AKU Bukan DIA ( Kita Berbeda)

AKU Bukan DIA ( Kita Berbeda)
ep 41 kehilangan


__ADS_3

pak didit memasuki ruang mengajar nya.


di ikuti oleh alviandra yang baru


masuk. dia pun duduk di bangku nya,


lalu menoleh ke arah bangku di sebelah


nya yang kosong. alviandra memang


telah mengetahui kabar kecelakaan nya


erlita, karna satu sekolah pada heboh


dengan berita tersebut.


seketika alviandra pun kembali


membayang kan saat erlita memeluk


nya dengan erat di sebuah gubuk saat


camping tempo hari.


"sial! kenapa aku jadi kepikiran sama


cewek pembalut itu." alviandra mengutuk


diri nya.


pak didit mengawali pelajaran hari ini


dengan buku sejarah.


semua murid tampak pokus mengerjakan


soal yang pak didit berikan.


jam istrirahat pun tiba.


"alviandra.." panggil alvin, lalu


menghampiri nya.


"ada apa?" tanya nya.


"aku ingin bicara dengan mu."


kata alvin.


"bicara saja." sahut alviandra.


"aku ingin kita bicara empat mata."


kata alvin, yang menoleh ke arah teman


teman alviandra.


"tidak bisa kah kita bicara nya nanti saja


di rumah?" ucap datar alviandra.


"jangan bergurau! aku tau betul kalau


kau orang yang tidak betah di rumah,


bahkan hampir setiap hari kau pulang


larut tengah malam." ucap alvin.


"baik lah." alviandra pun mengekori alvin,


di belakang nya.


dan sesampai nya di balkon sekolah,


alvin pun bertanya apa yang sebenar


nya terjadi kepada erlita di gubuk tua itu. alviandra pun menjelaskan secara rinci


bagai mana dirinya bisa berada di gubuk


tua itu bersama erlita. alvin menjadi


sangat terpukul mendengar kejadian


yang telah menimpa erlita. seharusnya


dia mempercayai erlita, bukan nya malah


menuduh dia yang bukan bukan.


"seharusnya kau mempercayai ucapan


nya." kata alviandra.


"aku tau, aku memang salah."


lirih alvin, seraya menyandar kan kepala


nya di dinding tembok.


alviandra pun pergi, seraya menepuk


bahu alvin.


*rumah sakit*


"dokter, bagai mana perkembangan


anak saya?" tanya mama dita, dengan


wajah yang pucat.


"saya akan berusaha semaximal mungkin


untuk ke sembuhan pasien! saya saran


kan sebaik nya pasien sering sering


di ajak ngobrol." kata dokter.


tak lama kemudian alvin dan teman

__ADS_1


teman nya yang lain tiba di rumah


sakit. mereka pun menyalami orang


tua erlita secara bergantian.


"gimana keadaan nya erlita tante?"


tanya karin.


"erlita masih koma." lirih mama nya.


"apa saya boleh masuk ke dalam?"


tanya karin lagi.


"bisa! tapi hanya dua orang saja yang


di perboleh kan masuk." jelas mama dita.


suci pun menoleh ke arah alvin, lalu


menyuruh nya masuk ke ruang IGD.


sementara suci, rehan dan jono


menunggu di luar ruangan.


"lita, bagai mana ke adaan mu? coba


kamu lihat, siapa orang yang berada di


samping ku, bukan kah kemarin kamu


bilang, kalau kamu merindukan nya,


karna dia tidak masuk kelas."


kata karin, berbicara seolah olah erlita


sedang mendengar kan nya.


alvin menggenggam erat tangan erlita,


lalu kemudian mencium nya.


"hai, aku kangen sama kamu, cepat


pulih, karna di sini ada banyak orang


yang menyayangi mu." ucap lembut


alvin, seraya mengelus pucuk rambut


erlita.


alvin menatap dalam raut wajah erlita


yang berbaring lemah tak berdaya di


ruangan nya itu. dia menyadari akan


kesalahan nya yang secara tidak sengaja


telah melukai hati orang yang dia cintai.


alviandra pun duduk di bangku nya,


dan sesekali dia menoleh ke bangku


di sebelah nya kosong.


