
pak didit memasuki ruang mengajar nya.
di ikuti oleh alviandra yang baru
masuk. dia pun duduk di bangku nya,
lalu menoleh ke arah bangku di sebelah
nya yang kosong. alviandra memang
telah mengetahui kabar kecelakaan nya
erlita, karna satu sekolah pada heboh
dengan berita tersebut.
seketika alviandra pun kembali
membayang kan saat erlita memeluk
nya dengan erat di sebuah gubuk saat
camping tempo hari.
"sial! kenapa aku jadi kepikiran sama
cewek pembalut itu." alviandra mengutuk
diri nya.
pak didit mengawali pelajaran hari ini
dengan buku sejarah.
semua murid tampak pokus mengerjakan
soal yang pak didit berikan.
jam istrirahat pun tiba.
"alviandra.." panggil alvin, lalu
menghampiri nya.
"ada apa?" tanya nya.
"aku ingin bicara dengan mu."
kata alvin.
"bicara saja." sahut alviandra.
"aku ingin kita bicara empat mata."
kata alvin, yang menoleh ke arah teman
teman alviandra.
"tidak bisa kah kita bicara nya nanti saja
di rumah?" ucap datar alviandra.
"jangan bergurau! aku tau betul kalau
kau orang yang tidak betah di rumah,
bahkan hampir setiap hari kau pulang
larut tengah malam." ucap alvin.
"baik lah." alviandra pun mengekori alvin,
di belakang nya.
dan sesampai nya di balkon sekolah,
alvin pun bertanya apa yang sebenar
nya terjadi kepada erlita di gubuk tua itu. alviandra pun menjelaskan secara rinci
bagai mana dirinya bisa berada di gubuk
tua itu bersama erlita. alvin menjadi
sangat terpukul mendengar kejadian
yang telah menimpa erlita. seharusnya
dia mempercayai erlita, bukan nya malah
menuduh dia yang bukan bukan.
"seharusnya kau mempercayai ucapan
nya." kata alviandra.
"aku tau, aku memang salah."
lirih alvin, seraya menyandar kan kepala
nya di dinding tembok.
alviandra pun pergi, seraya menepuk
bahu alvin.
*rumah sakit*
"dokter, bagai mana perkembangan
anak saya?" tanya mama dita, dengan
wajah yang pucat.
"saya akan berusaha semaximal mungkin
untuk ke sembuhan pasien! saya saran
kan sebaik nya pasien sering sering
di ajak ngobrol." kata dokter.
tak lama kemudian alvin dan teman
__ADS_1
teman nya yang lain tiba di rumah
sakit. mereka pun menyalami orang
tua erlita secara bergantian.
"gimana keadaan nya erlita tante?"
tanya karin.
"erlita masih koma." lirih mama nya.
"apa saya boleh masuk ke dalam?"
tanya karin lagi.
"bisa! tapi hanya dua orang saja yang
di perboleh kan masuk." jelas mama dita.
suci pun menoleh ke arah alvin, lalu
menyuruh nya masuk ke ruang IGD.
sementara suci, rehan dan jono
menunggu di luar ruangan.
"lita, bagai mana ke adaan mu? coba
kamu lihat, siapa orang yang berada di
samping ku, bukan kah kemarin kamu
bilang, kalau kamu merindukan nya,
karna dia tidak masuk kelas."
kata karin, berbicara seolah olah erlita
sedang mendengar kan nya.
alvin menggenggam erat tangan erlita,
lalu kemudian mencium nya.
"hai, aku kangen sama kamu, cepat
pulih, karna di sini ada banyak orang
yang menyayangi mu." ucap lembut
alvin, seraya mengelus pucuk rambut
erlita.
alvin menatap dalam raut wajah erlita
yang berbaring lemah tak berdaya di
ruangan nya itu. dia menyadari akan
kesalahan nya yang secara tidak sengaja
telah melukai hati orang yang dia cintai.
alviandra pun duduk di bangku nya,
dan sesekali dia menoleh ke bangku
di sebelah nya kosong.
