretha. namun alvin menolaknya secara mentah-mentah, karena alvin sudah berniat untuk menikahi erlita. tak lupa, pak gian juga menceritakan semua kejahatan bu sonya, karena alvin lah kini dia bisa membongkar semua kebusukan bu sonya, dan kini mereka telah resmi berpisah.
mendengar ucapan pak gian yang panjang lebar, dan menguak fakta sebenarnya. erlita tampak meneteskan air matanya.
"erlita..." panggil pak gian dengan suara pelan.
erlita menatap dalam kepada pak gian.
"tolong beri satu kesempatan untuk alvin. om yakin! dia pasti bisa membahagiakan mu." ucap lembut pak gian.
"maaf om. aku tidak bisa memutuskannya sekarang."
"tidak apa-apa. om mengerti! tapi om yakin, kamu adalah orang yang bijak. kamu pasti bisa menentukan apa yang terbaik untuk hidupmu sendiri." ucap pak gian. namun saat ada panggilan telepon masuk ke handphone nya. dia pun pamit undur diri.
erlita pergi kehalaman depan untuk mencari keberadaan alvin dan babby R.
"sayang, maafkan papa. andai saja waktu itu papa tidak pergi, mungkin saat ini kita akan bersama. dan mama mu juga tidak akan membenci papa." ucap lirih alvin kepada babby R yang ada di pangkuannya. mata alvin tampak berkaca-kaca.
__ADS_1
rupanya dari belakang erlita tampak berdiri dan memperhatikannya. "aku tidak tahu, haruskah aku memaafkan semua kesalahanmu?" batin erlita. "tapi luka ini terlalu sakit, untuk dilupakan begitu saja."