"sudah dua hari, cewek pembalut itu tidak


masuk kelas, bagai mana ke adaan nya?"


batin alviandra pun bertanya tanya.


tanpa banyak berpikir, dia pun kembali


meraih tas nya, lalu pergi keluar kelas.


"alviandra.." panggil seseorang yang jarak


nya tidak jauh dari nya.


alviandra menoleh ke sumber suara,


dan tampak veri yang sedang berjalan


menghampiri nya.


"mau ke mana? kok bawa tas." tanya veri.


"mau bolos, lagi malas belajar."


ucap alviandra, seraya memasuki mobil


nya, dan langsung menancap gas.


sementara veri masih berdiri mematung


menatap ke pergian alviandra.


setelah menjalan kan mobil nya sekitar


tiga puluh menitan, alviandra pun tiba


di rumah sakit harafan.


alviandra menghampiri meja resepsionis


untuk menanyakan ruang rawat erlita.


"permisi sus, apa betul seorang gadis bernama putri erlita di rawat di sini?"


tanya alviandra.


"putri erlita yang korban kecelakaan itu


kan mas?" tanya suster itu meyakin kan.


"oh iya sus." sahut alviandra.

__ADS_1


"dia ada di ruangan VIP, mari mas biar


saya antar." ucap suster itu dengan ramah.


alviandra pun mengekori nya.


"aneh, bukan kah laki laki itu sudah


sering kesini?" kata suster yang masih


standby di meja resepsionis pada teman


nya.


"udah lah biarin aja, ngapain di pikirin."


ketus teman nya.


sesampai nya di pintu ruangan erlita


suster itu pun mempersilah kan


alviandra untuk masuk, dan di ruangan


itu ada mama dita juga. alviandra hanya


berdiri mematung melihat kondisi erlita.


mama dita memperhati kan gerak gerik


laki laki yang ada di hadapan nya, yang


masih mengenakan seragam sekolah nya.


"kamu tidak sekolah?"


mama dita memecah keheningan.


alviandra pun menoleh ke arah wanita


yang usia nya kurang lebih tiga puluh lima


tahunan, namun masih terlihat cantik.


"tidak." jawab alviandra singkat.


"tante mengerti kecemasan mu terhadap


kondisi erlita." ucap mama dita, seraya


memegangi pundak alviandra yang dia


kira adalah alvin. mama dita memang


tidak mengetahui kalau alvin memiliki


sodara kembar, karna erlita tidak pernah


menceritakan nya.


ucapan mama dita membuat alviandra


mengernyitkan dahi nya.


"cemas? tidak! kurasa aku hanya iba


kepada gadis ini." batin alviandra.


"alvin, lebih baik sekarang kamu pergi


sekolah! maaf bukan maksud tante untuk


mengusir mu." ucap lembut mama dita.


"ternyata ibu ini mengira kalau aku ini


adalah alvin." batin nya.


"vin, apa kamu baik baik aja?"


tanya mama dita, yang heran karna


menurut nya alvin terlihat lebih pendiam.


"baik tante, aku pergi." ucap alviandra,


lalu pergi begitu saja.


"apa dia marah? tidak biasa nya dia


bersikap seperti itu." batin mama dita.


alvin memang sangat menghormati


kedua orang tua erlita, saat bertemu dan


saat ingin pamit pergi pun alvin selalu


menyalami mama dita dengan santun.


wajar saja, kalau mama dita merasa


heran dengan sikap alviandra yang dia


kira adalah alvin.


setelah beberapa hari koma, akhir nya


erlita mulai menggerak kan jemari tangan


nya. mama dita pun segera memanggil


dokter untuk memeriksa nya.


"Alhamdulillah bu, ini pertanda baik!


saya rasa sebentar lagi anak anda akan


segera sadar." ucap dokter, setelah memeriksa nya.


"Alhamdulillah dokter, kalau memang


seperti itu." mama dita pun menetes kan

__ADS_1


air mata kebahagiaan nya, setelah


mendengar kabar baik tersebut.


__ADS_2