"sudah dua hari, cewek pembalut itu tidak
masuk kelas, bagai mana ke adaan nya?"
batin alviandra pun bertanya tanya.
tanpa banyak berpikir, dia pun kembali
meraih tas nya, lalu pergi keluar kelas.
"alviandra.." panggil seseorang yang jarak
nya tidak jauh dari nya.
alviandra menoleh ke sumber suara,
dan tampak veri yang sedang berjalan
menghampiri nya.
"mau ke mana? kok bawa tas." tanya veri.
"mau bolos, lagi malas belajar."
ucap alviandra, seraya memasuki mobil
nya, dan langsung menancap gas.
sementara veri masih berdiri mematung
menatap ke pergian alviandra.
setelah menjalan kan mobil nya sekitar
tiga puluh menitan, alviandra pun tiba
di rumah sakit harafan.
alviandra menghampiri meja resepsionis
untuk menanyakan ruang rawat erlita.
"permisi sus, apa betul seorang gadis bernama putri erlita di rawat di sini?"
tanya alviandra.
"putri erlita yang korban kecelakaan itu
kan mas?" tanya suster itu meyakin kan.
"oh iya sus." sahut alviandra.
__ADS_1
"dia ada di ruangan VIP, mari mas biar
saya antar." ucap suster itu dengan ramah.
alviandra pun mengekori nya.
"aneh, bukan kah laki laki itu sudah
sering kesini?" kata suster yang masih
standby di meja resepsionis pada teman
nya.
"udah lah biarin aja, ngapain di pikirin."
ketus teman nya.
sesampai nya di pintu ruangan erlita
suster itu pun mempersilah kan
alviandra untuk masuk, dan di ruangan
itu ada mama dita juga. alviandra hanya
berdiri mematung melihat kondisi erlita.
mama dita memperhati kan gerak gerik
laki laki yang ada di hadapan nya, yang
masih mengenakan seragam sekolah nya.
"kamu tidak sekolah?"
mama dita memecah keheningan.
alviandra pun menoleh ke arah wanita
yang usia nya kurang lebih tiga puluh lima
tahunan, namun masih terlihat cantik.
"tidak." jawab alviandra singkat.
"tante mengerti kecemasan mu terhadap
kondisi erlita." ucap mama dita, seraya
memegangi pundak alviandra yang dia
kira adalah alvin. mama dita memang
tidak mengetahui kalau alvin memiliki
sodara kembar, karna erlita tidak pernah
menceritakan nya.
ucapan mama dita membuat alviandra
mengernyitkan dahi nya.
"cemas? tidak! kurasa aku hanya iba
kepada gadis ini." batin alviandra.
"alvin, lebih baik sekarang kamu pergi
sekolah! maaf bukan maksud tante untuk
mengusir mu." ucap lembut mama dita.
"ternyata ibu ini mengira kalau aku ini
adalah alvin." batin nya.
"vin, apa kamu baik baik aja?"
tanya mama dita, yang heran karna
menurut nya alvin terlihat lebih pendiam.
"baik tante, aku pergi." ucap alviandra,
lalu pergi begitu saja.
"apa dia marah? tidak biasa nya dia
bersikap seperti itu." batin mama dita.
alvin memang sangat menghormati
kedua orang tua erlita, saat bertemu dan
saat ingin pamit pergi pun alvin selalu
menyalami mama dita dengan santun.
wajar saja, kalau mama dita merasa
heran dengan sikap alviandra yang dia
kira adalah alvin.
setelah beberapa hari koma, akhir nya
erlita mulai menggerak kan jemari tangan
nya. mama dita pun segera memanggil
dokter untuk memeriksa nya.
"Alhamdulillah bu, ini pertanda baik!
saya rasa sebentar lagi anak anda akan
segera sadar." ucap dokter, setelah memeriksa nya.
"Alhamdulillah dokter, kalau memang
seperti itu." mama dita pun menetes kan
__ADS_1
air mata kebahagiaan nya, setelah
mendengar kabar baik tersebut.